Home Sastra Kampung Miskin
0

Kampung Miskin

89
0
Hasduni Surono.
Hasduni Surono.

 

Sudah seminggu Juarlis merenung tanpa ujung. Hari-harinya dipenuhi keluhan. Seharian ia mondar-mandir seperti sedang tak waras. Pagi sejak fajar berpamit ia duduk di bangku bambu depan rumah. Siang hingga menjelang senja, ia meringkuk tidur bersama istrinya. Dan kala senja hampir larut, ia terbangun dengan perut keroncong dan peluh keringat sebesar biji jagung. Ia lihat istrinya masih tertidur, meski ia sendiri tak yakin apakah istrinya benar-benar tidur.

Sebelum malam benar-benar tiba, Juarlis masih duduk di belakang rumahnya. Warna kemerahan dibiarkan menerpa wajahnya yang seakan mulai sayu. Wajah Juarlis memang terlihat lebih tua dibandingkan dengan usianya yang masih berkepala dua. Tak hanya wajah, tubuhnya pun kurus dengan dominasi urat menyembul di setiap kulit tangan, kaki, dan leher. Mungkin begitulah cara wajah mengalahkan usia. Tinggal menaburkan kegetiran hidup sebanyak-banyaknya.

Di Kampung Miskin, Juarlis tinggal bersama dua puluh satu kepala keluarga lainnya. Seperti namanya, kampung itu hanya dipenuhi bayangan kemiskinan yang berlarut. Tidak ada rumah bersemen, kendaraan berasap, warung sekedar untuk ngopi dan yang berbau kemewahan lainnya. Kemewahan seakan tidak hendak menghampiri desa itu. Keseharian mereka hanya digantungkan kepada pengunjung yang datang. Jika dalam sehari tak ada yang berkunjung ke kampung mereka, maka sepanjang malam hanya ada harapan. Harapan ada pengunjung di hari esok.

Seperti itulah kehidupan di Kampung Miskin. Kaum laki-laki tak bisa berbuat banyak. Itu terjadi sejak perusahaan tambang mulai hengkang dari kampung mereka. Sekarang hanya ada ibu-ibu dan anak-anak yang mencari nafkah.

***

“Bagaimana mungkin kita nikahkah anak-anak kita sedangkan kita mengkhawatirkan hadirnya seorang cucu,” ujar Umar dalam suatu masa para lelaki tua dan dewasa sedang berkumpul untuk membahas masa depan Kampung Miskin.

Kuping Juarlis bak terbakar disambar petir mendengar celoteh ayahnya itu. Hatinya berkecamuk seketika. Betapa pernikahan ia dengan Kumala sebulan lalu hanyalah sebuah keterpaksaan. Keterpaksaan antara kewajiban orangtua dan hak seorang anak. Ia tak tahan. Sebagai lelaki dewasa, ia ingin menangkis argumen itu. Dan mungkin tak Juarlis saja yang tersinggung. Tapi semua lelaki dewasa yang hadir di pendopo reot peninggalan salahsatu perusahaan tambang di kampung itu. Bukankah kado terindah buah dari pernikahan adalah seorang anak? gumam Juarlis.

“Betul katamu, Mar. Kita sebagai orang tua sudah merasakan betapa sulitnya mencari nafkah. Jangankan nanti ketika punya anak, untuk makan sehari-hari mereka berdua saja entah darimana?” Belum sempat Juarlis memberikan pembelaan, Bombang, ayah Kumala, sudah menimpali.

Juarlis terdiam, pun dengan pemuda dewasa lainnya. Seolah semua paham arah dan tujuan pembicaraan apabila ditanggapi.

Bukan mereka tak berdaya. Tapi begitulah realita yang harus ditanggung penduduk di Kampung Miskin. Juarlis dan pemuda dewasa lainnya tahu betul, untuk makan sehari-hari saja sudah susah. Menangkap ikan di sungai yang tercemar air asam sebuah kemustahilan. Bercocok tanam di tanah yang tak punya humus adalah kesia-siaan. Sedangkan mengharap belas kasihan dari pengunjung yang datang ke Kampung Miskin hanya tinggal kenangan. Kampung miskin sudah tak punya daya tarik. Hanya tersisa kemiskinan berlarut-larut menyelimuti kampung itu. Kampung Miskin seperti harapan yang hampir habis.

***

Senja yang getir pun hampir lalu. Hamparan tanah yang tak berpenghijau perlahan hilang disapu warna keemasan. Senja yang benar-benar getir, segetir hati Juarlis dan penduduk kampung.

Juarlis memutuskan beranjak dari tempatnya bermenung. Ia masuk ke dalam rumah. Ia menoleh ke arah ranjang. Dilihatnya Kumala masih berbaring. Ia hampiri istrinya itu. Bagi Juarlis, Kumala memiliki sepasang mata yang sangat indah: tajam dan teduh. Juarlis selalu menemukan kedamaian apabila menatap mata Kumala. Mata yang baginya seperti ladang padi tak pernah usai untuk dipanen.

Kumala bukanlah gadis primadona desa dikebanyakan cerita—cantik, rambut terurai lurus, udik namun mempesona dan menjadi rebutan banyak pemuda. Seperti gadis dari orangtua miskin lainnya, tangan Kumala kasar. Kulitnya hitam tak terawat. Rambutnya kusut karena hanya sesekali dikeramas. Tapi dengan matanya, Kumala punya daya tarik. Setidaknya bagi Juarlis. Mata itu tak bisa direnggut oleh nasib.

“Ada masanya kita akan mempunyai keturunan sayang,” bisik Juarlis tepat di telinga Kumala sebelah kanan, “dan aku janji anak kita tak akan kelaparan”.

“Aku sudah bosan dengan harapan, Kak. Harapan tak lebih hanya pembelaan atas ketidaksanggupan.” Kumala mulai beranjak bangun, sembari ia membenarkan sarungnya yang hampir lepas.

“Aku juga tak ingin menjalani hidup sepahit ini. Siapa yang tahan, hanya untuk bercinta saja harus menunggu di waktu yang tepat? Tapi kita harus bersabar,” Juarlis coba untuk menenangkan perasaan gundah istrinya.

“Menyedihkan memang. Bahkan untuk menjadi miskin saja membutuhkan pengorbanan dan ketabahan.”

Kumala berlalu dari kamar. Entah apa yang hendak dilakukannya. Mungkin ke dapur, untuk merebus singkong gajah yang Juarlis ambil dari belakang rumah seminggu lalu. Atau ke sumur, mencuci tubuh yang seharian berpeluh keringat.

***

Dahulu, di sebelah timur Kampung Miskin, ada sebuah gundukan menjulang yang di puncaknya terdapat hamparan pasir putih. Entah masa itu generasi ke berapa sebelum Juarlis lahir. Ia tak pernah tahu. Ia hanya mendengar cerita yang tak lengkap dari para orang tua. Dan dari bekas gundukan pasir itu sendiri, yang sekarang telah menjadi bukaan lubang besar menganga— mungkin besarnya dua kali luas Kampung Miskin, terdapat genangan air yang jika tumpah bisa merendam seluruh Kampung Miskin.

Pasir putih yang terdapat di bukit pasir memiliki tekstur yang sangat baik untuk membangun rumah, jembatan, gedung mewah, jalan, atau bangunan lainnya. Konon, apabila mendirikan bangunan dengan pasir itu, bangunan tidak akan pernah roboh. Bahkan meski dihantam gempa besar sekalipun.

Dari sanalah penduduk tempatan mendapatkan keberkahan. Sedari pagi hingga sore, puluhan penduduk melinggis, mencangkul, mengais—dengan cara apapun, mengumpulkan butiran pasir untuk dijual. Pembelinya adalah para pendatang yang asalnya tak pernah diketahui. Penduduk menyebutnya orang luar. Berdasarkan informasi yang masih simpang siur, para pembeli itu datang dari daerah yang sangat jauh. Sehingga mereka harus mengumpulkan berkapal-kapal pasir terlebih dahulu, sebelum berangkat ke daerah di mana pasir itu akan dijual.

Lama kelamaan, bukit pasir terkikis. Ketinggiannya mulai tergerus. Tapi siapa peduli. Penduduk hanya ingin mengambil pasir. Tak peduli setelah pasir habis, apalagi yang akan mereka gali. Sementara, para pembeli semakin banyak berdatangan.

“Kenapa pembeli itu semakin bertambah? Bukankah pasir kita ini semakin berkurang?” ujar salah satu pekerja.

“Ah sudahlah. Kita jangan bertanya-tanya akan suatu hal yang tidak menghasilkan uang,” pekerja lain menyahuti.

Sementara penduduk asyik melinggis dinding-dinding permukaan bukit pasir, orang-orang luar kian berdatangan. Mereka datang bersama para ahli geologi. Awalnya mereka penasaran dengan kualitas pasir-pasir yang terkenal itu. Setelah diteliti, rupanya butiran-butiran pasir terkontaminasi mineral berharga. Mineral yang dapat menyatukan semen dan pasir lengket seperti besi. Para ahli itu beranggapan, apabila mineral tersebut dapat diambil, maka untuk mendirikan bangunan di perkotaan yang tahan akan goncangan gempa akan semakin mudah. Dengan demikian, investor akan jor-joran mendirikan hunian mewah pencakar langit. Dan semakin menggiurkan orang-orang berduit di kota untuk menghuninya. Tanpa takut roboh. Dan tentunya tanpa takut digusur.

Beberapa bulan kemudian, bukit pasir benar-benar habis. Tidak bisa dikeruk lagi. Pasir yang tersisa sudah bercampur dengan tanah. Orang luar pun mulai melakukan perundingan dengan penduduk. Mereka berniat mengelolah bekas bukit pasir itu dengan embel-embel akan melebarkan jalan, mendirikan masjid, dan mendirikan pendopo untuk penduduk berkumpul. Dan yang terpenting, penduduk setempat bisa bekerja sebagai tukang sapu kantor, tukang cuci mobil, pembabat rumput, tukang masak sampai anggota keamanan di perusahaan yang akan dibangun nantinya.

Tanpa perundingan alot, kesepakatan diambil. Penduduk kampung sepakat menyerahkan lahan bukit pasir untuk dikelolah orang luar. Setidaknya, pikir penduduk, ada jalan untuk mengubah nasib. Setidaknya, penduduk tak perlu mengais pasir dengan menjemur badan setiap hari.

Setahun berlalu, bukit pasir hanya tinggal nama. Tidak ada lagi gundukan. Lahan di area bukit pasir itu telah ditebangi dan dijadikan kantor dadakan, perumahan karyawan, dan tempat parkir alat-alat berat yang digunakan untuk mengeruk mineral. Demikian juga dengan air sungai. Rupanya, penambangan mineral itu menghasilkan limbah. Penduduk tak pernah tahu jika penambangan itu menghasilkan limbah. Mereka baru tahu setelah perusahaan tambang itu gulung tikar. Bukan karena bangkrut, tapi mineral berharga yang selama ini mereka eksploitasi telah dilahap habis. Kini penduduk mendapati banyak ikan mati di sungai.

“Bodoh sekali kita. Hanya untuk makan saja harus menginjak-injak harga diri sendiri.”

“Tak usah dirutuki nasi yang sudah menjadi bubur.”

Penduduk mulai gaduh. Tak tahu harus menggantungkan hidup darimana. Sementara, orang-orang luar sudah tak sudi menengok kampung itu. Lokasinya yang berada di peradaban entah—namun teridentifkasi orang rakus, menjadikan kampung itu lumbung kemiskinan. Generasi ke generasi semakin terisolasi. Harapan demi harapan berlalu tanpa sekalipun berlabuh, walau sejenak.

Begitulah cara kampung itu menjadi miskin.

***

Di atas tanah terbuka yang tak terlalu luas, kabut pagi berarak pelan-pelan dan berubah menjadi seperti gumpalan-gumpalan harapan. Satu dua burung yang masih betah tinggal di pohon yang tak banyak lagi berkicau dengan seruan menyemangati. Begitulah cara fajar menyambut Kampung Miskin setiap hari. Walaupun, bagi Juarlis dan penduduk lainnya, hari ini tak ubahnya dengan hari kemarin yang diulang.

 

(89)

Hasduni Surono Hasduni Surono adalah seorang wartawan di Sumatera Selatan. Sebelumnya dia merupakan redaktur pelaksana pada media pers mahasiswa Ganto di Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *