Home Featured Nelayan Langkat Melawan

Nelayan Langkat Melawan

130
0
Suasana ketika 800 nelayan Perlis datang ke Dusun I Kuala Gebang, Langkat. Foto: Dokumentasi Wan Ulfa Nur Zuhra.

 

Pagi itu, Senin (21/1), 50 perahu motor bergerak dari Perlis menuju Kuala Gebang. Masing-masing perahu motor berisikan enam sampai delapan orang. Suparman, salah seorang nelayan berusia 25 tahun, turut di dalamnya.

Perlis dan Kuala Gebang sama-sama berada di Langkat, Sumatera Utara. Yang pertama berada di Kecamatan Brandan Barat, yang terakhir di Kecamatan Gebang. Kuala Gebang sendiri merupakan nama baru untuk Kuala Serapuh. Keduanya adalah wilayah tradisional Melayu yang juga dihuni oleh macam-macam puak, termasuk Tionghoa di Kuala Gebang.

Saat Suparman dan kawan-kawan dari Perlis tiba di Kuala Gebang, tepatnya di Dusun I, suasana sedang sepi. Sebagian besar warganya sedang ada hajatan di Tanjung Pura. Di saat itulah warga Perlis ini mencari kapal pukat gerandong. Satu demi satu kapal mereka ambil, dibawa agak ke tengah laut, kemudian dibakar. Tak kurang dari dua buah kapal pukat gerandong kena bakar.

Kapal itu milik seorang pengusaha bernama Syailendra Damanik. Orang-orang menyebutnya Haji Len. Dia warga Belawan, Medan. Saat itu, beberapa warga yang kebanyakan berasal dari Tionghoa hanya menonton saja.

Tapi, begitu kapal ketiga hendak diambil, muncul perlawanan. Dengan kapal yang jauh lebih besar, perahu-perahu motor Perlis dikejar dan ditabrak. Dua kena. Perlawanan di pesisir laut ini membuat perahu yang ditumpangi Suparman terbalik, dan terus ditabrak.

Jika satu perahu motor berisikan maksimal delapan orang, maka dengan 50 perahu motor berarti ada 400 orang yang dibuat tunggang langgang. Dan sampai saat ini, belum diketahui siapa yang menabrak perahu-perahu motor itu.

Yang jelas, kejadian ini membuat Suparman kehilangan nyawanya. Sementara Saparuddin, pemuda 28 tahun yang seperahu dengan Suparman, hilang. Adapun Syamsul, 32 tahun, dalam keadaan kritis. Satu perahu nelayan hingga kini belum ditemukan. Sedangkan 23 nelayan ditangkap polisi.

Selang empat takat lima jam dari kejadian itu, sekitar 800-an nelayan Brandan Barat, Sei Lapan, dan Tanjung Pura datang ke Dusun I Kuala Gebang lewat jalur darat. Mereka membawa senjata tajam. Di sana mereka menuntut penjelasan atas keberadaan pukat gerandong yang masih saja beroperasi, termasuk menuntut supaya 23 orang rekan mereka yang ditangkap dilepaskan. Selain itu, mereka juga mempertanyakan siapa yang menabrak perahu rekan mereka.

Karena tak juga mendapat penjelasan, nelayan-nelayan mengambil tindakan. Mereka membawa tujuh kapal pukat gerandong ke laut. Dua dibakar, sisanya disandera.

Banyaknya jumlah nelayan yang datang ini membuat warga Dusun I tak ada yang melawan. Siang menjelang sore itu, polisi sudah ada, tapi mereka hanya berdiri.

Keesokan harinya, Selasa, 800-an nelayan tadi bergerak menuju Markas Kepolisian Resor Langkat di Jalan Proklamasi, Stabat. Mereka naik truk, beberapa naik kereta (motorcycle). Di sana mereka menggelar aksi, menuntut pembebasan 23 rekannya. Gerimis tak goyahkan tekad mereka.

 

(130)

1

Di markas polisi itu, tepatnya di Aula Keamanan dan Ketertiban Masyarakat, perundingan pun digelar. Hadir Wakil Kepala Polisi Resor Langkat Sofwan Khayat; Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Langkat, Ali Mukti Siregar; Camat Babalan, Faisal Matondang; Camat Sei Lepan, Wagino; Camat Brandan Barat, Akhyar; Camat Secanggang, Ibnu Hajar; Direktorat Kepolisian Perairan Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Komisaris Polisi Revol; dan seorang perwakilan nelayan bernama Bukhari. Kepala Polisi Resor Langkat sendiri tak hadir karena bermalam di Gebang pascapembakaran kapal.

Selama perundingan ini, nelayan tetap melakukan aksi di depan markas polisi. Saat itu, tiba-tiba saja sebongkah es mengenai kepala salah seorang demonstran. Entah dari mana, entah siapa yang melempar.

“Aduh, aku dilempar!” teriak seorang demonstran.

Suasana mulai tegang. Kericuhan pun tak terhindarkan. Nelayan-nelayan Langkat melempari polisi dengan batu dan kayu. Kaca pos polisi pecah terkena lemparan batu.

Tak lama, terdengar suara tembakan dari polisi yang dilepaskan ke udara. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Hanya saja, suara itu bukannya membuat situasi mereda, nelayan-nelayan Langkat justru semakin terlihat berang.

Bentrokan ini mengaburkan tuntutan aksi nelayan. Alih-alih membebaskan 23 rekan mereka yang ditangkap, 55 nelayan Langkat ditahan karena kejadian ini. Sementara itu, lima polisi terluka kena senjata tajam.

Sejumlah polisi Langkat berjaga-jaga di Kuala Gebang. Foto: Wan Ulfa Nur Zuhra.

 

Seluruh nelayan yang ditangkap kemudian diperiksa polisi. Satu dari 23 nelayan yang ditangkap di Kuala Gebang dan 39 dari 55 nelayan yang ditangkap di markas polisi, dibebaskan. Sehingga, keseluruhan nelayan yang ditangkap berjumlah 38 orang, yang kemudian dibawa ke Markas Kepolisian Daerah Sumatera Utara.

Kuala Gebang Dijaga
Di hari yang sama, ketegangan juga muncul di tempat lain. Penduduk Dusun I Kuala Gebang mengungsi ke rumah sanak saudara di Brandan dan Tanjung Pura. Mereka takut. Saat itu, muncul kabar bahwa akan ada serangan susulan ke wilayah mereka. Dusun mendadak sepi. Kedai-kedai tak buka.

 

(130)

Wan Ulfa Nur Zuhra Wan Ulfa Nur Zuhra adalah jurnalis di Medan, Sumatera Utara.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *