Home Featured Mesjid Lama, Masjid Bengkok
0

Mesjid Lama, Masjid Bengkok

87
0
Masjid Lama, yang juga disebut Masjid Bengkok. Foto-Foto: Setiadi R. Saleh.
Masjid Lama, yang juga disebut Masjid Bengkok. Foto-Foto: Setiadi R. Saleh.

 

Suasana sore mengalun tenang di jantung Medan. Matahari berpadukan awan pekat. Lembayung pergi dikemudikan angin. Biji-biji gerimis sekejap masa menjadi hujan. Burung-burung walet pulang ke sarang yang bersampingan dengan Hotel Kesawan. Arus waktu seperti jam pasir, mengalir deras. Dan kendaraan bergerak pelan kala melewati Mesjid Lama yang berada di Jalan Bengkok.

Jika pada umumnya masjid disebut dengan nama-nama yang bertautan dengan sifat dan nama-nama Tuhan (asmaul husna), maka tidak demikian dengan yang satu ini. Namanya bukan macam Al-Ikhlas, Baiturrahman, Taqwa, atau Mesjid Al-Hidayah, melainkan Masjid Lama, atau yang juga disebut dengan dengan Masjid Bengkok.

Disebut Masjid Bengkok bukan karena bentuknya yang bengkok, melainkan karena posisinya yang terletak pada sudut kemiringan. Ia berada pada suatu jalan yang bengkok, berkelok-kelok. dan posisi masjid ini memang berada di Jalan Bengkok (dulu Gang Bengkok), yakni sebatang jalan yang mempertemukan Jalan Hindu, Jalan Perdana, dengan Jalan Kesawan. Nama Jalan Kesawan ini kini telah diganti orang dengan sosok dari luar bernama Ahmad Yani.

Sedangkan penamaan Masjid Lama, konon, dikarenakan dahulu ia tak dinamai oleh Sultan Deli. Dan karena sudah berdiri masjid-masjid lain, maka penduduk tempatan juga menyebutnya dengan nama Masjid Lama. Nama ini juga menyiratkan makna keterbukaan. Terbukti, sampai hari ini masjid ramai dikunjungi oleh para pelancong dari mana-mana, tak peduli apapun agamanya, negaranya, bangsanya, ataupun rasnya.

Sekilas Masjid

Mihrab dengan anak tangga sekisar 14 buah.
Mihrab dengan anak tangga sekisar 14 buah.

 

Tak terlihat torehan prasasti atau penabalan nama semacam keterangan yang menyebutkan waktu pembuatan masjid. Hanya saja, masjid ini disebut-sebut didirikan sekitar tarikh 1290 H/1874 M di atas tanah wakaf dari Haji Muhammad Ali (Datuk Kesawan). Pembangunannya sendiri ditanggung oleh Tjong A Fie, yang kemudian menyerahkannya kepada Sultan Ma’moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah (1879-1924) (Sultan Deli ke-9). Sultan lalu menunjukkan Syekh Mohammad Yakub sebagai pengurus Masjid Lama.

Penampilan Masjid Lama juga berbeda dengan masjid-masjid lain. Jika pada umumnya kubah masjid melengkung, maka tidak demikian halnya dengan masjid ini. Masjid yang gerbang utamanya benar-benar berada di tengah ini lebih mirip kelenteng. Dan di bagian belakang ruang utama, terdapat pintu-pintu berbahan alumunium yang nampak menyerupai salib. Meski demikian, seluruh bangunan masjid dibaluri dengan warna kuning-hijau, yang menjadi ciri khas ornamen Melayu (baca juga Hikayat Masjid Kuning). Dengan sendirinya ia menampakkan pembauran gaya Melayu dan Tionghoa.

Untuk bertaharah, pengunjung dapat melakukannya di sumur tua yang sampai sekarang masih mengeluarkan air. Airnya ditaruh di dalam bak besar yang permukaannya diberi pelampung. Fungsi pelampung ini tak lain sebagai alarm apabila air melewati ambang batas. Air tak tumpah dan mesin air mati sendiri.

Yang cukup istimewa, bagi saya, adalah adanya keranda atau tempat usungan mayat tanpa tudung. Bagian atasnya berbentuk segitiga dengan ukiran yang indah. Di situ tertoreh sekalimat pemberitahuan: “Wakaf dari Pakistan”. Di sini saya merasakan getaran yang tiada berbilang.

Pintu belakang ruang utama berbahan alumunium yang tampak menyerupai bentuk salib.
Pintu belakang ruang utama berbahan alumunium yang tampak menyerupai bentuk salib.

Sementara itu, di ruang utama masjid, terdapat tiang-tiang besar yang berdiri kokoh seolah anti roboh. Dan di tengahnya pula terdapat mihrab tinggi dengan anak tangga sekisar 14 buah. Jenjangnya laksana endapan hakikat-batiniah yang sampai ke aras singgasana Tuhan. Kemudian ada bendera hijau serupa warna dengan ambal sajadah yang bahannya lembut sekali, sehingga saat sujud bersimpuh nyaman terasa.

Lalu, ada satu lagi benda berbentuk ranjang panjang besar berkaki empat. Ukurannya kira-kira 2,10 meter, lebar 1,90 meter, dan tinggi 2,20 meter. Fungsinya untuk bilal mengumandangkan azan agar terdengar ke segala arah penjuru. Dahulu memang belum ada pengeras suara. Yang disebut pengeras suara memang betul-betul upaya dari sang bilal untuk mengeraskan suaranya agar benar-benar terdengar.

Selain itu, masjid yang dilengkapi pendingin udara ini juga memiliki ruang pustaka yang dapat diakses oleh siapa saja. Dari sinilah pengunjung dapat mengetahui seluk-beluk Mesjid Lama.

Mata juga dapat dengan bebas menemukan dan memandang adanya sejumlah hiasan. Akan tetapi, jika masjid-masjid lain memiliki hiasan berupa kaligrafi, maka masjid ini berbeda. Ia bukan dihiasai oleh kaligrafi, tetapi berupa motif bunga dan tumbuhan. Hiasan ini juga ada di dekat plafon dengan rumbai dari kayu laksana tirai dengan kuning sebagai warna utamanya.

Sebuah keranda tanpa tudung yang merupakan wakaf dari negeri Pakistan.
Sebuah keranda tanpa tudung yang merupakan wakaf dari negeri Pakistan.

Dan jika menuju pintu ke luar masjid, pengunjung juga dapat menemukan sekata tulisan “Tolak” yang tertera di pintunya. Di Medan, juga negeri-negeri lain, barangkali, “tolak” juga bermaknakan “dorong”. Sementara yang juga sepadan dengan “dorong” adalah adalah “sorong”. Ketiga diksi tersebut: “tolak”, “sorong”, dan “dorong”, hadir sekaligus di Medan sebagai suatu bahasa Melayu. Kata “tolak” pada pintu itu dipilih karena lebih mewakili suatu ekspresi.

Senja yang segera tamat digantikan malam diikuti oleh mulai meramainya kendaraan-kendaraan di sekitaran masjid. Tak jauh dari masjid, suasana malam di sekisar Kesawan mulai bergeliat, terutama Kesawan Square. Di sana ada aneka kuliner pemuas nafsu makan dengan harga terjangkau dan halal untuk dikonsumsi.

 

(87)

Setiadi R. Saleh Setiadi R. Saleh adalah penyair asal Langsa (Aceh Timur) dan kemudian menetap di Medan (Sumatera Utara). Usai menamatkan kuliah dan bekerja di Bandung (Jawa Barat), kini ia kembali berdomisili di Medan. Karya-karya sastra dan esainya dimuat di sejumlah media massa di Medan, Jakarta, dan Bandung.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *