Home Bernala Melihat Mata Anis Matta
7

Melihat Mata Anis Matta

371
7

Di satu hari di ujung November, seorang pemuda berdiri di sebuah podium. Dia mengenakan jas tak berkancing dengan kemeja putih di dalamnya. Nada bicaranya tenang, tak meledak-ledak. Sorot matanya tajam. Mata itu milik seorang Anis Matta.

Kala itu, Anis Matta, pimpinan Partai Keadilan Sejahtera, sedang bicara dalam Seminar Forum Guru Besar Universitas Indonesia, Jumat, 28 November 2013. Di sana, Anis membentangkan gagasannya mengenai Indonesia masa silam, masa kini, dan masa depan.

Hari ini, agaknya, tak ada pimpinan partai, ataupun mereka yang sering tampil di televisi, yang berbicara soal gagasan. Biasanya, kalau bicara tentang Indonesia, atau apapun itu, semua sudah dianggap selesai. Semuanya sudah jadi, semuanya sudah terkunci, yang tersisa hanya perkara teknis atau siasat sosialisasi (lengkap dengan anggarannya yang dinanti-nanti).

Namun, Anis berbeda. Nampaknya dia hendak membaca ulang semua itu; membuka ruang diskursus tentang apa dan bagaimana Indonesia. Maka terhormatlah dia dan orang-orang yang berpikir.

Dalam catatan sekadarnya ini, saya akan menyebut Anis Matta dengan ‘Ustadz’. Mengapa? Sebab saya dan Anis Matta berasal dari faksi yang sama: Islam. Tapi saya bukan orang Partai Keadilan Sejahtera. Sebutan itu adalah kebiasaan orang Islam dalam menyebut seorang mualim atau guru dalam rangka memajukannya selangkah sembari meninggikan marwahnya. Dan begitu pulalah saya menyapa Ahmad Heryawan usai melakukan peliputan pemilihan gubernur Jawa Barat dua periode silam. Saya harus menekankan kata “usai”, sebab penyebutan istilah kita itu dilarang dalam proses pekerjaan saya, yang hasilnya akan dilihat oleh banyak faksi.

Pidato Ustadz, yang di-upload di situs youtube.com pada 28 November 2013, terbagi dalam beberapa bagian. Dan saya hanya menyaksikan bagian pertama dan kedua, serta sedikit bagian dalam tanya jawab. Entahlah jika ada sekian bagian lagi setelahnya. Saya pun tak membaca tulisan Ustadz yang, sebagaimana dikatakan pada mula-mula pidato, dimuat di Jakarta Post.

Oleh karena rujukan saya adalah lisan, bukan tulisan, maka tentu saya takkan mendalaminya secara penuh. Saya hanya akan membuat poin-poin untuk direspon. Dalam pelisanan, pemikiran seringkali memang menjadi tertinggal di kepala. Atau, ia justru meluncur spontan tanpa olahan. Lisan memang tidaklah seketat tulisan dalam mengkonstruksi jalan cerita.

Dalam pidatonya, Ustadz mengkonstruksi perjalanan Indonesia dalam babak demi babak. Ustadz menyebutnya gelombang satu, dua, dan tiga. Sekilas, ini membawa ingatan kita pada “Gelombang Ketiga”-nya Alvin Toffler, orang Amerika Serikat, kala membaca perubahan era dunia dari dahulu hingga era informasi.

Tapi, tindakan mengambil pola ini tak mengapa. Inspirasi bisa datang dari mana saja. Persoalan hanya muncul jika pola suatu bacaan diambil dari luar dan diletakkan di sini begitu saja. Ibarat meletakkan tatakan kue segitiga pada kue yang bersegi empat. Dan begitulah kita menyaksikan Indonesia hari ini, dimana pemikir-pemikirnya lebih tampak sebagai juru bicara pemikir-pemikir atau revolusioner-revolusioner Eropa.

Begitu kira-kira pendapat saya. Barangkali saya salah.

Jadi begini.

Pada mulanya, Ustadz menyebut gelombang pertama itu ada pada kurun waktu sampai dengan tahun 1945, setelah sebelumnya dijajah Belanda, Inggris, Portugis.

Bagi saya, ini terlalu menyederhanakan persoalan. Semoga Ustadz tak ikut-ikutan pada pemahaman yang mengatakan Indonesia dijajah 350 tahun, atau berapapun angkanya, yang berdampak pada penyeragaman dinamika atau dialektika sekian kaum yang faktanya beragam.

Di Sumatera Timur, Belanda adalah salah satu investor. Bukti perdagangan negara-negara kerajaan di Eropa ini kini hadir melalui teknologi, yakni e-book. Sebut saja buku berjudul Sumatera East Coast yang terbit pada 1910. Di dalamnya termuat kontrak-kontrak dagang, tidak saja dari perusahaan-perusahaan asal Belanda, tetapi juga perusahaan-perusahaan asal Inggris dengan negara-negara kesultanan Islam di Sumatera Timur, yang jangka waktu kontrak karyanya –meminjam bahasa hari ini– ada yang sampai tahun 1986. Di sini, kita mengenal istilah ‘tanah jaluran’.

Dan, mengapa pula Jepang tak disebut-sebut sebagai penjajah, Ustadz?

Tapi, fakta ini tentu saja tak menggugurkan negeri-negeri yang berperang dengan Eropa. Hanya saja, jalan ceritanya beragam, tak tunggal. Ada yang berlawan dengan Eropa sembari menjadi staf Jepang, pun ada yang berlawan dengan Jepang dan staf-stafnya sembari berkawan dengan Eropa.

Ustadz menyebut bahwa pada abad-abad ini, abad dimana Eropa ada, struktur dasar masyarakat-masyarakatnya adalah etnis, dan struktur atau format politiknya adalah kerajaan-kerajaan.

Untuk hal ini, saya setuju, tapi tak penuh. Selain etnis, struktur dasar masyarakat juga beralaskan pada agama. Kita tentu belum lupa atas apa yang disebut ‘adat bersendikan syara, syara bersendikan kitabullah’, atau ‘adat barenti ko syara, syara barenti ko kitabullah’, kata orang Sumbawa. Di sini, Islam dan etnis sudah seperti zat dengan bendanya. Hal ini sebanding dengan Bali yang bersendikan Hindu.

Dan pola beralas etnis-agama ini tidak kemudian berhenti di hadapan konsep negara baru. Ia menembus dimensi waktu dalam bentuk yang hari ini berbeda: provinsi dan atau kabupaten/kota. Sebagai contoh kasat mata, coba kita lihat komposisi perkauman dari gubernur/bupati/wali kota, wakil gubernur/bupati/wali kota, dan sekretaris daerah di banyak wilayah.

(371)

1

Kemudian, Ustadz juga menyatakan bahwa untuk melihat masalah, pertimbangan sejarah harus dipentingkan dibanding pertimbangan politik dan hukum. Sebab, Indonesia ini negara besar dan majemuk.

Nah, kalau hal ini saya setuju penuh, Ustadz. Hari ini memang lahir dari rahim hari kemarin.

Etnis-etnis kecil dan kerajaan-kerajaan kecil tak bisa dipertahankan kecuali bisa menemukan suatu ikatan politik baru, begitu kata Ustadz. Dan, proses mencari ikatan sosial dan politik inilah yang disebut ‘menjadi Indonesia’. Untuk itu, kita mencari ikatan sosial dan politik yang lebih besar, yang melampaui ikatan-ikatan primordial.

Ya. Dan pada akhirnya, ikatan primordial yang dianggap kecil itu kemudian ditransformasikan menjadi suatu bentuk primordial dengan wilayah yang lebih luas. Tapi, bukankah nasionalisme itu juga suatu bentuk primordial, Ustadz? Lantas, bagaimana nasib entitas primordial lama itu? Berdosakah ia hingga harus ditinggalkan? Mukhlis PaEni, Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia, dari Bugis, juga mengatakan hal serupa dengan Ustadz. Tapi, PaEni menyebut Indonesia sebagai super-nasionalis. Dan beberapa yang lain menyebutnya supra-lokal.

Soal ikatan primordial, Islam yang datang pada kerajaan-kerajaan itu, yang kemudian disebut kesultanan, sebetulnya sudah melakukan koreksi. Pada masanya, pegangan orang Melayu adalah ‘pantang Melayu mendurhaka’. Begitu Islam masuk dan meluas menjadi agama negara (berbentuk kesultanan), pepatah itu berubah menjadi ‘raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah’. Bukankah imam pun bisa dikoreksi jika melanggar tradisi dalam salat?

Dan demikianlah etnis-etnis yang Ustadz sebut kecil itu sebetulnya sudah meluas ikatannya kala berjumpa dengan Islam.

Ustadz menyebut bahwa puncak dari proses menjadi Indonesia ada dua, yakni Sumpah Pemuda dan Proklamasi 1945. Pada Sumpah Pemuda, kita mendeklarasikan diri sebagai bangsa baru. Dan pada proklamasi kita mendeklarasikan diri sebagai negara.

Rasanya teks asli yang disebut “Sumpah Pemuda” itu sudah banyak keluar di buku-buku dan internet. Tak ada kata ‘sumpah’ dalam teks itu. Yang ada adalah ‘hasil kerapatan pemuda’. Dan apakah mereka, anak-anak sekolah yang ikut dalam kerapatan itu, adalah delegasi dari wilayah-wilayah adat atau negara-negara kesultanan Islam yang ada? Orang Islam di kepulauan ini sudah lama memiliki pemerintahan dengan coraknya sendiri. Di masanya, Islam memang meng-upgrade bentuk dan dinamika masyarakat. Karenanya, ia bukanlah sekumpulan orang-orang yang baru hidup dengan sistem. Fenomena adanya gambar bulan bintang di banyak negara kesultanan, pun dengan warna kuningnya, sejatinya adalah suatu kode tersendiri tentang adanya sebuah persekutuan untuk membentuk suatu tamadun.

Ustadz pun menyatakan bahwa “Sumpah Pemuda” memberikan dasar-dasar dari bangunan sebuah bangsa. Gampang menyepakati soal tanah air; gampang menyepakati nama bangsa karena nama ‘Indonesia’ sudah ada sejak pertengahan abad 19.

Lagi-lagi, dalam teks aslinya, kerapatan itu tak ada menuliskan kata ‘tanah air’, yang ada hanya ‘tanah’. Taufik Abdullah pernah menguraikan apa makna “tanah” itu. Dan soal nama ‘Indonesia’, ia memang sudah ada sejak 1850 dalam The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia Vol. 4. Karena teknologi, sumber-sumber primer ini kini bisa mudah sekali kita akses.

Di jurnal itu pula kita kemudian mengetahui bahwa nama ‘Indonesia’ merupakan sinonim atau upaya memendekkan suatu istilah yang panjang: ‘Indian Archipelago’ yang, demi membedakan kepulauan ini dengan wilayah lain, ditambah dengan istilah ‘nesia’ dari Yunani-atas usulan George Samuel Windsor Earl (1813-1865), seorang putih dari Inggris.

The name Indian Archipelago is too long to admit of being used in an adjective or in an ethnographical form. Mr Earl suggest the ethnographical term Indu-nesians but reject it in favour of Malayunesians. For reasons which will be obvious on reading a subsequent note, I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. We thus get Indonesian for Indian Archipelagian or Archipelagic, and Indonesians for Indian Archipelagians or Indian Islander, tulis Logan dalam jurnal tersebut.

Dan konsep wilayah ‘Indonesia’ dalam benak Logan tersebut terbentang dari Sumatera hingga Formosa.

Yang rumit itu, kata Ustadz kemudian, adalah menyepakati satu bahasa. Kenapa bukan bahasa Jawa yang menjadi bahasa nasional? Kenapa bahasa Melayu yang penggunaannya minoritas secara etnis?

Pertama-tama, lagi-lagi, harus ditegaskan bahwa dalam teks aslinya tak ada yang disebut ‘bahasa yang satu’, yang ada adalah ‘bahasa persatuan’. Dan argument Ustadz agaknya memang sebunyi dengan argumen yang sering mengemuka dalam menafsirkan mengapa bahasa Melayu yang digunakan dan bukan yang lain. Di sini saya menyadari, orang memandang masa silam dari hari ini, dari kacamata non-Melayu, tapi dengan sekian judgment khas hari ini. Maksudnya, siapalah yang tahu mana luas wilayah Indonesia pada 1928 itu. Jika merujuk pada Logan, maka bentangannya jauh lebih dahsyat lagi. Jadi, kemana sesungguhnya kita harus merujuk? Ke masa silam atau ke masa kini?

Soal bahasa Melayu yang digunakan oleh minoritas, mari kita sekejap tengok ke belakang. Mukhlis PaEni menyebutkan bahwa pada awal abad 16 sudah ada catatan tentang adanya orang-orang Melayu di tanah Sulawesi. Tapi, siapakah orang-orang Melayu itu? Mereka adalah orang-orang dari negeri Pahang, Patani, Campa, Minangkabau, dan Johor. Hari ini, mereka terbelah dalam empat negara: Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Indonesia. Kemudian hari, arus ini berbalik: orang-orang Bugis merantau ke Sumatera dan Semenanjung.

(371)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

Comment(7)

  1. menarik sekali. meskipun pun terlambat saya juga baru menulis tentang #gelombangke3 Bung Anis di sini http://sejarah.kompasiana.com/2014/01/29/gelombang-ketiga-anis-matta-penihilan-sejarah-islam-nusantara-628035.html walau pun lebih pendek karena memang saya usahakan sesingkat mungkin, selain dasarnya untuk menanggapi tulisan Bung Anis di Jakartapost.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. bagian pertentangan ideologi tolong dicermati, ustadz bilang prtentangan ideologi yg tdk seberapa itu ada di gelombang pertama, sebelum 1945. Ustadz TIDAK mngatakan bahwa pertentangan ideologi di gelombang kedua itu tidak seberapa.
    Di bagian akhirnya ustadz jg mnyatakan “itulah waktunya terjadi pertentangan yang sangat sengit pada waktu itu”. Pada waktu itu mnurut saya merujuk pada kalimat setelah merdeka, berarti setelah 1945

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Sampai hari ini belum ditemukan apa itu budaya nasional , maka bersyukurlah kita bahwa budaya daerah itu masih ada dan lestari . Sekali lagi bhineka tungga ika tan hanna dharma mangrwa .

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Yang menarik dari tulisan Anda adalah karena Anda tertarik. Saya khawatir bahwa pikiran sang Ustadz semakin hari dianggap tidak menarik karena teoritis, panjang dan terkesan menulis ulang sejarah.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. yang mengkerdilkan bahasa melayu itu adalah orang yang cara pikirnya yg menganggap bahasa melayu itu seperti bahasa malaysia saja. tapi, kenyataan nya bahasa melayu itu sangat banyak ragamnya. mulai dari logat o, a, e pun ada.

    di riau sendiri kebanyakan berlogat o tapi tidak memupuskan akan jati diri sebagai orang melayu

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  6. @Bang Tengku Dhani Iqbal, Begini’ bah Bang Iqbal, mengenai “Bahase Melayu” yang selalu dinyatekan oleh orang-orang keturonan Dai Nippon Unitaris-Republikan tu bahwe yang becakap Bahase Melayu yang dimaksod tu minoritas secare etnis, tak laén dan tak bukan karene yang dimaksodkannye sebagai “Melayu” tu hanyelah sebesa’ Riau, yang selaén itu tadaklah dianggap sebagai “Melayu”. Karene itu pulak disebot-sebotkannyelah bahwe “bahase indonesia” tu berakar dari Bahase Melayu Riau. Dan hal inilah yang kemudian membuta’kan mate kawan-kawan dari Riau yang tak sadar bahwe penyatean tesebot sebenarnye secare tak langsung merupekan penyatean yang mengeci’-kan “Melayu”, yaitu Melayu yang seakan-akan hanyelah sebesa’ Riau. Kawan-kawan dari Riau tibe-tibe menjadi mabok dan bebangge-bangge dengan suatu kebanggean semu nan hampe, yaitu merase diri’nye Superior, kemudian secare tak langsung juga’ sebenarnye sikap tesebot semacam jadi menginferiorkan Melayu-Melayu Negeri laénnye. Padehal yang sebenarnye kite ni Bangse Melayu same-same diinferiorkan oleh Pusat Kekuasean, kite Bangse Melayu ni same-same dianggap sebagai minoritas oleh Negare Kesatuan Rupe-blék Indonesia ni, dan hal itu tebukti dari Pidato-nye Sang Ustadz tu.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *