Home Sastra

Sastra

Kampung Miskin

Hasduni Surono
0
0
92
Sedari pagi hingga sore, puluhan penduduk melinggis, mencangkul, mengais, mengumpulkan butiran pasir untuk dijual. Pembelinya adalah para pendatang yang asalnya tak pernah diketahui.

Senja Sendiri

Fadriah Syuaib
0
0
167
“Aku pernah menjadi Suanggi, menakut-nakuti manusia di siang dan malam hari. Berjalan tak bersentuhan bumi. Meninggalkan kepala di sini dan hanya berbadan di sana. Mataku merah, hatiku hitam. Tapi, aku takut mati.”

Kapunang

Emur Paembonan
1
0
30
Istriku membaca tulisan di batu nisan yang baru saja dilapnya dengan secarik kain bekas. “Omamu pasti remaja di zaman Belanda.”

Lingkaran Setan

Lita Maisyarah Desy
0
0
24
Mereka berhasil mengosongkan pasar dan membakarnya. Dalih korsleting listrik diterima saja. Tak ada yang pernah menduga kalau preman-preman yang toh juga makan dari pasar itu menjadi pelaku pembakaran.

Mangael

Fadriah Syuaib
0
0
35
Katinting kami sudah berat, dua benang putih di ufuk timur menebar fajar yang cerah. Baikole dan parkici menyambut dengan riak, tapi kami masih di laut, belum juga sampai.