Home Featured Syair Puteri Hijau (1)

Syair Puteri Hijau (1)

293
0
"Sja'ir Puteri Hijau - Suatu Tjerita Jang Benar Terdjadi di Tanah Deli", terbitan 1955, cetakan ketujuh.
“Sja’ir Puteri Hijau – Suatu Tjerita Jang Benar Terdjadi di Tanah Deli”, terbitan 1955, cetakan ketujuh.

Syair Putri Hijau adalah sebuah cerita rakyat yang hidup dalam batin banyak negeri di bumi Sumatera. Dari beberapa studi literatur, studi dokumen, dan bukti-bukti sejarah terbaru, kisah Putri Hijau disimpulkan sebagai fakta. Hanya saja, dominasi unsur imajinatif dalam varian kisah tersebut menyebabkannya semata-mata dianggap sebagai fiksi belaka.

Erond L. Damanik, M.Si. dari Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial, Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan pernah menuliskan bahwa Kerajaan Aru Deli Tua adalah suatu negeri Islam. Dia mendasarkannya pada temuan sebuah meriam bertuliskan Arab dengan bunyi: ’Sanat… alamat Balun Haru’ yang ditemukan oleh kontrolir Cats de Raet pada 1868 di Deli Tua (Tengku Lukman Sinar, 1991). Di tengah meriam tersebut terdapat tulisan buatan Portugis yang menandakan bahwa meriam itu berasal dari Portugis.

Meriam inilah yang dipercaya sebagai meriam yang dikisahkan dalam Syair Putri Hijau. Meriam tersebut ditembakkan secara terus-menerus untuk melawan serangan Aceh hingga puntung dan terbagi dua. Sejarah memang mencatat bahwa Aceh melakukan serangan ke Aru dalam rangka unifikasi kerajaan-kerajaan di pantai timur Sumatera. Setelah diserang oleh pasukan Aceh semasa Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar pada 1564, Aru kala itu dipimpin oleh seorang perempuan, yakni permaisuri Sultan Husin yang gugur akibat serangan Aceh. Sang permaisuri ini kemudian lebih dikenal sebagai Putri Hijau.

Dalam kisah Putri Hijau disebut bahwa faktor serangan Aceh ke Deli Tua adalah akibat penolakan sang Putri Hijau, pemimpin kerajaan Deli Tua, atas pinangan Sultan Aceh. Dua kali serangan Aceh ke Deli Tua mengalami kegagalan. Pada akhirnya pasukan Aceh melakukan taktik sogok, yakni dengan memberikan uang emas kepada pengawal benteng.

Dalam kisah Putri Hijau disebut bahwa pasukan Aceh menembakkan meriam berpeluru emas sehingga pasukan Aru berhamburan untuk mencari emas. Penyogokan pasukan Aru yang dilakukan oleh pasukan Aceh, menjadi penyebab kehancuran kerajaan Aru Deli Tua.

Putri Hijau, Sang Ratu Aru, dengan pasukan yang tersisa mencoba merebut benteng, tetapi tetap gagal. Akhirnya dia dan sejumlah pengikutnya berlayar menuju Melaka untuk menghadap gubernur Portugis guna memohonkan bantuan. Tetapi dia tak disambut dengan baik. Akhirnya Putri Hijau menjumpai Raja Johor, Sultan Alauddin Riayatsyah II dan menyatakan bersedia dinikahi apabila Aru dapat diselamatkan dari penguasaan Aceh. Akhirnya permaisuri Raja Aru menikah dengan Raja Johor. Sekilas kisah mengenai siapa dan apa Aru dapat dilihat pada tulisan “Aru Dahulu Langkat Kemudian”.

Namun, pada saat itu Aru telah terlanjur dikuasai oleh Aceh yang dipimpin oleh panglima Gocah Pahlawan. Gocah Pahlawan diangkat sebagai wali negeri Aceh di reruntuhan kerajaan Aru. Selanjutnya, Aru Deli Tua pada masa pimpinan wali negeri Aceh inilah yang menjadi cikal bakal dari Kesultanan Deli.

Karena kisah Putri Hijau ini berasal dari sebuah tradisi lisan yang kemudian dituliskan, maka tak sedikit versi yang berkembang dari cerita rakyat ini. Di antaranya adalah “Syair Puteri Hijau” (A. Rahman, 1955); “Sejarah Putri Hijau dan Meriam Puntung” (Said Effendi, 1977); “Puteri Hijau” (Haris M. Nasution, 1984), dan “Kisah Puteri Hijau” (Burhan AS, 1990).

LenteraTimur.com berhasil menemukan salah satu versi tulisan dari kisah Putri Hijau di atas. Berikut adalah salinan dari buku Sja’ir Puteri Hidjau (Suatu Tjerita jang Benar Terdjadi di Tanah Deli) yang ditulis oleh A. Rahman pada 1955. Buku ini merupakan cetakan ketujuh dari Percetakan Balai Pustaka, Jakarta.

Untuk menjaga nuansa dan otentisitas, penyalinan syair dilakukan dengan tidak melakukan perubahan bentuk bait serta penyesuaian ejaan. Salinan syair ini akan ditampilkan secara berseri. Dari sepuluh bab yang ada dalam buku tersebut, berikut adalah tiga bab awalnya.

 

Sja’ir Puteri Hidjau
(Suatu Tjerita jang Benar Terdjadi di Tanah Deli)

I. Permulaan kalam

Bismi’llah itu permulaan kata,
Dengan nama Allah Tuhan semesta,
Saja mengarangkan satu tjerita,
Orang dahulu empunja warta.

Adapun maksud sja’ir dikarangkan,
Bukannya pandai saja tundjukkan,
Tjerita jang benar saja chabarkan,
Lebih dan kurang harap maafkan.

Karena saja bukan pengarang,
‘Ilmu tiada fahampun kurang,
Hina dan miskin bukan sebarang,
Duduk bertjinta di negeri orang.

Tjerita ini njata terjadi,
Di Sumatera Timur, di tanah Deli,
Tjerita dulu lama sekali,
Hikajat seorang radja asli.

Meskipun tjerita mustahil rasanja,
Kebanjakan orang demikian pahamnja,
Hukum ‘akal ada menerimanja,
Semuanja ini harus adanja.

Djika dikehendaki Tuhan semesta,
Jang sulit itu mendjadi njata,
Lautan boleh mendjadi kota,
Gunung jang tinggi mendjadi rata.

Begitu djuga tjerita ini,
Kodrat Allah Tuhan rabbani,
Membenarkannja orang berani,
Banjak jang tahu di sana sini.

Banjak keterangan sudah didapati,
Ataupun tanda-tanda sebagai bukti,
Tanda sudah saja lihati,
Mendjadikan pertjaja didalam hati.

Tiga keterangan saja tudjukkan,
Tuan-tuan pembatja boleh saksikan,
Bersama-sama kita pikirkan,
Benarkah ia ataupun bukan.

Keterangan pertama saja membagi,
Suatu pantjuran tepian mandi,
Sampai sekarang tinggallah sendi,
Di Delitua adalah lagi.

Di Delitua tempatnja itu,
Rupanja hampir sebagai batu,
Djarang orang sampai kesitu,
Karena djalannja tiada bertentu.

Keterangan kedua lagi suatu,
Meriam puntung asalnya ratu,
Di istana Maimun tempatnja itu,
Beratapkan idjuk, berlantai batu.

Keterangan ketiga konon chabarnja,
Seekor naga jang amat besarnja,
Di Belawandeli tempat lalunja,
Sampai sekarang ada bekasnja.

Sampai di sini saja berhenti,
Keterangan2 sudah terbukti,
Dengan tjeritanja baik diganti,
Supaja hasil maksud di hati.

Beginilah konon mula tjerita,
Seorang radja diatas tachta,
Keradjaan besar sudahlah njata,
Rakjatnja banjak beribut juta.

Keradjaannja besar njatalah sudah,
Negerinja ramai kotanja indah,
Banjaklah dagang ke sana berpindah,
Kepada baginda datang merendah.

Sultan Sulaiman nama baginda,
Hukumja ‘adil tjatjat tiada,
Kaja, miskin, tua dan muda,
Dihukumkan baginda tidak berbeda.

II. Sultan Sulaiman

Delitua negerinja itu,
Kotanja kukuh berpagar batu,
Pasarnja ramai bukan suatu,
Tiada berbanding di zaman itu.

Baginda berputera tiga orang djua,
Laki-laki konon putera jang tua,
Puteri tjantik putera kedua,
Parasnja elok djarang tersua.

Puteri Hidjau disebut nama,
Eloknja tidak dapat disama,
Sebagai dewa turun mendjelma,
Gemilang sebagai bulan purnama.

Wadjahnja bertjaja berseri-seri,
Laksana paras anakkan peri,
Tiada bandingnja di dalam negeri,
Mahal didapat, sukar ditjari.

Putih kuning badannja sedang,
Pinggangnja ramping, dadanja bidang,
Rambutnja hitam terlalu pandjang,
Memberi ‘asjik siapa memandang.

Putih berseri njata kelihatan,
Giginja berkilat seperti intan,
Seumpama sinar bintang selatan,
Mendjadikan lupa segala ingatan.

Putera jang bungsu laki-laki djua,
Parasnja elok tiadalah dua,
Menarik hati orang semua,
Dikasihi rakjat muda dan tua.

Adapun akan duli baginda,
Istrinja lama sudah tiada,
Banjak ditjari gadis dan randa,
Hati baginda penudju tiada.

Tinggallah baginda tiada beristeri,
Memerintah kota dusun negeri,
Banjaklah datang dagang senteri,
Kepada baginda perhambakan diri.

Puteri Hidjau baginda peliharakan,
Apa kehendaknja baginda turutkan,
Tiadalah pernah baginda bantahkan,
Kasih dan sajang tiada terperikan.

Beberapa lama demikian itu,
Di atas tachta konon sangratu,
Dengan kehendak Tuhan jang satu,
Bagindapun gering suatu waktu.

Baginda nan gering bukan kepalang,
Badannja kurus tinggallah tulang,
Tabibpun selalu datang berulang,
Mengobati baginda radja terbilang.

Tabib berusaha bersungguh hati,
Menolong baginda radja berbakti,
Sudahlah takdir Rabu’l’izzati,
Penjakit tak dapat lagi diobati.

Pertolongan tabib tiada berfaedah,
Semakin pajah sultan jang sjahdah
Adjal baginda hampirlah sudah,
Ke negeri jang baka akan berpindah.

Dengan hal jang demikian itu,
Penjakit menggoda setiap waktu,
Obatpun tiada dapat membantu,
Bagindapun mangkat ketika itu.

Baginda berpulang kerahmatu’llah,
Tachta kebesaran semua tinggallah,
Harta dunia sudah terdjumlah,
Kepada jang lain diberikan Allah.

Atas kehilangan duli mahkota,
Rakjatpun sangat berdukatjita,
Menteri, hulubalang menangis rata,
Istimewa pula putera sang nata.

Ketiga putera raja sangatlah pilu,
Bertjerai dengan djundjungan hulu,
Hatinja rawan bertambah pilu,
Sebagai diiris dengan sembilu.

Menangislah ia tiga saudara,
Hatinja pilu tiada terkira,
Sebagai terbuang di hutan dura,
Sangat merasai ‘azab sengsara.

Tjerita tiada saja pandjangkan,
Djenazah baginda lalu dimakamkan,
Dengan alatnja semua dikerdjakan,
‘Adat radja-radja lengkap diadakan.

Setelah selesai pekerdjaan itu,
Tinggallah puteranja berhati mutu,
Duduk bermenung setiap waktu,
Terkenangkan ajahanda paduka ratu.

Akan ganti duli baginda,
Putera jang sulung mendjadi radja,
Hukumnja ‘adil samalah sadja,
Dengan marhum paduka ajahanda.

Seisi negeri bersenang hati,
Melihatkan perintah demikian pekerti,
Rakjatpun sangat berbuat bakti,
Segala perintahnja mereka turuti.

III. Radja Atjeh

Begitulah konon orang tjerita,
Delitua masjhurlah warta,
Sultannja ‘arif, ‘alim pendeta,
Bidjak bestari adalah serta.

Tersebut pula kissah suatu,
Adalah konon seorang ratu,
Di negeri Atjeh betachtanja itu,
Gagah berani konon sangratu.

Keradjaannja besar bukan kepalang,
Banjak mempunjai menteri hulubalang,
Gadjah dan kuda tiada terbilang,
Di pelabuhan banjak kapal pentjalang.

Radja Atjeh tiada samanja,
Di pulau Sumatera mashur chabarnja,
Parasnja elok sukar bandingnja,
Serta berani dengan gagahnja.

Pada masa suatu ketika,
Semajam di balai sultan paduka,
Dihadap oleh menteri belaka,
Hati baginda sangatlah suka.

Menterinja bertjerita ini dan itu,
Beberapa nasihat adalah tentu,
Disembahkan kepada paduka ratu,
Bagindapun suka bukan suatu.

Demikianlah halnja setiap hari,
Baginda dihadap hulubalang menteri,
Beserta dengan dagang senteri,
Serta radja-radja takluknja negeri.

Apabila sudah berkata-kata,
Baginda mendjamu sekalian rata,
Tua muda adalah serta,
Menerima kurnia radja mahkota.

Begitulah selalu pekerdjaanja,
Kepada rakjat sangat kasihnja,
Adil dan murah baik budinja,
Sedikitpun tiada dibedakannja.

Rakjatpun tjinta kepada radja,
Apa kehendaknja diturut sadja,
Baik tua muda remadja,
Tiada seorang bermuram durdja.

Suatu masa duli sangratu,
Hari Djum’at di malam Sabtu,
Baginda berdiri di muka pintu,
Bersenang diri peluang waktu.

Ketika itu bulanpun terang,
Seluruh ‘alam terang-benderang,
Angin bertiup serang-menjerang,
Bagindapun suka bukan sebarang.

Dengan takdir Allah ta’ala,
Terpandang tjahaja di tjakrawala,
Warnanja hidjau bernjala-njala,
Sebagai tjahaja sebuah kemala.

Bagindapun heran bukan suatu,
Melihat tjahaja serupa itu,
Takdjub di hati duli sangratu,
Tjahaja apakah gerangan itu.

Melihat hal demikian peri,
Ke dalam istana baginda berlari,
Menjuruh memanggil hulubalang menteri,
Menundjukkan tjahaja, sambil berdiri.

Kepada wazirnja baginda berkata:
“Ajuhai mamanda, tjoba tjerita,
Tjahaja apakah demikian njata,
Belum pernah dipandang mata.

Selama hidup, wahai menteri,
Tak pernah melihat demikian peri,
Keterangan harap segera beri,
Tjahaja apakah hidjau berseri?”

Wazir mendjawab dengannja segera:
“Ampun tuanku radja negara,
Pada patik empunja kira,
Itulah tjahaja Batara Indera.

Sungguhpun patik berkata begitu,
Dalam hati belumlah tentu,
Karena djauh bukan suatu,
Di negeri asing tempatnja itu.

Tjahaja nan bukan di negeri kita,
Karena sajup dipandang mata,
Djika tuanku hendakkan njata,
Titahkan orang memeriksai serta.

Pada patik empunja hemat,
Itulah tentu suatu ‘alamat,
Entah dunia hendak kiamat,
Baik diperiksai dengan tjermat.

Baginda mendengar sembah wazirnja,
Merasa berkenan dalam hatinja,
Iapun masuk kedalam istananja,
Diatas peraduan membaringkan dirinja.

Tetapi baginda tak dapat lena,
Karena hatinja gundah gulana,
Terkenangkan tjahaja suatu makna,
Belum diketahui dengan sempurna,

Demikian halnja semalam-malam,
Tinggal berbaring di atas tilam,
Hatinja sangat gundah di dalam,
Memikirkan tjahaja sebagai nilam.

Setelah siang sudahlah hari,
Baginda semajam di balairung sari,
Dihadap oleh perdana menteri,
Rupanja lesu tiada terperi.

Wazir melihat paduka ratu,
Bermuram durdja, berhati mutu,
Hatinja pilu bukan suatu,
Tunduk menjembah ketika itu.

Wazirpun lalu segera berperi:
“Ampun tuanku mahkota negeri,
Apakah sebab demikian peri,
Tiada sebagai sehari-hari?

Mengapa tuanku berhati pilu,
Adakah musuh hendak memalu,
Berilah tahu, duli penghulu,
Biarlah patik mati dahulu.”

Baginda tersenjum manis berseri,
Mendengar sembah wazir bestari,
Sukanja tidak lagi terperi,
Dengan perlahan bagian berperi.

Lemah lembut baginda bersabda:
“Ajuhai wazirku usul jang sjahda,
Suruhkan orang djangan tiada,
Mentari tjahaja di mana ada.

Siapkan kelengkapan mana jang perlu,
Supaja mereka segera berlalu,
Tanjakan orang hilir dan hulu,
Sebelum didapat hatiku pilu.

Apabila tjahaja sudah didapati,
Hendaklah mereka kembali pasti,
Supaja aku bersenang hati,
Djika tiada, tentulah mati.”

Tatkala wazir mendengar titah,
Iapun tunduk, lalu menjembah:
“Ampun tuanku duli chalifah,
Titah tuanku benarlah sudah.

Biarlah patik pergi sendiri,
Bersama dengan seorang menteri,
Segenap negeri patik edari,
Tiada patik merasa ngeri.”

Demi sultan mendengar kata,
Hatinja sangat bersukatjita:
“Ajuhai wazirku usul jang po’ta,
Kuserahkan kepada Tuhan semesta.

 

Bersambung.

(293)

Ken Miryam Vivekananda Fadlil Ken Miryam Vivekananda Fadlil adalah mantan pengajar di Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Indonesia. Kini, pemerhati kearifan lokal untuk pendidikan anak usia dini ini menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta sekaligus ketua divisi pendidikan Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *