Home Bernala Tragedi Lenyapnya Lumbung Pangan
0

Tragedi Lenyapnya Lumbung Pangan

39
0

Nenek saya berumur sekitar 90 tahun. Sebagai orang yang dibesarkan dalam kultur agraris dan tak pernah mengenyam pendidikan formal, dia memiliki cara berpikir yang kokoh mengenai mengenai gabah. Jika bapak saya panen, dia selalu marah ketika gabah tidak dibawa pulang ke rumah. Dia selalu marah ketika orangtua saya menjual gabah karena terdesak kebutuhan uang.

Pandangan tersebut menyiratkan sinergi mikrokosmos dan makrokosmos manusia Jawa secara umum. Pangan adalah ejawantah dari makrokosmos, di mana ketersediaannya mesti ada di rumah. Dan rumah sebagai wujud mikrokosmos mesti memiliki hubungan yang erat dengan gabah dan pangan. Lekatnya mitologi Dewi Sri dalam kosmologi manusia Jawa menjadi penanda dekatnya makna kesuburan sawah, ketersediaan pangan, dan penghormatan kepada sawah (Sumintarsih, Jurnal Jantra, Vol. II, 2007).

Pangan menjadi kebutuhan primer manusia untuk bertahan hidup. Ketersediaan pangan adalah keharusan bagi masyarakat, juga negara, jika tak ingin lenyap ditelan peradaban. Sejarah mencatat, eksistensi berbagai kerajaan hancur karena kegagalan mereka dalam politik pengelolaan pangan (Maryoto, 1999).

Dunia kini menghadapi krisis pangan. Baik karena faktor alam (anomali cuaca/iklim) maupun faktor manusia (kapitalisme dan kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan miskin). Maka, mengurai silang sengkarut masalah pangan mesti berhasil pula menaklukkan dua musuh sekaligus: alam dan manusia.

Alam adalah kekuatan lain (the other power) yang hadir bukan karena kuasa manusia. Kendati begitu, manusia dituntut kreatif dan sebisa mungkin tepat membaca gejala alam dan kemudian menyiasatinya. Menyiasati alam (rekayasa pertanian) adalah melepaskan ketergantungan manusia pada alam (secara an sich) dalam menghasilkan pangan.

Musuh lain bernama “manusia”. Yang mesti ditaklukkan di sinilah adalah mengendalikan laku para pengambil kebijakan dan politisi yang banyak menjadikan pangan sebagai komoditas politik. Segala kebijakan berkaitan dengan pangan harus mengedepankan kepentingan masyarakat luas daripada keuntungan pribadi dan kelompok politisi.

Tragedi Ketahanan Pangan
Tragedi pangan juga bermula dari gagalnya manusia melakukan strategi ketahanan pangan. Tingkat produksi pangan menurun karena lahan pertanian beralih rupa menjadi lahan industri. Rumah toko (ruko), kompleks perumahan, dan bangunan lainnya banyak berdiri dengan menghilangkan lahan pertanian produktif. Sementara, laju pertambahan penduduk tak mungkin dibendung.

Dalam masyarakat yang berkultur agraris, ketersediaan pangan adalah keniscayaan yang tak bisa diganggu gugat. Pinsipnya, mereka boleh tak ber-sandang (berpakaian) atau tak ber-papan (memiliki rumah) yang layak asal ketahanan pangan mereka tetap terjaga stabil. Dalam kultur masyarakat lokal-pedesaan, kita mengenal adanya lumbung pangan sebagai alat ketahanan pangan.

Lumbung tidak hanya berfungsi ekonomis-arsitektural melainkan berkelindan dengan nilai-nilai transendental dan spiritual. Di Jawa Tengah, kita mengenal gerobog, semacam peti besar untuk menyimpan gabah kering. Gerobog biasanya ditempatkan di sentong (ruang khusus yang sering menyatu dengan kamar orangtua).

Dari sini kita melihat fungsi arsitektural sentong dan kamar orangtua yang sakral bersama dengan gerobog. Beras juga sering ditaruh di sentong. Artinya, anak-anak tak boleh sembarang masuk ke sentong dan kamar orangtua. Dengan demikian, mereka tak leluasa mengambil gabah dan beras. Hanya orangtua yang boleh mengambil sumber pangan itu. Di Banten, Suku Badui hidup dengan ketahanan pangan dalam bentuk lumbung padi yang disebut leuit. Terdapat dua jenis bangunan leuit, yakni lenggang dan gugudangan serta dua macam leuit, yakni leuit bersama dan leuit keluarga. Tak sembarang hari orang boleh memasuki leuit karena terdapat bermacam pantangan (Maryoto, 2009).

Dalam skala nasional atau keseluruhan, kita memiliki lumbung pangan bernama Badan Urusan Logistik (Bulog) yang berfungsi sebagai media ketahanan pangan. Badan ini tidak hanya penyimpan beras untuk kebutuhan nasional, tapi juga mesti merumuskan kebijakan harga beras agar produsen (petani) dan konsumen (bukan petani gabah) sama-sama tidak dirugikan.

Tetapi, di lumbung ini pula korupsi merajalela. Bulog menjadi rebutan para politisi karena di situlah “lahan basah” untuk mengeruk keuntungan pribadi. Banyak mantan kepala Bulog yang kemudian duduk sebagai pesakitan di pengadilan karena dakwaan penyelewengan jabatan. Sakralitas lumbung pangan dalam skala nasional lenyap.

Ekonomi Pangan
Modernisme melenyapkan gerobog karena kulturnya tak ditopang oleh masyarakat adat yang kuat. Sementara leuit masih bertahan seiring eksistensi suku Badui yang menjadi penyangga kultur lumbung padi. Banyak yang masih memiliki gerobog tapi tidak digunakan untuk menyimpan gabah. Lenyapnya gerobog adalah seiring dengan derap kapitalisme-modernisme yang berlari kencang.

Menurut intelektual muslim Muhammadiyah, Zuly Qodir, pada dekade awal 1990-an, industrialisasi merebak di Indonesia, menggeser mereka yang berkultur agraris. Belanja menjadi medium pembentukan masyarakat sebagai kelas sosial baru; menjadi konsumer akibat melimpahnya barang-barang produksi pabrik. Masyarakat berbondong-bondong bekerja di pabrik.

Perubahan ini punya konsekuensi: hilangnya sakralitas sawah sebagai tempat masyarakat menyandarkan kebutuhan pangannya. Petani menanam padi tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari. Kebutuhan lain juga mesti dicukupi agar para petani bisa bertahan hidup untuk mengejar zaman yang tidak bersahabat dengan orang-orang yang mempertahankan tradisinya.

Dalam konteks bagaimana modernisme bisa bersanding erat dengan tradisi, Jepang dan Korea Selatan adalah contoh baik. Petani dari kedua negara maju di Asia Timur ini pernah melakukan demonstrasi untuk menentang liberalisasi pasar beras domestik. Usaha petani padi harus dilindungi, terkait dengan keyakinan penghormatan terhadap nenek moyang mereka sebagai petani padi (Khudori, 2008).

Kebutuhan sekunder dan tersier (benda-benda rumah tangga, pendidikan) yang tak dikenal oleh nenek moyang mereka pun muncul di masa sekarang. Namun, hal ini tak diimbangi dengan kemampuan mencari sumber ekonomi lainnya. Pada akhirnya, sawah tidak lagi menjadi penyelesaian urusan pangan, tapi juga solusi kebutuhan hidup yang lain.

Para petani kini lebih banyak menjual padi mereka kepada tengkulak yang melakukan ekspansi sampai ke persawahan. Sebelum padi dipanen, transaksi jual beli telah terjadi. Petani tak lagi membawa pulang hasil panen. Dengan harga jual padi, mereka akan menghitung berapa biaya tanam dan perawatan padi, baru membeli beras yang (mungkin) mereka tanam sendiri.

(39)

Junaidi Abdul Munif Direktur el-Wahid Center, Universitas Wahid Hasyim, Semarang, Jawa Tengah.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *