Home Sastra Kapunang
1

Kapunang

28
1
Emur Paembonan.
Emur Paembonan

Saya memanggilnya ‘Oma’, karena perempuan asal Mamasa itu menikah dengan pria asal Maluku. Dan, dari perempuan yang melahirkan ibuku itulah saya mendengar kata ‘kapunang’. Kata ini pertama kali saya dengar ketika saya mendapat kecelakaan saat usia masih delapan tahun. Saya ditabrak sebuah kendaraan roda dua saat sepeda yang saya kayuh akan berbelok ke luar gang kompleks kediaman saya. Untunglah kecelakaannya tidak parah dan saya hanya menderita luka kecil tanpa luka dalam yang berarti.

Pikiran inilah yang menjadi sugesti hingga saya beranjak dewasa; kala mesti meninggalkan Parepare menuju Surabaya untuk merebut gelar sarjana.

Saat kapal berada di tengah Selat Makassar, saya sedang bermain domino dengan penumpang lain dalam sebuah dek. Seseorang menawarkan kacang dan saya ikut menyantapnya. Namun, saat asyik makan kacang, mendadak terdengar sebuah suara: “Tapi jangan dikasih habis.”

Senyum dan tawa berkelindan.

Saya lantas ingat kapunang.

Saya tak melanjutkan makan kacang.

***

Saya tidak pernah tahu bahwa sikap saya ternyata bertolak belakang dengan adik saya, Tinus. Dia tertawa sebab menganggap saya belum mencerna maksud Oma yang telah almarhumah ketika saya baru saja tamat sekolah dasar.

Saya biarkan semua kenangan bersama Oma pada rongga khusus dalam hidup saya. Saya simpan segala hal yang bagi sebagian orang disebut ‘mitos’. Dan, soal makanan  itu, tetap saya jaga bak museum yang wajib dilestarikan.

“Makanlah jika sudah disediakan,” kata Oma.

Bukan soal mitosnya, bukan soal kepercayaannya, namun ini soal pernghargaan.

Tak tanggung, saya pun menghabiskan makanan yang disediakan siapa saja yang saya tandangi kediamannya. Tentu saja itu jika saya diajak makan. Pun ketika saya berjumpa rekan di kedai yang mengeluarkan kata-kata bernada mengajak santap, maka saya langsung mengambil sebotol atau lebih minuman. Bahkan saya menyuruh penjual membungkus satu menu.

Saya tak peduli jika itu cuma basa-basi. Siapa suruh ajak-ajak.

Kawan-kawan lantas mulai berhati-hati mengobral menu jika kebetulan saya bertamu ke rumahnya. Termasuk ketika kawan itu sedang makan tapi persediaan yang ada hanya cukup untuk penghuni rumah yang belum pulang. Maka kawan itu tak akan pernah mengajak makan hingga saya minta pamit, atau setidaknya ia berujar, “Tunggu sebentar, saya makan dulu.” Untung-untung jika ada air putih.

Rekan sekantor bahkan direktur perusahaan saya pun sudah tahu perihal ini. Maka, sekecil apapun penganan yang sedang dinikmati, maka mereka akan menghentikannya jika saya berada satu ruangan. Tentu jika ada ajakan makan, itu hanyalah basa-basi.

“Ini Jawa,” kata Tinus yang sudah kerja di Semarang selalu mengingatkanku.

“Ya, saya tahu. Siapa bilang Sumatera,” jawab saya.

Syahdan, beberapa hari sebelumnya, saya mengajak Tinus ke sebuah lokasi proyek tempat saya bekerja. Penduduk begitu ramah dan menyambut baik proyek jalan yang kami kerjakan. Berhari-hari saya menginap di desa itu dan tak perlu memikirkan jatah perutku. Walau dari kantor telah masuk dalam anggaran, tapi penduduk setempat ikut menambah prasarana fisikku.

Jika mulanya itu hanya terjadi di malam hari, semakin lama saya beradaptasi, saya semakin menuai respon positif dari seluruh warga desa. Maka, jika setiap kali mereka melihatku sedang istirahat, panggilan mengisi bagian tengah ragaku pun akan datang.

Tinus datang bersamaku ketika proyek segera akan diresmikan. Belum juga roda dua sampai di gerbang desa, seorang penduduk telah membuat Tinus menginjak rem. Si penduduk berharap kami menginap di rumahnya. Dia telah menyediakan penganan spesial tanda syukuran atas jalan yang akan diresmikan seorang menteri. Tapi saya tidak bisa berjanji, kepala desa telah menyiapkan tempat bagi kami.

”Tapi tetap singgah ya, Mas,” kata si penduduk desa itu dengan wajah begitu berharap.

“Oh, pasti… pasti,” ucap saya sambil menyentil pinggang Tinus agar segera menancap gas.

Tinus benar-benar nampak kelelahan mendapat “todongan” bertubi-tubi itu. Saya cuma bisa tersenyum-senyum di hati, memandang mimiknya yang terpaksa berbuat ramah. Belum selesai satu menu yang disantap, panggilan dari warga lain segera datang. Begitulah saya dan Tinus menghabiskan waktu sehari itu. Dan itu membuat Tinus ingin lekas pulang.

“Kalau kamu masih kenyang, kan bisa tolak baik-baik,” ingat Tinus sekali lagi.

“Lebih baik kamu tidak usah datang,” kata saya.

“Kan bisa diambil sedikit? Daripada mereka tersinggung hidangannya tak dicicip,” Tinus menjawab.

“Ah, bungkus saja sekalian!” kata saya  sambil tertawa.

Saya tak tahu mana yang salah. Atau, mungkin juga salah semua. Entahlah. Yang jelas, soal sajian makanan ini pula yang membuat saya dilambung Tinus soal berumah tangga.

“Jangan-jangan karena kamu dilihat rakus keluarganya,” ujar Tinus.

Saya diam. Tak membenarkan, tak pula menyalahkan perkataan Tinus.

Keponakan pacar saya, berumur tiga tahun, pernah meminta tolong pada saya untuk membuka bungkusan snack-nya.

Ibu sang pacar datang dan berujar pada si anak kecil, ”Masak makan sendiri, om-nya nggak dikasi?”

Si anak kecil menyodorkan snack itu pada saya. Saya yang kelaparan segera mengambilnya dan hampir setengah bungkus saya habiskan. Mendadak wajah si calon mertua berubah drastis. Matanya setengah melotot ke arah saya. Ia nampak keheranan dan seolah siap menerkam saya.

Si keponakan tetap melanjutkan aktivitas mengunyahnya dan beranjak ke dapur. Ia meminta uang pada pacar saya sebab katanya saya pun ikut makan. Pacar pun datang. Ibunya ke belakang tanpa meninggalkan kata-kata, kemudian ia memanggil pacar saya.

Dan jadilah saya bersama secangkir sirup selama beberapa menit.

“Kamu terlalu banyak ya ambilnya?” ujar pacar saya saat hanya kami berdua di ruang tamu.

“Maaf, saya kan dikasih?”

“Tapi kamu kantahu, dia anak kecil. Lagi pula, itu kan karena disuruh ibu?”

Sejak itu saya mulai berusaha mencerna, mana benar-benar ajakan, mana basa-basi.

***

“Bukankah lebih bagus kalau tidak pakai basa-basi.”

Kembali saya berdebat dengan Tinus kala tiba di rumah. Ia baru datang dari Semarang untuk ikut seminar di Jakarta, sekaligus menjenguk Ibu yang sekediaman denganku di ibu kota. Saya beranjak ke kamar ibu.

Napasnya yang teratur membuat saya kembali menutup pintu. Saya menuju kamar tidur. Kubiarkan siang berganti petang di lelap tidur sampai ibu sendiri telah menyediakan segelas es jeruk, kue tart dan beberapa macam gorengan di ruang tengah. Semua itu untuk saya dan Tinus.

Belum juga lidah Tinus menyentuh secuil hidangan itu, mendadak ponselnya berdering. Ia mendapat panggilan tugas seketika. Ia pun sigap berangkat.

“Hei, makananmu!” hardik Ibu.

“Ah, sudah, nanti saja,” sahut Tinus dan segera masuk ke dalam mobil.

***

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, kata pepatah. Tamu adalah raja, tapi bukankah tuan rumah pun harus dihormati, Tinus?

Rumah sakit pun menjadi tempat saya menginap beberapa hari berikutnya. Mobil Tinus dihantam truk dari samping sebelum tiba di tujuan. Mobilnya terpelanting, terseret, dan berhenti setelah menghantam batas trotoar. Kondisinya ringsek, beling kaca berhamburan. Ganti baru mobil adalah jalan terbaik.

Luka Tinus lebih parah dari si sopir. Tangan, kaki, dan kepalanya dipenuhi perban. Tinus pun lebih lama di rumah sakit daripada sopirnya yang tak sampai sebulan sudah dapat kembali menyetir.

Saya dan ibu tak pernah membincangkan soal hidangan yang tak tersentuh sama sekali olehnya.

“Mungkin saya kapunang,” ujar Tinus pelan ketika hanya kami bertiga di ruang opnamenya malam itu.

“Sudah, yang penting cepat sembuh,” ujar ibu.

Sejak kejadian itu Tinus tak pernah lupa dan selalu berusaha mencicip menu yang tersedia.

***

“Jadi, begitu.”

“Ya, begitulah.”

Sang pacar dan keluarganya pun akhirnya mengerti segala hal berbau mitos tentang menu hidangan yang dipegang keluarga saya.

Kami pun menikah.

Tapi, belum juga sebulan kami bersanding di pelaminan, istriku ingin melihat kuburan Oma.

“Buat apa?” tanyaku.

“Ingin berziarah.”

“Mitos ya?”

“Bukan. Entahlah orang lain.”

Kami pun berangkat.

***

Rumput tinggi yang liar menjalar di kuburan oma segera kami pangkas. Istriku membaca tulisan di batu nisan yang baru saja dilapnya dengan secarik kain bekas. “Omamu pasti remaja di zaman Belanda.”

Saya tersenyum membenarkan.

 

Catatan:

Kapunang: kejadian tidak mengenakkan atau peristiwa buruk yang dialami karena tidak menyantap hidangan yang disajikan tuan rumah.

 

(28)

Emur Paembonan Lahir di ParePare, Sulawesi Selatan 16 Maret 1978. Pendidikan formal pada Jurusan Administrasi Negara FISIP Universitas Hasanuddin Makassar 1996 – 2003. Belajar menulis cerita pendek secara otodidak. Cerita pendeknya, antara lain, pernah dimuat di sejumlah media, seperti Majalah Bhinneka, Seputar Indonesia, Fajar, Majalah Ekspresi, Radar Surabaya, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, juga Jurnal Nasional.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. cerita yang sangat menarik. kearifan lokal yang sangat berisi. sepertinya kapunang itu bahasa mandar/toraja ya. di bugis, saya tidak menemukan kata itu. terimakasih bung Emur atas ceritanya.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *