Home Sastra Untukmu Kadalmu dan Untukku Kadalku
0

Untukmu Kadalmu dan Untukku Kadalku

54
0
Setiadi R. Saleh
Setiadi R. Saleh

 

Di Kampong Tempel hiduplah seorang Tok Dalang. Ia sebenarnya orang berilmu. Ramai orang yang menganggapnya demikian. Tapi ia tak mau menunjukkan ilmunya. Kalau ditanya orang, barulah dia menjawab. Itu pun tergantung pertanyaannya, juga apakah dia mau menjawabnya atau tidak. Oleh orang kampong, Tok Dalang dipercaya sebagai tempat bertanya segala macam perkara.

Umumnya anak-anak muda suka dengan Tok Dalang. Bicaranya tak menghakimi, perkataannya tak menyakiti. Dan taklah payah menjumpai Tok Dalang. Cari saja di “rumah yang tak berdapur”. “Rumah tak berdapur” itu istilah dari Tok Dalang untuk menyebutkan masjid.

Suatu hari, berjumpalah seorang anak muda bernama Udin Tonggek dengan Tok Dalang. Seperti biasa, Tok Dalang pun ditanyai macam-macam hal.

“Tok Dalang, agama tu apa?”

“Ah, kau ini macam orang tak beragama saja. Tanya pulak soal agama.”

“Betul ini, Tok. Agama tu apa?”

“Agama apa yang kau tanya? Islam, Kristen, Buddha, Yahudi, Hindu, atau agama nenek moyang kau?” kata Tok Dalang dengan nada sedikit tinggi.

“Bukan itu yang kutanya. Kalau agama Islam, aku pun tahu jawabnya. Aku sendiri Islamnya agamaku. Sikit-sikit bisa kujawab. Rukun Iman, Rukun Islam, Rukun Ikhsan, nama-nama nabi, shalat lima waktu… pokoknya yang macam-macam itu tahulah aku. Kalau agama lain bisa kulihat keterangan ajarannya dari internet. Tapi, agama itu sendiri apa, Tok?”

“Oh, kalau macam itu, keciknya itu. Agama khususnya Islam kalau bahasa Arabnya disamakan dengan ‘Din’, artinya ajaran, jalan hidup. Orang Malaysia kadang sebutnya ‘ugama’. Orang putih bilang ‘religion’. Jadi, kata-kata agama sendiri sudah mencerminkan banyak muka. Kau paham tak?”

“Sikit tak paham, Tok!” kata Udin.

“Beginilah… nama aslinya kau Nasruddin. Di kampong kita ada berapa orang yang namanya Nasruddin? Empat orang ada mungkin. Karena pinggang kau tak lurus, agak tonggek sikit, dipanggillah kau Udin Tonggek. Kalau ada orang luar mencari orang yang namanya Nasruddin, nah, pasti akan ditanyakan Udin mana. Tapi, kalau dibilang Udin Tonggek, orang langsung tahu bahwa itu kau. Paham kau?”

“Sikit-sikit.”

Lalu panjang lebar Tok Dalang bercerita sampai berbuih.

“Tak paham aku, Tok. Pening kepalaku!” Udin mengusap-usap keningnya.

“Dasar kadal!” kata Tok Dalang sambil mencampakkan pecinya.

“Sebentar, Tok.”

“Kau mau apa?

“Biar kucari dulu agama di internet,” kata Udin sembari membuka layar tabletnya.

“Inilah anak sekarang, sikit-sikit internet. Cari agama pulak di internet.”

Tiba-tiba mata Udin terbeliak dan terbawa terbahak.

“Eh, Tok! Tok! Betul, Tok! Agama itu memang kadal. Coba Atok tengok di Google.”

“Benda apa pulak itu Google? Kok bisa dia tahu agama? Kurang ajar kali disebutnya agama itu kadal!”

“Ini internet, Tok! Tempat macam-macam informasi.”

“Ah, suka hati kaulah. Kau pun ada-ada aja. Tadi kau tanya aku, sekarang kau tanya sama si Gogol itu,” kata Tok Dalang sambil garuk kepala.

“Google, Tok. Bukan Gogol.”

“Iyah, tahu aku! Sunnah rupanya nyebut Google!”

“Tapi betul ni, Tok. Agama tu kadal”.

“Stres aku nengok kau, Din. Berduanya kita di sini. Kau yang bertanya, aku yang menjawab. Ini kau yang bertanya, kau pulak yang menjawab sendiri, pakai jawaban si Gogol. Dan sekarang kau bilang pulak agama tu kadal. Sebenarnya ini kau mau nanya agama atau apa? Jangan main-main kau, Din. Agama ini penting! Serius!”

Suara Tok Dalang terdengar meninggi. Dia membuka kancing baju bagian atas.

“Iyah, ampun, Tok. Janganlah marah!”

“Siapa yang marah? Aku gerah. Panas kali cuacanya.”

“Ni Tok, biar kubacakan sikit arti agama dari internet. Menurut kamus Oxford, agama tu ‘an old world lizard with a large head and a long tail, typically showing a marked difference in colour and form between the sexes.” Udin membacakannya sekilas dengan logat keinggris-inggrisan.

“Yang betul kau bacanya Din. Pakai harakat tak kau membaca bahasa Inggris tu? Jangan kau tipu Atok kau ni. Durhaka kau nanti. Aku tak paham bahasa orang tu.”

“Betullah, Tok. Artinya, agama tu kadal zaman dulu. Kepalanya besar, ekornya panjang.”

“Ah, tak masuk akal itu, Din. Masak kamus off road tu mengartikan agama adalah kadal.”

“Bukan off road, Tok. Oxford!”

“Iyalah itu. Tahunya aku. Sekarang kutanya sama kau. Kamus yang kau sebutkan tadi tu mewakili bahasa-bahasa di seluruh dunia tak?”

“Ya tidaklah, Tok. Itu kan menurut kamus Oxford.”

“Kalau kau jawab tidak, kenapa itu kau jadikan rujukan? Dipakai pulak sama banyak orang. Ada berapa bahasa di dunia ini?” tanya Tok Dalang.

“Banyaklah Tok. Mana bisa kukera, kuhitung-hitung.”

“Nah! Sebanyak itu bahasa, sebanyak itu juga kamus bahasa. Sekarang coba kau cari kamus lain.”

Udin pun sibuk ketak ketik untuk mencari agama.

“Iyah, Tok. Agama tu Buddha-Hindu, Tok!”

“Apa pulak maksud kau agama tu Buddha dan Hindu? Agama tu banyak. Kamus mana lagi itu”

“Ini Encyclopedia Britannica. Dibilangnya, agama adalah tradisi dalam sistem Buddha-Hindu. Itu bahasa India, Sansekerta. Katanya Veda dan Agama tak terpisahkan.”

“Ha?”

“Katanya, agama tu melekat dan senyawa dengan tatanan sosial di India, yang merujuk pada kitab Veda. Karena persenyawaannya itu, maka agama pun tak dapat diceraikan dari tatanan hidup orang India. Agama ini mengacu pada Hindu, Buddha, Jainisme yang dikembangkan Upanishad.”

Tok Dalang diam tak bersuara. Udin melanjutkan membaca sembari langsung menerjemahkan. Ia mulai berselancar, tak lagi di Encyclopedia Britannica, tapi sudah ke situs-situs lain, yang langsung dari India.

“Agama adalah sumber utama yang sah untuk metode Yoga. Agama menjelaskan filosofi dan pengetahuan spiritual dibalik penyembahan terhadap dewa. Ada empat bagian dalam agama, yakni filosofi dan pengetahuan spiritual, yoga dan disiplin mental, aturan pembangunan candi dan patung para dewa untuk beribadah, dan aturan yang berkaitan dengan ritual.”

Tok Dalang masih diam. Udin masih mengarahkan matanya ke layar.

“Pening aku, Tok. Lemas aku. Tak sanggup otakku ni mikir lagi. Yang satu bilangnya agama itu kadal. Satu lagi bilang agama itu Buddha, Hindu, Jainisme.”

“Udin Tonggek… Udin Tonggek… Kau ni mau cari apa rupanya?”

“Cari agamalah, Tok.”

“Apa kau lupa peribahasa Melayu, lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Jadi, satu kata itu bisa bermakna lain pada kondisi yang lain juga, pada bahasa di bangsa yang berbeda. Paham kau, Din?”

Udin diam sejenak.

“Iya Tok, mulai terbuka juga pikiranku. Tapi Tok, kalau berbeda, kenapa pulak bisa sama-sama ada kata ‘agama’ pada lain-lain bangsa di dunia ni?”

“Makjang! Bijak kau Din. Itulah yang aku tak tahu jawabannya!”

“Jadi kalau macam tu Tok, Islam memang bukan agamalah ya, tetapi ajaran, jalan hidup. Jadi, macam mana kalau kita ubah dan ganti kalimat ‘untukmu agamamu dan untukku agamaku’ menjadi ‘untukmu tradisimu dan untukku tradisiku’? Atau, ‘untukmu jalan hidupmu dan untukku jalan hidupku’. Atau, ‘untukmu kadalmu dan untuk kadalku’”.

“Kau ni, Din… Minta pijak apa minta tumit?!”

“Maaflah, Tok. Aku ini orang bodoh. Tak ada yang ajarkan aku.” Udin menunduk sedikit.

“Makanya, banyak-banyak kau mengaji. Tanya segala sesuatu pada ahlinya.”

“Iya. Terima kasih, Tok Dalang. Alhamdulillah.”

Dan begitulah setiap hari kehidupan Tok Dalang. Ada saja yang datang bertanya kepadanya. Dia diberikan imbalan bersyukur, tak diberikan pun tak apa. Ridha Allah yang ia cari. Seminggu sekali, selepas Maghrib, biasanya Tok Dalang memberikan ceramah di masjid. Hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk Islam, Iman, Ilmu, dan Amal. Dia punya keluarga, istri dan anak, sebagaimana orang-orang pada umumnya. Semoga Allah SWT memuliakan Tok Dalang.

Amin.

 

(54)

Setiadi R. Saleh Setiadi R. Saleh adalah penyair asal Langsa (Aceh Timur) dan kemudian menetap di Medan (Sumatera Utara). Usai menamatkan kuliah dan bekerja di Bandung (Jawa Barat), kini ia kembali berdomisili di Medan. Karya-karya sastra dan esainya dimuat di sejumlah media massa di Medan, Jakarta, dan Bandung.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *