Home Sastra Senja Sendiri
0

Senja Sendiri

163
0
Fadriah Syuaib.
Fadriah Syuaib.

 

Kupu-kupu jingga saling berkejaran. Mungkin ia mengabarkan atau sekadar bertandang. Mereka menebarkan sayap, bersentuhan, melepas, lalu terbang lagi. Tidak tampak mana betina mana jantan, tapi dimana-mana yang mengejar itulah jantan. Kadang, dengan rasa saja bisa membedakan hal itu.

Di hadapanku ada perempuan tua renta. Aku menemaninya seharian. Ia bercerita banyak tentang hidupnya. Kadang kulihat ia tersenyum, lalu perlahan air matanya menitik membasahi sudut wajah kurus lagi keriput.

Kulit keriput pembungkus tulangnya semakin lama semakin mengendur. Tubuh yang lincah seketika layu dan kering. Dahulu ia bersuara keras, tapi kini hilang tak bergema. Kini ia tak seperti kemarin yang selalu segar. Lincahnya perlahan meluntur termakan waktu. Memang hidup tidak terus menerus mekar; sesekali layu, sesekali kering. Jika sudah begitu perlahan akan gugur.

Tatapannya meminta untuk kudekati. Suaranya yang layu sekaku lidahnya yang kelu. Tampak raut kesakitan di sudut bibir keriput. Sesekali ia menatap kosong, sesekali memejam rintih. Dan aku masih saja terus berusaha memahami bahasa rongga yang tidak jelas apa maksudnya.

“Ake jo… ake jo…”

Begitu ucapnya kalau dia meminta minum. Desahan kering yang mulai retak. Ia seperti menelan api; hawa panas yang seakan melewati gurun tandus.

Kini semua menjadi sakit. Sakit di hati menembus jantung perlahan mengendap ke paru-paru lalu lama-lama menjadi beku. Sekarang dia pun mati kutu. Entah harus dengan jalan apa lagi dapat terlepas bebas. Pijakan berenergi itu luluh perlahan; peluhnya sakit, parunya pun sakit. Ia semakin menderita.

“To sone bato yaya jo… to sone bato… Jou yaaaa… to poha ua maaa. Oro fajaru ma Jou….”

Teriakkannya semakin meninggi meraung menahan kesakitan, seakan bara mengais-ngais tenggorokannya. Seandainya aku tahu penawar itu, mungkin ia tak mengendap pilu seperti ini. Mataku membasah, miris hati dan jantung. Mungkin hanya doa dan kuberharap pula ada doa lain yang dipunyainya yang paling tidak menyelamatkan usianya yang sudah beraroma tanah dan susah mati.

Sesekali, perasaan lain membuatku takut; semacam kehawatiran berlebihan. Jika dia harus pergi, aku harus mengantarnya kemana? Jalan dan pintu sebelah mana yang layak untuk aku lewati? Lalu, aku mencoba menghibur diri sendiri dan menganggap hal yang kubayangkan tadi tidak pernah terjadi. Pasti masih lama ia akan bertahan. Pasti masih perlu waktu untuk ia mengakui dosa-dosanya padaku. Aku yakin itu. Lirihku berharap.

Terlihat kupu-kupu itu masih setia di sisi kamar. Sejak tak ada suara, kupu-kupu itu hanya sendiri. Kekasihnya telah pergi bak peri yang hilang. Mungkin ia menanti ada jawaban dari sang jingga yang lain. Tapi, desahan nafas kerikil itu seakan bergerigi. Ia terdengar saat dada dan batang lehernya bergerak naik turun. Mataku terus terjaga. Kali ini tidur bukanlah solusi terbaik. Ya, mungkin beberapa jam lagi aku akan melakukannya. Tetapi, sejak menatap wujudnya dalam jarak selangkah, aku akan lebih tenang saat air doa itu tertumpah di mulutnya. Entah jadi penawar atau sekadar basah sesaat.

Semoga air doa itu dapat mengabarkan keajaiban hingga esok.

***

Jika kepompong berlahan berubah menjadi kupu-kupu, maka itu sebuah jawaban terindah yang pernah kudengar. Sadari akan hal tentang rasa. Tentang lama, tentang awal, tentang segala menjadi indah.

Pagi ini tidak ubahnya seperti kemarin. Di luar masih tampak rapi dan bersih. Cahaya mentari lebih bersinergi, memancarkan harapan baru yang nanti akan punya cerita baru lagi. Terlintas di benak tentang kabar Yaya Ji. Bagaimana ia sekarang?

Beberapa langkahku perlahan mendekatinya yang terbujur kaku di tempat tidurnya. Terlihat senyum bibir keringnya begitu manis. Semoga itu sebuah jawaban baik yang bukan hanya isyarat saja.

Aku membersihkan semua di dirinya, bahkan semua yang dimilikinya. Tubuh kami menempel sewaktu dia memintaku duduk sejenak. Tirus wajahnya perlahan terlihat sehat. Saat kuberanjak, dia menggenggam jemariku lembut.

Aku geming saat dia mengatakan ingin bercerita banyak. Sebab, waktu adalah keputusannya. Dan, hari adalah jawaban atas sesuatu yang tertunda; terkini dan terdatang.

Kata-kata mulai merumuskan kalimat masa lalu yang diutarakannya dari bibir tipis bergaris layu. Berawal darinya yang seorang kembang desa. Ia lahir, kecil, hingga dewasa menari di desa. Ayahnya seorang nelayan; berlayar petang kembali fajar untuk membawa harapan, mengubah nasib hanya untuk keluarga.

Perlahan ia bercerita. Sewaktu usianya mekar, mereka bertemu tanpa sengaja di serambi. Ia mengenakan kebaya merah berkembang putih. Wajahnya seroja, indah bak bulan perawan. Sisiran rambutnya rapi, bergumpal menjadi konde kecil di belakang. Bila pagi seroja itu mekar, wangi menawan menebar aroma pesona.

(163)

1

Lalu ia bernama Nurji yang terbungkus pada semua jasadnya. Setelah berpuluh-puluh tahun hidup, ia pun disapa dengan sebutan Yaya. Yaya adalah ungkapan hormat seorang anak terhadap ibu. Lalu, Yaya bersambung Ji. Akupun mengenalinya demikian; Yaya Ji.

Di serambi itu ia mengenal Robo; laki-laki nelayan dari Sahu yang memberinya cinta tanpa keraguan. Apapun yang ia minta, Robo tidak pernah menolak. Robo yang datang dengan sejumput janji dan kerinduan, terus berharap padanya selayaknya bualan cinta kasih terbungkus hasta rindu mendalam. Namun, sayang, janji segala janji Robo tidak membuatnya mudah untuk mendapatkan hati seroja. Laki-laki hitam itu harus menumpulkan batu cadas dalam lembah belukar.

“Dia laki-laki terbaik yang pertama dan terakhir yang aku kenal sepanjang hidupku. Meskipun cintanya tidak langsung terjamah, aku terkapar saat dia memberiku madu. Aku terbuai dengan segala rayunya, hingga tak sadar bahwa di sebelah madu itu ada racun yang mematikan.

Kami menikah di usia mekar; saat rindu yang lama tunggu, terhapus oleh cinta menggebu. Dia mengisap wangiku sedalam tubuhnya yang pekat. Tubuhku melayang di atas nirwana, jemari kekar pun menuntun. Genggamannya yang kuat seakan terdiam dalam aroma nafas tanpa sekat.

Wangi seroja pun perlahan memudar; berganti bau amis darah, menyekat, menjalar ke tenggorokan hingga jantung dan usus. Aku akan menggenggam tangannya sampai nanti menjadi jawaban hidup, hidup bersama dan bahagia atau siksa dan derita seperti ini.”

Matanya basah, perlahan menitik saat kelopaknya menari. Ia seperti berada dalam dunia terbelah oleh pilihan Robo. Sebab, cintanya menitipkan ilmu ini, yang menjadikannya sengsara dan tak berdaya.

Hitam yang mengabuti jasadnya adalah hitam yang benar-benar pekat. Sepekat tiga sendok kopi dalam setengah gelas air panas; perlahan berubah menjadi setan, diperdaya oleh mereka lalu menyerupai binatang, pergi malam pulang pagi. Ia mengais di gubuk orang seperti pengemis. Jika ia menjadi mereka, hanya kerakusan yang tersalami. Tak peduli ada yang sakit, tak peduli setengah mati, hingga sampai mati saja ia tak pernah peduli. Sebab yang diingini hanyalah kepuasan. Hingga kini, “Suanggi” menjadi sebuah gelar dalam kerajaan hitam yang terpaksa diikutinya.

“Saat kejadian merambah di ujung-ujung malam, seluruh rambutku berdiri, tubuhku mulai terasa kaku, peredaran darahku terhenti saat mendengar mantera Robo. Perlahan tubuhku tak lagi berisi, melayang menyisir pekat malam. Jasad tanpa kepala berdiam di kamar, kesadaranku tak berasa, hanya suara sumbang menyerupai lintah.

Aku tak ubahnya seperti kelelawar; binatang pemalas menakutkan yang suka malam dan benci matahari, yang membisikkan siulan pada jeruji jendela. Besar kecil siulan itu adalah isyarat keberadaanya, seperti jauh-dekat. Sebegitu dekat hingga wajahku menempeli dinding, apalagi saat hujan gerimis dan bau amis darah orok. Liur tak mampu tertahan sampai tak sadar akan menitik perlahan menjadi aroma bunga. Aroma itu tak akan berhenti; selalu lama dan paling lama. Aku menanti mereka memberi, bernafsu dengan janji sampai kapanpun terus menanti. Aku menanti Robo yang pernah berjanji kalau ilmu ini akan mengabadikan cinta kami, meskipun ia tak pernah menempati janjinya.

Keabadian menurutku seperti asap. Di saat mengepul, ia terlihat jelas. Lalu, perlahan ia terhapus, hilang, dan menyebar menjadi bau. Terakhir, ia hanya membekas di setiap penciuman. Di situlah keabadian merajalela, sebab sudah mengendap di paru-paru yang akan menjadi noktah.

Janjinya berkhianat. Aku terperangkap padanya: pada kematiannya, pada semua makanannya, pada mantera-mantera ajaibnya, pada lagu-lagu salai, pada air liur cempaka, pada nafas darah dan tanah, pada cinta merah hati yang kosong tak beruang. Hingga aku pun menjelma menjadi burung. Pergi dan pulang mengikuti udara dan sampai lebih dulu. Semua ternganga menatap kehadiran ajaib. Lalu aku tersenyum, mengisayaratkan kekuatan yang datang dari ilmu ardu.”

Kini ia renta, tak berdaya, dan tak lama lagi akan binasa. Pengakuannya tertulis pada tetesan-tetesan air mata. Air suci itu mengalir di seluruh tubuhnya yang penuh dengan kecoa, cacing dan kalajengking. Perlahan tubuhnya terkulai. Setengah nyawa hilang entah kemana. Mungkin saja digenggam oleh malaikat maut saat berdiri di dekatnya.

“Aku pernah menjadi Suanggi, menakut-nakuti manusia di siang dan malam hari. Berjalan tak bersentuhan bumi. Meninggalkan kepala di sini dan hanya berbadan di sana. Mataku merah, hatiku hitam. Tapi, aku takut mati,” ujarnya dengan suara gemetar.

***

Kupu-kupu jingga itu masih bertandang di sudut kamar. Ia belum beranjak dari semula. Mereka seperti yakin akan sehidup semati. Jika nanti mereka harus pergi, entah kapan lagi akan kembali. Jiwa Yaya Ji pun perlahan memutih. Dan, aku hanya kaku menahan langkah untuk bisa meyakinkannya.

Kini, arah mata angin berubah haluan; dari timur menjadi barat menjadi selatan menjadi utara. Jika nanti Yaya Ji menjadi angin, aku memilih menjadi kupu-kupu. Menantinya dalam putaran angin di setiap musim.

 

Keterangan:
Ake jo… ake jo: air… air…
To sone bato yaya jo… to sone bato… Jou yaaaa… to poha ua maaa. Oro fajaru ma Jou…. Mati saja aku… mati saja aku… oooh, Tuhan… Aaku sudah tidak sanggup. Ambil saja aku, Tuhan….

 

 

(163)

Fadriah Syuaib Fadriah Syuaib adalah seorang seniman. Dia berdomisli di Ternate, Maluku Utara.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *