Home Featured Sang Sultan Bintan dan Tiga Pilar

Sang Sultan Bintan dan Tiga Pilar

179
0
Foto: Koleksi pribadi Huzrin Hood.
Foto: Koleksi pribadi Huzrin Hood.

 

Di kala matahari baru sepenggalah naik, sepetik syair Melayu membahana di udara. Larik-larik syair itu meresap syahdu. Iramanya terdengar merdu, meski ia dilagukan tanpa pengiring instrumen musik apa pun. Melalui siaran Radio Republik Indonesia – Batam, Kepulauan Riau, Senin (27/10), suara sang pelagu syair terdengar sedikit bergetar.

Di bumi Melayu pembangunan pesat
Baik di laut, maupun di darat
Banyak peluang boleh didapat
Banyak usaha boleh dibuat

Tetapi karena ilmu tak ada
Peluang yang ada terbuang saja
Diisi orang awak menganga
Akhirnya duduk mengurut dada

Di sinilah tempat Melayu jatuh
Karena banyak yang masih bodoh
Peluang yang dekat menjadi jauh
Nasib pun malang, celaka tumbuh

Walau Melayu bertanah luas
Tetapi terlantar karena malas
Dimanfaatkan orang awak pun cemas
Lambat laun semuanya lepas…

Demikianlah sekutip bait Syair Nasib Melayu karya Tenas Effendy yang dilagukan pagi itu.

“Sedih saya, Dato.”

Sambil menghela nafas, kalimat itu meluncur dari mulut si penyiar radio usai mendengar syair tersebut. Kalimat tersebut ditujukan kepada sang pelagu yang bukan sembarang pelagu.

Adalah Sultan Bentan dar-Al Mashur, Yang Mulia Sri Paduka Tri Buana Huzrin Hood, yang melagukan syair itu. Dalam program siaran Batam Menyapa, Huzrin meluangkan waktunya untuk berdialog di udara dengan tajuk “Bangga Berbudaya Melayu.”

Tak hanya pandai melagukan syair dan berpantun, di sela siaran, terdengar pula salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Huzrin sendiri. Kali ini lagu lengkap dialunkan bersama biola Melayu dan alat musik lainnya. Lagu tersebut bertajuk “Gunung Bintan”. Berikut adalah liriknya.

Gunung Bintan kualanya besar
Nampaklah jauh darinya tepi
Tetapkan iman berhati sabar
Barulah dapat kejayaan tinggi

Kalaulah Tuan memasang pukat
Baik dipasang sebelah barat
Kalau Tuan baik mufakat
Menjadi ringan beban yang berat.

Sesuai dengan isi lagu tersebut, siaran pagi itu memang tengah mengulas beban berat apa sesungguhnya yang tengah dihadapi oleh masyarakat Melayu. Dalam dialog berdurasi satu jam, Huzrin memaparkan betapa sesungguhnya Melayu memiliki kemampuan kultural untuk meringankan beban berat tersebut. Dengan gelar sultan yang diamanahkan kepadanya, Huzrin menyadari bahwa dalam dirinya telah melekat dua misi utama, yakni menegakkan adat dan agama.

“Jangan pernah coba pisahkan adat dengan agama, sebagaimana Melayu itu identik dengan Islam. Jangan ulangi kesalahan Van Vollenhoven yang dahulu pernah membuat pola yang memisahkan adat dengan Islam,” ujar Huzrin.

Dalam siaran tersebut, Huzrin beberapa kali menyebut nama Vollenhoven. Vollenhoven sendiri adalah seorang akademisi Belanda yang dikenal sebagai peletak dasar kajian hukum adat di Indonesia. Huzrin menjelaskan bahwa pola Vollenhoven yang ibarat memisahkan zat dengan bendanya ini adalah ihwal dari melemahnya masyarakat Melayu.

“Dengan adanya pola semacam itu, kita menjadi asing dengan sistem kemasyarakatan kita sendiri. Dan pola ini disebarkan ke penjuru negeri. Para sultan, para raja, dilatih dan disekolahkan ke negeri Belanda. Di sana mereka diajari dengan pola-pola kerajaan barat, dikenalkan dengan pangkat-pangkat kebesaran kemudian dengan segela jenis lambang, tanjak yang tinggi, dan keris sebagai senjata. Dinding istana pun dibangun begitu tinggi sehingga sultan kemudian menjadi terpisah dengan masyarakat. Padahal, dalam dunia Melayu yang sesungguhnya, sultan itu tak boleh berjarak dengan rakyatnya,” ujar Huzrin.

Menurut Huzrin, pola pemisahan adat dan Islam serta berjaraknya Sultan dan rakyat terus terjadi selama berabad-abad. Akan tetapi, dia masih bersyukur bahwa di tanah Melayu, para pendahulu cukup kuat bersikukuh dengan nilai-nilai Islam.

“Alhamdulillah karena Islam para pendahulu kita cukup kuat, dengan semangat jihad mempertahankan Islam, mereka tidak mudah digoncang oleh penjajah,” syukur Huzrin.

Namun, menengok kenyataan yang dihadapi oleh masyarakat Melayu hari ini, Huzrin pun mencermati bahwa sesungguhnya ada tantangan lain yang melintang, yakni gempuran budaya asing. Dan Huzrin meyakini, membentengi budaya sendiri adalah satu-satunya jalan untuk menghadapi rintangan itu.

“Jika pola para pendahulu kembali dipelajari dan disebarkan kembali kepada masyarakat agar masyarakat mampu melaksanakannya, maka kebangkitan masyarakat Melayu tidak akan lagi menjadi harapan kosong,“ pungkas Huzrin.

Untuk mengkonsolidasikan kemampuan, Huzrin menyatakan bahwa kesultananlah yang akan mampu melakukan hal itu. Kesultanan adalah salah satu kata kunci yang jangan lagi pernah dipisahkan dengan masyarakat Melayu.

“Ingat, lambang negara Indonesia ini rajawali. Jadi, raja dan para wali sudah semestinya bersatu; united,” tegasnya.

Tiga Pilar
“Pasar, kesultanan, dan masjid. Bangun ekonomi, taat kepada pemerintah, dan taat kepada Allah. Tiga hal ini semestinya menjadi pilarnya orang Melayu,” jelas Huzrin ketika ditanya strategi apa yang harus digunakan dalam memperkuat benteng budaya Melayu.

Melalui pola yang tengah dibentuknya sebagai sultan, Huzrin memang betul-betul telah melandaskan gerakan kebudayaannya dengan tiga pilar tersebut. Untuk salah satu pilar, yakni ekonomi, Huzrin dikenal telah melakukan sebuah gebrakan untuk kembali pada sunnah muamalah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Dengan bertujuan untuk menghindari masyarakat Melayu dari riba dan dampak inflasi, Kesultanan Bintan kembali mengeluarkan koin dinar emas dan dirham perak sebagai alat transaksi sehari-hari.

“Dirikanlah pasar. Dimana pun. Pasar yang tanpa riba, tanpa uang sewa, tanpa pungutan macam-macam. Pasar yang sesuai sunnah Rasulullah. Karena sebuah negeri akan kuat jika pasarnya kuat. Buatlah aturan di pasar sama seperti aturan dalam masjid. Tinggalkan kegiatan di pasar ketika waktu azan tiba,” jelas Huzrin.

Dengan sistem perekonomian seperti yang telah dipaparkan di atas, Huzrin pun mengajak masyarakat untuk jangan ada lagi keraguan terhadap budaya Melayu.

“Orang paling kaya di seluruh dunia ini orang Melayu, Hasan Al Bolkiah. Dialah sultan yang bisa menegakkan syariat Islam di negerinya. Islam pun akan mampu menaungi segala perbedaan. Dalam Piagam Madinah jelas tersebut bahwa akan selamat seluruh agama apa pun. Jadi, jangan ada keraguan sedikit pun. Jangan meragukan budaya Melayu yang bersebati dengan Islam ini,” tegasnya.

Mengenai agama sebagai salah satu pilar, Huzrin menyadari bahwa hal tersebut harus terintegrasi dengan pendidikan masyarakat Melayu di usia sedini mungkin.

“Kalau kita mengacu pada Gurindam 12 Raja Ali Haji, disebutkan bahwa: bila kecil tidak dilatih, setelah besar bapaknya letih,” ujar Huzrin.

“Saya membuat program mengubah karakter generasi muda ke depan dengan belajar Islam sejam sehari saja. Program ini dilakukan oleh seorang guru dengan dua puluh muridnya setiap hari, sehingga jika program ini diikuti dengan istiqomah dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sampai SMA (Sekolah Menengah Atas), maka dia akan berpengetahuan sebanding dengan tamatan pesantren,” lanjutnya.

Huzrin pun mengisahkan bahwa pola pendidikan dini ini tengah dia jalankan tanpa memerlukan dana yang besar.

“Kalau pola pendidikan, saya sudah memulainya di Batam minggu lalu di aula Pemprov (Pemerintah Provinsi-red), bulan lalu di asrama haji Tanjung Pinang, dan insya Allah akan berlanjut terus pada bulan-bulan ke depan. Biaya program ini cukup dari sumbangan pribadi teman-teman kita. Bangunan tak perlu dibangun lagi karena madrasah sudah ada. Saya tidak mengandalkan APBD (Anggaran Pembelanjaan Biaya Daerah-red). Kalau APBD, sudah terjadwal anggaran per tahun, jadi mestilah usulannya untuk tahun depan. Jadi kita gunakan saja pola budaya, kita pungut zakat, infaq, sedekah. Sejalankanlah seluruh kebutuhan kita dengan agama. Insya Allah segalanya jadi mudah,” jelas Huzrin.

Mengingat pentingnya tujuan dari gerakan ini, Huzrin menyatakan bahwa apa yang dilakukannya ini bukanlah gerakan basa-basi.

“Kalau kita tidak bangkit, siapa jaga anak kita? Tak mungkin gubernur, tak mungkin wali kota, tak mungkin polisi. Kita sendiri. Maka orang tua harus bangkit dan bangun. Selagi kita tidak memberikan mereka pendidikan yang benar, maka jika input-nya begitu, ya output-nya akan begitu. Sekali lagi, ingat kata Raja Ali Haji, jika kecil tak dilatih, besar nanti bapaknya letih,” pungkasnya.

Satgas Bencana
Menengok kenyataan pengerukan sumber daya, kemiskinan, kebodohan, dan maraknya penggunaan narkoba dan penyebaran HIV yang tengah dialami masyarakat Melayu kini, maka tidaklah berlebihan ketika Huzrin menyebut bahwa keterpurukan masyarakat Melayu kini adalah sebuah bencana.

“Apa yang kita hadapi sudah sepatutnya disebut sebagai bencana. Tapi, ini zaman kebangkitan budaya. Budaya bangsa harus kita tegakkan. Karena, kalau roboh kota Melaka, papan di Jawa kita tinggikan. Kalau roboh marwah negara, budaya bangsa kita tegakkan,” tegas Huzrin.

Huzrin pun menggambarkan keprihatinannya pada sistem politik di Indonesia saat ini.

“Saya melihat calon presiden, calon gubernur selalu bicara soal kemakmuran. Mereka lupa pada persoalan iman dan agama. Untuk ini, Melayu sudah punya sistemnya. Seluruh kitab Melayu sudah menjelaskan aturannya. Hanya saja semua belum disosialisasikan. Semua kitab itu kini tersimpan rapi di Perpustakaan Penyengat,” lanjut Huzrin.

Penyengat adalah adalah pulau kecil berjarak sekitar dua kilometer di seberang Tanjung Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Pada abad ke-18, pulau ini merupakan lokasi pemerintahan Kesultanan Johor.

Huzrin mengajak seluruh masyarakat Melayu, dari mana pun, untuk mulai berkumpul, meneriakkan, dan mensosialisasikan kembali seluruh sistem pengetahuan Melayu yang ada dalam kitab-kitab di Perpustakaan Penyengat tersebut.

“Seluruh Melayu, di mana pun, adalah sebati. Kita, melalui Lembaga Adat Melayu harus mendorong sebuah aturan legislasi kepada DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) untuk memulai semacam satgas (satuan tugas-red) di setiap desa, di setiap kampung. Sebagai contoh, tetapkanlah bahwa sebuah kampung dikatakan beradat jika anak-anaknya di usia tujuh tahun sudah mengaji, sepuluh tahun sudah salat. Di kampung itu tetapkanlah pula bahwa semua harus punya surat nikah, harus berpakaian yang baik, dan tidak ada jual minuman keras. Kemudian dirikanlah posko untuk anti-narkoba dan anti-AIDS. Bila ada kriteria ini, maka setiap kampung akan berlomba-lomba dijaga dengan tokoh-tokoh Melayu, pendekar Melayu. Orang memang sekarang masih lebih takut dengan gubernur daripada lembaga adat yang dianggap tak ada jabatan tak ada dana. Tapi jika rakyat sudah bersatu dengan pola budaya ini, lalu pasar mereka perkuat, maka tak ada alasan bagi pemerintah untuk tak mendukung,” papar Huzrin.

Siaran pagi itu pun akhirnya ditutup dengan ucapan selamat dari sang penyiar. Kebetulan di hari itu Huzrin memang tengah merayakan hari lahirnya yang ke-58. Di usianya yang tak lagi muda, aktivitasnya kian hari kian memadat. Seusai siaran, Huzrin pun dikabarkan terbang ke Melaka untuk memenuhi sebuah acara.

Sebelum acara usai, seorang penefelon mendoakannya untuk menjadi gubernur Kepulauan Riau. Dan Huzrin pun merespon.

“Harapan yang terlalu tinggi biasanya hampa. Jangan terlalu berharap pada jabatan semacam itu. Menjadi gubernur adalah wilayah yang lain. Kalau jadi, alhamdulillah. Kalau tak jadi pun, saya sudah percaya dengan pola gerakan yang selama ini saya lakukan. Lagipula, saya ini sebetulnya sudah gubernur, karena gubernur itu singkatan dari: gunakan umur beramal menurut Rasulullah,” kelakarnya.

Kelakar seorang sultan tentu bukan merupakan sebuah kalimat tak bunyi. Seluruh aktivitas yang Huzrin lakukan selama ini telah diakui sebagai upayanya untuk menegakkan tiga pilar Melayu di Kepulauan Riau. Keberkahan usia, itulah teladan yang ingin disampaikan Huzrin pada setiap aktivitasnya.

Dan, sayup-sayup, terngiang kembalilah syair yang dilagukan Sang Dato berjanggut putih ini di penghujung siaran.

Ke generasi muda kita berharap
Kuatkan semangat betulkan sikap
Kokohkan iman tinggikan adab
Supaya Melayu berdiri tegap

Ke generasi muda kita berpesan
Hapuskan sifat malas dan segan
Isilah diri dengan ilmu pengetahuan
Supaya Melayu tidak ketinggalan…

(179)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *