Home Sastra Dua Bungkus Kopi Toraja
0

Dua Bungkus Kopi Toraja

92
0
Emur Paembonan.
Emur Paembonan.

Hubungan kian menyiratkan jalan buntu meski jiwa kian terpadu dan sudah saatnya akan berbulan madu.

Setengah jam lewat, pria muda itu duduk menunggu di ruang tamu. Untungnya cuaca sedang cerah dan burung-burung riang bercicit di luar rumah. Hanya seorang gadis manis yang meladeninya sejak tiba di depan pagar. Mereka yang diharap berjumpa bersembunyi di ruang lain. Kehadiran si pemuda di sore itu tak mereka harapkan.

“Saya pulang saja.”

Taruk, si pemuda yang sudah setengah jam menunggu itu, permisi. Ia segera berdiri. Milva, sang kekasih, sigap mencegat.

“Apa lagi? Sudah jelas. Keluargamu tidak menginginkanku!”

Taruk mengeraskan suaranya. Ia berharap ibu Milva dan orang lain yang berada di balik ruang tamu itu mendengarnya.

“Kamu tahu apa yang akan terjadi jika kita berpisah?”

Taruk menghentikan langkahnya. Ia menatap lekat wajah pacarnya.

“Kamu jangan melakukannya. Saya pun akan melakukannya. Jangan lupa oleh-olehku untuk keluargamu.”

Taruk lanjut melangkah. Ia menuju sebuah motor yang terparkir depan pagar. Mesin pun meraung di antara keresahan benak kedua insan itu.

***

Sejak merajut asmara, kerikil-kerikil kerap mengganjal keduanya. Kerikil yang berasal dari keluarga mereka sendiri.

Taruk, ayah Toraja, ibu Toraja, lahir dan hingga SMA di Toraja. Tak peduli sekaya dan atau setampan apa dia, “Dia tetap orang Toraja!”.

Begitu kata ayah Milva.

“Tahu ayah. Tapi ayah dan kalian semua harus tahu, dia tidak seperti yang kalian pikirkan.”

Milva melepaskan emosinya. Ia merasa tenang dan senang bisa mengumbar mental si pujaan.

“Ya. Dia. Tapi keluarganya kan tidak?” begitu kata Rido, kakak Milva yang kerja di Argentina di ujung telepon.

“Tidak semua.”

Tak henti-henti Milva memperjuangkan nasib calon suaminya itu.

“Pokoknya tidak. Kamu tidak boleh menikah dengan orang Toraja. Titik!”

Ah, entahlah jika si ayah kadung bersua dengan Taruk sore itu. Mungkin pertengkaran lebih seru akan terhelat di rumah berlantai semen di tingkat satu dan berlantai kayu di tingkat dua itu.

***

Bukan niat si ayah tak mau bertemu. Mendadak ia berjumpa kawan lamanya yang akan menjodohkan anak laki-lakinya dengan Milva. Spontan si ayah pun menyambut, terlebih karena calon menantu tawaran si kawan bukan orang Toraja.

Tapi, bukan Milva jika cepat melempar handuk.

Milva sadar akan sandungan yang siap menghadang jika memilih berumah tangga dengan laki-laki bersuku Toraja. Dari mula merajut cinta dengan Taruk, mereka melakukannya di belakang layar keluarga bahkan teman. Namun, Taruk dan Milva tak ingin selamanya sembunyi. Mereka butuh restu.

Milva pun berterus terang, walau gelap siap menampar. Dan benar, gelap itu benar-benar datang menggayut.

***

“Bukankah adat ciptaan manusia?”

“Jangan sampai adat lebih tinggi dari agama.”

Setamsil dengan keluarga Milva, Taruk pun tak habis pikir, ketika seorang sepupunya dicela saat akan menikah dengan suku lain. Tragis, si pencela adalah keluarganya sendiri. Meski begitu, Taruk tak pernah tak setuju jika ada keluarganya yang menikah sesama suku.

“Kamu beda, itu yang kusuka darimu.”

Milva mengelus rambut Taruk.

***

Taruk menatap langit Jakarta. Langit itu tak seperti hari-hari sebelumnya. Gelapnya seolah semakin hitam, laksana mendung hatinya. Mestinya malam itu ia sudah mendapat restu dari calon mertua dan orang tuanya. Namun, bukan restu yang didapat, malah jalan buntu kian merumpil.

Waktu kemudian menjadi benar-benar dingin, sedingin Toraja di musim hujan. Bintang bertaburan, purnama menyepuh tak jauh dari balkon apartemennya. Taruk menyimak ingar-bingar kendaraan yang bak semut beriring. Malam cerah tak secerah hatinya. Ia rindu meneguk ballo’.

Milva mengutak atik ponselnya. Yang dihubungi sedang di luar jangkauan. Milva pun membuka laci meja. Ia mengambil pulpen dan kertas kosong. Ia mulai menulis meski tak bercita-cita jadi penulis.

Milva meletakkan sebungkus kopi Toraja, oleh-oleh dambaan hatinya tadi sore di atas lembaran surat yang baru ditulisnya. Ia mengendap keluar, menyambut malam semarak bintang.

***

(92)

1

Hidup mesti terus dijalani. Taruk mencari pengganti Milva. Tak jauh-jauh dari prinsipnya semula; ia mesti berbeda suku dengannya. Darah ini tak dapat disangkal. Dia tak seperti segelintir etnis Toraja yang dijumpai di luar Toraja, yang memilih mengaku sebagai suku lain.

Seharian sudah Taruk tak mengaktifkan nomor ponselnya. Setelah berkeliling kota melepas suasana galau batinnya, dia pun kembali ke dalam apartemennya dan coba mengecek pesan singkat yang masuk.

Sembari menunggu, Taruk mengepak barang-barangnya. Ia akan pindah ke Bekasi sementara waktu, demi menghindari Milva. Dia akan menunggu kabar baik dari lamaran kerjanya di Kalimantan. Kemungkinan besar dia memang akan diterima.

Ponsel berdering.

“Aku tidak akan pernah melupakan janjiku padaku. Aku tidak akan penah mencintai laki-laki lain selain dirimu. Kamu tentu masih ingat janjiku di taman malam itu. Dan, jika kamu membaca pesan ini pergilah segera ke taman itu. Aku menunggumu.”

Taruk terhenyak membaca sms itu. Ia harus lekas memilih, maut atau cinta.

Dia gegas keluar kamar. Sisa barang yang akan dikemasnya cepat ditinggalkan. Itu urusan belakang. Dia pun menggencet mesin roda duanya menuju sebuah taman.

Perempuan manis berambut sebahu sudah bergerak menuju rel kereta api. Sayup-sayup dari jauh melengking siulan si ular besi. Taruk mengambil langkah seribu. Dia mengejar cintanya yang tinggal sedepa dengan jalur rel.

”Milva…!! Kita kawin lari saja!”

Milva menoleh. Air matanya sudah kering. Taruk mendekapnya. Erat. Raung kereta api berkelebat. Hembus angin bertambah. Daun-daun rontok berterbangan. Rambut Milva menjuntai burai. Mereka menjauh.

“Aku sudah meninggalkan surat untuk orang tuaku,” lirih Milva.

***

“Aku diajar untuk cerdas. Lalu kucoba menjadi cerdas; mencerdaskan pikiranku tentang calon suami pilihan ayah. Dan, setelah kuselidiki, dia seorang penipu. Banyak wanita yang sudah ditipunya. Ia menguras harta dan raga wanita-wanita itu.

Taruk adalah laki-laki pilihanku. Dia cerdas, sesuai harapan ayah dan ibu. Sudah banyak sumbangannya untuk keluarga dan kampung halamannya. Namun, dia tidak mau disebut-sebut apalagi sampai disanjung-sanjung.

Selama aku dan dia berkenalan, aku jarang mendengar dia mengeluarkan uang untuk acara rambu solo’, hal yang ayah, ibu, Kak Rido dan banyak keluarga khawatirkan. Kalaupun ada, sangat jarang. Tapi, kalau ada yang minta uang untuk bangun rumah ibadah, jalanan, puskesmas atau sekolah, Taruk pasti merespon. Taruk juga sering kirim buku dan baju untuk keluarganya di Toraja. Namun dia tidak pernah melarang orang lain mengadakan rambu solo’.

Mereka, yang mengaku keluarganya itu, setelah tahu posisi Taruk di kantornya dan setelah mendengar-dengar gaji Taruk di atas 10 juta setiap bulan, sama sekali tak peduli mendengar Taruk menderita. Mungkin hanya Tuhan dan saya yang peduli. Dia sama prinsipnya dengan ayah, ibu, Kak Rido dan banyak keluarga lainnya soal adat. Jangan sampai adat lebih tinggi dari agama. Ada adat yang mesti disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dan ketahuilah, tidak semua keluarga Taruk seperti yang ayah pikirkan.

Jika ayah, ibu, Kak Rido dan siapapun masih tidak percaya dan memaksaku melepas hubungan dengan Taruk, hanya satu pesanku: Taburkanlah abu jasadku di Tana Toraja.”

Rumah itu bak kapal pecah setelah isi surat Milva itu tersiar ke semua anggota keluarga. Ibunya semaput dan hampir masuk Rumah Sakit Jiwa. Berita masih hidupnya Milva membuat kadar ketidaksepakatan perlahan berkurang. Ayah pun membatalkan perjodohan Milva dengan anak si kawan lama.

Milva dan Taruk akhirnya mengucap janji pernikahan walau tanpa kehadiran keluarga Milva. Bertahun-tahun Milva dan Taruk menginginkan kadar itu benar-benar habis terkikis.

Mereka pun menugaskan seorang sales sepatu.

Di hadapan orangtua Milva, sales yang gaul itu berkali-kali membakar kulit sepatu dengan korek gas sebagai bukti barang jualannya memang anti api. Dia mengeluarkan sebungkus kopi bubuk dari dalam tasnya.

“Ini kopi Toraja!” kata si sales sambil menyodorkan kopi titipan Taruk tanpa menyebut nama Taruk.

“Kebetulan adik saya baru pulang dari Toraja kemarin dulu. Sebagian kusimpan di rumah. Sebagian kunazarkan, bahwa siapapun yang membeli sepatuku akan kuberikan sebungkus.”

Demikian si sales pandai-pandai beralasan; alasan yang sudah dirancang berhari-hari sebelumnya bersama Milva dan Taruk.

“Orang Toraja ya?” ibu Milva bertanya.

“Iya, benar. Kalau ada orang meninggal, kami potong babi atau kerbau. Kalau ada uang.”

Si sales memberi tekanan irama pada kalimat ‘kalau ada uang’.

“Tapi, ya, kalau saya yang mati, langsung kubur saja.”

“Dulu orangtuaku juga tidak setuju jika anak-anaknya menikah dengan suku lain. Tapi sekarang, sudah tidak,” si sales pun lancar melanjutkan begitu saja.

***

Bulan-bulan berganti dan sebelum tahun ikut berganti, ayah Taruk dijemput ajal. Tak ada acara rambu solo’, sesuai pesan sang ayah.

Ayah, ibu, dan semua saudara kandung Milva pun perlahan mulai membuka hati pada Taruk. Menunggu kehadiran mereka dengan seorang balita, buah hati Taruk dan Milva.

 

Catatan:
Rambu Solo’: acara adat kematian Tana Toraja
Ballo’ : Tuak

(92)

Emur Paembonan Lahir di ParePare, Sulawesi Selatan 16 Maret 1978. Pendidikan formal pada Jurusan Administrasi Negara FISIP Universitas Hasanuddin Makassar 1996 – 2003. Belajar menulis cerita pendek secara otodidak. Cerita pendeknya, antara lain, pernah dimuat di sejumlah media, seperti Majalah Bhinneka, Seputar Indonesia, Fajar, Majalah Ekspresi, Radar Surabaya, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, juga Jurnal Nasional.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *