Home Sastra Sajak-Sajak Setiadi R. Saleh
0

Sajak-Sajak Setiadi R. Saleh

83
0
Setiadi R. Saleh.

Surup Nama-Mu

Ya Allah Yang Maha Batin
Demi catatan kaki hari yang mengisi perjalanan
Jangan ada celah tempat bernaung bisikan maut mengisi paru-paru

Ya Allah Yang Maha Sunyi
Rentangkan jasad fana ini
Di bahu-bahu jalan
Atau di sarang-sarang manyar
Kembalikan pekerti elok dari tangan memeram api

Aku lelaki lapuk
Gampang runyam disantap maut
Kepinding dan kelabang, tikus-tikus dan kecoa, kutu dan buku-buku
Satu memadu-madu dalam gapaian risau
Bukan lalu waktu yang kutunggu
Atau guliran maksud yang mendatangiku

Ya Allah Yang Maha Kudus
Jangan Kau gagalkan daging dan ruh ini
Biarkan aku pulang dalam keutuhan
Menetaskan ibadah kembara
Dari raut yang memuliakan kehidupan

Aku di mana
Rasanya di mana-mana ada aku

Tapi tak kukenal lagi
Namamu ya Allah
Surup semakin surup
tak sunyi dalam kabut

 

Kelana [Singkarak]

Ombak garang mengusir pasir
Pendaran benda langit bertepek kemerah-merahan

Sudah sepagi ini
Sabit bulan mengawini awan
Kepala lokomotif membelah pagi
Peluit berdesing

Danau Singkarak

Aku di ufuk sunyi
Kejap dalam kefanaan
Hawa ketakutan menakuti
Sejauh ini aku terbuang
Menginjak pulau
Kembara, kelana
Berkemah, bermukim
Bertambat

 

Rantau Panjang – Peureulak
Sajak buat: Djuriah

Aku mabuk kepayang bilamana mengenang buai-buaian
Bukan dalam ziarah atau penentram doa
Dari dentang hari lain
Hari baru yang membuatku menyapa tersenyum dan meronta
Tiap kali aku menetapkan langkah, kau saja yang kuingat

Aku lupa tanggal, luput tahun, juga bulan kematian
Mungkin Februari atau April

Waktu itu, perjalanan Medan-Langsa malam hari, hujan
Aku duduk di depan
Dan sirene ambulan menjerit-jerit tiap kali memasuki gerbang kota

Kini sekian tahun bunga di tepi kubur mulai merapuk
Urat-urat kamboja semakin tegap
Semakin lancang mencakar-cakar
Rumput liar dan karat pagar menggetarkanku

Suatu masa kematian pasti merayu, tapi bukan di sini

Di batu-batu dingin, di atas para-para
atau di jendela rumah Tuhan yang terbakar

Ma, boleh kucium kenangan lampau di Rantau Panjang yang elok?
Di rumah panggung setengah papan separuh bata
Pada pandangan kolam temaram, ladang kopi, pokok randu, dan alang-alang

Beberapa tahun kemudian aku kesana, ke Rantau Panjang-Peureulak
Ya Tuhan,
Atap rumbia, masjid, musholla, jembatan, sungai, jalan-jalan,  masih seperti dulu
terutama Kampung Besar

Pulut panggang, kopi, kue kara, sukun goreng
Ah, serasa belum sirna seluruhnya
Namun, batinku tergerai bagai sajak lama
Manis bunyinya, indah langgamnya

Mamaku sayang, rindu ini senantiasa harum
seperti ceritra pantun akar leluhur

 

Mata Permenungan

Kaki gelombang menggempur cakrawala
Dan apabila bintang-bintang subuh bergerak
Angin mendesau mengemudikan mega-mega
Matahari mata hari ini menyimpan peristiwa
Ikrar ditiupkan
Pertarungan itu mulai ada di udara
Meruap bagai pertemuan pertama
Dan apabila sayap malam merebah
Kerjap cika meniti cahaya
Doa dialunkan, rasa dibuaikan

Hidup bukan soal kalah-menang
Hidup soal pengikhlasan, kerelaan
Jiwa mesti tumbuh bersama seroja
Meski lumpur menggigit, seroja tenang, dan bersahaja
Merdeka dalam keserderhanaan

Percayalah,
Perlu keberanian mengubah umur menjadi berisi
Menjadi maju, menjadi penderu
Memberi kasih, memberi teduh

Untukmu diri yang digayuti
Berusahalah menjadi sumber
Menjadi mata permenungan
Menjadi hidup dalam ingatan

 

Risau

Ketika surya mengerkah menggambari telaga
Aku terlahir sebagai pepohonan tempat bernaung para musafir
Takdir yang kubaca setiap pagi percampuran ziarah nafsu
Muslihat ibadah
Penistaan, dan sekuntum batin yang koyak
Aku malu menjadi pena, menghirup tinta alam raya
Melawan badai dengan ucapan

Duhai Yang Maha Sunyi
Maha Menggenggam kapal-kapal di samudera
Yang menghimpun butiran embun
Yang meniupkan gulita, yang menyempurnakan peraihan cita
Jangan kau kerucutkan dunia orang mati
Ke dalam batin yang disemaki amarah
Jangan kau perintahkan iblis mematahkan anggrek bulan di taman
Jangan kau bantingkan amalan-amalan
Doa-doa, pahala-pahala, atau kekayaan cinta, asam kasih sayang
Sihir yang menerbangkan duri
Kekasih yang menerbitkan gentar
Keluarga yang mengatur irama sajak
Kerabat yang patah harap
Gadis baju merah yang mengubah degup menjadi derap

Ya Allah Yang Maha Kudus
Jangan kau ringkus tulang belulang ini
Jauhkan aku dari kekejian
Tempuhkanlah batin ini supaya mulia,
Jemputlah aku ya Allah pada saatnya nanti
Pada usia yang bermakna,
Umur yang dipagari rahmat

Sejukanlah pendambaan ini
Gemerlapkanlah ufuk tempatku menuju

Berilah kemuliaan pada mereka
Yang mempersambungkan tali usus
Yang menggugurkan kealpaan

Tiap kali falak astral menutup layar
Aku risau, usia muda terasa begitu abadi

Mestinya aku beranjak
Tidak sepi begini lagi

 

Mendayung Angin Sampai Karang Langit

Aku merindukan baju putih teluk belanga
Merindukan celana panjang putih
Merindukan sepatu bucheri tak bertali
Merindukan rambut panjang melampaui bahu
Rasanya teduh bila rambut mengambang di penghulu pena
Dan kemudian dalam sekejap kertas-kertas meratap seperti reruntuhan rinai
Dan kata-kata bagai sayap malaikat
Dan buku kehidupan seperti bintang-bintang menggempur jubah setan
Dan cita-cita besar
seperti mendayung angin
menundukkan laut merah
di kaki cakrawala

Aku membaca sajak di mercu suar
Menghadap bahu dermaga
Lampu-lampu seperti rangkaian bianglala
Dan ketika tiang kapal merapat
Tali-tali tambang menjadi simpul sihir
Camar dan penyu mencoba mengerti aku
Desau nyiur dan lembayung mengguruiku
Kepalan gelombang seperti mulut raksasa
Memuntahkan ludah buih
Pasir-pasir menjadi prosa
Aku meraup kemerdekaan melaut lepas
Menggulung bibit pertikaian

Karang langit adalah bahtera pengarungan
Tapa dari semua karsa

Seumur hayat aku merindukan
Kekasih yang tidak menjadikan cinta sebagai kepala berhala sebagai sesembahan

Kalbuku gentar
Manusia dan batu adalah kayu bakar

Semoga umurku dipenuhi rahmat
Hingga pulang ke rumah Tuhan dalam batin tentram
Di kala segala sesuatunya sudah kukerjakan dengan pertobatan iman
Dengan pengikhlasan

(83)

Setiadi R. Saleh Setiadi R. Saleh adalah penyair asal Langsa (Aceh Timur) dan kemudian menetap di Medan (Sumatera Utara). Usai menamatkan kuliah dan bekerja di Bandung (Jawa Barat), kini ia kembali berdomisili di Medan. Karya-karya sastra dan esainya dimuat di sejumlah media massa di Medan, Jakarta, dan Bandung.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *