Home Featured Syair Puteri Hijau (2)

Syair Puteri Hijau (2)

92
0
"Sja'ir Puteri Hijau - Suatu Tjerita Jang Benar Terdjadi di Tanah Deli", terbitan 1955, cetakan ketujuh.
Sja’ir Puteri Hijau – Suatu Tjerita Jang Benar Terdjadi di Tanah Deli, terbitan 1955, cetakan ketujuh.

Berikut adalah dua bab lanjutan (IV dan V) dari Sja’ir Puteri Hidjau yang telah dikisahkan sebelumnya di sini.

IV. Mentjari Tjahaja Hidjau

Segeralah mamanda berdjalan pergi,
Kudo’akan djua petang dan pagi,
Djika ada Allah membagi,
Beroleh keuntungan, djangan merugi.”

Setelah sudah demikian itu,
Wazirpun menjembah kepada ratu,
Berdjalanlah ia menudju pintu,
Keluar dari kontanja batu.

Seorang menteri mendjadi tolan,
Lengkap membawa bekal-bekalan,
Sangatlah tjepat mereka berdjalan,
Dengan hati merasa malan.

Berdjalan mereka dua sekawan,
Hatinja sangat pilu dan rawan,
Tempat ditudju tiada ketahuan,
Menjerahkan dirinja kepada Tuhan.

Mereka berdjalan sehari-hari,
Sehingga sampai malamnja hari,
Sambil memandang kesana kemari,
Maksudnja tjahaja hendak ditjari.

Dengan kodrat Rabbi’Idjalali,
Nampaklah tjahaja lagi sekali,
Hidjau terbentang umpama tali,
Letaknja arah ditanah Deli.

Waktu wazir memandang njata,
Tjahaja terang sebagai pelita,
Kepada menteri dichabarkan serta,
Mereka pun sangat bersukatjita.

Lama mereka melihat itu,
Herannja bukan lagi suatu,
Berdiam diri sebagai batu,
Memikirkan kekajaan Tuhan jang satu.

Seketika lagi tjahajapun hilang,
Tapi bintang gemerlapan-gemilang,
Bulanpun terbit tjahaja tjemerlang,
Menerangi bumi tiada berselang.

Djauh malam sudahlah hari,
Merekapun mengantuk tiada terperi,
Pohon jang rindang segera ditjari,
Keduanja lalu membaringkan diri.

Tatkala hari sudahlah siang,
Keduanja bangun lalu sembahjang,
Dalam hatinja sangatlah riang,
Tempat tjahaja sudah terbajang.

Setelah sudah sembahjang itu,
Berdjalanlah kedua mereka itu,
Berserah kepada Tuhan jang satu,
Kepadanja mendo’a meminta bantu.

Tiadalah saja berpandjang kalam,
Mereka berdjalan siang dan malam,
Beberapa menempuh hutan jang kelam,
Gunung jang tinggi, lembah jang dalam.

Dengan takdir Rabbi’Idjalali,
Sampailah mereka ke Labuhandeli,
Kedalam negeri langsung sekali,
Mereka menjamar sebagai kuli.

Disitulah mereka berhenti keduanja,
Karena hendak melepaskan lelahnja,
Tambahan hendak bertanjakan halnja,
Akan tjahaja dimana tempatnja.

Dengan beberapa daja-upaja,
Dapatlah mereka hikajat tjahaja,
Di Delitua njatalah ia,
Dalam istana tempat jang mulia.

Itulah tjahaja puteri ratu,
Bukanlah tjahaja djin dan hantu,
Puteri Hidjau namanja itu,
Puteri jang tjantik bukan suatu.

Bermupakatlah wazir dengan menteri,
Hendak pergi ke Delitua negeri,
Maksud melihat tuannja puteri,
Dipersaksikan dengan mata sendiri.

Tjeritera tidak dilandjutkan lagi,
Kedua mereka lalulah pergi,
Berdjalan mereka duanja hari,
Sampailah mereka kedalam negeri.

Dengan beberapa daja upaja,
Kedalam istana sampailah ia,
Menjamarkan diri sebagai sahaja,
Tingkah dan laku serta gaja.

Sudahlah untung bagi mereka,
Sampailah sudah sa’at ketika,
Dengan tiada disangka-sangka,
Puteri Hidjau nampaklah muka.

Parasnja elok bagai digambar,
Memandang puteri hati berdebar,
Indah puteri tak dapat terkabar,
Lalu mengutjap Allahu akbar.

Mereka tertjengang terlalu lama,
Menentang paras puteri utama,
Tjantik medjelis dewi mendjelma,
Tiada banding dimana-mana.

Setelah hari djauhlah malam,
Puteripun lalu masuk kedalam,
Wazirpun masih pikiran kelam,
Menentang puteri permata nilam.

Ia berkata kepada menteri:
“Sekarang apa bitjara diri,
Kita nan sudah sampai kemari,
Maksud sampai Allah memberi.”

Menteri pun lalu mendjawab kata:
“Ajuhai saudara wazir jang po’ta,
Djika menurut pikiran beta,
Baiklah kita kembali serta.

Kenegeri Atjeh kembali kita,
Persembahan kepada duli mahkota,
Segala jang sudah dipandang mata,
Supaja baginda tiada bertjinta.”

Wazir mendengar perkataan itu,
Dalam hatinja benarlah tentu,
Merekapun keluar darinja situ,
Menjamar kepada penunggu pintu.

Dari dalam istana keluar mereka,
Hati keduanja sangatlah suka,
Semuanja maksud sampai belaka,
Ditolong oleh Tuhan jang baka.

Kedua mereka lalu berangkat,
Dengan berdjalan terlalu tjepat,
Perdjalanan djauh serasa singkat,
Kenegeri Atjeh sudahlah dekat.

Kata orang empunja madah,
Kenegeri Atjeh sampailah sudah,
Tiadalah lagi berhati gundah,
Kedalam kota menjampaikan sembah.

Waktu sultan melihat mereka,
Hati baginda sangatlah suka,
Berseri-seri warnanja muka,
Lalu bertitah itu ketika.

Baginda bertitah demikian peri:
“Ajuhai mamanda wazir menteri,
Mengapakah segera pulang kemari,
Adakah sampai maksudnja diri?”

Wazirpun tunduk lalu berkata:
“Ampun tuanku duli mahkota,
Berkat pertolongan Tuhan semesta,
Sampailah sudah bagai ditjita.

Patik mengembara segenap negeri,
Bertanjakan wartanja kesana kemari,
Dengan pertolongan Chaliku ‘lbahri,
Dapatlah warta, chabar dan peri.

Adapun akan tjahaja itu,
Bukanlah tjahaja djin dan hantu,
Hanjalah tjahaja puteri ratu,
Di Delitua berkota batu.

Gemilang tjahaja seorang puteri,
Di Delitua namanja negeri,
Eloknja tidak lagi terperi,
Mahal didapat, sukar ditjari.

Tjantik sungguh puteri bangsawan,
Beserta dengan budi dermawan,
Mukanja budjur kilau-kilauan,
Memberi ‘asjik laki-laki perempuan.

Giginja putih tjahaja tjemerlang,
Umpama dian didalam pelang,
Gaja dan sikap indah terbilang,
Djika terpandang semangat hilang.

Ampun tuanku mahkota negeri,
Sungguhlah tjantik tuan puteri,
Patut dihadap hulubalang menteri,
Kepada tuanku mendjadi suri.

Perempuan begitu sukar didapat,
Meski ditjari segenap tempat,
Tjukup padanja segala sipat,
Sangat beruntung siapa mendapat.”

Demi sultan mendengar warta,
Baginda diam tiada berkata,
Didalam hati timbullah tjinta,
Kepada puteri indah djelita.

Tjinta berahi timbul menggoda,
Kepada sultan jang masih muda,
Rasanja tjinta didalam dada,
Kepada puteri muda remadja.

Djika penjakit demikian pekerti,
Tentu obatnja sukar didapati,
Djika tak dapat tjinta dihati,
Tentulah badan merana dan mati.

Penjakit tjinta kalau terkena,
Tentulah badan djadi merana,
Karena merindu gundah gulana,
Makan tak sedap tidur tak lena.

Tiadalah saja berpanjang madah,
Karena hati sangatlah gundah,
Tambahan mengarang bukannja mudah,
Dituliskan sekadar jang berfaedah.

Sultan Atjeh radja bangsawan,
Sehari-hari berhati rawan,
Terkenangkan puteri muda rupawan,
Maksudnja hendak dibuat kawan.

V. Meminang Puteri Hidjau

Ditetapkan pikiran di dalam diri,
Hendak meminang tuannja puteri,
Dichabarkan kepada wazir dan menteri,
Menjuruh melengkapi kapal sendiri.

Karena baginda hendak berpesan,
Ke Delitua mengirim utusan,
Meminang puteri muda jang sopan,
Supaja tiada harap-harapan.

Setelah kapal sudah dihiasi,
Semua kurung telah dikemasi,
Bekal-bekalan lalu diisi,
Tjukup dengan nachoda, kelasi.

Orang tua-tua adalah serta,
Mana jang diharap duli mahkota,
Ke Delitua membawa warta,
Menjampaikan maksud didalam tjita.

Setelah kelengkapan sedia belaka,
Sauh ditarik lajar dan djangka,
Kapal melantjar di Selat Melaka,
Hilang dimata dengan seketika.

Kapal berlajar siang dan malam,
Menempuh lautan jang amat dalam,
Dipukul gelombang timbul tenggelam,
Di Selat Melaka sebagai menjelam,

Angin kentjang gelombangpun besar,
Hari panas sebagai dibakar,
Temberang berdengung, kemudi berkisar,
Banjaklah mabuk segala laskar.

Berlajar tiada berapa antara,
Nampaklah pesisir pulau Sumatera,
Laskarpun suka tiada terkira,
Didalam pelajaran selamat sedjahtera.

Ladjunja kapal bukan buatan,
Berlajar menjusur tepi daratan,
Berkibar bendera haluan buritan,
Labuhandeli djadi tepatan.

Kapal berhenti sauh diturunkan,
Gemuruh meriam orang tembakkan,
Orang dipasar jang mendengarkan,
Musuh menjerang mereka sangkakan.

Mendengar meriam gemuruh dikuala,
Hati sjahbandar berdebar pula,
Dalam sekotji ia tersila,
Berdajung segera djadi kepala.

Beberapa orang ada sertanja,
Kekuala negeri sampai ianja,
Dilihatnja kapal sangat besarnja,
Sangatlah heran rasa hatinja.

Kepada kapal iapun dekat,
Memberi hormat tangan diangkat,
Lalulah naik tangga bertingkat,
Pergi mendapatkan nachoda berpangkat.

Kepada nachoda ia bertanja:
“Kapal ini dari mana datangnja,
Apakah sebab mula karenanja,
Memasang meriam gemuruh bahannja?”

Nachoda mendjawab lantjar berkata:
“Ajuhai saudara, sjahbandar jang po’ta,
Kami dari Atjeh membawa warta,
Bukannja hendak melanggar kota.

Kami ini dititah sultan,
Kehadirat sultan Deli dengan kehormatan,
Membawa bingkisan emas dan intan,
Tjahajanja memantjar berkilat-kilatan.

Kami belajar amatlah djarang.
‘Adat lembaga belumlah terang.
Alpa dan chilaf banjak bersarang,
Ampun dan ma’af djanganlah kurang.

Djikalau tuan ada kasihan,
Beserta pula dengan kemurahan,
Haraplah kami dapat bantuan,
Membawa kami masuk pelabuhan.”

Sjahbandar mendengar kata nachoda,
Barulah senang didalam dada,
Takut dan ngeri sudah tiada,
Diatas kapal bergurau senda.

Setelah petang sudahlah hari,
Sjahbandarpun lalu bermohon diri,
Turun kedalam sekotji sendiri,
Bersama wazir dan menteri.

Kemudian sekotji lalu disurung,
Beberapa kelasi duduk berdajung,
Seorang tiada berhati murung,
Sekotjipun ladju umpama burung.

Setelah sampai kedalam kota,
Semua utusan dipersilahkan serta,
Masuk kerumah sjahbandar kita,
Lalu didjamunja sekalian rata.

Sampai pada keesokan hari,
Utusanpun lalu bermohon diri,
Hendak pergi kedalam negeri,
Menjampaikan pesan radja bestari.

Sjahbandar menghormati kurang tiada,
Lalu disediakan gadjah dan kuda,
Makan-makanan mana jang ada,
Tanda ichlas didalam dada.

Sjahbandar lalu mengutjapkan selamat,
Utusanpun tunduk memberi hormat,
Beberapa pudjian jang mulia amat,
Sebagai bertemu wakil keramat.

Setelah sudah berkata-kata,
Utusanpun lalu naik kereta,
Sjahbandar mengantar dengannja mata,
Rasanja hendak bersama serta.

Utusan berdjalan kedalam negeri,
Kudanja kentjang tiada terperi,
Kereta kendaraan sebagai menari,
Ditarik kuda sambil berlari.

Berkat keramat sultan mahkota,
Utusanpun tiada mendapat leta,
Sampailah ia bersama serta,
Ke Delitua diibu kota.

Merekapun masuk perlahan-lahan,
Hendak menghadap radja pilihan,
Beberapa banjak membawa persembahan,
Umpama pohon bersama dahan.

Setelah sampai kepintu kota,
Penunggu pintu didapatkan serta,
Lalu mengabarkan hal dan warta,
Hendak menghadap radja mahkota.

Penunggu pintu mendengar itu,
Iapun pergi menghadap ratu,
Persembahkan warta jang telah tentu,
Utusan Atjeh datang kesitu.

Baginda mendengar sembah biduanda,
Sangat terkedjut di dalam dada,
Dengan perlahan ia bersabda,
Suruhkan kemari djangan tiada.

Penunggu pintu lalulah pergi,
Kepada utusan bertemu lagi,
Disampaikan titah radja jang tinggi,
Serta keterangan ada dibagi.

Utusanpun masuk kedalam istana,
Diiringkan oleh menteri perdana,
Pergi menghadap radja jang gana,
Tunduk menjembah dengan sempurna.

Tunduk menjembah merendahkan diri,
Dihadapan radja mahkota negeri,
Dengan perlahan ia berperi,
Menjebutkan asal dan nama negeri.

Dengan hormat utusan berkata:
“Ampun tuanku duli mahkota,
Dari Atjeh datangnja beta,
Dititahkan oleh duli mahkota.

Kami dititahkan oleh baginda,
Menjampaikan ichlas didalam dada,
Membawa persembahan mana jang ada,
Harap diterima djangan tiada.

Persembahanpun tidak dengan seperti,
Hanjalah ichlas didalam hati,
Kepada tuanku radja jang sakti,
Mudah-mudahan Allah berkati.

Adapun maksud radja terbilang,
Pada tuanku wadjah gemilang,
Djika tiada suatu menghalang,
Memohonkan mestika tjahaja tjemerlang.

Mestika jang besar didalam negeri,
Tjahajanja terang kesana kemari,
Memberi ‘asjik dewa dan peri,
Mahal didapat, sukar ditjari.

Itulah dipohonkan oleh baginda,
Pada tuanku usul jang sjahda,
Tulus dan ichlas didalam dada,
Harapkan kurnia djangan tiada.”

Demi baginda mendengar chabar,
Hatinja guntjang darah berdebar,
Tetapi baginda radja jang sabar,
Dibawa mengutjap: “Allahu akbar.”

Baginda bertitah perlahan suara:
“Ajuhai utusan Atjeh negara,
Hatiku suka tiada terkira,
Sultan mengaku djadi saudara.

Adapun akan kehendaknja itu,
Djika ada Allah membantu,
Haraplah bersabar sedikit waktu,
Maksud baginda terkabullah tentu.

Mestika itu adalah sudah,
Mendapat dia tentulah mudah,
Djanganlah baginda berhati gundah,
Kepada ia tentu berpindah.

Begitulah sadja kami beperi,
Sabarlah utusan kadar dua hari,
Semoga-moga ada Allah memberi,
Dengan segeranja kami chabari.”

Utusan mendengar titahnja sultan,
Hatinja suka bukan buatan,
Sebagai menadpat segunung intan,
Mukanja bertjahaja njata kelihatan.

Setelah sudah berkata-kata,
Utusanpun lalu bermohon rata,
Pada baginda radja mahkota,
Hendak berhenti diluar kota.

Apabila utusan sudah berlalu,
Hati baginda merasa pilu,
Sendi dan tulang rasanja ngilu,
Terkenangkan kehendak Atjeh penghulu.

Baginda masuk kedalam puri,
Hendak bertemu saudara sendiri,
Mentjeritakan utusan Atjeh negeri,
Supaja bersama boleh memikiri.

Tatkala baginda masuk kedalam,
Puteri Hidjau sedang menjulam,
Wadjahnja bersih umpama nilam,
Sebagai bulan diwaktu malam.

Apabila puteri melihat saudara,
Iapun berdiri dengannja segera,
Hormatnja tiada lagi terkira,
Pada saudaranja radja negara.

Diambil puan lalu disorongkan,
Dengan menjembah kepala ditundukkan,
Bagindapun duduk sambil bertelekan,
Sirih dipuan lalu dimakan.

Lalu bermadah tuannja puteri:
“Ampun kakanda mahkota negeri,
Apakah maksud kakanda kemari,
Makanja datang begini hari?”

Bagindapun lalu menjawab kata:
“Ajuhai adinda usul jang po’ta,
Sebabpun maka kemari beta,
Adalah sedikit membawa warta.

Sebelumnja kakanda berkata begitu,
Chabar nan sukar bukan suatu,
Dari Atjeh datangnja itu,
Utusan dari seorang ratu.

Supaja maksud mendjadi terang,
Baiklah kakanda tjeriterakan sekarang,
Adindaku sudah dipinang orang,
Radja jang besar ditanah Seberang.

Utusan Atjeh datang kemari,
Ada berhenti diluar negeri,
Menantikan chabar sehari-hari,
Dari kakanda seorang diri.

Oleh sebab itu ajuhai adinda,
Berilah tahu pada kakanda,
Sudikan adinda atau tiada,
Bersuamikan sultan jang masih muda.

Harap kakakanda bukan seperti,
Pada adinda emas sekati,
Permintaanja baik kita turuti,
Supaja ia bersenang hati.

Karena adinda sudah remadja,
Djanganlah lagi berhati mandja,
Kehendak kakanda turutlah sadja,
Supaja selamat sebarang kerdja.”

Demi puteri mendengar tjerita,
Tunduk diam tiada berkata,
Sambil bertjutjuran airnja mata,
Hatinja sebal tiada terderita.

Ia berkata perlahan-lahan,
Suaranja merdu tertahan-tahan,
“Ampun kakanda radja pilihan,
Bersuami nan belum ada perasaan.

Nama bersuami ampunlah patik,
Karena pengetahuan belum setitik,
Belum mengetahui bunga dan putik,
Tak dapat membedakan sutera dan batik.

Pengharapan patik selama ini,
Kepada Allah Tuhan subhani,
Bersama hidup bersama fani,
Dengan kakanda radja jang gani.

Selama tiada ajahanda dan bunda,
Pikiran adinda sangat tergoda,
Semoga-moga ada rahim kakanda,
Sudi memelihara diri adinda.

Nama bersuami mohonkan dulu,
Karena patik bodoh terlalu,
Belum mengetahui hilir dan hulu,
Achirnja kakanda mendapat malu.”

Baginda mendengar sembah adiknja,
Sangatlah pilu rasa hatinja,
Tunduk termenung berdiam dirinja,
Tiadalah lagi banjak katanya.

Bagindapun lalu bermohon diri,
Berdjalan keluar dari dalam puri,
Perdi menudju istana sendiri,
Hatinja gundah tiada terperi.

Setelah hari sianglah tentu,
Berangkat kebalai paduka ratu,
Baginda bertitah ketika itu,
Utusan Atjeh dipersilakan kesitu.

Utusan datang dengannja segera,
Menghadap baginda radja negara,
Hatinja suka tiada terkira,
Disangkanja maksud tiadalah tjedera.

Baginda berkata merdu suara:
“Ajuhai utusan Atjeh negara,
Pada hamba empunja kira,
Baiklah tuan kembali segera.

Baiklah tuan segera kembali,
Sampaikan salam kebawah duli,
Akan kehendak radja asli,
Tiadalah dapat hamba kabuli.

Semalam sudah hamba ichtiarkan,
Supaja mestika boleh didapatkan,
Tetapi Allah belum mengizinkan,
Djadilah maksud tiada tersampaikan.

Hendakpun hamba akan memaksa,
Takutlah pula djadi binasa,
Achirnja kita sesal merasa,
Perbuatan tiada usul periksa.

Dari sebab itu, ajuhai utusan,
Bawalah kembali segala bingkisan,
Kepada baginda sampaikan pesan,
Djangan kiranja murka dan bosan.

Salam dan sembah dari pada beta,
Kepada baginda radja mahkota,
Djangan kiranja berdukatjita,
Ataupun murka kepada kita.

Bukanlah kami empunja salah,
Sudahlah dengan kehendak Allah,
Tiada boleh kersa sebelah,
Haruslah setudju kedua belah.”

Mendengar titah sultan paduka,
Utusanpun sangat merasa duka,
Kelihatan putjat warnanja muka,
Mendengar begitu ia tak sangka.

Ia berkata sambil berdiri:
“Ampun tuanku mahkota negeri,
Djika demikian tuanku berperi,
Putuslah harap radja bestari.

Harap baginda bukan sedikit,
Tinggi dari gunung dan bukit,
Radja umpama kena penjakit,
Makin lama tambah mendjangkit.

Esoklah patik kembali segera,
Kembali menudju Atjeh negara,
Semoga didjauhkan bala dan mara,
Disanalah patik dapat bitjara.”

Setelah sudah berkata-kata,
Lalulah utusan bermohon rata,
Pergi berdjalan keluar kota,
Maksudnja hendak berkemaskan harta.

Mereka berkemas semalam-malam,
Menggulung tikar membungkus tilam,
Hatinja sangat gundah didalam,
Terkenangkan perkataan duli sjah’alam.

Setelah hari sianglah tentu,
Berangkat utusan darinja situ,
Ke Labuhandeli tudjunja itu,
Hatinja sebal bukan suatu.

Tiada sadja berpandjang madah,
Kenegeri Labuhan sampailah sudah,
Kedalam kapal mereka berpindah,
Lajar ditarik kemudi ditadah.

Tiadalah lagi mereka berhenti,
Ataupun sjahbandar mereka dapati,
Karena menurutkan kemurahan hati,
Hilang sekalian budi pekerti.

Orang melihat demikian itu,
Herannja bukan lagi suatu,
Kapal berlajar tiada berwaktu,
Chabarpun tiada barang suatu.

Semuanja orang datang mentjela,
Melihat ‘adat utusan ter’ala,
Kelakuan sebagai orang jang gila,
Tiadalah patut mendjadi kepala.

Sampai disini kisah berhenti,
Dengan jang lain pula diganti,
Kenegeri Atjeh kita lihati,
Tjerita sultan muda jang sakti.

Sedjak utusan berlajar pergi,
Bagindapun tiada berduka lagi,
Sultan berharap petang dan pagi,
Supaja maksudnja Allah membagi.

Duduklah baginda dengan bersabar,
Menunggu utusan membawa chabar,
Darah didada selalu berdebar,
Sebagai bendera sedang berkibar.

Ada kepada suatu hari,
Sedang rembang tjahaja matahari,
Ajam berkokok kanan dan kiri,
Baginda semajam dibalairung sari.

Baginda dihadap wazir bereda,
Serta menteri mana jang ada,
Besar, ketjil, tua dan muda,
Berbuat chidmat pada baginda.

Baginda bersabda pada bentara,
Lemah lembut bunji suara:
“Ajuhai mamanda apa bitjara,
Utusan nan belum kembali segera.

Mereka pergi sudahlah lama,
Lebih kurang dua purnama,
Tiada mendengar warta dan nama,
Entahpun ‘aral datang mendjelma.

Djika begini laku pekerti,
Baiklah mamanda pergi lihati,
Tiadalah senang didalam hati,
Siang dan malam menanti-nanti.”

Belum habis baginda berkata,
Kedengaran meriam gegap gempita,
Sekalian jang hadir terkedjut rata,
Disangkanja musuh melanggar kota.

Semuanja memandang kesana kemari,
Sambil berkata sama sendiri,
Meriam apakah demikian peri,
Tiada sebagai sehari-hari.

Pada masa ketika itu,
Masuk menghadap penunggu pintu,
Persembahkan kepada paduka ratu,
Kapal Atjeh datanglah tentu.

Demi baginda mendengar kata,
Terlalu suka didalam tjita,
Hilanglah gundah hati bertjinta,
Berganti dengan bersukatjita.

Baginda bertitah pada bentara,
Lemah lembut bunji suara:
“Pergilah mamanda menjambut segera,
Supaja diketahui sebarang bitjara.”

Bentara menjembah lalulah pergi,
Tiadalah ia berlambat lagi,
Badjunja hitam berkopiah tinggi,
Memegang tongkat hulu bersegi,

Kekuala negeri sampai ianja,
Naik kekapal dengan segeranja,
Kepada kelasi ia bertanja:
“Utusan Atjeh apa chabarnja?”

Kelasi mendjawab dengannja njata:
“Tiadalah hamba tahukan warta,
Djika hendak bertemu mata,
Marilah hamba bawakan serta!”

Bentara berdjalan masuk kedalam,
Bertemu dengan waziroe’l ‘alam,
Iapun lalu memberi salam,
Menjampaikan titah duli sjah ‘alam.

Seketika lamanja berkata-kata,
Merekapun lalu turunlah serta,
Berdjalan masuk kedalam kota,
Hendak menghadap duli sang nata.

Tiadalah lama berdjalan itu,
Lalu sampai kekota batu,
Merekapun masuk menghadap ratu,
Lakunja hormat sudahlah tentu.

Setelah sampai kedalam kota,
Wazir menjembah, lalu berkata:
“Ampun tuanku radja mahkota,
Tiadalah sampai maksudnja kita.

Pada radja Delitua itu,
Telah disampaikan pesan sangratu,
Tetapi Allah belum membantu,
Intan bertjahaja disangkanja batu.

Kehendak tuanku ia tolakkan,
Berbagai dalih ia sebutkan,
Beserta chabar jang bukan-nukan,
Patikpun sangat heran memikirkan.

Menjembah patik merendahkan diri,
Kepada radja Delitua negeri,
Kata-kata jang manis selalu diberi,
Tetapi baginda tiada dengari.

Hati patik sangat sebalnja,
Melihat hal demikian adanja,
Permintaan kita tioada diterimanja,
Ia menurutkan kehendak hatinja.

Apatah kita empunja salah,
Maka baginda berbuat olah,
Kebesaran tuanku sudah mahsjurlah,
Dengan mereka tiadalah kalah.

Apa jang kurang kepada kita,
Harta benda tjukup semata,
Wang dan emas beberapa juta,
Istimewa pula intan permata.

Djika patik pikir menungkan,
Sebal rasanja tidak terperikan,
Disangkanja tuanku anak-anakan,
Boleh sahadja dipermain-mainkan.”

Demi baginda mendengar rentjana,
Mukanja merah gemilah warna,
Lakunja marah terlalu bena,
Merasa diri kena bentjana.

Lalu bertitah lakunja murka,
Merah padam warnanja muka:
“Sedikit tiada beta menjangka,
Maksud kita ditolak mereka.

Aku sangat merasa malu,
Kehendak kita tiadalah lalu,
Dari pada hidup berhati pilu,
Lebih baik mati berkalang hulu.

Dari pada hidup tinggal begini,
Maulah aku segera fani,
Rindu dendam tiada tertahani,
Duduk bertjinta selaku ini.

Djika ta’ dapat kehendak hati,
Baiklah aku fana dan mati,
Emas dan perak seribu kati,
Semuanja itu menjakitkan hati.

Aku hendak pergi sendiri,
Akan mengambil tuannja puteri,
Himpunkan segala hulubalang menteri,
Kita berangkat lagi tiga hari!”

Wazirpun mendjawab perlahan suara:
“Ampun tuanku mahkota negara,
Djanganlah tuanku perginja segera,
Biarlah patik dahulu mara.

Apa gunanja menteri hulubalang,
Patutlah mereka mendjadi galang,
Djanganlah tuanku berhati walang,
Biarlah patik dahulu hilang.

Patik dahulu tuan titahkan,
Puteri boleh patik rampaskan,
Dengan hidupnja patik bawakan,
Disitulah baru kita balaskan.”

Setelah didengar radja mahkota,
Akan wazir empunja kata,
Merasa benar didalam tjita,
Maulah bersama menentang sendjata.

Baginda bertitah dengan segera:
“Ajuhai mamanda wazir negara,
Djanganlah banjak pikir dan kira,
Himpunkan segera rakjat tentera!”

Setelah sudah berperi-peri,
Wazirpun lalu memohon diri,
Menghimpunkan rakjat kanan dan kiri,
Banjak tiada lagi terperi.

Kapal kenaikan lalu dihiasi,
Alat sendjata lalu diisi,
Hulubalang Atjeh serta kelasi,
Gagah melebihi bangsa Habsi.

Setelah sampai sa’at ketika,
Sekalian laskar berhimpun belaka,
Sangat gembira rupa mereka,
Seorangpun tidak berhati duka.

 

Bersambung.

(92)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *