Home Featured Hikayat Masjid Kuning
0

Hikayat Masjid Kuning

228
0
Masjid Al-Osmani, yang biasa juga disebut Masjid Kuning. Foto: Aulia Adam.
Masjid Al-Osmani, yang biasa juga disebut Masjid Kuning. Foto: Aulia Adam.

 

Masjid Kuning atau Masjid Labuhan adalah sebutan orang-orang untuk masjid yang didominasi oleh warna kuning yang mencolok. Warnanya memang persis kuning telur. Terletak di Jalan Yos Sudarso Kilometer 18, Kecamatan Medan Labuhan, Medan, bangunan ini sebetulnya bernama Masjid Al-Osmani.

Adalah Ahmad Fahruni, Ketua Badan Kemakmuran Masjid Al-Osmani, yang bercerita pada saya hal ihwal Masjid Al-Osmani. Sebelumnya, saya memang sudah diperingatkan oleh beberapa warga untuk tidak salah bertanya.

“Langsung saja ke Pak Fahruni. Warga sini tak bisa cerita-cerita tentang masjid,” begitu kata mereka.

Maka, seraya duduk santai di beranda Masjid, Fahruni pun berkisah mengenai masjid kuning ini kepada saya. Dia memberikan suatu hikayat yang melatarbelakangi masjid dibangun.

***

Tuanku Sultan Osman Perkasa Alam sedang gundah gulana. Sudah 126 tahun lebih kesultanannya dibangun di Kampung Alai, tapi belum juga punya tempat beribadah. Selama ini, masyarakatnya beribadah di sekitar lingkungan istana. Maka, tepat pada 1854, beliau pun menghubungi kerajaan seberang di Kalimantan untuk memesan kayu-kayu ulin.

Kayu-kayu dari negeri itu memang sudah tersohor kekuatannya. Warnanya hitam dan nampak begitu kokoh. Rayap pun tak bisa memakannya. Tapi perlu waktu yang lama untuk mentransfer kayu-kayu tersebut. Maka, transportasi air adalah satu-satunya cara tercepat agar kayu-kayu itu bisa tiba di Kesultanan Deli. Dan hal ini berpengaruh pada lamanya masjid dibangun.

Melalui Sungai Deli yang berjarak dua ratus meter dari Istana Kesultanan Deli, kapal-kapal tongkang pun berduyun-duyun berlayar membawa kayu-kayu impor itu. Dahulu, Sungai Deli memiliki luas berkali-kali lipat dari keadaannya sekarang.

“Tak sekecil yang kini,” ungkap Fahruni.

Kayu-kayu Kalimantan itu lantas dijadikan fondasi. Ia disusun sejajar mengikuti tekstur tanah. Dengan kayu-kayu yang sama pulalah mimbar dibuat.

“Sehingga tak ngapa-ngapa kalau dilande gempa,” papar Fahruni dengan dialek Melayu Medan yang kental.

Akhirnya, dalam hitungan beberapa tahun, sebuah rumah panggung khas Melayu berukuran 16 x 16 meter pun hadir sebagai tempat beribadah baru. Letaknya tepat di depan istana. Ia diberi nama masjid Al-Osmani sesuai dengan nama penggagasnya, Tuanku Sultan Osman Perkasa Alam.

Delapan belas tahun setelah dibangun, Sultan Deli ke-VIII Tuanku Sultan Mahmud Perkasa Alam berinisiatif melakukan pemugaran pada bangunan asli masjid. Beliau merasa bangunan beribadah tersebut harus lebih megah dan perlu diperluas. Maka, pada 1870 hingga 1872, beliau pun memanggil arsitek dari Jerman, GD Langereis, untuk mengonsepkan sebuah bangunan masjid yang megah.

Kesultanan Deli memang sudah berhubungan baik dengan negeri-negeri jauh, macam Eropa. Karenanya, mendapatkan bahan-bahan material dari Eropa juga Persia bukanlah perkara yang sukar. Langereis lalu menggabungkan berbagai unsur dari beberapa bangsa atau negara ke dalam arsitektural Masjid Al-Osmani.

Pintu utamanya dibuat dari dua bilah kayu yang diukir dengan ciri khas China; relief di seputaran masjid diolah dari liukan-liukan yang biasanya ada di Timur Tengah, India, dan Spanyol. Sementara warna bangunan didominasi oleh warna kuning dan hijau.

“Kuning melambangkan ciri khas budaye Melayu, sementare hijau melambangkan keislamian Melayu. Bahwa, Melayu dahulunya adalah identik dengan Islam,” jelas Fahruni.

Langereis pun menambahkan empat pilar utama di setiap sudut masjid berbentuk persegi tersebut. Keempat pilar difilosofikan sebagai empat sifat utama Rasulullah Muhammad SAW, yakni, Shiddiq, Tabligh, Amanah, dan Fathonah. Sama halnya seperti kubah segi delapan yang menjadi puncak di atas masjid ini (lihat video Kelebat Istana Dalam Loka, istana berbentuk rumah panggung di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang juga merepresentasikan kosmologi dalam Islam).

“Kalau segi delapan ini masih same. Masih melambangkan empat utame sifat name dan empat utama sifat mustahil nabi,” tambah Fahruni.

Pemugaran ini membuat Al-Osmani kian luas, menjadi berukuran 26 x 26 meter. Ia sudah dapat menampung 500 jamaah lebih.

Konon, campuran bahan material pembangunan masjid tersebut tidaklah biasa.

“Kabarnya bahan bangunan ini dicampurkan dengan garam, kapur, dan puteh telur,” kata Fahruni. “Di beberapa bagian dindingnya memang selalu seperti melepuh-lepuh. Padahal sudah dikikis dan digantikan dengan bahan baru, tapi tetap saje begitu. Mungkin karena bahan-bahan itu, wallahu a’lam.”

Hingga kini, Masjid Al-Osmani telah dipugar berkali-kali. Terakhir ia mengalami pembaharuan pada November 2012 lalu. Masjid dicat ulang dan kembali diperluas menjadi ukuran 60 x 60 meter. Meski demikian, pemugaran demi pemugaran itu sebetulnya tak membuat banyak bahannya diganti. Selain dicat ulang dan dikeramikkan, hanya langit-langit kayunya saja yang diganti plafon.

“Maklumlah, kayu kan punya masenye sendiri. Takut pula kita kalau menimpe jemaah,” tambah Fahruni.

Selain pada cat, keramik, dan plafon, selebihnya masjid masih berupa sama. Lekak-lekuknya masih dipertahankan. Begitu juga dengan mimbar dari kayu ulin yang masih berdiri kokoh di samping mihrab. Ia pun menjadi masjid tertua yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang dari Medan.

Makam
Tuanku Sultan Osman Perkasa Alam dimakamkan di tepat di depan masjid yang menghadap ke jalan raya. Di sekitarnya ada puluhan makam-makam lain. Beberapa terlihat usang dimakan usia. Ukurannya pun nampak tak biasa. Beberapa makam punya ukuran yang lebih kecil. Bahkan, ada nisan yang ditandai dengan onggokan batu lonjong yang dipacakkan tak terlalu tegak.

Keberadaan makam ini memang mencolok. Sesiapa yang tiba di masjid ini, maka pandangan juga akan langsung tertuju padanya. Posisinya seperti mengelilingi. Ia ada di halaman muka dan kanan-kiri masjid.

Menurut Fahruni, pada dasarnya masjid Al-Osmani memang dibuat untuk melayani masyarakat. Jadi, tak saja menjadi tempat beribadah atau menjadi pusat perayaan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, atau Idul Adha, tetapi lingkungannya juga menjadi tempat pemakaman masyarakat. Bahkan, Al-Osmani juga biasa digunakan sebagai tempat akad nikah.

Setelah bergabung dengan Indonesia, Masjid Al- Osmani lantas dikategorikan sebagai Benda Cagar Budaya (BCD) yang bersifat bangunan peribadatan dan harus dilindungi oleh Pemerintah Indonesia sesuai Undang–Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Hal ini dikarenakan usianya yang sudah cukup tua dan memiliki sejarah panjang sejak zaman Sultan Deli ke-VII.

Fahruni kemudian menjelaskan mengenai otoritas dalam menjelaskan ihwal masjid ini. Menurutnya, sejarah mengenai masjid hanya bisa dikisahkan oleh Badan Kemakmuran Masjid. Dan dia mengatakan bahwa ini merupakan perintah langsung dari Sultan Deli kini, Tuanku Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam, yang saat ini sedang dididik di negeri Makassar.

“Hal ini dibuat supaye cerite sejarah masjid ini tak melenceng-lenceng kalau dari banyak pihak. Kite kan harus menjage keaslian budaye juge,” tambahnya.

 

 

(228)

Aulia Adam Aulia Adam adalah mantan Pemimpin Redaksi pers mahasiswa "Suara USU", Medan, Sumatera Utara. Berdomisili di Medan.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *