Home Featured Syair Puteri Hijau (3)

Syair Puteri Hijau (3)

65
0
“Sja’ir Puteri Hijau – Suatu Tjerita Jang Benar Terdjadi di Tanah Deli”, terbitan 1955, cetakan ketujuh.
Sja’ir Puteri Hijau – Suatu Tjerita Jang Benar Terdjadi di Tanah Deli, terbitan 1955, cetakan ketujuh.

 

Berikut adalah bab VI dan VII dari Sja’ir Puteri Hidjau yang telah dikisahkan sebelumnya di sini.

 

VI. Radja Atjeh Menjerang

Lengkaplah sudah alat tentera,
Masuk kekapal mahkota negara,
Lajar ditarik diputar djentera,
Kapalpun melantjar ditengah segara.

Kata orang empunja madah,
Angkatan itu berangkatlah sudah,
Rakjat jang tinggal berhati gundah,
Sajangkan sultan paras jang indah.

Selama sultan berangkat itu,
Datuk mangkubumi djadi pembantu,
Duduk memerintah menggantikan ratu,
Menjelesaikan perkara sepeninggal ratu.

Tersebut pula kissah angkatan,
Beberapa hari menempuh lautan,
Kapal melantjar dari Selatan,
Djauhlah sudah dari daratan.

Empat hari, tjukup kelima,
Sampai angkatan radja utama,
Ke Labuhandeli, dikota lama,
Turunlah sekalian hulubalang panglima.

Terkedjutlah orang hilir dan hulu,
Melihat kapal banjak terlalu,
Datangnja itu tiada kelulu,
Tiada tentu siapa penghulu.

Penghulu pasar pergilah segera,
Mendapatkan angkatan Atjeh negara,
Ia bertanja gemetar suara:
“Dari mana datang tuan-tuan saudara?”

Lalu mendjawab seorang menteri:
“Kami datang dari Atjeh negeri,
Tiada bermaksud suatu peri,
Berhenti disini kadar sehari.

Supaja tuan mengetahui terang,
Kami nan hendak pergi berperang,
Ke Delitua hendak menjerang,
Membawa laskar beribu orang.”

Penghulu pasar mendengar katanja,
Rasa tak senang dalam hatinja,
Warta dipersembahkan pada radjanja,
Chabar angkatan dengan maksudnja.

Kata orang empunja madah,
Laskar Atjeh naiklah sudah,
Barisnja beratur terlalu indah,
Orang menonton riuh dan rendah.

Alat sendjatanja djangan dikata,
Tombak dan pedang, perisai bergenta,
Senapang dan meriam lengkap semata,
Laskar sebagai semut melata.

Setelah beratur baris semuanja,
Lalu berdjalan sekalian orangnja,
Gegap gempita bunji bahananja,
Seperti guruh konon suaranja.

Berdjalan konon sekalian laskar,
Menempuh padang hutan belukar,
Kaju-kajuan banjak terbongkar,
Rumputpun kering bagai dibakar.

Terkedjut segala binatang hutan,
Semuanja lari berlompat-lompatan,
Sekaliannja itu dengan ketakutan,
Disangkanja suara djin dan setan.

Angkatan berdjalan beberapa hari,
Menempuh padang hutan berduri,
Dengan pertolongan Chaliku’lbahri,
Sampailah ke Delitua negeri.

Berhentilah laskar diluar negeri,
Beberapa chaimah lalu terdiri,
Keliling tempat semua dipagari,
Supaja sukar musuh menghampiri.

Setelah selesai kerdja semuanja,
Lalu dichabarkan pada radjanja,
Baginda mendengar suka hatinja,
Akan kesetiaan segala laskarnja.

Bagindapun lalu bermusjawarat,
Bermaksud hendak berkirim surat,
Ke Delitua disampaikan hasrat,
Supaja tidak kekurangan sjarat.

Diperbuat surat diberikan pahlawan,
Dititahkan pergi tiga sekawan,
Panglima menjembah radja bangsawan,
Berdjalan bersama teman dan kawan.

Setelah sampai kepintu kota,
Penunggu pintu didapatkan serta,
Dichabarkan maksud dengannja warta,
Hendak menghadap duli sang nata.

Merekapun dibawa kebalairung sari,
Kehadapan radja mahkota negeri,
Apabila sampai suratpun diberi,
Kepada datuk bentara kiri.

Bentara bertanja suaranja kaku:
“Dari mana datang tuan saudaraku,
Maka begini tingkah dan laku,
Djanggal, tjanggung, serta kaku?”

Pahlawan mendjawab, seraja berkata:
“Dari Atjeh datangnja beta,
Djika hendak tahukan warta,
Batjalah surat, supaja njata!”

Surat dibuka bentara kiri,
Dibatja dihadapan mahkota negeri,
Membatja surat sambil berdiri,
Suaranja njaring tiada terperi.

Begini konon bunji suratnja,
Pertama memudji kebesaran keradjaannja:
“Radja Atjeh besar tachtanja,
Datang membawa beribu laskarnja.

Beratus pendekar hulubalang menteri,
Laskarpun banjak tiada terperi,
Adapun maksud datang kemari,
Hendak merampas tuan puteri.

Waktu dahulu kami meminta,
Dengan lemah lembut kami berkata,
Beberapa banjak membawa harta,
Tiada berhasil djuga semata.

Disuruh kembali semua utusan,
Beserta dengan segala bingkisan,
Sekarang ini terima balasan,
Puteri diambil dengan kekerasan.

Djika tiada hendak berperang,
Baiklah puteri serahkan sekarang,
Kalau tiada, tentu diserang,
Kota didjadikan abu dan arang.

Radja Delitua dua saudara,
Gagah berani sudahlah ketara,
Silakan keluar dengannja segera,
Mengadu sekalian rakjat tentera.”

Begitulah konon bunji suratnja,
Baginda mendengar sangat marahnja,
Merah padam warna mukanja,
Tetapi dapat disamarkannja.

Baginda bertitah gemetar suara:
“Ajuhai utusan Atjeh negara,
Kembalilah engkau dengannja segera,
Esok hari mengadu tentera.

Keluar djuga aku berperang,
Baiklah siap kamu sekarang,
Rakjatpun banjak tiadalah kurang,
Boleh dilihat mana jang garang.”

Demi mendengar baginda berperi,
Pahlawan Atjeh merasa ngeri,
Merekapun lalu bermohon diri,
Pergi menghadap radja sendiri.

Setelah sampai ia ketempatnja,
Lalu dichabarkan kepada radjanja,
Akan djawaban surat dibawanja,
Baginda mendengar geram hatinja.

Tersebut kisah dalam istana,
Baginda mupakat dengan sempurna,
Menghimpun laskar dimana-mana,
Dengan seketika menderu bahana.

Segala pahlawan bangsa berani,
Berkendaraan di atas kuda semberani,
Memakai badju besi kursani
Peluru senapang boleh tertahani.

Setelah hari sianglah tentu,
Lengkaplah sudah semuanja itu,
Keluarlah laskar dari kota batu,
Akan berperang membela ratu.

Apabila sampai ketengah padang,
Kedua pihak sama berpandang,
Serunai ditiup dipalu gendang
Masing-masing laskar menghunus pedang.

Tempik dan sorak tiada terperi,
Segala pahlawan menjerbukan diri,
Beramuk-amukan kian kemari,
Gadjah menderam, kuda berlari.

Mereka berperang terlalu amat,
Berbunuh-bunuhan tiada terhemat,
Banjak terhantar majatnja umat,
Gemuruh sebagai akan kiamat.

Perangnja keras tiada terkira,
Banjaklah laskar mendapat tjedera,
Segala pahlawan Atjeh negara,
Sebagai harimau kena pendjara.

Berperang itu ada seketika,
Banjaklah orang mati dan luka,
Kedua pihak bersama murka,
Mati dan hidup tiada direka,

Setelah hari petanglah pesti,
Kedua pihak lalu berhenti,
Masing-masing tempat lalu didapati,
Dikuburkan segala mana jang mati.

Kata orang empunja peri,
Begitulah keadaan setiap hari,
Sangatlah susah didalam negeri,
Musuh mengepung kanan dan kiri.

Sungguhpun keadaan serupa itu,
Kalah dan menang belumlah tentu,
Radja Atjeh susah bukan suatu,
Karena tiada mendapat bantu.

Setelah genap tiga puluh hari.
Radja Atjeh menghimpunkan menteri,
Tipu muslihat hendak ditjari,
Supaja kalah Deli negeri.

Setelah berhadir sekaliannja itu,
Lalulah bertitah paduka ratu:
“Ajuhai wazir, menteri sekutu,
Tjarilah ichtiar supaja tentu.

Djika keadaan sebagai sekarang,
Kalah dan menang belumlah terang,
Banjaklah mati panglima perang,
Achirnja kita ditawan orang.

Djika berperang tjara begini,
Tentulah banjak laskar jang fani,
Serangan musuh tiada tertahani,
Karena mereka sangat berani.

Tjobalah tjari tipu dan daja,
Supaja musuh kena perdaja,
Padamu sekalian aku pertjaja,
Asalkan djangan berbuat aniaja.”

Mendengar titah radja sendiri,
Masing-masing tunduk berdiam diri,
Tipu muslihat djuga dipikiri,
Akan mengalahkan Delitua negeri.

Ada seketika berdiam diri,
Berdatang sembah seorang menteri:
“Ampun tuanku mahkota negeri,
Suatu ichtiar patik memberi.

Sebagai tuanku maklumlah sudah,
Negeri ini kotanja indah,
Pagarnja tinggi bukannja rendah,
Memasuki dia tentu tak mudah.

Tambahan laskarnja gagah perkasa,
Takut dan gentar tiada merasa,
Semuanja perkasa senantiasa,
Berani mati atau binasa.

Ichtiar patik sebuah sadja,
Penawan Delitua empunja radja,
Tak usah banjak pakai belandja,
Ataupun pedang bermata wadja.

Pengaruh wang kita tjobakan,
Kedalam meriam kita isikan,
Kepada laskarnja kita tembakkan,
Tentulah mereka akan memperebutkan.”

Baginda mendengar sembah menteri,
Hatinja suka tiada terperi,
Kelihatan mukanja berseri-seri,
Ichtiar demikian sangat digemari.

Setelah sudah berkata-kata,
Baginda mendjamu sekalian rata,
Tua dan muda adalah serta,
Berapa banjak mengeluarkan harta.

Djauh malam sudahlah hari,
Masing-masing lalu bermohon diri,
Pergi kembali ketempat sendiri,
Pekerdjaan esok djuga dipikiri.

Waktu hari sudahlah terang,
Genderangpun lalu lipalu orang,
Bersiaplah segala pahlawan garang,
Kepada musuh hendak menjerang.

Ringgit dibawa dalam kereta,
Ada kira-kira seperempat juta,
Meriam jang besar adalah serta,
Karena hendak merampas kota.

Apabila sampai ketengah medan,
Kedua pihak lalu berpadan,
Berperang sebagai orang edan,
Tiada sajang njawa dan badan.

Bedil berbunji suara menderu,
Sebagai hudjan datang peluru,
Laskar sebagai binatang diburu,
Gemuruh bunjinja tempik dan seru.

Waktu orang berperang itu,
Radja Atjeh ada disitu,
Berhenti pada tempat suatu,
Empat menteri djadi pembantu.

Meriam jang besar dekat baginda,
Beberapa orang sedang menunda,
Sepuluh karung ringgitpun ada,
Dipikul oleh chadam biduanda.

Kedalam meriam ringgit diisikan,
Ketengah padang lalu dihadapkan,
Sumbu ditaruh lalu dibakarkan,
Bunjinja dahsjat tiada terperikan.

Ditengah padang ringgit bertebar,
Orang melihat hati berdebar,
Banjaklah sudah merasa tak sabar,
Memegang pedang hatinja hambar.

Sebab melihat demikian pekerti,
Datanglah tama’ didalam hati,
Tiada lagi pedulikan mati,
Asalkan wang boleh didapati.

Laskar Delitua njata kelihatan,
Kesana kemari berlompat-lompatan,
Memungut wang berebut-rebutan,
Hatinja suka bukan buatan.

Karena mereka tiada melihat,
Akan musuhnja punja muslihat,
Lagi pikiran belumlah sehat,
Tiada memikirkan baik dan djahat.

Begitulah kebanjakan orang sekarang,
Melihat wang matanja terang,
Meskipun lehernja akan diparang,
Berani lenjap, setianja kurang.

Orang Atjeh melihat begitu,
Hatinja suka bukan suatu,
Tipunja berhasil sudahlah tentu,
Tiadalah perlu meminta bantu.

Demikianlah hal sehari-hari,
Laskar Delitua banjak jang lari,
Ada jang masuk kedalam puri,
Persembahkan kepada radja sendiri,

Demi baginda mendengar warta,
Iapun sangat berdukatjita,
Dalam hatinja sudahlah njata,
Tentulah musuh memasuki kota.

Dengan hati gundah gulana,
Begindapun masuk kedalam istana,
Berdjumpakan saudara muda teruna,
Hendak memberi nasihat sempurna.

Setelah sampai kedalam istananja,
Puteri Hidjau lalu dipanggilnja,
Bersama dengan saudara bungsunja,
Lalu berkata dengan masjgulnja:

“Ajuhai adinda emas djuita,
Dengar kiranja kakanda berkata,
Djika kalah perangnja kita,
Djangan adinda berdukatjita.

Serahkan kota bersama diri,
Kepada radja Atjeh bestari,
Moga-moga ditolong Chaliku’lbahri,
Tiadalah mendapat bahaja ngeri.

Tetapi satu harus dipohonkan,
Kepadanja minta buatkan,
Sebuah keranda katja berlapiskan,
Kedalam itu minta masukkan.

Apabila sudah sampai kenegerinja,
Suruh himpunkan semua rakjatnja,
Masing-masing dengan persembahannja,
Bertih segenggam, sebidji telurnja.

Bila semuanja sudah dikumpulkan,
Kedalam laut suruh buangkan,
Bakarlah kemejan serta do’akan.
Dengan kakanda minta pertemukan.

Djika ditolong Tuhan jang satu,
Bertemulah kita ketika itu,
Jang lain djangan harap membantu,
Sudahlah permintaan kita begitu.”

Baginda berkata dengan masjgulnja,
Bertjutjuran dengan air matanja,
Kedua saudara dipeluk ditjiumnja,
Sangatlah pilu siapa melihatnja.

Setelah baginda berkata-kata,
Keluarlah ia dari dalam kota,
Kemana tudjunja tiadalah njata,
Seorangpun tiada tahukan warta.

Tinggallah putri dua saudara,
Hatinja pilu tiada terkira,
Keduanja menangis perlahan suara,
Terkenangkan perkara mahkota negara.

Pada adiknja puteri berkata:
“Ajuhai adinda tjahaja mata,
Sekarang apa bitjara kita,
Musuh nan hampir memasuki kota.

Pada pikiran kakanda sendiri,
Baiklah kita segera lari,
Kedalam hutan menjembunjikan diri,
Sebelum musuh sampai kemari.”

Adinda mendjawab suaranja pilu:
“Wahai kakanda djundjungan hulu,
Baiklah kakanda sabar dahulu,
Adinda berichtiar menuntut malu.

Didalam istana kakanda menanti,
Tetapkan pikiran didalam hati,
Djika adinda tiada mati,
Selamatlah kita dengan seperti.”

Puteri mendengar kata adiknja,
Sangatlah pilu rasa hatinja,
Lalu menjapu air matanja,
Masuklah ia kedalam peraduannja.

Menangislah ia tersedu-sedu,
Suaranja manis terlalu merdu,
Sebagai bunji buluh perindu,
Makin didengar bertambah rindu.

Tinggallah adiknja ditengah istana,
Dengan hati gundah gulana,
Pikirannja melajang kesini sana,
Memikirkan ichtiar penolak bentjana.

Ia termenung dalam ma’ripat,
Pikirannja melajang kelain tempat,
Hendak dipandang tiada sempat,
Dengan seketika berubah sipat.

Sudah kehendak Tuhan jang satu,
Sipatnja berubah ketika itu,
Mendjadi meriam njatalah tentu,
Pada laskarnja djadi pembantu.

Ia menembak bersungguh hati,
Seketikapun tiada lagi berhenti,
Orang Atjeh banjaklah mati,
Kena peluru meriam jang sakti.

Merekapun undur perlahan-lahan,
Karena tiada dapat menahan,
Ditengah padang djatuh berebahan,
Tersiar-siar sematjam bahan.

Puteri Hidjau tersebut kissah,
Dalam peraduan berkeluh kesah,
Karena hatinja sangatlah susah,
Bantal kepalanja habislah basah.

Sangatlah susah rasa hatinja,
Memikirkan akan untung nasibnja,
Tambahan terkenangkan ajah bundanja,
Bagaikan remuk rasa anggotanja.

Hari malam bulan mengembang,
Hatinja makin bertambah bimbang,
Terkenangkan ajah, bunda, dan abang,
Djika bersajap maulah terbang.

Djauh malam sudahlah hari,
Keluarlah ia ketengah puri,
Keliling tempat adiknja ditjari,
Tiadalah djua bertemu diri.

Herannja ia bukan suatu,
Melihat keadaan serupa itu,
Saudaranja hilang tiada bertentu,
Hanjalah meriam ada disitu.

Iapun lalu kembali kedalam,
Merebahkan diri diatas tilam,
Sehingga sampai semalam-malam,
Pikirannja masih merasa kelam.

Kata orang empunja tjerita,
Waktu hari sianglah njata,
Datanglah musuh mengepung kota,
Lengkap dengan alat sendjata.

Begitulah djuga meriam keramat,
Ia menembak terlalu amat,
Bagaikan dunia hendak kiamat,
Banjaklah musuh tiada selamat.

Dengan kehendak Tuhan jang kaja,
Menundjukkan kodrat iradatnja dia,
Meriam itupun habislah daja,
Mendjadi hina orang jang mulia.

 

VII. Radja Atjeh dengan Puteri Hidjau

Larasnja putus besi melajang,
Remuk sebagai dimasak lojang,
Keliling istana rasa bergojang,
Terkedjut segala hamba dan dajang.

Bunji jang dahsjat sudah tiada,
Pada musuhnja akan menggoda,
Radja Atjeh orang jang muda,
Sangatlah suka didalam dada.

Pintu kota mereka petjahkan,
Dengan segera orang hantjurkan,
Harta rampasan banjak didapatkan,
Kepada bendahara semua diberikan.

Tersebutlah perkataan radja, Atjeh bestari,
Sukanja tidak lagi terperi,
Masuklah segera keistana puri,
Puteri Hidjau hendak ditjari.

Kedalam istana sampailah baginda,
Bersama menteri mana jang ada,
Sangatlah suka didalam dada,
Takut dan ngeri sudah tiada.

Setelah sampai dalam istana,
Puteri ditjarinja kesini sana,
Hatinja suka terlalu bena,
Perangnja menang dengan sempurna.

Tetapi puteri tiadalah dapat,
Rata ditjarinja segenap tempat,
Karena puteri sembunji tjepat,
Dalam peraduan bertirai rapat.

Radja Atjeh lama mentjari,
Barulah bertemu dengannja puteri,
Dalam peraduan membaringkan diri,
Wadjahnja gemilang berseri-seri.

Demi terpandang oleh baginda,
Akan paras puteri jang sahda,
Iman bergojang didalam dada,
Berahinja datang berganda-ganda.

Iapun berdiri dekat peraduan,
Peraduannja indah sangat rupawan,
Hatinja geram bertjampur rawan,
Melihat puteri muda perawan.

Waktu puteri membuka matanja,
Sangat terkedjut rasa hatinja,
Seorang laki-laki masuk ketempatnja,
Belumlah pernah demikian halnja.

Iapun bangun hendakkan lari.
Oleh baginda segera dihampiri,
Baginda bertanja manis berseri:
“Hendak kemana adinda puteri?

Djanganlah tuan bersalah sangka,
Pada kakanda orang durhaka,
Tiada kakanda gusar dan murka,
Adindaku tempat melipurkan duka.

Adinda tempat kakanda bergantung,
Menjerahkan nasib bersama untung,
Bersama terbenam sama terkatung,
Adinda miliki hati dan djantung.

Ajuhai adinda rupawan sedjati,
Djanganlah tuan berketjil hati,
Kehendak kakanda baik turuti,
Mendjadi isteri dengan seperti.

Sangatlah lama kakanda bertjinta,
Pada adinda emas djuita,
Terbajang-bajang diruangan mata,
Barulah bertemu tadjuk mahkota.

Adindaku tuan muda bestari,
Djanganlah tuan merasa ngeri,
Marilah bersama pulang kenegeri,
Adinda kunobatkan mendjadi suri.

Haram kakanda akan berdusta,
Pada adinda usul jang po’ta,
Djika kakanda memungkiri kata,
Dikutuk oleh Tuhan semesta.”

Berbagailah pudjuk dikatakannja,
Beserta dengan lemah lembutnja,
Puteri mendengar bentji hatinja,
Tetapi dapat disamarkannja.

Puteri mendjawab manis berseri:
“Ampun tuanku mahkota negeri,
Patik menurut sebarang peri,
Njawa diserahkan bersama diri,

Badan dan djiwa patik serahkan,
Sebarang kehendak tuanku lakukan,
Mendjadi hamba tuanku buatkan,
Sedikit tiada patik bantahkan.

Hanjalah sedikit permintaan ada,
Pada tuanku usul jang sahda,
Djika ada rahim didada,
Harap kabulkan djangan tiada.

Suatu keranda tuanku buatkan,
Dari pada katja tuanku didjadikan,
Kedalamnja itu patik masukkan,
Sampai di Atjeh baru bukakan.

Sebabnja permintaan patik begitu,
Karena kita belum bersatu,
Kulit bersentuh haramlah tentu,
Hukum sjara’ melarangnja itu.”

Demi baginda mendengar kata,
Hatinja sangat bersukatjita,
Maksudnja hasil sudahlah njata,
Permintaan puteri dikabulkan serta.

Keranda katja disuruh tempa,
Sangatlah elok dipandang rupa,
Dimasa ini djarang berdjumpa,
Orang melihat lalai dan alpa.

Tiada saja berpandjang kalam,
Setelah hari sudahlah malam,
Bagindapun lalu masuk kedalam,
Bertemukan puteri muda pualam.

Dengan manisnja baginda bermadah:
“Ajuhai adinda paras jang indah,
Keranda itu siaplah sudah,
Bilakah waktunja kita berpindah?

Maksud kakanda didalam hati,
Djika kiranja adinda turuti,
Kita nan baik berangkat pesti,
Siapa tahu bahaja menanti.”

 

Bersambung.

(65)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *