Home Featured Bahasa Melayu Manado, Ditukar dan Dibisukan

Bahasa Melayu Manado, Ditukar dan Dibisukan

735
0
Sebaran bahasa Melayu. Sumber: www.britishlibrary.typepad.co.uk yang mengutip dari Malay-English Dictionary (1701) karya Thomas Bowrey.
Sebaran bahasa Melayu. Sumber: www.britishlibrary.typepad.co.uk yang mengutip dari Malay-English Dictionary (1701) karya Thomas Bowrey.

Sejujurnya saya agak kesepian malam itu. Di dalam sebuah mobil yang sedang mengelilingi Kota Yogyakarta itu, awal Oktober 2011, saya lebih banyak diam. Dua teman yang bersama saya, Pdt. Setyo dan Ustadz Luqman, adalah orang Solo. Mereka fasih bicara bahasa Jawa. Adapun saya, yang orang Minahasa, hanya melongo.

Nanti, ketika pembicaraan melibatkan atau dimaksudkan untuk saya, mereka baru berbicara dalam bahasa Indonesia. Dan saya pun hanya bicara seperlunya, baik untuk membalas pertanyaan ataupun untuk menanyakan sesuatu kepada mereka.

”Den, kamu suatu waktu harus ke Solo. Satu minggu saja kamu sudah bisa berbicara bahasa Jawa,” ujar Pdt. Setyo.

Meski tidak mengerti apa yang mereka omongkan, saya menikmatinya. Setidaknya, saya bangga dengan dua teman saya itu. Mereka masih mewarisi bahasa ibunya.

Setyo adalah pendeta di salah satu jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Solo. Sedangkan Ustadz Luqman berasal dari Pesantren Al Muayat, juga di Solo. Meski berbeda agama, Pdt. Setyo dan Ustadz Luqman sama-sama berasal dari Jawa. Karenanya mereka bisa dengan akrab ngobrol dalam bahasa ibu mereka, meski kasus-kasus kekerasan atas nama agama sedang marak-maraknya. Dalam kultur dan bahasa yang sama, dua orang yang berbeda agama ini bisa begitu akrab.

Sebaliknya, meski saya dan Pdt. Setyo sama-sama beragama Kristen, tapi karena berasal dari dua kebudayaan yang berbeda, maka percakapan ketika di mobil itu menjadi tidak lancar. Agama memang tidak selamanya menjadi perekat yang kuat. Dan saya menyaksikan budaya yang melampaui perbedaan agama dalam perjumpaan dengan dua teman orang Jawa yang berbeda agama itu.

***

Di tempat asal saya, Tanah Minahasa, ada bermacam-macam dialek bahasa. Ada dialek bahasa Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Tolour, Pasan, Ratahan, Bantik, Babontehu, dan sebagainya. Beberapa di antara penuturnya masih bisa saling memahami, namun untuk beberapa yang lain memang berbeda. Orang Kampung Jawa Tondano yang Islam dengan orang Tondano lainnya yang Kristen bisa tampak akrab ketika mereka berbicara dalam bahasa Tolour. Begitu juga orang-orang Kampung Islam Tomohon dengan orang-orang Tomohon yang lain. Mereka akrab dalam berbicara Tombulu.

Dalam praktiknya, bahasa Tana’ Minahasa yang bermacam-macam dialek itu bukan hanya sebagai alat berkomunikasi verbal, tetapi juga untuk mengungkapkan keakraban. Pada umumnya, orang-orang di Tanah Minahasa ini berbicara dalam bahasa Melayu Manado. Bahasa inilah yang menjadi bahasa umum di antara orang-orang Minahasa yang datang dari berbagai komunitas kultural. Di ranah formal, seperti rapat, seminar, kuliah, atau di ruang publik di mana terdapat orang-orang bukan dari Minahasa, biasanya bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia. Sedangkan untuk kalangan remaja dan pemuda ‘gaul’, bahasa yang sering dipakai adalah bahasa dan logat populer Jakarta.

“Gua sih gak apa-apa, lo tre no.”

“Nglogat-nglogat, kage tre muntah bete.”

Begitu orang suka menyindir anak-anak muda yang mencoba tampil gaul dengan bahasa dan logat Jakarta itu.

Logat Jakarta ini masuk dan menyebarkan pengaruhnya di kalangan orang muda Minahasa melalui budaya populer yang ditampilkan oleh media cetak maupun elektronik. Orang Minahasa sudah mengenal televisi hitam putih sejak akhir 1970-an, tepatnya 1978, ketika untuk pertama kalinya stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) Manado mengudara.

Selain televisi, film-film bertema percintaan anak muda juga melakukan penetrasi. Bintang-bintang seperti Rano Karno, Yessy Gusman, Eva Arnaz, atau Roy Marten sudah menghiasi bioskop-bioskop di Kota Manado sejak awal 1980-an. Ada Bioskop Plaza di Jalan Dr. Sutomo, Bioskop Mitra di Jalan Bethesda, dan Bioskop Manado di kompleks Pasar Kanaka.

Bioskop-bioskop ini sudah ada di Manado ketika kemudian pecah pelawanan terhadap pemerintah pusat di Jawa oleh Perjuangan Semesta (Permesta), 1958-1961. Menjelang pergolakan itu, film To Hell and Back sudah diputar di bioskop-bioskop di Manado. Film ini berkisah tentang pengalaman hidup Audie Murphy (yang menjadi pemeran atas nama dirinya sendiri) sebagai prajurit angkatan darat Amerika Serikat pada Perang dunia ke-II. Dan film ini kemudian mengilhami lambang dan badge Corps Tentara Pelajar (CTP) Permesta dengan dasar hitam garis lima merah diagonal. CTP dipimpin Jimmy Noya, seorang pemuda asal Ambon, Maluku, serta Wilson H. Buyung.

Tren bioskop ini disusul dengan munculnya kaset pita Betamax, kepingan VCD, dan DVD Orang-orang Minahasa di kota-kota hingga kampung-kampung tidak harus bersusah-susah ke bioskop, beli karcis, dan duduk tidak nyaman di kursi yang gatal karena kutu busuk.

Kemudian, televisi-televisi dari perusahaan-perusahaan swasta mulai bermunculan. Mula-mula Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), yang mulai dapat bersiaran bebas dengan menggunakan frekuensi radio milik orang banyak pada akhir 1991, dan macam-macam perusahaan swasta lain di era 2000-an. TV kabel pun mulai menjadi marak di Minahasa. Sinetron yang bercerita tentang cinta, perselingkuhan, perebutan harta, dan dinamika khas kehidupan orang Jakarta pun menjadi santapan harian orang Minahasa.

Untuk mengekspresikan dirinya, anak muda Manado menggunakan radio sebagai mediumnya. Mereka, anak-anak muda Kota Manado hingga ke pelosok tanah Minahasa, mengenal Memora FM. Penyiar radio ini fasih bicara ‘lo’, ‘gue’, ‘nggak’, atau ‘capek deh’. Anak-anak sekolah menengah atas atau mahasiswa menjadikan radio ini sebagai referensi musik dan gaya hidup terbaru.

Greenhill Weol, penyair dan direktur Mawale Cultura Center, mengenang gaya hidup anak muda di awal 1990-an. Di tahun itu, dia masih di Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebuah puisinya berjudul “Retro Epic” ada menyebut Radio Memora.

Torang ley blum bawa-bawa hp
So mujur tu ada telpon ruma
Kalo perlu kurang cari saratus
Kong lari-lari ka telepon umum
For mo telepon kape-kape Memora
Itu komang torang sorasa

Ali Swastika, editor pada newsletter Kunci, sebuah media terbitan lembaga Cultural Studies Center yang berfokus pada kajian budaya dan berdiri pada 1999 di Yogyakarta, juga pernah menulis bahwa perubahan gaya hidup anak muda di Indonesia diakibatkan pengaruh budaya pop ala ibu kota, Jakarta.

“Mereka memungut informasi dari mana saja, dari televisi, majalah, radio, bahkan sobekan poster di pinggir jalan,” tulis Swastika pada terbitan edisi 12 Juni 2003 dari newsletter itu.

Anak muda kota, masih menurut Swastika, selalu punya cara untuk tampil beda. Mereka selalu berusaha memperbaharui penampilan. Biasanya, itu ditiru dari tampilan gaya hidup para selebritas yang ditayangkan di televisi atau majalah.

“Dan bahasa, salah satu hal yang akan memberikan ciri khusus pada anak kota. Cara, logat, dan pilihan kata dalam berbicara adalah salah satu dari usaha anak kota untuk memberi citra tertentu dari penampilannya,” tulis Swastika.

Pada 1977, terbit majalah remaja pria, Hai. Majalah ini rutin memuat cerita serial ”Lupus” karya Hilman Hariwijaya. Lupus adalah tokoh bergaya sesukanya (slenge’an), gondrong dengan jambul di bagian depannya, bercelana jeans, kaos oblong, dan kadang-kadang mengenakan kemeja yang tidak dikancing dan kedodoran. Permen karet yang dibuat balon kecil di mulut tak pernah ketinggalan.

Popularitas Lupus ini makin melejit ketika ia dinovelkan dan dilayarlebarkan. Lupus pun menjadi penanda bahasa khas remaja Jakarta. Kata ’gua’ untuk menyebut kata ganti orang pertama dan ’lo’ untuk lawan bicara menjadi kata ganti diri khas Lupus.

”Yo-i! Kalo bergaul sama kelasnya Gusur dan Lupus, mana lo berkembang? Gue baru aja ditelepon Nadya.”
“Nadya mana?” tanya Boim bloon.
“Nadya mana lagi… Nadya Hutagalung, so pasti! Dia mau ngajak gue jadi VJ di MTV.”
Boim terperangah. Mulutnya sampe menganga.

Dialog ini dapat dibaca di novel Lupus seri Kutukan Bintik Merah terbitan Gramedia, Jakarta, tahun 1998.

Kemudian, Jumat, 27 Januari 2012, saya membaca sebuah cerita bersambung di harian Manado Post berjudul “Temanku Hantu”. Pengarangnya Tika Muchtar, siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Airmanadidi, Minahasa Utara. Dia menulis begini:

“Kenapa sih, nggak’ percaya amat kalo gue hantu!” Ucap Fedora.
“Abisnya lo tuh aneh!”
“Oh iya… kenapa sih lo tuh nggak punya teman sama sekali di sekolah.”
“Gue lebih suka sendiri. Egh tapi kok lo tahu”?

Gaya bahasa pergaulan Jakarta itu ada di halaman “Road to School” Manado Post. Koran ini adalah bagian dari Jawa Post Group, sebuah koran yang punya pembaca cukup banyak di Minahasa dan Sulawesi Utara.

Peran dari wilayah yang menyebarkan bahasa dan logat ini, yaitu Jakarta, menurut Swastika, cukup penting. Jakarta diasumsikan orang sebagai yang paling berkuasa, paling cantik, paling kaya, dan paling-paling lainnya. Posisi ini, masih menurut Swastika, telah membuat logat Jakarta dianggap menjadi yang paling keren, paling enak didengar, dan diucapkan oleh anak-anak muda Indonesia. Dan dimana-mana, penyiar-penyiar radio remaja yang dominan dengan hiburan musik mencoba berbicara dalam dialek yang sama.

“Seolah-olah, kalau tidak memakai gaya Jakarta, itu bukan gaya anak muda,” tandas Swastika.

***

Pada 20 Januari 1869, terbit sebuah koran berbahasa Melayu di Tanawangko, sebuah wilayah pesisir pantai Manado. Nama koran itu Tjahaja Sijang. Pada tagline edisi pertamanya tertulis “Kertas Chabar Minahasa”. Pelopornya adalah Nicolaus Graafland, seorang zendeling utusan NZG yang kala itu bekerja sebagai guru di sekolah zending di sana.

Graafland lahir pada 2 Maret 1827 di negeri Belanda. Dia belajar teologi di Rotterdam. Oleh NZG, dia diutus pertama-tama sebagai penginjil di Sonder, Minahasa, untuk kemudian menjadi guru. Dia pertama kali datang ke Jakarta pada 8 November 1848. Pada 16 Maret 1851, dia tiba di Sonder dan segera setelah itu membuka sekolah guru. Murid pertamanya berjumlah empat orang. Pada 1854 sesudah libur, dia bertugas di Tanawangko, dan sekolah guru itu dipindahkannya ke sana.

Di Tanawangko, pada 1862, Graafland mulai mempersiapkan media terbitan untuk kepentingan misi dan pendidikan bagi orang-orang Minahasa. Edisi perkenalan Tjahaja Sijang terbit pada September tahun 1868. Mulai Januari 1869, ia terbit per bulan secara rutin. Bahasa yang digunakan dalam setiap terbitan adalah bahasa Melayu.

Pada 1983, seorang dosen Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Geraldine Ivonne Jane Manoppo-Watupongoh, menyelesaikan disertasi yang berjudul Bahasa Melayu Surat Kabar di Minahasa pada Abad Ke-19. Watupongoh meneliti tentang penggunaan bahasa Melayu dalam surat kabar terbitan tersebut. Pada masa itu, para zendeling yang menyebarkan agama Kristen di Minahasa dihadapkan dengan persoalan bahasa.

Watupongoh menulis, waktu itu mereka harus memilih satu dari tiga bahasa yang akan digunakan untuk penginjilan: bahasa Minahasa, bahasa Belanda, atau bahasa Melayu. Memilih bahasa Minahasa agak sulit mengingat keberagaman dialek dan ragam di masing-masing subetnis. Sedangkan memilih bahasa Belanda juga tidak mungkin. Pilihan akhirnya jatuh pada bahasa Melayu, yang sudah lama menjadi lingua franca di sebagian besar wilayah Asia Tenggara.

“Sebagai pertimbangan psikologis politis, Belanda berpendapat bahwa hubungan antara Belanda dan Minahasa yang berbeda kedudukan dan bahasa, lebih menguntungkan bila digunakan bahasa yang ketiga yang tidak dikuasai oleh kedua belah pihak oleh karena dalam berbahasa daerah, Belanda dapat membuat kesalahan, sedangkan di pihak Minahasa, dengan berbahasa daerah, ia akan menutup diri bagi Belanda,” demikian Watupongoh menyimpulkan alasan para zendeling memilih bahasa Melayu.

Sekolah-sekolah zending, guru-guru, Tjahaja Sijang, dan terbitan lainnya yang berbahasa Melayu telah berperan dalam memasyarakatkan bahasa Melayu di kalangan orang-orang Minahasa. Bahkan, dalam sebuah edisi, disebutkan koran ini telah dibaca oleh orang-orang yang berada di luar Minahasa, seperti Gorontalo, Makassar, Babau, Kupang,Rai Oi Sape Ambarawa, Surabaya, dan Palembang.

Mengenai maksud diterbitkannya koran ini, Graafland menuliskannya pada edisi perdana, 20 Januari 1869:

”Pada menjatakan gunanja kertas chabar ini pada segala guru. Adapun kertas chabar ini berguna bagi samowa orang jang hendak bertambahkan pengetahuwannja, tagal itu terlebih pula pada segala guru jang yang harus bertambah-tambah pengetahuwannja pada sedekala waktu sopaja marika itu boleh hentar orang dan anak-anak dan bertambahkan terang antara kaum.”

Harry Kawilarang, seorang mantan wartawan dalam artikelnya Sejarah Singkat Pertumbuhan Bahasa Indonesia Melalui Alkitab, memuji guru-guru asal Minahasa lulusan sekolah-sekolah guru zendeling.

“Proses bahasa Indonesia berkembang melalui guru-guru Minahasa jebolan sekolah guru di Minahasa sejak pertengahan abad ke-19,” tulis Kawilarang.

Watupongoh menyebutkan bahwa ada tiga ragam bahasa Melayu yang digunakan di Tjahaja Sijang, yaitu ragam Melayu Gunung, ragam Melayu Pasar, dan ragam Melayu Campuran.

Bahasa Spanyol dan Portugis juga cukup mempengaruhi pembentukan bahasa Melayu ala Tjahaja Sijang. Serapan dari bahasa Portugis terdapat pada, misalnya, ’roda’, ’somber’, ’kintal’, ’kadera’, ’medja’. Dari Bahasa Spanyol, terdapat pada, misalnya, ’peda’, ’maradju’, ’fresco’, ’furu-furu’, ’horas’. Sapaan untuk anak perempuan dan laki-laki juga diserap dari bahasa Portugis, misalnya ’nona’ untuk anak perempuan, ’sinyo’ untuk anak laki-laki, ’nyora’ untuk nyonya besar.

Selain bahasa Portugis dan Spanyol, penyerapan juga dilakukan dari bahasa Cina, seperti ‘kongsi’ dan ‘top’. Bahasa negeri tetangga, seperti Ternate dan Galela, tidak ketinggalan dalam memperkaya kosa kata. Dari Ternate, yang diserap, di antaranya, ‘gonone’, ‘tusa’, ‘dodoku’, ‘guhi’, ‘paniki’, ‘songara’, ‘ngana’, dan lain sebagainya. Dan dari bahasa Galela, seperti ‘gomala’, ‘deho’, ‘rica’, atau ‘gomutu’.

Dalam keseharian, serapan ini sudah menjadi bahasa sehari-hari orang Minahasa. Seperti ungkapan orangtua Minahasa terhadap anak-anaknya: “Eh, Alo, jang duduk di meja ngana, nanti ngana pe panta mo ba luka”. Atau, “Kalo kerja, jang suka mamaraju, soe tu dia”.

***

Oktober 1928, masyarakat dan pemuda berkumpul di depan depan gedung Gemeente Bioscoop, Manado (sekarang Bioskop Presiden di Pasar 45). Di antara kerumunan banyak orang itu, seorang perempuan muda bernama Sofie Kornelia Pandean dengan berani tampil ke muka. Dia ikut membacakan hasil kongres pemuda di Batavia.

Dia satu-satunya perempuan, sementara tiga temannya yang lain laki-laki. Waktu itu usianya baru tujuh belas tahun. Di sekitar kerumunan itu ada pula tentara Belanda berjaga-jaga. Sudah menjadi risiko, Pandean akhirnya ditahan oleh tentara kolonial Belanda. Tapi, lantaran pamannya seorang jaksa, dia dibebaskan dengan segera.

Di Batavia, pada 27-28 Oktober di tahun yang sama, seorang perempuan Minahasa lainnya pun hadir pada Kongres Pemuda ke-II yang dilaksanakan di Gedung Oost Java Bioscoop di Koningsplesin Noord, Batavia. Perempuan muda itu bernama Johana Masdani-Tumbuan. Waktu Kongres Pemuda ke-II, usianya baru memasuki delapan belas tahun. Dia lahir 28 November 1910 di Amurang, Minahasa Selatan. Kongres Pemuda inilah yang antara lain mengikrarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa bersama.

M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008), buku yang memuat sejarah 808 tahun dengan ketebalan 800-an halaman, menyebutkan bahwa sejarah bahasa Indonesia bermula dari bahasa Melayu. Menurut Ricklefs, dipilihnya bahasa Melayu dikarenakan “… bahasa itu bukan bahasa Jawa sehingga tidak membawa implikasi dominasi suku Jawa”.

Ajip Rosidi, seorang mantan wartawan cum sastrawan era 1950-an di Jakarta asal Jawa Barat, menyebutkan analisa lain. Dia pengajar bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia pada Universitas Osaka, Jepang.

“Bahasa Indonesia bukanlah bahasa Melayu, dengan arti bahwa dalam pertumbuhan dan perkembangannya, bahasa Indonesia mempunyai penemuan-penemuan dan sejarah yang tersendiri,” tulis Ajip Rosidi dalam bukunya Kapankah Kesustraan Indonesia Lahir? (1964).

Rosidi menuliskan pikirannya itu ketika dia sedang membahas tentang kelahiran kesusastraan Indonesia. Di satu pihak, adalah fakta sejarah bahwa bahasa Indonesia bermula dari bahasa Melayu. Namun, di lain pihak, secara politis, bahasa Indonesia adalah bahasa dari sebuah negara bangsa yang merdeka pada 17 Agustus 1945.

“Setelah bahasa Indonesia tumbuh dengan pesat, bahasa Melayu yang lain terus juga hidup di wilayah Melayu (Riau, Sumatera Timur) dan di Semenanjung ia mempunyai pertumbuhan dan perkembangan tersendiri pula, yang oleh para penelaah sastra (baik di Indonesia maupun di Persekutuan Tanah Melayu) dipisahkan dari pertumbuhan bahasa dan sastera Indonesia,” urai Rosidi.

Rosidi mengutip artikel Umar Junus yang dimuat pada Majalah Medan Ilmu Pengetahuan tahun 1960 untuk memperkuat argumennya. Junus berkesimpulan bahwa antara ‘sastera Melayu’ dan ‘sastera Indonesia’ masing-masingnya berbeda.

“Bahasa Melayu berakhir pada tahun 1928 untuk bertukar nama dengan bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia,” tulis Junus seperti dikutip Rosidi.

Rosidi sendiri menegaskan, bahasa Indonesia itu ada ketika ada pengakuan terhadap bahasa tersebut, yaitu pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Namun, seperti pendapat umum, dia mengakui juga bahwa bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa Melayu.

“Tetapi, juga dengan lahirnya bahasa Indonesia, bahasa Melayu tidaklah mati atau ‘berakhir’”, tegas Rosidi. “Pada pendapat saya, kesadaran kebangsaan itulah yang menjadi bapak yang sah dari kelahiran bahasa Indonesia yang beribukan bahasa Melayu itu. Kesadaraan kebangsaan yang saya maksudkan ialah kesadaran kebangsaan Indonesia, karena itu bahasa Melayu yang tumbuh serta berasal dari bahasa Melayu yang sama juga tapi tidak berbapakkan (kita teruskan saja perumpaan ini) kesadaran kebangsaan Indonesia, bukanlah bahasa Indonesia.”

Rosidi memang menyadari kelahiran bahasa Indonesia sebagai proses politis, meski dia agak berhati-hati.

“Dengan dasar pikiran seperti itu bukanlah sekali-kali maksud saya hendak memperpolitik kesusasteraan atau mencampur-baurkan persoalan kesusasteraan dengan persoalan politik, melainkan karena memang persoalan tersebut tidak bisa dipandang secara lain, lantaran nama ‘Indonesia’ sendiri pertama-tama adalah suatu pengertian politik. ‘Indonesia’ sebagai nama sebuah negara dan suatu kesatuan geografis ataupun administrasi baru ada setelah pengertian ‘Indonesia’ yang berdasarkan suatu cita-cita dan kesadaran kebangsaan (nasionalisme) yang subjektif dan bersifat politis, yaitu lahir dari perasaan bangsa yang merasa tidak menjadi tuan rumah di tanah airnya sendiri sebagai akibat cenkeraman penjajahan Belanda.”

Rosidi atau sastrawan pergerakan lainnya tidak selamanya benar. Di Minahasa misalnya, – atau juga di daerah lain di masa kolonial –, pilihan kolonial untuk menggunakan bahasa Melayu tidak hanya alasan karena bahasa ini sudah dikenal umum. Namun, ia memiliki maksud-maksud politik di belakangnya.

Bahasa ibu macam bahasa Tana’ Minahasa, bukan cuma sulit dipelajari oleh aparat-aparat kolonial, namun setidaknya menyimpan pengetahuan dan spirit masyarakatnya. Belanda menghindari perlawanan. Mengingat bahasa Melayu sudah sudah digunakan secara umum, maka penaklukan wacana dan fisik oleh kolonial terhadap pribumi menjadi lebih mudah.

Iklan buku Baoesastra terbitan Balai Poestaka ini dimuat di beberapa koran di Pulau Jawa, di antaranya Koran Pandji Poestaka, 25 Juli 1942.
Iklan buku Baoesastra terbitan Balai Poestaka ini dimuat di beberapa koran di Pulau Jawa, di antaranya koran Pandji Poestaka, 25 Juli 1942. Adapun ‘Djawi’ yang dimaksud barangkali adalah Jawa, dan bukan aksara Jawi yang merujuk pada aksara Arab-Melayu.

Demi maksud itu, pemerintah kolonial mendirikan Commissie voor de Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakjat) pada 14 September 1908. Ia semacam perusahaan penerbitan dan percetakan milik pemerintah kolonial. Pada 22 September 1917, ia berubah nama menjadi “Balai Poestaka” dengan kepemilikan yang juga berubah.

Di kemudian hari, Benny H. Hoed, Muridan S. Widjojo, dan Mashudi Noorsalim dalam buku bersama mereka Bahasa Negara Versus Bahasa Gerakan Mahasiswa: Kajian Semiotik atas Teks-Teks Pidato Presiden Soeharto Dan Selebaran Gerakan Mahasiswa (2004) mengkaji secara kritis bahasa Indonesia di ranah politik. Menurut mereka, kesadaran pemerintah rezim Orde Baru menggunakan bahasa sebagai alat kepentingan kekuasaannya muncul sejak awal 1970-an, yang merujuk pada Amanat Kenegaraan Hari Kemerdekaan Indonesia tahun 1972. Waktu itu, Soeharto mengungkapkan sikapnya terhadap bahasa Indonesia sebagai kunci keberhasilan pembangunan.

Hoed dan kawan-kawannya menegaskan, bahwa pada saat Kongres Pemuda Oktober 1928, sebenarnya belum ada pembicaraan tentang bahasa negara karena India-Belanda masih merupakah koloni Belanda. Namun, dengan dijadikannya bahasa sebagai hal penting dari hasil kongres itu – meski seperti sudah diketahui bahwa teks itu adalah rumusan Yamin – ini berarti bahasa adalah alat politik. Sepuluh tahun setelah kongres pemuda itu, di Solo dilaksanakan Kongres Bahasa (KB) Indonesia I.

“Dari keputusan KB I terlihat betapa kuatnya upaya pembakuan bahasa Indonesia, seperti menyusun tata bahasa baru (gramatika) dan meminta dukungan pada guru, dan membuat bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi di berbagai bidang, seperti politik (di Volksraad), pendidikan, media, dan bahkan perundang-undangan.”

Sebagaimana diungkap Hoed dan kawan-kawan di atas, ada sebuah kontradiksi terkait dengan bahasa di masa itu. Menurut mereka, di masa itu justru sejumlah tokoh mengemukakan pentingnya menguasai bahasa Belanda sebagai “gerbang menuju Barat.” Namun, pendapat ini tidak didukung oleh pemerintah Belanda. Alasan pemerintah Belanda, bahasa Belanda hanya untuk elit pribumi. Untuk rakyat banyak, dibiarkan menggunakan bahasa Melayu.

“Pemerintah kolonial pada masa itu menganggap bahwa penguasaan bahasa Belanda oleh pribumi berbahaya karena akan lebih mudah mendorong pertumbuhan nasionalisme dibandingkan dengan bahasa Melayu,” tulis Hoed dan kawan-kawan.

Tahun 2009 saya mendapat teks lengkap hasil Kongres Pemuda ke-II dari Matulandi Supit, Ketua Majelis Adat Nusantara Sulawesi Utara. Teksnya berbunyi begini:

POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA

Kerapatan Pemoeda-Pemoeda Indonesia jang diadakan oleh perkoempoelan-perkoempoelan pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan, dengan namanja: Jong Java, Jong Sumatranen Bond (Pemoeda Soematera), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen Pasoendan, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia;
membuka rapat pada tanggal 27 dan 28 October tahoen 1928 dinegeri Djakarta;
sesoedahnja mendengar pidato-pidato dan pembitjaraan jang diadakan dalam kerapatan tadi;
sesoedahnja menimbang segala isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini;
kerapatan laloe mengambil poetoesan:

PERTAMA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH-DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

KEDOEA.
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.

KETIGA
KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Setelah mendengar poetoesan ini, kerapatan mengeloearkan kejakinan azas ini wadjib dipakai oleh segala perkoempoelan-perkoempoelan kebangsaan Indonesia;
mengeloearkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan dasar persatoeannja:

kemaoean
sejarah
bahasa
hoekoem-adat
pendidikan dan kepandoean;

dan mengeloearkan pengharapan soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibatjakan dimoeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan kita.

Teks itu adalah rumusan Mohammad Yamin yang hadir dalam kongres tersebut atas nama Jong Soematra. Menurut situs tokohindonesia.com, Yamin terinspirasi oleh Sumpah Palapa Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit di Jawa dalam membuat ikrar yang dibacakan sebagai hasil Kongres Pemuda II.

Di masa itu, dia tercatat sebagai mahasiswa pada Sekolah Tinggi Hukum di Batavia. Yamin pun memimpin sidang pertama. Dia membawakan makalah dengan judul “Persatoean dan Kebangsaan Indonesia”.

Parakitri Tahi Simbolon, dalam bukunya Menjadi Indonesia(2006), mencatat adanya perubahan orientasi berpikir Yamin dibandingkan ceramahnya pada Kongres Pemuda 1 tahun 1926. Pada kongres pertama itu, Yamin memandang bahasa Melayu adalah bahasa kebudayaan Indonesia, belum sebagai bahasa persatuan yang politis. Sementara pada Kongres ke-II ini, Yamin melihat bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan.

Bahkan, di muka Kongres Bahasa Indonesia kedua kelak, Yamin melangkah lebih jauh. Dia mengatakan bahwa bahasa Indonesia sudah berkembang biak sejak zaman purbakala. Hanya ahli bahasa saja yang senantiasa menamai bahasa itu bahasa Melayu.

“Yamin berpandangan bahwa masa depan Indonesia akan direkatkan oleh satu bahasa, yakni bahasa Indonesia,” begitu artikel di situs www.tokohindonesia.com menulis biografi Yamin.

Wajar saja kalau Yamin kemudian yakin pentingnya bahasa di era penjajahan itu. Dia seorang sastrawan. Enam tahun sebelumnya, Yamin menulis puisi: “Tanah Air”. Tanah airnya adalah Sumatera. “Tanah Air” adalah puisi berbahasa Melayu.

Akan tetapi, Yamin juga disebut-sebut sebagai “pencipta mitos” yang utama.

Wajah Muhammad Yamin dan patung Gajah Mada memiliki keserupaan.
Wajah Muhammad Yamin dan patung Gajah Mada memiliki keserupaan.

Andreas Harsono, wartawan pendiri Yayasan Pantau yang giat melakukan kajian mengenai nasionalisme, dalam Gadjah Mada dan Muhammad Yamin (www.andreasharsono.net), meminjam pendapat sejarawan Asvi Warman Adam yang menyebutkan bahwa salah satu orang yang banyak menciptakan “sejarah yang bercorak nasional” alias propaganda adalah Muhammad Yamin.

Yamin, menurut Harsono, menciptakan mitos bahwa Indonesia dijajah Belanda 350 tahun dan tentang Gadjah Mada dari kerajaan Majapahit yang bikin Sumpah Palapa. Yamin menjadikan kemampuan sastranya yang berdasarkan imajinasi untuk mengkonstruksi wacana atau propaganda tentang sejarah Indonesia. Parahnya, di tahun 1950-an, Yamin jadi Menteri Pendidikan.

“Sayangnya, banyak warga negara Indonesia percaya. Artinya, kepercayaan terhadap makna negara Indonesia tak diletakkan pada fondasi kebenaran faktual. Dasar negara ini diletakkan pada tumpukan fiksi. Geli tapi juga sedih,” tulis Harsono.

Yamin juga sempat menerbitkan kumpulan sajaknya yang berjudul Indonesia, Tumpah Darahku. Sajak-sajaknya waktu itu sudah bernuasa “Indonesia”, yang diimajinasikan sebagai yang tak terpisah dengan Melayu. Padahal, budaya di wilayah yang kemudian menjadi Indonesia sangat beragam. Simak penggalan sajaknya ini:

Adapun kami anak sekarang
Mari berjejrih berbanting tulang
Menjaga kemegahan jangalah hilang,
Supaya lepas ke padang yang bebas
Sebagai poyangku masa dahulu,
Karena bangsaku dalam hatiku
Turunan Indonesia darah Melayu

Atas apa yang disebut ’Sumpah Pemuda’ itu, sejarawan Taufik Abdullah memandang bahwa ia sebetulnya tidak memiliki arti apa-apa sebagai fondasi Indonesia. Pernyataan itu menjadi ”bunyi” ketika ia dijadikan monumen atau batu pijakan setelah Indonesia ada.

“Jangan lupa, Sumpah Pemuda hanya peristiwa (yang diikuti oleh) paling-paling tiga ratus anak sekolah itu, di Jakarta. Enggak ada arti. (Punya arti) apa? Waktu itu penduduk (di kawasan yang kini disebut) Indonesia sudah kurang lebih 60 juta (jiwa). Enggak usah cerita Ternate, di Jakarta saja banyak yang enggak tahu. Tapi, sejarah tak hanya berkisah tentang masa lalu, tapi juga membuat monumen. Nah, dalam tinjauan ke belakang, ‘haa… iya, ini suatu monumen ini’. Karena ini dianggap sebagai awal dari sesuatu… Jadi sebagai kongres, tidak ada arti apa-apa. Anak-anak sekolah (saja itu). Sukarno saja enggak ikut. Sukarno sudah insinyur pada waktu itu,” kata Taufik di LenteraTimur.com.

Suatu hari di akhir Januari 2012, Fahri Salam, wartawan yang tinggal di Jakarta, berujar kepada saya dengan sinis.

“Aneh ya, kongres kok disebut Sumpah Pemuda?”

Dia bicara soal ’Kongres Pemuda’ itu yang dalam bahasa sekarang umum disebut ’Sumpah Pemuda’. Dan lantaran”’Sumpah Pemuda” yang dilakukan oleh anak-anak sekolah itulah bahasa Melayu diindonesiaisasi atau ditukar namanya.

Tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia disebutkan merdeka. Sekitar 17 tahun dari pembacaan ikrar pemuda tersebut – yang teksnya dirumuskan oleh seorang pembuat mitos –, bahasa Indonesia dicatumkan dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945, pasal 36: “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia”.

Namun, bahasa Melayu benar-benar menjadi “Indonesia” baru terjadi pada 1972, yaitu ketika pada 23 Mei 1972 terjadi kesepakatan antara Menteri Pelajaran Malaysia masa itu Tuan Hussein Onn dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia masa itu, Mashuri. Kedua pejabat yang mewakili negara masing-masing bersepakat melaksanakan apa yang disebut “Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan”.

Lalu, 16 Agustus 1972, Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 57 tahun 1972 tentang Peresmian Berlakunja Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Mulai saat itu dipopulerkan istilah “Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar”.

Cendekiawan yang berperan penting dalam memasyarakatkan ejaan ini adalah Jusuf Sjarif Badudu. Laki-laki kelahiran Gorontalo, 19 Maret 1926, ini adalah seorang pakar bahasa Indonesia dan Guru Besar Linguistik pada Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat. Masyarakat Indonesia mengenalnya sebagai pembawa acara ”Pembinaan Bahasa Indonesia” antara 1974 sampai 1979 di TVRI. Tahun 1975, dia memperoleh gelar Doktor Ilmu Sastra dengan pengkhususan linguistik di Universitas Indonesia, Jakarta. Disertasinya berjudul Morfologi Kata Kerja Bahasa Gorontalo.

Yus Badudu, begitu dia dikenal, pernah mengkritik cara berbahasa Soeharto. Soeharto sering menyebut sufiks ’kan’ dengan ’ken’ dalam nada Jawa. Akibat kritik itu, program acara ”Pembinaan Bahasa Indonesia” yang dibawakan oleh Badudu dihentikan.

***

Tahun 2003, seorang sastrawan Minahasa, Fredy Wowor, menulis puisi berbahasa Melayu Manado, “Menifesto Minahasa.” Ini puisinya pertama yang berbahasa Melayu Manado.

Indonesia bukang bangsa
Qta bangsa Minahasa
I Yayat U Santi!

Bersama Greenhill Weol, Candra Rooroh, Alfrits Oroh, Charlie Samola, dan Andre GB, dia giat menulis dan menerbitkan buku-buku puisi berbahasa Melayu Manado. Menurut Fredy, ini adalah salah satu cara mereka untuk mempopulerkan bahasa Manado. Fredy adalah seorang sastrawan dan budawayan Minahasa. Dia lulusan Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi, kajian bahasa Indonesia.

”Tahun 2003 qta so batulis mar nanti kaluar buku torang sebagai sebuah gerakan bersama sastra bahasa Malayu Manado tahun 2005,” jawab Fredy ketika saya tanya kapan mereka mulai menulis puisi dalam bahasa Melayu Manado.

Menulis dalam bahasa Melayu Manado, bagi Fredy dan kawan-kawannya, tidak hanya sekadar menulis dalam variasi lain selain bahasa Indonesia. Namun, ini soal identitas.

”Bahasa adalah pintu maso untuk identitas. Batulis pake bahasa Manado adalah awal for pahami jati diri. Lewat bahasa Manado torang bisa menggali ingatan kolektif untuk lebih jauh lagi memahami bahasa tana dan cara berpikir torang sebagai sebuah pribadi, bahwa torang adalah turunan Karema-Lumimuut-Toar. Puisi adalah pernyataan sikap sebagai satu identitas: masing-masing ada depe tiap-tiap. Untuk memahami torang sebagai orang Minahasa, orang laeng musti memahami dahulu bagaimana torang memandang orang laeng,” jawab Fredy lagi.

Christofel Manopo, seorang lulusan sastra Jerman pada Fakultas Sastra Unsrat, beberapa tahun ini juga rajin menulis puisi. Puisinya banyak ditulis dalam bahasa Melayu Manado. Beberapa buku puisi pun sudah dia terbitkan.

“Karena bahasa Melayu Manado qta pe bahasa pertama. Dapa rasa lebe jujur deng langsung. Maar sebenarnya kalu qta rasa depe feel dapa di bahasa itu, ya qta tulis dalam itu bahasa. Kebetulan qta multilingual jadi banya opsi,” ujar Christofel kepada saya melalui pesan singkat di telefon genggam. Ketika itu saya tanya dia soal alasan menulis puisi dalam bahasa Melayu Manado.

Di masyarakat umum, selain sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, bahasa Melayu Manado juga banyak ditemukan dalam syair lagu-lagu pop Manado. Penyanyi seperti Connie Maria Mamahit, grup musik Makantar, serta banyak lagi lainnya, suka menyanyikan lagu-lagu pop dalam bahasa Melayu Manado. Connie Maria Mamahit pernah menyanyikan lagu “Nyanda Mo Balaeng”.

Lantaran ngana
cuma dengar orang bacarita
dorang nyanda kaseh
nyanda suka torang dua baku saying

Di Kota Manado, misalnya, lagu-lagu dalam bahasa Melayu Manado dapat didengar di angkutan-angkutan umum. Mulai dari jenis lagu pop sampai rap. Ia menjadi hiburan para sopir untuk penumpangnya.

Situs www.minahasajo.info mencatat, tren lagu berbahasa Manado mulai tampak di paruh akhir dasawarsa 1970-an. Penyanyi yang populer waktu itu, antara lain, Vivi Sumanti dan Frans Daromes.

“Vivi Sumanti punya satu album diiringi kolintang, yang salah satu lagunya kerap membuat orang tua yang mendengar tersipu-sipu,” begitu tulis situs tersebut.

Lirik lagunya lucu.

Kita lia-lia, om lia-lia-lia,
dia pegang kita punya kita lei ba pegang…
Om om om, ka kanan sadiki,
om om om, kakiri sadiki

Vivi Sumanti adalah artis top di era 1970-an. Dia lahir di Minahasa. Majalah Tempo dari Jakarta terbitan 16 Maret 1974 menyebut Vivi sebagai “biduanita genit”. Tempo edisi itu memberitakan tentang sebuah acara Kawanua di Jakarta. Vivi dan sejumlah penyayi serta bintang film asal Minahasa hadir di acara itu.

“Acara malam gembira ini untuk memperkenalkan kesenian Minahasa kepada masyarakat ibu kota. Sekaligus untuk mengumpulkan dana bagi perkumpulan Kawanua,” tulis Tempo yang mengutip F. Sumanti, seorang Laksamana Muda Laut masa itu (1974), yang bertindak sebagai ketua panitia di saat membuka acara malam itu.

Vivi-lah yang mempopulerkan sampai ke Jakarta lagu berbahasa Melayu Manado: “Sapa Suruh Datang Jakarta”. Lagu ini berkisah tentang kehidupan para perantau dari luar Jakarta melawan kejamnya ibu kota.

Ado kasian ye mama, Jauh-jauh merantau
Mancari hidup mama, Nasib tidak beruntung
Siang dan malam ye mama, Jalan kesana kemari
Sanak saudara mama, Semua tidak peduli
Sapa suru datang Jakarta, Sapa suru datang Jakarta
Sandiri suka, sandiri rasa, Eh doe sayang
Sapa suru datang Jakarta, Sapa suru datang Jakarta
Sandiri suka, sandiri rasa, Eh doe sayang
Sungguh tiada kuduga aah…

Hidup akan merana, Tinggalkan kampung desa
dapatkan gubuk di kota, Ado kasian ye mama
Jauh-jauh merantau, Mancari hidup mama
nasib tidak beruntung, Sapa suru datang Jakarte
Sapa suru datang Jakarte, Sandiri suka, sandiri rasa
Eh doe sayang.

Bahasa Melayu Manado juga banyak digunakan dalam cerita humor, yang dalam istilah orang Minahasa disebut ’grap-grap’. Di warung kopi, warung “cap tikus”, perempatan jalan, hingga di “dotcom”, cerita grap-grap berbahasa Melayu Manado hidup. Ada sebuah cerita humor yang umum di Minahasa. Ceritanya berjudul “Opa di Kambuna”.

Waktu kapal penumpang Kambuna sandar di pelabuhan Bitung, banyak skali penumpang yang da nae dari pelabuhan Bitung. Lantaran banyak penumpang nae kong banyak lei keluarga penumpang ba antar, jadi Km kambuna fol deng orang.

Sampe saat somo berangkat banyak penumpang kapal baku dada-dada deng keluarga yang da ba antar di dermaga, pas lagi rame-rame itu, tiba-tiba ada anak jatuh dari kapal ke laut di dekat dermaga. Tu anak pe orang tua so manangis babanting minta tolong deng tako jang dorang pe anak mo jadi apa apa.

Nda lama kemudian ada opa yang terjun kelaut juga kong ba bantu angka tu anak dari laut.

Setelah so di kapal ulang tu anak deng tu opa, tu anak pe orang tua sangat berterimakasih pa tu opa kong dorang mo kase hadiah.

Anak pe orang tua: “Opa trima kase banya neh so tolong akang torang pe anak.”

Opa: “Nda apa-apa,biasa itu.”

Anak pe orang tua: “Sebagai torang pe ucapan terimakasih pa opa, apa yang opa minta torang akan kase, kong opa mo minta apa dang?”

Opa: “Opa nda mo minta apa-apa kasiang, opa cuma mo tanya siapa yang da tola pa opa tadi sampe opa jatuh ke laut?”

Tahun 1981, FS. Watuseke, sejarawan Minahasa mengulas soal bahasa Melayu Manado di Jurnal terbitan KITLV Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde dalam sebuah artikel berjudul ”Het Minahasa of Manado-Maleis”. Dalam tulisannya, dia mencantumkan contoh tulisan berbahasa Melayu Manado berbentuk cerita yang didiktekan kepadanya oleh istrinya, W. B. Watuseke-Politton. Judul ceritanya “Kita pe Tikus”. Dari ejaannya, dapat dipastikan cerita ini ditulis sebelum 1981. Berikut kutipan paragraf pertamanya.

“Tu Tikus itu kita sajang skali. Skarang kua’ bagini: Tempo dong kase pa kita tu barang pe katjiil skali, kuruus lei. Deri kapala sampe diekor itang. Kong dia pe ekor lei pe alus rupa lidi pe udjung. Dong kira tantu kita nemau piara pa dia deri dua djalan lei dia mo hidup truus ka trada.“

Hingga hari ini, bahasa Melayu Manado masih dipakai sebagai bahasa pergaulan sehari-hari masyarakat Minahasa dan Sulawesi Utara umumnya. Ia terus merangkak dalam puisi-puisi, lirik-lirik lagu, dan cerita grap-grap. Sementara, bahasa lain yang banyak dialek dan ragamnya semakin hilang dari keseharian. Nyong dan nona-nona Minahasa lebih suka “berbahasa Indonesia yang baik dan benar” atau berbicara seenaknya dengan ‘lo’, ‘gue’, ketimbang menyebut ‘kita’ sebagai ‘saya’ atau ‘aku’ dalam bahasa Melayu Manado atau ‘ngana’. Bahkan, kata-kata seperti ‘nyaku’ dan ‘angko’, ‘aku’ dan ‘kamu’ dalam bahasa ibu Minahasa, kian sunyi dalam percakapan sehari-hari.

“Bahasa Minahasa misalnya. Bahasa yang ditinggal. Akankah nasib bahasa ini berakhir seperti permainan tempurung?” tulis Sonny Mumbunan dalam catatannya Minahasa dalam Tempurung tahun 2008. Mumbunan adalah seorang intelektual muda asal Tonsea, Minahasa Utara. Dia doktor ilmu ekonomi dari Universitaet Leipzig, Jerman.

Orang-orang Minahasa mungkin perlu menonton lagi “Di Sekitar Kita”, sebuah program acara berbahasa Melayu Manado di TVRI Manado yang rutin siar di era 1980-an. Nama-nama tokoh seperti Mien, Kale, Kadi, Papa Nialo, Rombe, dan Bu Tahanusang akrab di kalangan orang Minahasa yang kebanyakan masih menonton televisi hitam putih masa itu. Setiap episodenya menampilkan tema-tema hidup keseharian orang-orang biasa. Para pemerannya lucu-lucu.

Program acara ini berhasil menghidupkan keseharian orang Minahasa di layar televisi. Namun, ketika perusahaan-perusahaan televisi swasta merajalela dan televisi kabel menawarkan pilihan siaran hampir tanpa batas, TVRI Manado kalah bersaing. Program acaranya hilang dari layar-layar televisi orang Minahasa. Pilihan program acara jatuh pada sinetron, gosip, serta berita-berita pertarungan politik di Jakarta yang dimasukkan oleh perusahaan-perusahaan televisi swasta yang juga dari Jakarta.

(735)

Denni H.R. Pinontoan Dosen di Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT). Pegiat di Mawale Cultura Center. Tinggal di Tomohon-Minahasa, Sulawesi Utara.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *