Home Sastra Saimin dan Kertas-Kertas
0

Saimin dan Kertas-Kertas

34
0
A.P. Edi Atmaja.

Kulihat Saimin melakukan apa yang biasa dia lakukan. Dengan memegang pena-tanpa-tutup di tangan, dengan mulut terkatup dan gigi bergemeletuk, dia mencoret-coret kertas-kertas itu. Kertas-kertas yang bertebaran di jalanan. Kertas-kertas yang beterbangan tertiup angin, berlarian ke sana ke mari. Saimin kenalanku itu buru-buru mencomot selembar kertas dengan tangannya yang kurus, lantas mencoret-coretnya. Melakukan apa yang biasa dia lakukan.

Kertas-kertas itu tak sebersih yang kau kira. Kertas-kertas itu bekas pakai mahasiswa yang kampusnya berada di seberang jalan. Mahasiswa yang rezekinya berlebih, sehingga tak merasa berdosa membuang kertas-kertas di sembarang tempat dia suka. Sebagaimana barang-barangnya yang lain, yang apakala tak dia suka, dengan mudah dia campakkan begitu saja.

Kadang sobatku Saimin sering sewot sendiri melihat mahasiswa yang kelakuannya seperti orang tak pernah kena air bah. Alpa bahwa kertas-kertas bisa menggalang persatuan, berjamaah menyumpal aliran air, lantas mencelakakan manusia. Sobatku itu pun jengkel menerima kenyataan, mahasiswa yang kelakuannya laiknya orang tak pernah kena air bah itu begonya minta ampun, tak mengerti kalau selembar kertas diperoleh dari pembabatan berhektar hutan.

Walakin, berdasarkan hasil penelitian yang dihelat mahasiswa, mahasiswa yang kelakuannya mirip orang tak pernah kena air bah itu ternyata jumlahnya kian menanjak dari masa ke masa. Saimin terlalu capek jika harus sewot dengan mahasiswa-mahasiswa yang semakin banyak itu. Maka yang kini dilakukannya cuma memungut kertas-kertas yang dicampakkan orang sembarangan, kemudian menulisinya, mencoret-coretnya, melakukan apa yang biasa dia lakukan.

***

Kujumpai Saimin lagi berjongkok, tampak sedang bergelut dengan kertas bekas bungkus makanan yang digoreng.

“Apa yang kau tulis, Min?” tanyaku.

“Maklumat revolusi,” kata dia, ogah menoleh barang sedikit pun padaku.

“Buat siapa maklumat itu?”

“Buat dekan, dosen, mahasiswa. Siapa saja yang pernah bersentuhan dengan kertas ini.”

“Kertas yang kau tulis itu? Kamu yakin mereka pasti pernah menyentuhnya?”

“Oh, tentu saja aku yakin. Hakkul yakin malah. Kertas ini kan datangnya bisa dari mana saja ta, dari siapa saja? Aku pengin menyiapkan maklumat juga buat warga, Pak RT, Pak RW, Pak Lurah, Pak Camat, Pak Gubernur, Pak Kapolsek, Pak Kapolres, Pak Kapolda, Pak Dandim, Pak Bupati, Pak Walikota, Pak Menteri, dan Pak Presiden. Pokoknya, semua pihak yang pernah berutang-budi pada kertas bakal aku beri maklumat tanpa kecuali.”

“Begitukah? Memang apa isinya?”

“Peringatan supaya mereka jangan macam-macam sama kertas. Jangan sepelekan kertas. Kalau tak mau kertas-kertas melumat jabatan mereka, status mentereng yang kini mereka sandang.”

***

Aku pernah beranjangsana ke rumah Saimin suatu kali. Ayah-ibunya dulu tetangga sebelah rumahku. Mereka sekeluarga pindah ke kota K lantaran sang ayah mendapat mutasi. Rumah Saimin terletak di kampung elite K. Sejauh mata memandang, rumah-rumah megah melulu yang kelihatan. Kuketuk pagar rumah yang, buset, benar-benar tinggi itu, sembari berdoa, semoga di baliknya tak jadi tempat persembunyian anjing galak.

Ayah dan ibu Saimin menerimaku dengan keramahan yang sama sekali tak berubah semasa mereka bertetangga denganku. Mereka berbincang padaku, bertanya kabar keluargaku, keadaan kampung, dan profesiku di K, kemudian menawariku supaya sesekali menginap. Aku sampaikan salam dari ayah-ibuku di kampung dan berterima kasih atas tawaran mereka itu, yang sangat tak wajar—alih-alih langka—di kota sebesar K.

Penasaran, aku menanyakan kabar rekan jailku kala sama-sama mengaji di langgar dulu, Saimin, yang tak muncul-muncul juga dari tadi. Mendadak gurat kesedihan berkelebat di raut muka mereka.

Anak semata wayang mereka itu hilang entah ke mana, tak pernah memberi kabar dan berita. Sudah sejak lama, menurut keterangan ayah-ibu Saimin, anak mereka jarang pulang ke rumah. Pulang pun sering cuma buat singgah sebentar, habis itu pergi lagi. Mirip kalong. Usut punya usut, Saimin adalah aktivis pers mahasiswa yang terbilang radikal. Sekarang, sudah 187 hari sejak dia dinyatakan hilang oleh polisi. Ayah-ibunya mulai lupa bagaimana cara mencemaskan bujang mereka itu.

Beberapa minggu kemudian, aku mendapat kabar dari ayah-ibu Saimin, Saimin telah ditemukan. Aku pun segera berkunjung kembali ke sana, tak sabar hendak bersua dengan teman masa kecilku itu. Namun, kali ini pun gurat kesedihan ayah-ibu Saiminlah yang pertama kali kusaksikan. Saimin, putra tunggal mereka itu, keturunan mereka satu-satunya, telah sinting otaknya. Saimin ditemukan di kolong jembatan, dalam keadaan acak-acakan, sebagaimana orang gila pada umumnya. Cobaan apatah yang lebih berat dari ini, bagi orangtua yang sebentar lagi mesti melewati masa senja itu?

***

Saimin, pelupuk matanya gelap dan berat lantaran jarang dipakai buat tidur, berteriak-teriak. Sebagai penganut marxisme garis-keras, dia merasa perlu berbuat demikian biar omongannya didengar dan tak bisa dibantah lagi. Apalagi, di sini, jabatannya cukup tinggi, sehingga tiada alasan bagi para bawahan dan/atau mereka yang jabatannya cuma pantas dipakai sebagai ganjalan pintu, tak menyepakati apa yang dia katakan.

Dan, di markas satu lembaga pers mahasiswa yang sempit seumpama sarang tikus itu, mereka sedang berdebat seru soal apakah liputan investigasi itu perlu diadakan atau tidak. Saimin, karena berpendapat bahwa liputan itu mempunyai nilai revolusi yang mantap, dengan segenap kemampuan oratorisnya memprovokasi semua orang yang hadir.

“Pers harus berani. Ini baru tahap permulaan, Kawan. Kalau perlu, pejabat rektorat target kita selanjutnya,” katanya berapi-api.

Dari sekitar belasan yang hadir, cuma Tono yang dengan gigih terus menyanggah.

“Tapi, Bung, kita mesti paham risiko apa yang bakal kita terima kalau liputan ini kita eksekusi. Apa teman-teman di sini siap menanggung risiko terberat. Drop-out, misalnya?”

Mengacuhkan bisik-bisik sebagai reaksi atas pernyataan Tono, Saimin buru-buru menangkis.

“Saudara Tono ini rupanya pengecut. Kalau mau cari aman, lebih baik jangan ikut pers, Bung.”

Tono memutuskan keluar dari organisasi yang dia ikuti sejak lama itu—bahkan lebih lama ketimbang Saimin. Liputan itu sendiri jalan terus dengan komando langsung Saimin.

***

Kucoba temui pria itu sekali lagi sebelum aku berangkat. Aku naik jabatan dan perusahaanku memutasiku ke kota lain. Sebelum meninggalkan K, aku ingin sekadar mengucapkan salam perpisahan kepada sobatku Saimin, meski aku yakin pasti dia tak bakal bisa mengenaliku sebagai teman masa kecilnya, yang dulu sering berkejar-kejaran dengan Pak Yai karena kami berkaraokean memakai mikrofon langgar di malam buta.

Kutemukan dia, sekali lagi, sedang berkutat dengan kertas-kertas di hadapannya. Lusuh seperti biasa, rambutnya acak-acakan, cambangnya serabutan ke mana-mana. Kali ini dia bersandal yang, tentu saja, dekilnya bukan main.

Di balik bola matanya yang mengilat-kilat seumpama mata bajak laut yang mendeteksi keberadaan harta karun—kegairahan setiap kali dia tenggelam dalam kertas-kertas—bisa kuterawang kegetiran hidup. Betapa nasib telah mempermainkannya sedemikian rupa. Nasib yang lebih berkuasa ketimbang manusia dan segala daya-upayanya.

Liputan yang dia lakukan beserta beberapa kawannya sempat membuat kehebohan besar di kampus. Tulisan itu betul-betul bikin geram pihak yang bersangkutan. Beberapa kali dia mesti berurusan dengan polisi karena kampusnya ternyata tak sedemokratis yang disangka-sangka. Digebuk preman suruhan pun sudah berkali-kali dia rasakan. Namun, dia tak jua kapok dan terus melawan, menyiapkan serangan-serangan balasan kepada pihak yang punya kuasa besar di kampus itu.

Perlawanan demi perlawanan tak henti darinya rupanya tak diimbangi dengan keteguhan dalam membina kekompakan tim. Rekan-rekannya sesama jurnalis kampus satu demi satu menyerah lantaran tak tahan menghadapi tekanan yang begitu rupa, yang datang nyaris dari seluruh elemen kampus. Ketika akhirnya dia memutuskan hendak menyerah, pemecatan kuliahlah yang dia terima dengan bonus cercaan di segenap penjuru sebab sikap angkuhnya tak disukai banyak orang. Dia telah jadi pejuang yang terempas dari ambisinya yang menggebu. Dia gagal. Dia pun jadi gila, dan menggelandang tanpa tahu ke mana mesti menuju, hingga ditemukan ayah-ibunya.

Tak tahan terkungkung di tembok sempit bernama rumah, sobatku Saimin menggelandang kembali. Kali ini dengan pengawasan orangtuanya. Tempat favoritnya adalah trotoar kampus tempat dia dan mahasiswa-mahasiswa lain menghabiskan waktu di sela kuliah—dulu, dulu sekali. Di situ, dia bebas menulis tanpa perlu kehabisan kertas, karena di situ kertas-kertas berserakan di mana-mana, dicampakkan begitu saja oleh empunya, mahasiswa yang kelakuannya seperti orang tak pernah kena air bah.

***

Saimin. Aku bisa melihat penolakan demi penolakan yang telah diterimanya melalui guratan-guratan mata-pena yang dicoret-coretkannya ke kertas-kertas. Guratan-guratan yang menandakan, meski kewarasan telah loncat dari raganya, spirit Marx masih bercokol kuat di alam bawah-sadarnya.

Aku tinggalkan dia, biarkan dia terus bercakap dengan kertas-kertas. Dia masih tenggelam dalam maklumat revolusinya. Dia masih terus menggenggam secarik kertas. Kertas berwujud buletin, dengan judul kepala “Ilusi Pemilihan Dekan”.

Mangkang, 20092011

(34)

A.P. Edi Atmaja A.P. Edi Atmaja lahir di Kendal, 17 Juni 1990. Pengelola galeri tulisan Sastra Kelabu ini pernah menjadi Pemimpin Redaksi Lembaga Pers Mahasiswa "Gema Keadilan" Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah. Pendidikan Program Magister Ilmu Hukum juga diselesaikannya di universitas yang sama. Saat ini dia bekerja sebagai pemeriksa di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *