Home Featured Mandalawangi, Perjalanan tentang Cinta tak Sampai
0

Mandalawangi, Perjalanan tentang Cinta tak Sampai

687
0
Matahari terbit di Cibodas, Bogor, Jawa Barat. Foto-foto: Esther Pandiangan
Matahari terbit di Cibodas, Bogor, Jawa Barat. Foto-foto: Esther Pandiangan

 

Gunung Gede melambangkan perjalanan dan Gunung Pangrango merupakan tempat untuk kembali. Begitu masyarakat tempatan memberi makna pada dua gunung yang bertetangga ini.

Kedua gunung yang berada di wilayah Bogor, Jawa Barat, ini memang cukup memikat bagi para pelancong. Hampir setiap akhir pekan, Pangrango menjadi destinasi bagi mereka yang mencari ketenangan. Agen-agen perjalanan pun cukup sering membuat jadwal bepergian ke sini. Ini bukti bahwa minat orang untuk berkunjung memang cukup tinggi.

Selain pikat fisiknya, gunung ini juga menyimpan satu kisah romantisme anak muda. Kisah itu bertaut pada sosok Soe Hok Gie, seorang mantan mahasiswa sastra Universitas Indonesia, penulis, juga aktivis Jakarta tahun 1960-an yang lahir pada saat dunia bergolak, 1942. Usianya tak panjang. Dia mati muda. Pada 1969 dia tewas karena mengisap gas beracun di Gunung Semeru, Jawa.

Dalam rentang waktu hidupnya, Gie sering mendatangi Pangrango dan menyepi di Mandalawangi–lembah di Pangrango. Karena ketenangan ini jugalah barangkali yang membuatnya mencintai Pangrango, dan membuat teman-temannya berikhtiar untuk menabur abunya di lembah tersebut. Di sini pula dia melakukan permenungan-permenungan yang melahirkan banyak puisi, mulai dari pandangan-pandangan politik sampai kisah cintanya yang tak selesai.

Ini salah satu puisi Gie, bertajuk “Mandalawangi – Pangrango”, yang lahir dari Pangrango pada 19 Juli 1966:

Lembah Mandalawangi.
Lembah Mandalawangi.

 

Senja itu,
Ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali ke dalam ribaanmu
Dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walau setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima dalam daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintaku dan cintamu adalah kebisuan semesta

Malam itu,
Ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali berbicara padaku
Tentang kehampaan semua

Hidup adalah soal keberanian
Menghadapi tanda tanya tanpa kita mengerti
Tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah

Dan diantara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima ini semua
Melampaui batas hutan-hutanmu
Melalui batas-batas jurangmu

Aku cinta padamu, Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Selepas Gie wafat, pesona Mandalawangi kian menghipnotis orang-orang hingga sekarang, dan entah sampai kapan. Mandalawangi pun menjadi ikon bagi para pendaki yang menjadikan Sok Hok Gie sebagai idola dan pendamba romantisme.

Medan yang relatif sulit untuk ditempuh.
Medan yang relatif sulit untuk ditempuh.

Nuansa “Gie” memang terasa di sini. Tak jarang ada pasangan yang mendaki gunung cinta ini dan mendirikan tenda di Mandalawangi. Ramai yang mengucapkan janji sembari bergandengan tangan dan duduk termenung menatap kuncup-kuncup edelweiss yang bertumbuhan. Puncaknya memang tidak begitu luas. Tapi, dari ketingian 3019 meter di atas permukaan laut, barisan awan serta bukit-bukit hijau nampak membentang. Angin beku menampar wajah, mengeringkan keringat yang terkuras di perjalanan.

***

Jalur yang jelas dan relatif tak begitu berat membuat beberapa gunung-gunung di Tanah Sunda menjadi favorit bagi regionalnya. Selain Pangrango dan Gede, ada juga yang menjadi destinasi para pelancong. Sebut saja Gunung Papandayan, Cikuray, Guntur, atau Ciremai.

Pangrango sendiri dapat dicapai dalam beberapa jalur. Sejauh ini, yang terdata ada sekitar dua puluh jalur. Dan yang paling populer adalah jalur Cibodas, yaitu melalui Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Jika melewati rute taman nasional itu, pengunjung bisa menikmati objek-objek menarik lain lain sebelum sampai ke Pangrango. Beberapa di antaranya adalah Air Terjun Cibeureum dan lokasi pemandian air panas. Destinasi ini akan dilewati sebelum mencapai Kandang Badak–yang biasanya menjadi tempat berehat ataupun menginap sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak Pangrango.

Gunung Gede dan Gunung Pangrango dilihat dari Cibodas.
Gunung Gede dan Gunung Pangrango dilihat dari Cibodas.

 

Akan tetapi, meski jalur Cibodas tidak begitu berat dibanding jalur lain, ia tetap menguras keringat. Apalagi untuk orang yang jarang berolahraga. Dengan kecepatan jalan kaki yang biasa, waktu tempuhnya sekitar tujuh sampai delapan jam untuk mencapai Kandang Badak. Selebihnya antara dua hingga jam untuk sampai di Pangrango, dan 1,5 takat dua jam untuk tiba di Mandalawangi. Jalan yang dilalui cukup sempit, becek, penuh tanjakan. Beberapa batang pohon besar juga kerap menghalangi jalan.

Susah payah perjalanan ini terbayar begitu tiba di tempat tujuan. Mimpi untuk berada di labuhannya Soe Hok Gie pun terwujudlah sudah. Sebuah perjalanan tentang cinta yang tak sampai….

(687)

Ester Pandiangan Ester Pandiangan adalah seorang jurnalis yang lahir di Batuphat, Lhokseumawe, Aceh, pada 2 Juni 1986. Ia pernah bekerja di salah satu harian, pun majalah gaya hidup, di Medan. Sejak hijrah dari Medan ke Jakarta pada Maret 2012, ia menjadi jurnalis di salah satu majalah perempuan.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *