Home Featured Ketika Minangkabau Merasa Terhina
7

Ketika Minangkabau Merasa Terhina

441
7
Surau bergonjong dan rangkiang dan poster film “Cinta Tapi Beda”. Gambar: diolah oleh LenteraTimur.com/Arif Budiman.

 

Buk…”
“Ya, Pak.”
“Kok aku kepikiran karo putrinya Mas Tris.”
“Nje… nje… neng Sleman, trus nendhi?”
“Kalo dijodoh ke karo Cahyo gimana?”
“Kemaren Titian itu bilang sama ibu, rupanya Cahyo baru dekat dengan orang Padang. Penarinya Titian.”
“Gadis Minang? Hebat itu ibadah e.”
“Insya Allah. Amin Pak. Nje.”

Terjemahan:
“Bu…”
“Ya, Pak.”
“Aku terpikir putrinya Pak Tris.”
“Ya… ya… yang di Sleman, terus bagaimana?”
“Kalau dijodohkan dengan Cahyo bagaimana?”
“Kemarin Titian bilang sama Ibu, rupanya Cahyo baru dekat dengan orang Padang. Penarinya Titian.”
“Gadis Minang? Hebat itu ibadahnya.”
“Insya Allah. Amin Pak. Ya.”

Dialog di atas adalah petikan dialog berbahasa Jawa antara Fadholi dan Munawaroh, orangtua Cahyo, dalam film Cinta Tapi Beda (2012). Film dari Jakarta yang disutradarakan oleh Hanung Bramantyo asal Yogyakarta ini mengisahkan rencana perjodohan Cahyo dengan salah seorang kerabatnya di Sleman, Yogyakarta. Namun, kabar kedekatan Cahyo dengan gadis lain juga berhembus. Tak menolak, orangtua Cahyo justru menyambut baik kabar tersebut. Apalagi, gadis itu adalah seorang Minang yang taat ibadahnya.

Tapi, harapan berbeda dengan kenyataan. Calon menantu gadis Minang, yang dibayangkan hebat ibadahnya itu, ternyata bertolak belakang dengan keyakinan akidahnya. Di sini, petaka pun lahir. Film karya Bramantyo ini menuai kontrovesi dari Minangkabau. Dia dianggap memelintir negeri yang menetapkan Al-Quran sebagai landasan adatnya.

Beda Keyakinan
Diana (diperankan Agni Pratistha), gadis Minang yang menjadi tokoh utama dalam film ini, adalah seorang Kristiani yang taat. Orangtuanya (Jajang C Noor) tinggal di Bukittinggi, Sumatera Barat. Untuk melanjutkan studi tugas akhirnya di bidang seni tari, dia menetap di rumah pamannya di Jakarta. Dalam perjalanan terkait tugas akhir tersebut, dia berjumpa dengan Cahyo (Reza Nangin), pemuda Yogyakarta yang disosokkan sebagai muslim yang taat.

Perjumpaan itu lama-lama menuai cinta di kedua orang tersebut. Hari demi hari mereka berinteraksi dengan penuh kasih sayang dan saling menghormati perbedaan keyakinan yang ada. Dengan tekad bulat, Cahyo kemudian membawa Diana ke rumah orangtuanya. Dan di sana, Diana yang Kristen itu ditolak. Hal serupa juga dilakukan ibu Diana yang tak mengharapkan putri bungsunya jatuh pada lelaki yang tak seakidah. Ibunya malah memperkenalkan Diana dengan Dokter Oka (Choki Sitohang), Kristiani yang taat. Tapi, Diana menolak.

Tak pelak konflik keluarga membayangi sepasang anak muda ini. Niat kuat lalu membuat Diana dan Cahyo mencoba menikah secara sembunyi-sembunyi. Hanya saja, usahanya itu terbentur di Kantor Urusan Agama (KUA) yang juga tak membolehkan menikah beda agama.

(441)

1

Simbol-Simbol Minangkabau
Usai ujian tugas akhir, Diana langsung dibawa orangtuanya ke Sumatera Barat. Dengan pesawat terbang, mereka mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Padang Pariaman. Pemandangan ranah Minang yang terkenal dengan gonjong atap rumah gadangnya tervisualkan menyambut kedatangan para tamu. Diana dan orangtuanya langsung ke Bukittinggi, tempat tinggal mereka. Kembali gonjong atap rumah gadang dan Jam Gadang yang menjadi landmark kota Bukittinggi ditampilkan dalam visual gambar nan elok.

Selama berada di wilayah Luhak Agam (Bukitinggi masuk dalam wilayah inti Minangkabau, kota ini berada di luhak Agam) itu, Diana kabur dari rumah untuk menemui Cahyo di Jakarta. Tapi malang, ibunya yang mengetahui pelariannya itu jatuh sakit dan sampai harus dirawat di rumah sakit Achmad Mochtar di Bukittinggi.

Saat cerita ini berlangsung, lagi-lagi ditampilkan identitas Minangkabau berupa gonjong atap rumah Gadang yang menjadi atap rumah sakit ini.

Diana yang sudah di Jakarta untuk melepas kerinduannya dengan Cahyo akhirnya balik ke Bukittinggi. Di saat itulah dokter Oka mencoba meyakinkan hati Diana. Dua anak muda yang seagama ini saling bercerita akan perasaan-perasaan mereka. Dialog-dialog mereka ini terjadi di Pasa Ateh (Pasar Atas) Bukittinggi dan berlanjut ke Janjang Saribu (Tangga Seribu).

Di Janjang Saribu ini ‘roh’ Minangkabau betul-betul menampakkan diri. Percakapan-percakapan dua insan yang seagama ini diiringi musik tradisional Minang, Saluang. Saluang itu ditiup oleh seorang gaek (datuak/datok/atok/kakek) dengan kopiah hitam dengan posisi Duduak Baruak (Duduk Monyet) pas di tepi tangga. Pemandangan gonjong-gonjong atap rumah gadang dengan latarbelakang pegunungan yang eksotik pun ditampilkan mengiringi bunyi Saluang.

Percakapan mereka pun berlanjut ke atas Jumbatan Limpapeh (Jembatan Limpapeh), masih di Bukittinggi. Di sini, pemandangan kembali diarahkan pada gonjong atap rumah gadang yang dipasak di tiang-tiang jembatan.

Saat itu, dokter Oka berhasil meyakinkan Diana. Dan resepsi pernikahan pun digelar. Saat diana sedang dirias, nampak tabia di dinding-dinding ruangan tempat dia didandani. Tabia adalah kain dengan ukuran besar berwarna merah (salah satunya) dan dihiasi motif-motif Minangkabau dengan sulaman benang emas. Tabia ini hanya digunakan untuk acara-acara sakral di Minangkabau, dan paling sering digunakan ketika Baralek (pernikahan) adat Minang. Tabia biasanya seperangkat dengan Palaminan atau singgasana Anak Daro dan Marapulai atau pengantin wanita dan pria di Minangkabau.

Pengucapan janji pernikahan lantas dilangsungkan di Gereja. Hanya saja, Diana dilanda kebimbangan. Dan akhirnya dia tak menjawab janji pernikahan itu. Dokter Oka pun memutuskan untuk tak menikahi Diana. Sementara ibu Diana kemudian memberikan restu pada Diana untuk menemui lelaki idamannya yang bekerja sebagai pemasak itu.

(441)

Arif Budiman Arif Budiman lahir di Minangkabau, Sumatera Barat. Saat ini ia beraktivitas sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, angkatan 2008. Pria yang lahir pada 1990 ini sangat berminat pada jurnalisme. Dan hal yang paling ia sukai adalah melakukan peliputan; bergumul dengan fakta-fakta di lapangan. Ia pernah menjadi reporter pada majalah sekolah P’Mails yang diterbitkan oleh koran terbesar di Padang (Padang Ekspres Group) dan penulis di situs resmi dinas pendidikan kota Padang, Selain itu, ia juga pernah melakukan peliputan dalam kegiatan Festival Seni Internasional 2008 di Yogyakarta. Kini ia adalah perwakilan sekaligus desainer LenteraTimur.com di Yogyakarta.

Comments with Facebook

Comment(7)

  1. Manga pulo si hanung nan kanai bangih?, inyo cuman pion sajo tu nyo, tukang! Nah caci lah kelompok sijundai singkek nan maagiah pitih ka si hanung ko, baru tapek!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Kalau bicara tentang minang,udah pasti islam. Tidak ada org minang yang beragama lain kecuali islam. Kalian yang tidak mengerti apa2 tentang minang,jangan asal bicara. Apalagi Sampai membuat film !!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Ini org mau mnciptakn SARA,siap2 ajalh kalian,n brpa kalian dibayarnya??

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. saya sebagai warga muslim jogja juga lelah dengan karya hanung yang sok liberal dan sok beda…….saya dukung saudaraku masyarakat minang menentang film ini!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
    1. Sepakat mas! Mokasih dukuangannyo!

      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
      VA:F [1.9.22_1171]
      Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Kendati pergerakan jaman memang membuat Bukit Tinggi atau Padang menjadi sedikit homogen secara sosiologis, lantas apakah merasuknya keyakinan seiring perkembangan perkotaan dapat dijadikan preseden bagi sebuah entitas minang….?

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Ambo sebagai urang minang . . Manuntut maaf dr hanung . . Jan ditaruihan penayangan x

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 5.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *