Home Featured Syair Puteri Hijau (4) | Tamat

Syair Puteri Hijau (4) | Tamat

46
0
Sja’ir Puteri Hijau – Suatu Tjerita Jang Benar Terdjadi di Tanah Deli, terbitan 1955, cetakan ketujuh.
Sja’ir Puteri Hijau – Suatu Tjerita Jang Benar Terdjadi di Tanah Deli, terbitan 1955, cetakan ketujuh.

 

Berikut adalah bab VIII takat X (tamat) dari Sja’ir Puteri Hidjau yang telah dikisahkan sebelumnya di sini.

 

VIII. Puteri Hidjau Berlajar

Puteri mendjawab perlahan suara:
“Benarlah titah mahkota negara,
Djika tiada aral dan mara,
Esok hari berangkatlah segera.”

Baginda mendengar kata begitu,
Sukanja hati bukan suatu,
Kelengkapan disediakan ini dan itu,
Inang pengasuhpun siap membantu.

Setelah siang sudahlah hari,
Berkemaslah konon tuan puteri,
Mandi ditaman badan dilangiri,
Dalam keranda membaringkan diri.

Setelah musta’id sekaliannja rata,
Keranda dimasukkan dalam kereta,
Diiringkan laskar sekalian rata,
Berdjalan menudju keluar kota.

Angkatan berdjalan dari istana,
Alat kebesaran semua terkena,
Rakjat mengiringkan semut laksana,
Sebagai angkatan maharadja Tjina.

Segala rakjat Deli negeri,
Hatinja pilu tiada terperi,
Ditinggalkan oleh tuan puteri,
Masing-masing duduk berpeluk diri.

Tinggallah negeri tiada beradja,
Setiap orang bermenung sadja,
Laksana puteri bermuram durdja,
Tiadalah tentu urusan kerdja.

Kota dan parit rusaklah sudah,
Mendjadi belukar taman jang indah,
Isi negeri banjak berpindah,
Karena hati selalu gundah.

Demikianlah djadinja negeri itu,
Bertambah sunji setiap waktu,
Pekan dan pasar rusaklah tentu,
Istimewa kota berpagar batu.

Tersebutlah pula kissah angkatan,
Beberapa hari melalui hutan,
Kemudian berlajar dalam lautan,
Djauh dari pada tanah daratan.

Haluan menudju kesebelah utara,
Tamberang berdengung, berputar djentera,
Kapalnja ladju tiada terkira,
Sebagai burung atau udara.

Dalam antara beberapa hari,
Sampailah kapal ke Atjeh negeri,
Meriam dipasang kanan dan kiri,
Bunjinja terdengar kedalam negeri,

Di Tandjung Djambuair kapal berhenti,
Banjak orang datang melihati,
Semuanja sangat berbesar hati,
Melihat radjanja tiadalah mati.

Pada masa itu ketika,
Sabang, Oleleh belum dibuka,
Karena masih hutan belaka,
Orang melihat belumlah suka.

Itulah sebab mula karena,
Makanja kapal berlabuh disana,
Pelabuhan jang lain belum sempurna,
Kapalpun banjak dapat bentjana.

Adapun akan duli baginda,
Menitahkan kelasi jang muda-muda,
Menjuruh turunkan sekotji bertenda,
Serta kelengkapan mana jang ada.

Setelah musta’id alat semuanja,
Bagindapun masuk kedalam biliknja,
Pakaian kebesaran lalu dipakainja,
Tampan dan gagah akan rupanja.

Pakaian kebesaran setelah dilekatkan,
Puteri Hidjau lalu didapatkan,
Warta “sampai” baginda chabarkan,
Puteripun diam kepala ditundukkan.

Bagindapun lalu mengulang kata:
“Ajuhai adinda, puteri djuita,
Kenegeri Atjeh sampailah kita,
Marilah turun bersama serta!”

Puteri mendjawab suara perlahan:
“Ampun tuanku radja pilihan,
Djika ada rahim kemurahan,
Haraplah patik dapat kasihan.

Kalau tuanku senang dihati,
Permintaan patik adalah pesti,
Rakjat Atjeh hendak kulihati,
Supaja patik mengetahui nanti.

Titahkan mereka datang kemari,
Ditepi pantai menundjukkan diri,
Serta membawa anak dan isteri,
Supaja patik melihat sendiri.

Masing-masing membawa persembahannja,
Segenggam bertih, sebidji telurnja,
Tiap-tiap seorang demikian halnja,
Ditepi pantai kumpul semuanja.

Demikian permintaan patik jang leta,
Harap dikabulkan oleh sang nata,
Djika menolak duli mahkota,
Kedarat patik takkan serta!”

Baginda mendengar perkataan puteri,
Merasa heran hati sendiri,
Belumlah pernah ‘adat dinegeri,
Membawa persembahan demikian peri.

Meskipun permintaan luar biasa,
Tiada baginda pandjang periksa,
Dikerdjakan orang kota dan desa,
Membawa persembahan dengannja paksa.

Berhimpunlah orang dusun dan kota,
Membawa persembahan sekalian rata,
Seorang sebidji telur jang njata,
Bertih segenggam adalah serta.

Ditepi pantai semua dilonggokkan,
Banjaknja tiada lagi terperikan,
Apabila semuanja sudah dilengkapkan,
Kedalam laut disuruh buangkan.

Telur dan bertih dibuangkan orang,
Banjaknja tak dapat dikira terang,
Memutih sebagai bunganja karang,
Berhanjutan sampai ketanah Seberang.

IX. Puteri Hidjau Dilarikan Naga

Banjaklah orang heran dihati,
Melihat perbuatan demikian pekerti,
Karena belum pernah dilihati,
Pekerdjaan aneh njatalah pesti.

Setelah mengerdjakan perintah radjanja,
Masing-masing orang kembali kerumahnja,
Ada jang bertanja pada sahabatnja,
Perbuatan demikian apakah maksudnja.

Puteri Hidjau usul jang sahda,
Waktu ditinggalkan oleh baginda,
Iapun keluar dari dalam keranda,
Kemenjan diambil puteri berida.

Kemenjan dibakar dengannja segera,
Asapnja mendulang atas udara,
Sambil menangis perlahan suara,
Disebut-sebutnja nama saudara.

“Ajuhai kakanda djundjungan hulu,
Manalah djandji kakanda dahulu,
Kita nan sudah mendapat malu,
Adinda ditawan Atjeh penghulu.

Waktu dahulu djandji kakanda,
Hendak menolong pada adinda,
Sekarang ini beginilah ada,
Kita nan sudah porak poranda.

Wahai kakanda radja jang sakti,
Dimanakah tempat kakanda menanti,
Ambillah adinda kemari pesti,
Bersama hidup, bersama mati.

Kakandaku tuan mahkota negeri,
Segeralah kakanda datang kemari,
Ambil adinda bawalah lari,
Hatiku takut masuk kenegeri.

Djika kakanda tiada membantu,
Adinda mati sudahlah tentu,
Hatiku hantjur bukan suatu,
Umpama katja djatuh kebatu.

Dari pada bersuami dengan dipaksa,
Relalah adinda djadi binasa,
Hidup begini tiada kuasa,
Mendjadi tawanan dilain desa.”

Dengan kodrat Tuhan semesta,
Waktu puteri sedang meminta,
Haripun djadi gelap gulita,
Gelombangpun besar badaipun serta.

Turunlah angin terlalu kentjang,
Kapal jang besar sampai berguntjang,
Perahu karam sekotji dan lantjang,
Maksud baik mendjadi pintjang.

Langit kelihatan hitam bermega,
Angin, gelombang bertambah djuga,
Banjaklah kapal djadi berlaga,
Umpama telur didalam raga.

Banjaklah kapal djadi terdampar,
Keatas pantai sebagai dilempar,
Karena angin datang menampar,
Ketika itu sangatlah gempar.

Dalam rebut bukan buatan,
Kedengaran menderu dalam lautan,
Seekor naga njata kelihatan,
Sangatlah besar menudju buritan.

Naga itu datang menghampiri,
Kedekat kapal tuan puteri,
Orang dikapal habislah lari,
Tinggallah puteri seorang diri.

Takutnja puteri bukan sedikit,
Melihat naga umpama bukit,
Tiadalah dapat hendak berbangkit,
Badannja gemetar merasa sakit.

Waktu naga dekatlah sudah,
Puteri menangis tunduk tengadah,
Hendak lari tiadalah mudah.
Kedalam keranda ia berpindah.

Ia berbaring dalam keranda,
Takut dan ngeri semuanja ada,
Gemuruh bunjinja darah didada,
Orang menolong haram tiada.

Karena orang sudahlah lari,
Masing-masing pergi membawa diri,
Begitupun djuga radja bestari,
Tiadalah ingat kepada puteri.

Puteri berbaring mata dipedjamkan,
Kepada Allah diri diserahkan,
Dari pada bahaja minta lindungkan,
Diamlah ia achir dinantikan.

Nagapun segera datang mendapatkan,
Kepada kapal badan dirapatkan,
Kepala diangkat ekor dikipaskan,
Kapalpun berpusing air diturutkan.

Kepala berpusing umpama roda,
Habislah kojak lajar dan tenda,
Berpelantingan segala barang jang ada,
Habislah hilang harta dan benda.

Ditengah lautan naga mengambang,
Melihat kapal dipermainkan gelombang,
Segala tiangnja habislah tumbang,
Orang melihat sangatlah bimbang.

Iapun mengangkat kepalanja tinggi,
Kepada kapal mengempas lagi,
Dengan ekornja kapal dibagi,
Kapalpun hantjur umpama ragi.

Ketika itulah kapal binasa,
Dikaramkan oleh naga perkasa,
Hanjalah keranda aman sentosa,
Tempat berbaring puteri berbangsa.

Keranda terapung tiadalah tenggelam,
Kelihatan puteri berbaring didalam,
Wadjahnja bersih umpama nilam,
Sebagai bulan diwaktu malam.

Dalam hal matjam begitu,
Nagapun membawa keranda itu,
Didjundjung keranda puteri ratu,
Berenang segera udjud tak tentu.

Nagapun berenang terlalu tjepat,
Dipandang mata haram tak sempat,
Ditengah lautan sebagai melompat,
Tjepatnja makin berganda lipat.

Antara tak lama naga menjelam,
Bersama keranda lalulah tenggelam,
Bagaimaa achirnja wa’llahu ‘alam,
Sampai sekarang tinggallah kelam.

Riwajat beralih, berganti tjerita,
Tidak berapa lama antara,
Setelah naga menjelam segara,
Hudjan dan angin teduhlah segera.

Radja Atjeh muda bangsawan,
Tinggallah ia berhati rawan,
Siang dan malam igau-igauan,
Terkenanglah puteri muda rupawan.

Adapun halnja sehari-hari,
Duduk bermenung seorang diri,
Tiadalah pernah kebalairung sari,
Selalu teringat kepada puteri.

Sesal hatinja tiada terderita,
Karena puteri hilang dimata,
Duduklah ia dengan bertjinta,
Tidur bertilam si air mata.

Sekarang apa hendak dikata,
Kehendak Tuhan ‘alam semesta,
Sudah ditangan jang ditjinta,
Karena tak djodoh, lenjap dimata.

X. Sja’ir Achir’lkalam

Sampai disini sjairpun tammat,
Sadjaknja banjak tak betul amat,
Mengarangkan dia habislah tjermat,
Pinggang dan tengkuk rasanja lumat.

Sedikit sadja saja pohonkan,
Pada pembatja atau jang mendengarkan,
Djikalau ada salah didapatkan,
Ampun dan ma’af tolong berikan.

Ma’lumlah saja bukan pengarang,
‘Ilmu didada sangatlah kurang,
Hina dan miskin bukan sebarang,
Dari dahulu sampai sekarang.

Abdul Rahman namanja saja,
Sangatlah da’if tiada upaja,
Sedikit tiada mempunjai daja,
Harapkan rahim Tuhan jang kaja.

Achiru’lkalam saja berperi,
Tangan diangkat sepuluh djari,
Sembah diaturkan kanan dan kiri,
Ampun dan ma’af mohon diberi.

 

Tamat.

(46)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *