Home Featured Sastra Djawa, Esai Tengku Amir Hamzah (1)

Sastra Djawa, Esai Tengku Amir Hamzah (1)

38
0
Sumber: Minami, 1 Maret 1943.
Sumber: Minami, 1 Maret 1943.

 

Kisah hidup Pangeran Melayu Langkat, Tengku Amir Hamzah, kerap dibaca sebagai kisah sebuah kaum yang kalah. Seorang pemikir sastra, A. Teeuw, menyematkan pandangannya dalam memandang kematian Amir yang tragis pada tahun yang suram, 1946. Kalimat itu berbunyi, “lambang sedih tentang betapa tak bisa dipertemukannya masa lampau Melayu dengan masa depan Indonesia”. Dan hingga kini, apa yang terjadi pada 1946 memang laksana halaman-halaman yang koyak dari buku sejarah.

Nama Amir Hamzah, pemuda bersantun tinggi yang disebut sastrawan HB. Jassin “berwajah dan berhati lembut” memang sempat dikukuhkan dalam berbagai situs penting di pusat negara Indonesia, sebut saja taman kota Amir Hamzah di Jakarta dan Masjid di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang diresmikan Gubernur Ali Sadikin, 7 Januari 1977. Namun, masjid itu telah dirobohkan pada 2013.

Dalam dunia Melayu, ada kecenderungan bahwa petinggi negara juga sekaligus ulama, cerdik pandai, sastrawan, atau penulis. Raja Haji Fisabilillah dan cucunya Raja Ali Haji, misalnya, dimana keduanya merupakan kerabat Kesultanan Riau-Lingga yang juga seorang sastrawan, budayawan, sejarawan, dan ulama.

Hal serupa juga mewujud pada Amir. Dia adalah Pangeran Langkat Hilir, Pemimpin Teluk Haru, Bendahara Paduka Raja, dan Ketua Pengadilan Kerapatan Kesultanan Langkat. Sekaligus, dia juga seorang cerdik pandai, sastrawan, dan penyair yang, sebagaimana disebutkan oleh Anthony H. Johns, paling berhasil memperkenalkan kesusasteraan Melayu modern pada dunia.

Jejak kepenulisan Amir bisa dilacak di banyak media. Salah satunya adalah di Majalah Minami yang terbit periode 1943 di Medan. Salah satu tulisan Amir berjudul “Sastra Djawa”. Tulisan ini dibuat berseri, dan dimulai pada edisi perdana Majalah Minami, 1 Januari 1943. Dalam seri pertama itu, dia memberikan rangkuman pembacaannya atas kitab-kitab Mahabharata dan Ramajana.

Dalam pengantar redaksi majalah tersebut, dikatakan bahwa Amir adalah orang pertama yang menerjemahkan Bhagavad Gita dari India ke dalam bahasa Melayu.

Demi kemudahan pembacaan, LenteraTimur.com akan menyajikan kembali esai-esai tersebut dalam beberapa seri. Untuk mengantisipasi adanya tafsir terhadap makna, ejaan dipertahankan sebagaimana mula.

 

Minami, 1 Januari 1943

Sastera Djawa
(Oleh Tengkoe Amir Hamzah)

Dalam mengembara kesana sini
Tenang sepi sementara masa
Koekoempoelkan kenangan haloes-indah-permai
Haroem wangi seperti boenga rahsia
Laksana persembahan tiada beroepa
Akan hidoep jang moelai lajoe.

Sastra Djawa tiada dapat dikadji, kalau tiada diketahui doe boeah kitab jang maha indah dan masjhoer, dikarang dibenoea India dibawa toeroen ketanah kita ini, diterdjemahkan poela oleh peodjangga kita dalam bahasa iboenja, ja’ni Mahabharata dan Ramajana.

 

MAHABHARATA

Kitab Mahabharata ini delapan belas kepala besarnja, tetapi hanja seperlima shadja jang meriwajatkan tjerita Mahabharata.

Maharadja Dharmawangsja menitahkan menterdjemahkan riwajat ini dari bahasa Sansekerit kebahasa Djawa lama.

Dalam sastera Djawa hanja tinggal lagi terdjemahan kitab jang pertama, keempat, kelima dan keenam.

Riwajat peperangan dari benoea India ini amat mempengaroehi sastra Djawa, teroetama permainan wajang mengisahkan tjerita ini, seratoes empat poeloeh toedjoeh lakon dipetik para dalang dari kitab ini. Setengah dari pada seratoes empat poeloeh toedjoeh lakon ini setoedjoe dengan riwajat asli, tetapi jang setengah lagi diperboeat poedjanggga dalang tjerita baroe, tetapi dipakai mereka pembawa-pembawa lakon dalam hikajat besar Mahabharata.

Kitab Mahabharata ini disoesoen oleh Awijasa.

Hikajat ini tiada dimoelai teroes dengan tjerita Mahabharata, tetapi ada poela beberapa riwajat lain didalamnja, seperti Sjakoentala, sesoedah itu baroelah diboeka sahiboelhikajat riwajatnja dengan pemerintahan Seri Baginda Sjantanoe di Hastinapoera.

Doeli jang maha moelia berpoetra seorang, dinamai baginda Bhisjma dan kelak akan menggantikan seri padoeka ajahda diatas tachta keradjaan.

Pada soeatoe masa bertemoelah baginda dengan seorang bidadari dan berpoetra poelalah baginda dengan bidadari ini doea orang, ja’ni Tjitranggada dan Witjitrawirja, ada seri maharadja berdjandji dengan isterinja ini, bahwa anakda bidadari inilah nanti akan naik keradjaan.

Tetapi bidadari ini dahoeloe telah beranak dengan seorang keramat Parasjara, bernama Krsjna Dwaipajana Wijasa.

Bhisjma tiada menaroeh keberatan, bahwa adidanja akan ganti seri padoeka ajahda, tambahan poela soepaja ketoeroenannja pada masa jang akan datang tiada mengharoe-biroe, maka berdjandjilah ia dengan dirinja, seoemoer hidoepnja tiada akan mendjamah perempoean.

Tetapi Tjitranggada dan Witjitrawirja pada kala mengkatnja tiada meninggalkan ketoeroenan, maka ditoeroet djanda baginda kedoea inilah akan adat Hindoe koeno ja’ni kawinlah mereka dengan iparnja Abijasa dan mendapat poetra Dhrtarasjtra dan Pandoe.

Pandoe beristeri doea orang ja’ni Koenti dan Madri.

Koenti berpoetra tiga orang: Joedhistira, Bhima dan Ardjoena.

Madri berpoetra doea orang: Nakoela dan Sahadewa.

Mereka lima bersaudara inilah jang diseboetkan Pendawa-lima.

Koenti dahoeloe telah berpoetra dengan Soerja bernama Karna.

Radja Dhrtarasjtra beristerikan Gandhari, adinda Sjakoeni , dan berpoetra seratoes orang, jang soeloengnja bernama Doerjodhana.

Radja Pandoe mangkat dan anakda baginda dididik diastana Dhrtarasjtra di Hastinapoera.

Goeroe mereka ialah Drona.

Anak Drona Asjwatthaman sepermainan dengan anakda baginda serta segoeroe poela.

Dalam segala permainan Pandawa lebih pandai dari Kaurawa, maka timboellah tjemboeroe dalam hati mereka.

Berdjandjilah Sjakoeni, Doerjodhana dan Karna akan membinasakan Pandawa; Pendawa-lima dengan boendanja Koenti disilakan mereka bersoeka-soeka dalam balai sigala-sigala, pada waktoe roemah itoe dibakar, larilah mereka dari loebang dibawah tanah jang dari dahoeloe telah dikoeroeknja, pada pikiran Kaurawa telah mati hangoeslah para Pendawa.

Mengembaralah Pendawa-lima dengan boendanja dalam hoetan belantara, Bhima mendjadi pandoe dan peretas djalan.

Dalam hoetan itoe Bhima berperang dengan raksasa Hidemba, setelah Hidemba terboenoeh, diambil Bhima adiknja Hidembi dan mendapat anak Gatoetkatja.

Tibalah mereka pada sajembara anak radja Draupada jang bernama Draupadi, Ardjoena dapat mereboet poetri Draupadi.

Setelah terdengar chabar pada Kaurawa, bahwa Pendawa masih hidup dan mempoenjai sahabat radja-radja besar, maka diberikan pada mereka setengah dari pada keradjaan dan didirikan Pandawalah iboe negerinja jang bernama Indraprastha.

Terseboet poelalah riwajat pemboeangan Ardjoena, dalam pengembaraan ini banjaklah beliau memperoleh pengalaman, sampai Ardjoena kekota Dwarawati, tempat Praboe Krsjna bersemajam diatas poentjak kemakmoeran dan kesentosaan.

Disilakan mereka Kaurawa keastana Hastinapoera dan dalam perdjamoean itoe Soejoedana berboeat berbagai-bagai kebodohan hingga ditertawakan chalajak.

Para Kaurawa poelang dengan hati sebal dan penoeh dendam. Hingga ini tammatlah kitab pertama jang bernama Adiparwan.

Oentoek lakon wajang wong (orang) adalah kitab pertama ini amat berarti, sebab hampir semoea lakon itoe diambil dari kitab ini.

Kitab kedoea bernama Sabhaparwan.

Sabha artinja roemah permainan (djoedi).

Disilakan Soejoedana saudaranja Pandawa bermain djoedi, Sjakoeni bermain tjilat, maka alahlah Pandawa, habis segala harta benda keradjaan, isteri dan iboenda sama tergadai, lebih lagi, diri mereka sendiripoen terdjoeal mendjadi hamba.

Achirnja dipoelangkan isteri dan boenda Pandawa, doea belas tahoen lamanja mereka diam dalam hoetan dan pada tahoen ketiga belasnja mereka moesti hidoep terpentjil.

Dalam tahoen keempat belas para Pandawa bersoempah akan menoentoet bela.

Kitab ketiga bernama Wanaparwan, meriwajatkan pengalaman mereka dalam hoetan belantara.

Dalam hoetan jang maha besar itoe hidoeplah mereka dengan penoeh kesoesahan dan kesempitan, maka datanglah mendjengoek pertapa-pertapa maha mahsjoer oentoek menghiboerkan hati mereka, sambil menghikajatkan kisah purbakala.

Dalam kitab inilah tertoelis tjerita Seri Rama atau Ramajana itoe, terkenal djoega tjerita Nala dan Damajanti.

Pergilah Ardjoena mendaki gunung Himalaja akan bertapa, disanalah beliau berperang dengan dewa Sjiwa, pada achirnja Ardjoena dapat koernia sendjata sakti dan boleh beliau bersoeka-soeka dengan bidadari dikajangan Indera.

Kitab keempat bernama Wirataparwan.

Tiga belas tahoen Pandawa telah terboeang maka merekapoen pergilah memboeroeh keastana radja Wirata dengan nama samaran.

Radja ini beranak doea orang, seorang poetra Oettara dan seorang poetri Oettari.

Oettari kawin dengan Abimanjoe.

Kitab kelima atau Oedjogaparwan.

Pada kedoea belah pihak mereka bersiboek mentjari kawan.

Krisjna berdjandji akan menolong Pandawa, tetapi balatenteranja dikerahkannja membantoe Kaurawa.

Radja Sjalja berpehak ke Kaurawa, tetapi dalam diam baginda menjebelahi Pandoe.

Dalam peperangan beliau belot, pada kala baginda memegang ras rata peperangan Karna, Karna dapat diboenoeh Pandawa oleh karena tipoe daja Sjalja.

Kitab keenam bernama Bhisjmaparwan.

Disinilah moelai terkisah perang besar antara Pandawa dan Kaurawa. Panglima perang poeak Pandawa ialah Drstadjoemena, ialah kakanda Draupada.

Panglima poeak Kaurawa adalah Bhisjma.

Radja Draupada berpoetra seorang poetri bernama Sjikandin, kelak poetri ini akan saleh mendjadi lelaki.

Bhisjma telah bersoempah tiada akan berkelahi dengan dia.

Sjikandin dipakai Ardjoena seperti perisai, dari belakangnja Ardjoena memanah Bhisjma hingga mati.

Kitab ketoedjoeh dinamai Dronaparwan.

Dronalah sekarang mendjani hoeloebalang besar Kaurawa.

Disebelah Pandawa Abimanjoe dan Gatotkatja mati dimedan peperangan dan Kaurawa kehilangan pemimpinnja Drona.

Goeroe besar ini mati sebab tertipoe.

Dalam gadjah peperangan jang beriboe-riboe itoe adalah seekor jang senama dengan anakda Drona Asjwatthaman dan binatang inilah jang terboenoeh, gemoeroehlah sorak pihak Pandawa mengatakan:

“Asjwatthaman mati!”

Mendengar ini Dronapoen terkedjoet laloe bertanja pada anak moeridnja Joedhistira, jang seoemoer hidoepnja tiada pernah doesta: “Benarkan Asjwatthaman mati?”

Djawab Joedhistira: “Ngesti, Asjwatthaman mati!” (Ngesti artinja gadjah).

Mendengar ini poetoeslah harapan Drona dan iapoen relalah mati.

Kitab jang kedelapan bernama Karnaparwan, dalamnja diriwajatkan kematian Karna.

Kitab kesembilan atawa Sjaljaparwan, mengisahkan kematian Sjalja.

Sesoedah itoe datang beberapa kitab jang mengandoeng tjerita-tjerita lain.

Kitab kelima belas meriwajatkan radja Drstarasjtra jang telah toea dan tinggal seorang dirinja lagi, pergi bertapa.

Kitab keenam belas menghikajatkan kematian Karsjna dan ra’jatnja.

Kitab ketoedjoeh dan kedelapan belas menjeriterakan perdjalanan para Pandawa naik kekajangan.

 

RAMAJANA

Hikajat Ramajana ini besarnja toedjoeh djilid dan tiap-tiap kepala dinamai kanda.

Hikajat ini mengandoeng tjerita India-koeno dan dikenal orang disegenap desa dan kota sampai kini.

Kitab ini disoesoen poedjangga Walmiki.

Djilid pertama bernama Balakanda.

Dalam kota Ajodha bersemajam Maharadja Dasjaratha, baginda amat hasrat akan poetra, maka berkaoel-lah baginda pada segala dewa-dewa.

Dewasa itoe segala dewa-dewa diganggoe oleh boeta bernama Rawana.

Oleh ganggoean ini maka Wisjnoepoen toeroen ke doenia ini, mendjelma seperti poetra baginda Maharadja Dasjarata.

Permaisoeri baginda Maharadja ialah Kausalja dan poetranja Rama. Isteri gahaar baginda jang kedoea ialah Kaikeji, berpoetrakan Bharata dan isteri ketiga bernama Soemitra berpoetra doea orang Laksjmana dan Sjatroegna.

Rama amat perkasa sekali ketjilnjapoen beliau telah berperang dengan raksasa jang mengganggoe para berahmana bertapa.

 

Bersambung

(38)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *