Home Featured Menyambut Ananda ala Sumatera
0

Menyambut Ananda ala Sumatera

613
0
IMG_3870
Acara cukur rambut bayi sekaligus aqiqah. Foto-foto: Setiadi R. Saleh.

 

Manusia adalah makhluk mulia. Ia tidak hadir begitu saja sebagaimana apel yang jatuh dari pohon. Karena status mulianya itulah maka kedatangannya pun disambut dengan macam-macam penahbisan untuk mengenalkan yang baru lahir pada suatu tananan yang ada. Penahbisan ini telah dilakukan berabad-abad lamanya dan menjadi suatu tradisi yang tegak melintasi zaman.

Di Sumatera, kelahiran manusia juga ditandai dengan tasyakur dari masyarakat. Orang-orang mengistilahkannya dengan ‘bertasyakur’ atau ‘tasyakuran’ yang semuanya bermakna sama: bersyukur atau berterima kasih kepada Allah. Meski sama-sama bertasyakur, penamaan dan caranya memiliki perbedaan.

Di wilayah-wilayah Melayu, orang-orang mengenal apa yang disebut Endoi atau Dendang Siti Fatimah. Dendang ini biasanya dilakukan dalam acara mencukur rambut bayi dan pemberian nama. Saat didendangkan, bayi diletakkan di sebuah buaian atau wadah yang menggunakan kain songket dan hiasan-hiasan menarik. Buaian atau tempat sang bayi akan ditarik atau diayunkan perlahan-lahan dengan mengunakan selendang yang diikat di kiri dan kanannya.

Pengayunan bayi ini disebut juga “ayun budak”. “Ayun” di sini bermakna gerakan mendorong suatu wadah yang tergantung pada seutas tali atau selendang sehingga bergerak ke dua arah. Sedangkan “budak” dalam Bahasa Melayu/Indonesia berarti anak. Irwan Effendi dan Muslim Nasution, dalam buku Lagu Ayun Budak: Rampai Budaya Melayu Riau (2008), menuliskan bahwa pengayunan itu sarat makna dan nilai religius.

Saat bayi diayunkan itulah keluarga, kerabat, atau masyarakat mendendangkan marhaban, salawat, barzanzi, juga syair-syair, antara lain:

“Ayuhai anak di dalam buaian. Pejamkan mata jangan tangiskan. Lagi berendoi kami dendangkan. Di dalam majelis tanda kesyukuran. Lamalah sudah kami menanti. Namun engkau tak kunjung tiba. Dengan takdir Illahi rabbi, kini engkau sudah menjelma”.

Dendang Siti Fatimah sendiri merupakan salah satu bentuk sastra Melayu yang disebut mendapat pengaruh dari Arab dan Pesia. Ia mengisahkan pujian terhadap Nabi Muhammad, asal usul umat manusia di dalam rahim ibu yang bersusah payah, kewajiban untuk patuh pada orangtua, serta menaati perintah Allah sebagai pencipta. Pada saat yang sama, ia menjadi sarana pendidikan moral atau Islam sejak dini.

Asman, dalam penelitiannya yang berjudul Mitologi dalam Syair Dendang Siti Fatimah pada Masyarakat Melayu Binjai Timur (2012) di Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan, mencatatkan dendang itu dalam empat babak.

“Babak I | Amin-amin Ilahirrahman. Tetapkan olehmu taat dan iman. Selamat sempurna di dalam aman si Polan ini bagi beriman. Bismillah itu permulaan nama. Zat dan sifat ada bersama. Keadaan zat menyatakan asma. Qadim dan baqa sedialah lama. Dititahkan Allah Halikurrahman. Menyuruhkan ia membawa iman. Kepada nabi akhiru zaman. Kepada umatnya beberapa zaman.

Dengar olehmu ayuhai anak adam. Asalnya wahi nurul izan. Dipercaya empat nasirul Adam. Dipecahnya pula sekalian alam. Ialah awal ialah akhir. Demikianlah ia batin dan zahir. Nyata kepada arif yang mahir. Ayuhai umat ambillah fakir. Adalah asal kejadianmu. Nur setitik ketahui olehmu. Dengan kuderat iradat Tuhanmu. Malikat membawa kepada bapakmu. Shulbi bapakmu rahim ibumu. Empat puluh hari natepah namamu. Delapan puluh hari Alqah namamu. Seratus dua puluh hari Mazrah namamu.

Dengan kuderat Tuhan yang kaya. Empat bulan bersifatlah ia. Dikandung ibumu sentausalah ia. Menantikan cukup bilangan sedia.

Babak II | Amin-amin Ilahirrahman. Turun Jibrail dititahkan Tuhan. Membawa wahi dengannya firman. Kepada Nabi akhiru Zaman. Memperanakkan engkau beberapa kesakitan. Memeliharakan engkau beberapa kesusahan. Tat kalau sudah diperanakkan. Sakit dan demam dipeliharakan. Tidur dan duduk tak senang rasanya. Selagi belum besar tubuhnya. Jaram dan obat disediakannya.

Sanak saudara menghadapinya. Kasihkan anak sehabis cita. Mata mengantuk lidah berkata. Beratlah tangan meraba rasa. Anak tak lupa di dalam cita. Memeliharakan anak sangatlah susah. Tidak pernah merasa mudah. Alih ke kiri ke kanan basah. Berlumur dengan kencing dan muntah. Ayuhai anak muda bangsawan. Ibu bapakmu jangan di lawan. Dipeliharakan daripada angin dan hujan. Takut terkena penyakit sawan.

Babak III | Ya Ilahi Halukurrahman. Waya junjungan waya Muhammad. Kamilah ini minta selamat. Dari dunia sampai akhirat. Inilah nasehat ayahanda bunda. Supaya ingat di dalam dada. Kepada anakku usul yang sahda. Sedikit jangan diberi lupa. Karena hadis yang menyatakan. Barang katanya jangan dilawan. Mintalah doa kepada Tuhan. Turut taqwa sedia beriman. Sembahyang tuan jangan berhenti. Darilah hidup sampai ke mati. Di Padang Mahsyar di pangkal titi. Di sana ayahanda bunda menanti.

Babak IV | Ya Allah ya Tuhan Kami. Dikabulkan permintaan kami. Diberi rahmat kepada kami. Di Padang Mahsyar tolonglah kami. Selamat sempurna di dalam aman. Beroleh sentosa dalam kesenangan. Anak yang saleh Allah menganugerahkan. Supaya dapat ia mendoakan. Janganlah lupa sehari-hari. Senang sentausa semua diberi. Mendoakan kepada Rabbul’ijati. Kami sekalian mengampun jari. Habislah nasehat tamatlah kalam. Dendang Fatimah yang punya salam. Janganlah lupa siang dan malam. Kepada Tuhan Khalikul alam.”

Selain sebagai rasa syukur atas kelahiran dan pemberian nama, dendang atau syair ini terkadang juga berfungsi untuk mengiringi tidur seorang bayi. Hal ini dilakukan oleh ibu yang sudah menguasai syair tersebut.

***

(613)

1

Ayunan untuk mengayunkan anak dalam menyambut kelahiran si buah hati. Nantinya, ayunan ini akan dihias dengan kertas beraneka warna dan rupa. Selain terbuat dari rotan, ayunan kadang juga dibuat dari kain yang digantungkan pada tiang.
Ayunan untuk mengayunkan anak dalam menyambut kelahiran si buah hati. Nantinya, ayunan ini akan dihias dengan kertas beraneka warna dan rupa. Selain terbuat dari rotan, ayunan kadang juga dibuat dari kain yang digantungkan pada tiang.

Di Sumatera, ada keserupaan yang umum dalam proses menyambut kelahiran manusia atau bayi. Di Aceh, misalnya, usai pencukuran rambut dan penamaan nama, yang disebut peucicap, bibir bayi diolesi madu. Sembari mengolesi madu, kepada bayi dibacakan:

“Bismillahirahmanirrahim. Maniskanlah lidahmu dan panjangkanlah umurmu, mudahkan rezeki, taat beriman, terpandang di dalam kawom.”

Praktik mengolesi bibir bayi dengan madu ini juga dapat ditemukan dimana-mana di seantero Sumatera.

Sementara itu, ketika bayi berusia dua tahun, Aceh mengenal upacara “turun tanah”. Saat bayi diturunkan ke tanah, dia ditudungi sehelai kain yang setiap sudutnya dipegang oleh empat orang. Peristiwa ini mengingatkan kepada Nabi Muhammad saat mengangkat Al-Hajaral Aswad dengan sehelai kain, yang setiap ujung tepinya juga dipegang oleh empat pemuka golongan.

Dalam acara turun tanah itu, buah kelapa dibelah di atas selembar kain. Hal ini dimaksudkan agar bayi tidak takut akan bunyi petir. Belahan kelapa lalu dilempar ke arah wali karong-nya (sistem kekerabatan keluarga terdekat). Kemudian, seorang anggota keluarga bergegas menyapu tanah dan yang yang lain menampi beras. Itu kalau bayinya perempuan. Kalau bayinya laki-laki, maka yang dilakukan adalah mencangkul tanah, merajang batang pisang, tebu, memotong rumput, panjat pokok pinang atau kelapa. Maknanya, agar anak perempuan menjadi rajin dan anak laki-laki menjadi kuat sebagai pelindung.

Akan tetapi, jika di Aceh disebut “turun tanah”, maka di Medan (Tanah Deli) disebut “turun sungai” atau “turun mandi”. Di sini, kaki bayi ditatihkan dan dicelupkan ke air sungai.

Sementara itu, dalam tradisi Toba, ketika bayi sudah lahir, sang ayah akan segera membelah kayu dengan kampak. Hal ini dilakukan kapan saja si bayi lahir, entah siang, malam, atau dini hari. Hal ini menimbulkan suara gaduh, dan umumnya tetangga sudah tahu bahwa seorang anak telah dilahirkan.

Setelah membelah kayu, ayah sang bayi akan menyiapkan kayu bakar di atas para-para, berkemas di dapur, dan membersihkan tungku. Tidak lupa jendela dan pintu rumah dibuka lebar-lebar. Lalu kayu dibakar hingga asapnya terbang tersuling seperti angin beliung.

Keluarga yang mendapatkan karunia anak pun seketika memotong ayam dan menanak nasi, lalu bergegas ke rumah tetangga untuk mengundang makan. Tetangga pun secara sukarela memberikan bantuan tenaga atau bahan makanan. Jika tidak ada daging atau ayam, seadanya lauk saja. Tradisi ini disebut mangallang haroan atau mangharoani (menikmati makanan kelahiran).

Sementara itu, jika Aceh dan Medan mengenal tradisi turun tanah dan turun sungai, maka Toba mengenal apa yang disebut mangambit marambit atau menggendong bayi. Selang beberapa minggu, gendong bayi ini kemudian diteruskan dengan pemberian nama (goar) dan pembaptisan kudus Kristiani (bagi yang beragama Kristen). Tujuannya supaya setiap anak yang lahir mendapatkan berkat. Pembaptisan adalah ucapan syukur, menerima keampunan dosa, kelahiran kembali, pelepasan dari maut, penolakan terhadap kuasa iblis, serta hidup dalam lindungan Tuhan.

Cara penyambutan berbeda terjadi di Karo. Di sini, kelahiran anak disambut dengan mbesur-mbesuri, yang kira-kira bermakna makan sampai sampai puas. Saat seorang bayi dilahirkan, tersedia sajian khas setalam nasi putih, ayam gulai utuh, telur dan jeroannya, masakan ayam khas Karo (tasak telu), dan kue khas Karo cimpa untuk para tamu. Cimpa adalah makanan yang mirip serabi. Isinya kelapa dan gula merah. Kadang tersedia pula air nira.

Di Painan, Sumatera Barat, ada pula tradisi baparang (berperang). Tetapi, hal ini hanya dilakukan jika ada anak sumbang atau anak kembar yang berbeda jenis kelamin, yakni laki-laki dan perempuan. Hal ini dilakukan supaya kelak, ketika sudah dewasa, anak kembar yang berbeda jenis kelamin itu dapat “dipisahkan”.

Tradisi baparang anak sumbang bukanlah sesuatu yang berdarah dan menghunus senjata untuk memutuskan nyawa dari jasad. Tetapi, ia dilakukan dengan cara melempari rumah dengan pisang rebus. Setelah makan bersama, para pelaku perang-perangan ini harus menyaru rupa dengan menutupi muka pakai daung topeng.

Dalam prosesinya, pelaku perang-perangan ini, atau prajurit induak bako, diharuskan menggunakan pakaian khusus yang terbuat dari dedaunan berbagai jenis, seperti daun pisang muda, daun nangka, daun pisang kering, dan pelepah.

Jika telah selesai, kegiatan baparang anak sumbang kemudian ditutup dengan doa syukur yang dipimpin oleh alim dan ninim mamak, yang merupakan kumpulan datuk-datuk penjaga negeri.

Pada komunitas yang disebut Orang Rimba, yang tersebar di perfektur Jambi, tradisi menyambut kelahiran manusia disebut sale. Sale sendiri merupakan upacara untuk memanggil roh. Tujuannya supaya roh nenek moyang memberkati yang punya hajat, baik orangtua maupun si bayi. Upacara ini dipimpin oleh seorang Malim. Dia adalah pemimpin spiritual yang dituakan dalam komunitas Orang Rimba. Saat dilakukan, upacara ini tertutup dan tidak boleh dilihat orang luar.

Kemudian, pada masyarakat Bangka Belitung, penyambutan manusia baru dilakukan dengan apa yang disebut “tangga tebu”. Tetapi, biasanya tangga tebu ini dilakukan oleh keluarga berada.

Meskipun bangka Belitung masih menyimpan secara lekat kepercayaan klenik, pengaruh Islam nyatanya lebih kuat. Karenanya, pada bayi yang baru lahir, dalam proses cukur rambut dan penamaan, lebih sering diadakan “selamatan kampung”, syukuran, doa-doa, dan syair marhaban daripada mantra-mantra penolak bala angkara.

Di Palembang, Sumatera Selatan, dikenal apa yang disebut menggunting. Dahulu, setelah kelahiran, orangtua dari suami mengantarkan cupu-cupu kecil kepada istri dari anaknya. Cupu-cupu adalah tempat sirih yang didalamnya ada tersimpan beberapa lembar kain. Pengantaran cupu-cupu merupakan bentuk kegembiraan karena anak si buah hati telah lahir.

Tradisi menggunting diisi dengan bercukur dan marhaban, akikah dan pemberian nama. Pada saat menggunting, akan terlihat bendera kertas yang berwarna-warni. Pada bendera ini dilekatkan uang, permen, atau telur.

Berbagai tradisi di Sumatera ini menampilkan gambaran atas kemuliaan manusia yang lahir di muka bumi. Begitu berarti dan mulianya manusia sehingga kehadirannya perlu disambut dan dipersiapkan.

(613)

Setiadi R. Saleh Setiadi R. Saleh adalah penyair asal Langsa (Aceh Timur) dan kemudian menetap di Medan (Sumatera Utara). Usai menamatkan kuliah dan bekerja di Bandung (Jawa Barat), kini ia kembali berdomisili di Medan. Karya-karya sastra dan esainya dimuat di sejumlah media massa di Medan, Jakarta, dan Bandung.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *