Home Sastra Lingkaran Setan
0

Lingkaran Setan

23
0
Lita Maisyarah Desy.
Lita Maisyarah Desy.

Torus mengangkat gelas tuaknya tinggi.

“Selamat untuk keberhasilan kita!”

Ketiga rekannya yang lain bersorak, mengangkat tinggi-tinggi gelas-gelas mereka yang sudah kandas. Kegembiraan tergambar jelas. Baru satu jam yang lalu seseorang datang mengantar uang. Upah kerja mereka kemarin malam.

“Ngomong-ngomong, Bang Torus, kapan Abang bagikan jatah kita?” celetuk Togar.

“Ah, kau! Jatah kau kan sudah kau terima semalam!”

“Kan itu baru uang muka, Bang.”

“Kau jangan mancing keributan, Togar! Bagian kau kan sudah kukasih semalam,” tersulut amarah Torus. Dicengkramnya kerah baju lusuh Togar. Kewarasannya berkurang beberapa persen karena terlalu banyak menenggak tuak.

Sayangnya, kali ini, anak buah Torus yang lain, Dolok dan Dompu yang biasanya mengelu-elukannya, memihak Togar. Mereka merasa berhak dibayar lebih. Wajar saja, kerja mereka bukan pekerjaan mudah. Orang yang dipanggil Torus dengan sebutan Bos juga sudah menjanjikan mereka bayaran yang pantas.

“Kalau bisa kalian bereskan malam ini juga, saya akan bayar lebih mahal.”

Mereka saling pandang, bingung bagaimana mengeksekusi pekerjaan malam itu juga. Tapi langsung bungkam setelah Bos mengeluarkan segepok uang. “Ini baru uang muka. Jika kerja kalian bagus, saya akan kasih bonus.”

“Abang jangan main-main, Bang. Bagian kami mana?” Dolok angkat suara.

“Sudah berani kau samaku, Dolok?!”

“Kami cuma minta hak kami, Bang!” Suara Dolok meninggi.

Torus diam. Agaknya ia sadar, jika terus bersikeras, maka ketiga preman itu akan menghajarnya. “Nanti aku minta bagian kalian sama Bos.”

***

Meja mereka di lapo tuak itu tak berkurang hingar bingarnya selepas kepergian Torus. Sibuk menerka-terka Torus akan membayar bagian mereka atau tidak. Torus adalah penipu ulung, terlebih sejak ia berkantor di gedung perwakilan rakyat. Dia selalu punya jalan kongkalikong untuk mengibuli rakyat, mencari untung kantong sendiri. Kemarin, dia berhasil menjadi ‘calo’ untuk upaya penggusuran. Bos memintanya mencari orang untuk melakukan pembakaran pasar di bawah jembatan layang yang katanya bebal. Tidak mau pindah meski sudah diperingatkan berulang kali.

Torus menyanggupi. Rekam jejaknya dulu sebagai orang pasaran ia manfaatkan. Dicarinya preman-preman pasar yang dulu pernah jadi rekannya mengompasi pedagang kecil. Tak sulit. Togar, Dolok, dan Dompu menyanggupi apa saja yang diminta Bos melalui Torus hanya dengan beberapa gepok uang. Mereka berhasil mengosongkan pasar dan membakarnya. Dalih korsleting listrik diterima saja. Tak ada yang pernah menduga kalau preman-preman yang toh juga makan dari pasar itu menjadi pelaku pembakaran.

Sayangnya, sekali ular, tetaplah ular. Torus mengamankan separuh dari honor preman-preman itu untuk dirinya pribadi. Dia pikir, otak preman-preman itu akan mampet setelah dia traktir minum tuak sampai muak. Di luar perkiraan, Togar dan Dolok menuntut hak mereka, sampai Torus kewalahan.

“Kalau Bang Torus tidak membayar kita sesuai janjinya, macam mana?” Togar membisiki Dolok.

“Jangan main-main kau, Lae! Tak mungkin Bang Torus tidak membayar kita!”

“Kau tidak lihat tadi? Dipikirnya kita bisa diam dengan tuak. Tak yakin aku besok dapat uang kita.”

“Ah, kurang ajar kali kalau tak dibayarnya kita!” Amarah Dolok mengubun-ubun. “Kita laporkan saja sama polisi ulah dia itu.”

“Kau siap masuk penjara?”

Dolok diam. Teringat ibu dan adik perempuannya.

“Aku tidak mau masuk penjara, Dolok,” sambung Togar pelan. “Tapi kalau menghabisi Torus, aku mau.”

***

“Bos bilang, jatah kita sudah habis,” Torus menenggak lagi tuaknya. Berusaha tampil percaya diri meski jantungnya kebat kebit. Dia tahu Togar dan Dolok preman nekat. Sedikit saja dia salah bicara, bogem mentah pasti diterima.

“Tapi nanti akan ada proyek lagi. Kita kerja lagi, dan dapat duit lagi.”

Togar dan Dolok saling lirik tanpa suara. Mereka mendengarkan Torus dalam diam. Pun rekan mereka yang lain, Dompu.

***

“Kau sudah baca koran hari ini, lae?” Togar menghampiri Dolok.

“Aku tak peduli pendapat orang tentang kematian dia, Lae.” Sahut Togar. “Tak ada untungnya samaku.”

“Tapi Lae, menurut kau, siapa pelakunya?”

“Kalau bukan kau, Bos lah,” Togar tertawa.

“Mana tahu aku cara megang tembak. Bukan aku yang bunuh,” kelit Dolok.

“Berarti Bos.”

“Bos?”

“Kalau Bang Torus mati, hilang satu saksi,” ujar Togar pelan.

“Ada mayat…!! Ada mayat…!!”

Togar dan Dolok tanggap mengejar seruan itu. Buru-buru mereka berlari menuju tempat kejadian. Di sana tergeletak tubuh tambun Dompu.

“Bos benar-benar mau menghilangkan kita,” Togar tercekat. “Bang Torus, kemudian Dompu. Mungkin besok aku atau kau.”

Dolok merinding. “Aku tak mau mati, Lae! Aku tak mau mati!”

Togar menarik Dolok menjauh dari kerumunan. “Kita harus pergi, Lae. Kita tinggalkan kampung ini demi nyawa kita!”

“Tapi…” Lagi-lagi, membayang di mata Dolok wajah ibu dan adiknya.

“Sudah sejak awal aku curiga pada Bos. Bahkan pada semua orang besar yang meminta kita melakukan sesuatu.” Togar mengacungkan tinjunya. “Mereka pasti akan menghabisi kita setelah kita mengerjakan apa yang mereka perintahkan. Mereka akan menyingkirkan saksi agar jejak mereka tidak dikenali. Pembunuhan berantai ini tidak akan berhenti sampai kita berdua mati.”

Dolok menarik napas.

“Harusnya kita tidak pernah menerima tawaran Torus! Harusnya!”

(23)

Lita Maisyarah Desy Lita Maisyarah Desy Srg adalah pendidik yang masih mengenyam pendidikan. Dia sudah menelurkan tiga puluhan buku antologi cerita pendek. Dapat di kontak di litamaisyarah at gmail.com.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *