Home Sastra Turisalo

Turisalo

81
0
Muhammad Ruslailang Noertika
Muhammad Ruslailang Noertika

Sungai itu bernama Salo’ Bolong. Ia mengalir tenang tepat di belakang rumah kami. Airnya yang buram macam memendam cerita kelam; cerita yang dipungut dari ketidakpahaman yang diturunkan bertahun-tahun, seperti kisahku ini.

Aku seperti terlahir dari rahim kesedihan. Masa kecilku disuapi oleh banyak tanda tanya. Malam ketika aku dilahirkan, Ibu terisak lama sekali. Ia yang masih tergolek lemah sehabis bersalin, sesenggukan meratapi hilangnya, konon, saudara kembarku. Ayah pun tak kuasa menyembunyikan kesedihan. Meski tak terisak seperti Ibu, tapi Ayah sangat menyesal. Ia hanya duduk termangu di tepian ranjang. Bola matanya bergantian menatap sayu kepada Ibu dan bayi kecil di pelukannya; aku. Telaga di matanya seperti hendak tumpah.

Sanro Calapari, dukun beranak yang membantu persalinan Ibu malam itu, juga dililit rasa bersalah. Semua mata seakan melesakkan tanya ke dirinya.

“Tarajaka dampeng, Bapak Ibu sekalian. Mohon maaf, aku tak sigap menangkapnya,” ujarnya lemah seakan memahami maksud tatapan mata hadirin.

Perempuan gemuk bersarung hitam itu tak lama berdiam diri. Selepas membersihkan segala air tumpah dan kain yang berantakan di kamar Ibu, ia beringsut pergi. Kerabat yang hadir di malam itu juga gelisah dan tak bisa berbuat banyak. Hanya kakak lelakiku, La Lebbi yang tak berhenti dijerat tanya, “Ada apa?”

Tapi semua diam, kecuali beberapa bisik-bisik yang kemudian juga reda oleh keheningan.

La Lebbi, yang masih bocah berumur lima tahun, duduk di sisi Amma’, panggilan kami untuk Ibu. Kebingungan memaksanya menjadi pengamat yang tekun dan merekam setiap detik peristiwa. Tak pernah ia bosan menceritakan kejadian ketika aku dilahirkan dan jejak cerita yang tak pernah dimengertinya.

“Ketika tangisnya berangsur pudar, Amma’ membisikiku. Katanya, beliau melahirkan bayi kembar. Engkau dan seorang lagi,” matanya mulai berbinar.

“Bagaimana mungkin. Aku kini hanya seorang, tak punya kembaran!”

“Itulah. Aku tak paham juga. Kata Sanro, kembaranmu langsung meloncat, merayap, dan menghilang di sela-sela dapara’ bambu dapur rumah kita.”

“Kemanakah ia? Apakah ke sungai belakang rumah, Salo’ Bolong?

“Tak tahu aku. Ambo’ dan beberapa kerabat bergegas mengejarnya malam itu, tapi tak berhasil.”

“Aku heran. Bagaimana bisa bayi baru lahir berlari sekencang itu!”

“Hush, kembaranmu bukan bayi biasa kata mereka. Turisalo!”

“Aduh, apa itu? Kalau ia kembaranku, kenapa tak serupa aku?”

Hingga ujung pertanyaanku itu, mulut La Lebbi kemudian terkatup. Ia bungkam bukan karena urung memberitahu. Menurutnya, pemahamannya terhenti di situ saja. Selebih yang ia ceritakan, tak kunjung juga dimengertinya. Terutama tentang rupa Turisalo, kembaranku itu.

***

Jalin cerita La Lebbi bermuara ketika Sanro Calapari memeriksa kandungan Amma’ yang menginjak usia enam bulan. Perut Amma’ demikian besar, dan Ambo’ dihinggapi rasa khawatir. Hanya sebentar saja Sanro Calapari memeriksa. Jarinya yang besar menekan turun ke bawah perut Amma’, dan lekas mengambil kesimpulan: Amma’ hamil bayi kembar.

Ambo’ terkesiap, tapi kemudian wajahnya terlukis senyum bahagia. Impiannya beranak tiga segera lunas. Sejak itu, keluarga kecil itu mulai menanam bayangan hadirnya anak kembar lucu yang berlarian di seluruh sudut rumah, juga di lantai tanah coklat cerah di bawah rumah panggung kami.

“Tapi, berhati-hatilah pada sesuatu yang tak kau pahami. Salo’ Bolong di belakang rumah kalian, kerap mengambil jatah, tanpa meminta,” pesan Sanro Calapari pada suatu pagi yang mendung, ketika ia datang untuk memeriksa kandungan Amma’ beberapa pekan kemudian.

Ambo’ mengangguk. Dengan suara yang sedikit direndahkan beliau menukas “Kurru Sumange, terimakasih Sanro atas wejangannya. Salo’ Bolong itu bukan asing bagi kami. Sejak kecil, saya sendiri pun selalu menghormatinya. Ia sungai leluhur, saksi abadi sejak kampung ini lahir. Ia mengalir sejak mula awal torioloe mendirikan rumah panggung pertama dan membuka sawah ladang”.

Ambo’ kemudian lama mengambil jeda, menatap sepintas Salo’ Bolong melalui jendela kecil di dapur, sebelum akhirnya melanjutkan.

“Konon ada kesepahaman batin antara Toriolota dengan Salo’ Bolong untuk saling menjaga, karenanya kekerabatan diikat sejak itu. Warnanya menjadi agak hitam karena kain sarung Toriolota ikut dilarung sebagai pengikat. Jadi, Salo’ Bolong itu sejatinya kerabat kita juga, tak usah khawatir”.

“Meski ia kerabat, tapi tetaplah berlaku baik kepadanya. Meski ia dekat, tapi tetaplah menaruh hormat padanya. Dan, ingatlah selalu hal ini, ia terkadang mengambil tanpa meminta” pungkas Sanro Calapari menutup perbincangan pagi itu. Amma’ dan Ambo’ mengangguk bersamaan.

Waktu berlalu. Masa tiga bulan berkelebat seperti tiga tegukan teh saja. Di hari saat aku dilahirkan itu, semua keluh seperti memagut menjadi diam. Rumah panggung kecil kami kemudian dihinggapi kabut hening dan magis. Aku, bayi mungil di dekapan Amma’, juga tak banyak menangis, kecuali rintih kecil penanda lapar susu. Tiada bayi kembar. Semua orang berbisik-bisik, bahwa Salo’ Bolong meraup bayi kembaranku. Amma dan Ambo’ pasrah dan menunda rasa tak percaya. Ambo’ selalu mengulang kata magis itu dalam pikirannya.

“Salo Bolong adalah kerabat dekat. Anakku akan baik-baik saja dalam perawatannya. Puangta SewaE akan menjaga mereka”.

***

Salo Bolong sesungguhnya pendek saja, hanya mengitari tiga kampung yang menghimpit kampungku. Hulunya di utara, di kaki Gunung Pattiro, sedangkan muaranya langsung mencium Teluk Sompe di sebelah timur. Sementara, lebar Salo’ Bolong hanya seukuran batang pohon kelapa. Meski demikian, kedalamannya sanggup membenamkan kerbau dewasa.

Tak ada anak-anak yang berani berenang di dalamnya walaupun alirannya tenang. Mereka termakan cerita bahwa sungai ini berpenghuni. Beberapa penduduk memang pernah mengabarkan, sesekali melihat buaya muncul ke permukaan di sungai ini. Sejak itu, tak seorang pun yang berani mendekat, apalagi berenang di dalamnya. Hanya sekali dua kali petugas mantri irigasi mengukur dalamnya sungai.

Ayah dan Ibu tak pernah juga bercerita tentang sungai ini, kecuali hal-hal biasa. Aku pun tak begitu ambil pusing. Sesekali aku dan Lebbi bermain di bantarannya yang memang berbatasan langsung dengan petak sawah Ayah di samping rumah. Tapi Ayah selalu menyuruhku menjauh demi melihat aku bermain dekat Salo’ Bolong. Agar tak terseret arus, katanya. Padahal, sungai itu tak pernah deras, selalu tenang. Juga Lebbi, meski ia gemar berenang tapi tak pernah mau menyelami Salo’ Bolong. Ia dan teman-temannya lebih suka berenang di anakan sungai seberang kampung yang terpisah dari arus Salo Bolong sejak di hulunya.

Semenjak kelahiranku dengan kejadian yang tak biasa itu, Amma’ dan Ambo’ punya kebiasaan rutin. Selepas sembahyang subuh menjelang matahari terbit, keduanya akan tekun berjejer menghadap jendela dapur dengan memandang ke sungai belakang rumah. Pun saat senja, mata mereka seperti terpaku pada aliran sungai itu. Mereka kini juga memasang kelambu kecil di pojok tengah rumah, sejak terakhir kali Sanro Calapari berkunjung untuk menengok Amma’ dan aku.

“Sediakanlah sesuatu agar Salo’ Bolong dan dia bisa senang dengan penghuni rumah ini.” pesan Sanro.

Tanpa banyak bertanya, Amma’ dan Ambo’ mengangguk saja. Lebbi tak paham siapa yang dimaksud “dia” itu. Tak berani pula bocah kecil itu menghamburkan pertanyaan ke para orang tua yang sedang berbincang serius nyaris berbisik itu.

Hingga menginjak usia sekolah, aku tak pernah terusik dengan segala hal di rumah yang dilakukan orangtuaku. Kuanggap semuanya lumrah saja; sungai, kelambu, sesajen, dan segalanya. Semua hal sama indahnya dengan kicauan burung pagi atau kegemaranku mengejar sinar matahari yang tempias dari atap ke lantai rumah kami.

Tapi, di sekolah, aku dikerumuni satu hal yang teramat mengusik. Banyak mata menatapku aneh, dengan mulut yang berbisik satu sama lain. Belakangan bisik-bisik itu hinggap juga ke telingaku. Katanya, aku punya saudara kembar seekor buaya yang berdiam di Salo’ Bolong.

Aku sungguh tak mengerti. Aku hanya punya satu saudara; kakakku La Lebbi. Dan tentu saja, ganguan mereka tak kupedulikan. Masa kecilku tak perlu terusik dengan hal tak penting itu. Tapi, ada juga sedikit penasaranku, hubungan antara buaya Salo’ Bolong dan cerita Lebbi tentang Turisalo.

“Turisalo? Apakah maksudnya itu manusia yang berdiam di sungai?” tanyaku pada La Lebbi.

“Manusia, katamu?”

“Bukan manusia? Lalu apa? Makhluk bukan-manusiakah ia?” tanyaku balik.

“Bisa jadi. Menurut Sanro Calapari, dukun yang membantu Ibu melahirkan engkau itu, memang demikian. Kembaranmu kini berdiam di sungai belakang rumah”

“Kenapa ia tak tinggal di rumah kita saja, Kak?

“Cenning, adikku. Kalau dia manusia, tentu bisa bersama kita. Tapi kan bukan.”

“Seperti apa rupa kembaranku itu?”

“Bukankah setiap malam engkau terbiasa bermain dekat boco’ putih kecil yang ditempatkan Ibu di sudut rumah sebelum dapureng? Konon di sanalah ia biasa berkunjung”.

Buru-buru La Lebbi melanjutkan, “Tapi aku tak paham soal kebenaran kabar itu, Cenning. Aku hanya menyampaikan kabar konon yang sayup.”

“Aku tak pernah melihat sesuatu di balik boco’ putih itu, kakak. Meski memang aku sering lihat Ibu meletakkan piring-piring kecil berisi makanan di dalamnya. Apakah maksudnya Turisalo itu menjelma makanan?”

“Ah, mana bisa. Itu kan disajikan untuk dimakan Turisalo!”

“Aduh, bingung. Jadi bagaimana rupa Turisalo itu? Betulkah ia serupa buaya seperti ledekan teman-temanku?”

La Lebbi menggeleng lemah. “Engkau boleh menanyai Ambo’ atau Amma’ soal ini.”

Tentu aku sungkan menanyakan hal ini ke Ambo’, Ayahku yang pendiam itu. Setiap aku memancingnya dengan banyak ragam pertanyaan, beliau hanya bisa menjawab dengan diam. Sesekali ia akan tersenyum, sambil mengusap dan mencium keningku. Sambil mencium, bibirnya akan sayup-sayup merapal shalawat. Setelahnya, matanya biasanya memberi tanda, untuk menanyakan segala hal ke Amma’.

Amma’-lah hulu semua kisah, kata La Lebbi. Amma’ paham semua cerita, bahkan kejadian sejak rumah kita ini ditegakkan, beliau tahu semua. Dan itu betul. Aku sering berselimut kekaguman pada sosok perempuan kurus yang kami panggil sebagai Amma’. Matanya seperti matahari yang bisa menjangkau semua hal. Mulutnya tak pernah berhenti mengulang dan meneruskan berita, tentu dengan sesekali diimbuhi pendapatnya. Menurut beliau, Ayah dan kakeknya dulu memang seorang pakkacaping, yang lihai memainkan kecapi mengiringkan cerita-cerita menarik, baik itu cerita dulu, kini, atau pun pengandaian masa nanti. Dalam setiap cerita, seorang pakkacaping banyak menyelipkan wejangan sebagai pelajaran untuk yang mendengarkan.

Pun Amma’, setiap kata yang luruh dari bibir tipisnya itu, selalu diakhiri dengan petuah. Mungkin maksudnya agar aku atau semua yang mendengar tak tersesat dengan pikiran sendiri. Sesat pikiran tentu akan melangsirkan berita ke maksud yang berbeda. Begitu menurutnya. Aku selalu patuh, hingga kemudian cerita tentang Turisalo ini mengubur kepatuhanku.

“Di ujung ketakutan akan lahir keberanian, Cenning” petuah Amma’ suatu ketika selepas mengakhiri cerita tentang Kancil, kisah pengantar tidur yang aku gemari.

“Begitulah Kancil, pun hewan lainnya. Ketika mereka terdesak dan ketakutan oleh pemangsa yang lebih kuat, naluri akan membuatnya menjelma sebagai hewan pemberani, tak sekadar pintar saja. Melawan atau lari. Melarikan diri pun adalah buah keberanian, setidaknya berani menantang nasib untuk tidak mati dimangsa.”

“Amma’, aku takut pada hal-hal yang tak kuketahui.”

“Kenapa demikian, Cenning? Rasa ingin tahumu akan mengalahkan ketakutan itu.”

“Iya, tapi kalau aku tak menemukan jawaban? Aku dihantui ketidaktahuanku terus menerus, Amma’.”

“Cenning. Usah khawatir. Buat seorang manusia yang haus akan pengetahuan, semua hal menjadi guru. Bahkan dari alam ini kita menemukan pengetahuan. Kecuali mungkin tentang Tuhan yang tak terjangkau.”

“Amma’, aku selalu ketakutan. Karena aku tak paham tentang turisalo’ dan cerita-cerita tentangnya.”

Amma’ sejenak terkesiap. Secepat kilatan cahaya, beliau menenangkan diri. Matanya mengarah ke boco’ putih, kemudian dialihkan ke jendela dapur, dan akhirnya tatapannya kembali ke mataku. Ia tersenyum.

“Nanti kau tahu sendiri”

Perempuan mulia itu kemudian merapikan selimutku, menampik nyamuk, dan akhirnya menurunkan kelambu tempat tidurku.

“Tidurlah, mimpi yang baik-baik. Tentang masa depan,” pungkas Amma’.

***

“Ayolah Cenning, sekali ini saja. Aku mau mempertemukanmu dengan sepupuku, dokter Lewang. Wajahnya seperti berjodoh denganmu, mirip. Lagi pula, ia akan hadir di seminar nanti. Sempatkanlah.”

Begitu desak Rabia saat menelefonku sore itu. Teman kantorku ini seperti mendesak sekali. Sepertinya ia mau menjodohkanku. Padahal aku masih suka menjomblo. Pacaran, nikah, atau semacamnya, hanya mengganggu kegemaranku berpetualang ke negeri-negeri jauh. Aku tak mau terikat dengan komitmen, alasanku selalu. Sejak lulus Sekolah Menengah Atas dan meneruskan kuliah di kota, aku memang menjadi lebih leluasa.

Tapi kali ini mungkin rasa penasaranku seperti merusak semuanya. Kuiyakan setelah beberapa saat.

“Oke, deh. Tapi aku tidak jamin mau bertemu, ya. Hanya mau melihat dia dari jauh saja.”

Di ujung telefon Rabia tergelak. Ia senang.

Sesaat kemudian, kami berdua sudah memasuki ruang seminar. Kulihat seorang dokter muda berkacamata duduk di depan, bersama yang lain. Wajah dan perawakannya memang mirip denganku, kecuali bahwa dia lelaki. Mungkin dialah yang bernama dokter Lewang. Sesi perkenalan baru saja akan dimulai dan kini giliran Dokter Lewang.

“Nama saya Dokter Lewang Lemmusari. Saya anak seorang bidan melahirkan. Di kampung kami, mereka disebut Sanro. Selain membantu proses melahirkan, terkadang Sanro juga mewarisi pengetahuan supranatural, yang kadang dirubungi mitos seputar kelahiran. Sebenarnya tujuannya baik, terkadang untuk melindungi masyarakat. Tapi, yang berbahaya, bahwa alam pikir kita kemudian direcoki dengan mitos itu.”

Menarik. Apalagi demi menyebut namanya, nama yang tak asing. Kuikuti seksama bibir dokter muda itu, termasuk memagut pelan-pelan pembahasannya. Tak hanya paham soal kesehatan, dia juga rupanya banyak membaca tentang kebudayaan Bugis. Usai seminar dan para peserta beranjak pergi, kuhampiri sang dokter dan memperkenalkan diri.

“Maaf, dokter. Nama saya Cenning. Sepertinya kita berasal dari kampung yang sama,” ucapku tersenyum dan menyodorkan tangan.

Rabia tersenyum mesem di sampingku. “Ini teman kantorku lho kak, yang sering kuceritakan,” Rabia menambahkan.

Dokter Lewang memamerkan senyum yang manis.

“Oh iya. Senang berkenalan dengan Anda, Cenning. Sejujurnya sudah sejak lama saya mengenal keluarga Anda. Ibu saya, Sanro Calapari, konon ikut membantu kelahiran Anda. Iya, kan?”

Aku tersenyum.

“Jadi cerita dokter tadi tentang mitos, bagaimana?”

“Ya betul. Sanro termasuk yang terkadang merawat mitos-mitos kelahiran itu dalam masyarakat kita, termasuk Ibu saya, kalau itu yang Anda maksudkan. Tapi, sejatinya, leluhur kita menciptakan mitos hanya agar kita aman dari gangguan alam, sambil berusaha memikirkan bagaimana bertahan hidup. Kesalahan kita semua adalah tak mencari tahu penjelasan yang masuk akal dengan ilmu kita. Termasuk soal kelahiranmu, Cenning. ”

“Memang kenapa, Dok?”

“Kelahiranmu yang konon kembar itu sepertinya keliru. Kandungan Ibumu memang besar, tapi hanya ada engkau di dalamnya. Ketika kau lahir, berat lahirmu  lebih dari normal,” pandangan Dokter Lewang kemudian menyapu seluruh badanku sambil tersenyum.

Dipandangi begitu, aku tersipu.

“Aku sudah langsing sekarang, Dok. Tidak gode’ lagi seperti dulu!”

Dokter Lewang tertawa kecil.

“Haha…, iya. Juga cantik. Tapi sayang, soal diagnosis Ibu saya rupanya tak kunjung pula diluruskan. Bahkan makin dibumbui mitos Turisalo rupanya. Atas nama Ibuku, saya mohon maaf.”

Aku kembali tersenyum, tapi kali ini merasa begitu bahagia. Seluruh cerita kemudian terjalin masuk akal.

Besok, aku akan pulang ke kampung menjenguk Amma’ dan Ambo’.

 

Abu Dhabi, 15 May 2014.

 

Daftar kata berbahasa Bugis:

Turisalo: mahluk sungai
Sanro: dukun
Tarajaka dampeng: mohon maaf sebesar-besarnya
Boco’: kelambu
Dapara’: lantai
Dapureng: dapur
Kurru sumange: terimakasih
Pakkacaping: pemain kecapi Bugis
Puangta SewaE: Tuhan Yang Mahaesa
Toriolo: leluhur
Gode’: gemuk

(81)

Muhammad Ruslailang Noertika Muhammad Ruslailang Noertika biasa disapa Daeng Rusle. Saat ini ia tinggal dan bekerja di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Beberapa tulisannya dimuat di beberapa media cetak dan online. Ia bisa ditemui di www.daengrusle.net.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *