Home Featured Rembang yang Tak Terwakilkan

Rembang yang Tak Terwakilkan

339
0
Aksi semen kaki para ibu dari Rembang di depan Istana Negara RI. Foto: omahkendeng.org.

“Mereka tak peduli. Mereka tuli!”

Gunretno, Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah, mengatakan hal tersebut kepada Lenteratimur.com, Kamis (14/4). Ia kecewa karena tak seorang pun wakilnya di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia mendengarkan lirih suaranya.

Kekecewaan Gun dipicu oleh ekspansi pabrik semen di Pegunungan Kendeng yang melaju tanpa kendali. Lajunya industri itu disebut mengancam kawasan karst maupun kekayaan sumber daya alam lainnya di pesisir utara Pulau Jawa ini.

Pabrik semen ini memang meresahkan warga Rembang yang umumnya bekerja sebagai petani. Penduduk ini notabene memang menggantungkan kehidupan pada sejumlah mata air Cekungan Air Tanah Watuputih, Rembang. Kini, mata air itu nyaris dirampas.

Akhirnya Gun, bersama orang-orang yang peduli pada Rembang, menggelar aksi simbolik: tidak menyemen kaki mereka yang mendesak kehidupannya, tetapi menyemen kaki sendiri di dalam kotak kayu di depan Istana RI. Pada 12-13 April, sembilan orang petani perempuan tampil sebagai representatif Pegunungan Kendeng. Demi masyarakatnya, ibu-ibu ini rela memasung diri lebih dari 24 jam. Niatnya satu, yakni membuat pemerintah pusat tersentuh.

Sebelumnya, Gun mengatakan telah beberapa kali melakukan audiensi dengan pemerintah, bahkan mengadu ke Dewan Perwakilan Rakyat RI pada 18 September 2015 lalu. Hasilnya tetap nihil. Suara mereka tetap tak digubris.

Dalam percakapan dengan Lenteratimur.com, Gun menyebut dua nama: Imam Suroso dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Firman Soebagyo dari Fraksi Partai Golkar. Mereka yang disebut Gun ini merupakan dua dari sembilan anggota Dewan periode 2014 – 2019 yang mewakili Jawa Tengah III, yang terdiri dari Kabupaten Grobogan, Blora, Pati, dan Rembang. Dan keduanya menempati posisi kedua dan ketiga dalam perolehan suara terbanyak di Jawa Tengah III.

Imam Suroso yang lahir di Pati memperoleh suara sebanyak 91.708. Saat ini ia menduduki kursi Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat RI yang mengurusi domain tenaga kerja, transmigrasi, kependudukan, dan kesehatan. Sementara Firman Soebagyo yang juga lahir di Pati memperoleh suara 90.757. Kini ia merupakan anggota Komisi IV yang membidangi masalah Pertanian, Kelautan, Bulog dan Kehutanan. Selain itu, Firman juga menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat RI dan Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar.

Gun tahu dengan jelas siapa orang-orang yang mewakilinya di Dewan. Tapi Gun melihat wakil-wakilnya itu tak mahu tahu dengan permasalahan yang ditanggungkannya bersama petani-petani Rembang.

“Bahkan mereka tak pernah tampak ke Rembang,” tambah Gun.

***

Petang itu, di dalam ruangannya di Dewan Perwakilan Rakyat RI di Jakarta, Kamis (14/4), Firman Soebagyo tampak sibuk. Lepas menghadiri sebuah rapat, di depan ruangan kerjanya telah mengantri tiga orang tamu. Di atas mejanya penuh dengan tumpukan berkas. Kemejanya kusut. Matanya tampak kurang tidur. Kebetulan hari itu suaranya pun serak.

“Saya bekerja 24 jam,” ucapnya sembari memperbaiki duduknya.

Berbeda dengan pengakuan Gun, Firman mengatakan sudah beberapa kali ke Rembang. Namun, tak satu pun warga yang mengeluhkan langsung kepadanya terkait pembangunan pabrik semen di Rembang.

“Kepala desa pernah membicarakan sekali, tapi tak menjadi pembahasan serius waktu itu,” jelas Firman.

Menurut Firman, tidak mungkin sebuah pembangunan akan merugikan masyarakat ramai. Sebelum pembangunan dilaksanakan, pasti terlebih dahulu dilaksanakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL).

“Jika benar ada manipulasi AMDAL, maka akan dilakukan pengkajian lebih lanjut,” tegas Firman.

Terkait permasalahan pabrik semen di Rembang, Firman mengimbau masyarakat yang diwakilinya supaya dapat mengadukan hal tersebut kepada dirinya. Pengaduan itu perlu agar bisa ditindaklanjuti bersama-sama dengan komisi yang bersangkutan.

Adapun mengenai datang langsungnya orang-orang Rembang ke Istana Negara di Jakarta, Firman memandang itu adalah keinginan masyarakat tersebut. Mereka merasa perlu untuk menyampaikan aspirasinya secara langsung pada Pemerintah Pusat Republik Indonesia.

Sementara itu, Imam Suroso, yang namanya juga disebut oleh Gun, menolak memberikan keterangan perihal kekecewaan yang melanda masyarakat Rembang. Padahal, Imam yang berlatarbelakang sebagai seorang paranormal ini memperoleh suara terbanyak kedua di Jawa Tengah III.

Dalam hal mendapat kepercayaaan penuh dari masyarakat Jawa Tengah III, di atas Imam dan Firman ada nama Marwan Jafar yang menempati posisi pertama dalam perolehan suara terbanyak di Jawa Tengah III. Akan tetapi, di tengah jalan ia meninggalkan kepercayaan masyarakat daerah-daerah di Jawa Tengah III tersebut. Ia kemudian masuk ke pemerintahan dengan menjadi menteri desa, pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi.

Sementara itu, nama Gamari Sutrisno yang juga mewakili Jawa Tengah III layak untuk dicatat. Ia yang berpartaikan kepada Partai Keadilan Sejahtera juga disebut-sebut turut meninggalkan kepercayaan masyarakat. Hanya saja, berbeda dengan Marwan, kepergiannya dari Dewan dikarenakan pria kelahiran Blora ini dipecat dari partainya. Akan tetapi, keluarnya tidaknya Gamari dari Dewan hingga kini masih dalam proses.

***

Dewan Perwakilan Rakyat pada sistem pemerintahan RI merujuk pada ‘House of Representativesyang diterapkan pada lembaga di negeri-negeri Barat. Di sini, kata ‘representative’diterjemahkan menjadi ‘perwakilan’.

‘Representatif’ adalah kata serapan dari bahasa Inggris, yakni ‘representative’. Seperti yang tertera dalam http://www.oxforddictionaries.com, kata ini dapat digunakan sebagai ajektiva (kata sifat) di negeri aslinya, yang bermakna: 1) Typical of a class, group, or body of opinion, 2) (Of a legislative assembly or deliberative body) consisting of people chosen to act and speak on behalf of a wider group, 3) Serving as a portrayal or symbol of something.

Kemudian, sebagai kata benda, ‘representative’ dapat diartikan menjadi: 1) A person chosen or appointed to act or speak for another or others, in particular, 2) An example of a class or group.

Di dalam kamus  yang sama juga dijelaskan bahwa kata ‘representative’ berasal dari kata ‘represent’. Karena itu, kata ‘representatif’ mensyaratkan makna ‘ia yang hadir kembali’. Makna tersebut semestinya memiliki relasi identitas yang melekat atau senyawa. Sifat perwakilannya semestinya memiliki syarat identik dengan yang diwakilinya. Barangkali, jika dipadankan, A kata rakyatnya, A kata yang mewakilinya.

Konteks representatif ini juga diperkuat oleh Pasal 72 huruf g Undang-Undang Nomor 17 tahun 2014. Undang-undang tersebut mengatakan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat bertugas menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat.

Namun, konteks ini tak melekat dan bersenyawa pada ia yang mewakili  masyarakat Pegunungan Kendeng, Rembang. Sehingga, Gun bersama sejumlah petani Rembang tak dapat mewakilkan dirinya kepada siapa-siapa. Jauh-jauh dari Rembang langsung ke RI pusat di Jakarta demi mempertahankan hak hidupnya.

“Tak ada yang dapat diharap dari mereka,” lirih Gun.

Di sini, ketersambungan atau keterkaitan antara suatu rakyat dengan yang mewakilinya di tingkat pusat, termasuk pola-pola pemilihan umum yang selama ini dilakukan, mendapatkan ujiannya. Sebab, dalam konteks ini, seolah tiada hubungan antara rakyat Rembang dengan mereka yang mewakilinya.

(339)

Meri Susanti Reporter LenteraTimur.com di Jakarta.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *