Home Featured Merdang Merdem, Pesta ala Petani Karo
0

Merdang Merdem, Pesta ala Petani Karo

56
0
Salah satu atraksi di Merdang Merdem. Foto: Muslim Ramli.

 

Pesta tak biasa yang diadakan berhari-hari. Mengumpulkan sanak famili hingga ajang mencari jodoh. Dentuman musik hingga beragam tarian mengemuka. Inilah Merdang Merdem, pesta ala Petani Karo.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Pertengahan Oktober lalu, Desa Tanjung Barus punya agenda besar. Mereka mengadakan Merdang Merdem, atau Kerja Tahun. Mulai anak-anak, pemuda, sampai orang tua sudah berkumpul sejak satu jam sebelum acara dimulai.

Tanjung Barus adalah sebuah desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Karo sendiri merupakan daerah pegunungan. Cuacanya dingin. Tanahnya subur. Kondisi demikian membuat hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai petani. Macam-macam yang mereka tanam. Selain padi, mereka juga menanam sayur-sayuran dan buah-buahan. Sebut saja stroberi, jeruk, atau wartel, untuk kemudian dipasok ke Medan hingga Aceh.

Merdang merdem sendiri diselenggarakan di jambur. Di Karo, jambur adalah bangunan tak berdinding yang berukuran 20 x 20 meter. Bangunannya terbuat dari kayu dengan atap yang terbuat dari seng. Tapi, di tempat lain, jambur mulai dibuat dari beton. Ada dinding sekitar satu meter untuk sekadar bersandar atau duduk-duduk. Pada hari biasa, bangunan ini digunakan sebagai tempat rapat atau jual beli hasil panen dan keperluan sehari-hari.

Elkana, Kepala Desa Tanjung Barus, menjelaskan bahwa Merdang Merdem merupakan sebuah pesta besar-besaran sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Seharusnya, pesta ini diselenggarakan selama enam hari hingga satu minggu penuh.

Kegiatan di dalam hari-hari peringatan Merdang Merdem berbeda-berbeda. Untuk hari pertama, yang merupakan bagian awal dari persiapan menyambut Merdang Merdem, ditandai dengan kegiatan mencari kor-kor. Kor-kor adalah sejenis serangga yang biasanya ada di dalam tanah. Serangga ini nantinya dijadikan lauk makanan.

Setelah mencari kor-kor, di hari kedua mereka mencari cikurung, juga sejenis serangga namun hidup di sawah. Sama seperti hari pertama, cikurung juga dijadikan lauk makanan. Di hari ketiga, mereka mencari ndurung. Ndurung adalah jenis ikan yang hidup di sawah dan sungai. Di hari itu, penduduk satu kampung makan dengan lauk ikan. Ikan yang ditangkap biasanya ndurung mas, yakni lele yang biasa disebut sebakut.

Di hari keempat, atau sehari menjelang hari perayaan puncak, kegiatan ditandai dengan mantem atau motong. Hari itu penduduk kampung memotong lembu, kerbau, dan babi untuk dijadikan lauk. Hari kelima, matana. Matana artinya hari puncak perayaan. Pada hari itu, semua penduduk saling mengunjungi kerabatnya. Setiap kali berkunjung, semua menu yang sudah dikumpulkan semenjak hari kor-kor, cikurung, ndurung, dan mantem, dihidangkan. Pada saat itu semua penduduk bergembira.

Hari keenam adalah nimpa, yang ditandai dengan kegiatan membuat cimpa, makanan khas Karo, yang juga biasa disebut lepat. Bahan dasar cimpa adalah tepung terigu, gula merah, dan kelapa parut. Cimpa biasanya dijadikan hidangan tambahan setelah makan.

Hari ketujuh, rebu, yang merupakan hari terakhir dari serangkaian pesta enam hari sebelumnya. Pada hari tersebut tidak ada kegiatan yang dilakukan. Tamu-tamu sudah kembali ke tempat asalnya. Semua penduduk berdiam di rumah. Acara kunjung-mengunjungi telah selesai.

Meski demikian, belakangan masyarakat umumnya menyelenggarakan pesta tersebut hanya dalam dua hari, yakni Jumat dan Sabtu. Sebabnya sederhana: susah mengumpulkan dana dalam jumlah besar untuk menggelar pesta selama tujuh hari. Untuk mengadakan acara dua hari ini, panitia membutuhkan dana sekitar Rp. 25 juta. Setiap hari ada panitia yang bertugas mengumpulkan dana.

“Semua dana dari masyarakat. Mereka menyumbang dalam bentuk uang. Kalau panen bagus, ya, mereka nyumbang banyak,” ujar Elkana.

Bahkan, tak jarang juga pesta sama sekali tidak diadakan jika panen sedang jelek.

Meski demikian, tak selamanya faktor dana menjadi kendala digelarnya Merdang Merdem. Ada juga faktor sanak famili yang sulit dikumpulkan.

“Banyak anggota keluarga tidak di kampung lagi. Mereka kebanyakan merantau untuk bekerja dan sekolah di luar sana,” terang Elkana.

Malam itu Elkana tetap sibuk memantau jalannya acara. Sesekali dia mengecek panitia demi memastikan agenda malam itu tidak berantakan, meski tidak ada agenda khusus dalam pesta kali ini. Pesta ya pesta. Artinya, hiburan digelar semalam suntuk, mulai dari pukul sepuluh malam hingga subuh. Setelah sesi pembukaan dengan tarian Karo, secara bergantian masyarakat yang datang kemudian berjoget dan bernyanyi bersama.

Biasanya, yang usia lebih tua akan lebih dulu meninggalkan jambur untuk pulang ke rumah. Pada saat itulah kesempatan muda-mudi untuk berpesta hingga pagi.

“Biasanya, kalau ada pesta kayak gini, ada aja yang dapat jodoh,” ujar Elkana tertawa.

Malam itu, tepat pukul 24, saya dengan seorang rekan, Anggita Maini, menumpang di salah satu rumah warga untuk menginap. Rumah itu berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu. Luasnya sekitar 6 x 6 meter. Dinding rumah dihiasi dengan beberapa foto keluarga, lukisan, dan patung Yesus. Di beberapa sudut lain, pemilik rumah sudah menggelar tikar dan sejumlah selimut tebal untuk tidur.

Di rumah itu, kami mendengar lebih banyak cerita mengenai Kerja Tahun dari sang kepala desa. Tak hanya kepala desa, tokoh desa, dan beberapa pemuda setempat juga ada di sana. Salah satu pemuda adalah Usaha Barus, pakar pertanian asal Karo yang pernah mengajar di Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat.

“Ya beginilah adat kami. Bisa dikatakan di dunia ini cuma ada di sini pesta semacam ini,” ujar Usaha Barus tentang acara Merdang Merdem di kampungnya.

Hanya saja, dia menyayangkan acara adat semacam ini semakin tergerus zaman. Tidak banyak lagi kampung yang mengadakannya. Alasannya adalah modernisasi.

“Kalau dulu hampir semua desa pasti mengadakan Kerja Tahun ini,” keluh Usaha.

Usaha mengatakan, acara semacam ini sudah seharusnya dipertahankan. Kerja Tahun bagi orang Karo sama halnya dengan lebaran. Pesta semacam ini hanya sekali dalam setahun. Semua keluarga akan berkumpul, dan mereka yang di perantauan akan pulang.

Malam semakin dingin. Pemilik rumah membawakan hidangan makanan. Ada dodol dan timphan. Timphan adalah jenis kue yang terbalut dari daun pisang yang terbuat dari tepung dan isi kelapa.

“Kalau lagi Kerja Tahun, semua rumah di kampung ini adalah rumah kita. Kami juga bisa makan dan tidur di rumah manapun. Rumah ini terbuka untuk siapa saja, contohnya malam ini,” ujar Usaha.

Selama Kerja Tahun berlangsung, tambah Usaha, semua masyarakat tidak boleh pergi ke ladang. Menurutnya, ini adalah bentuk syukur, jadi semuanya harus berbahagia.

 

(56)

Muslim Ramli Koordinator Online Pers Mahasiswa Suara Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *