Home Sastra Kilang Minyak di Tengah Sawah
0

Kilang Minyak di Tengah Sawah

54
0
Yonathan Rahardjo

Aku menelepon Watporo. Dia sedang menulis. Kami bersepakat untuk bertemu di tempatnya, SMA Anak Bangsa Bojonegoro. Pukul 15.06 aku berangkat dari rumah meluncur ke situ. Dia sedang sibuk menulis tentang tips melanjutkan kuliah bagi siswa lulusan SMA. Menunggu beberapa saat sampai tulisannya selesai sambil membuka internet dan turut mengedit ejaan tulisannya, akhirnya kami berangkat. Setelah aku dan dia ke rumah guru tempat tinggalnya di depan sekolah, dan aku menaruh sepedaku di dalam, kami berboncengan menuju jalan raya.

Watporo cuma mengenakan kaos T dengan ransel besar berisi kamera, satu-satunya isi. Aku juga hanya mengendakan kaos T dan cuma membawa tas kusuh berisi jaket tebal dan sepasang atasan-bawahan jas hujan. Jalan aspal mulus, lalu bergelombang, lalu mulus lagi. Angin berkesiur di wajah dan telingaku, rambut seperti terbang.

“Ini jalan karya Bupati Suyoto,” kata Watporo saat melewati jalan mulus. “Tapi hanya pendek. Selanjutnya jalan jelek lagi. Lalu mulus pendek, kemudian jelek terus.”

Sepeda motor bebek Watporo terus terbirit-birit melaju. Angin terasa makin kencang, aku keluarkan jaketku dari tas dan kupakai menutup dada.

“Kalau lihat bangunan bagus di kanan-kiri jalan. Itu hotel. Lihat juga ada bangunan bagus makanan cepat saji ‘Quick Chicken’, itu semua milik orang jauh,” katanya.

Mataku pun menajamkan penglihatan melihat, dalam perjalanan itu, perubahan wajah Kecamatan Kalitidu yang kami lewati.

Watporo terus menancap gas. Jalan aspal juga melintasi jembatan di atas sungai anakan. Sawah dan sedikit pepohonan di tepi-tepinya masih ada yang tersisa sebagaimana masa silam. Terus melaju, di sebelah kanan jalan berdiri proyek bangunan. Pembangunan tampaknya sudah sampai pada separuh tahap.

“Itu hunian untuk pegawai Eson,” kata Watporo.

Sampai di Clangap, di perempatan jalan tampak pengatur lalu lintas membawa bendera. Bukan, mereka bukan polisi. Mereka berpakaian proyek, bertopi proyek, katelpak proyek, dan bersepatu bot proyek. Belok kiri ke jalan yang dijaga orang-orang proyek itu, udara berbeda baunya. Bau minyak! Paru-paruku yang sensitif bau asing membuatku dapat dengan mudah merasakan beda kandungan udara di daerah ini.

Kendaraan besar pengangkut pipa-pipa besar lewat, orang-orang proyek dengan pakaian lusuh berlumur minyak berjalan berlawanan arah dengan kami. Langit sudah menggelap. Ini jam kerja yang di titik henti. Mereka pulang kerja, pastinya. Wajah-wajah rumah penduduk sebagai latar pemandangan berjalannya orang-orang proyek menyiratkan taraf hidup berselubung tanya. Terus menuju ke arah selatan, di sebelah kiri jalan terdapat proyek yang kontras kondisinya dengan rumah-rumah penduduk.

“Ini tempat penampungan minyak yang ditambang, hanya sebagian kecil, cuma sebagai syarat bahwa Bojonegoro juga mendapat bagian,” ungkap Watporo.

“Yang lebih banyak disalurkan ke mana?”

“Tuban.”

Truk-truk besar beraktivitas di lokasi ini. Truk lebih besar kami jumpai lagi di perempatan jalan sebelah selatan lagi. Orang-orang proyek kembali tampak sibuk di situ, mereka mengatur lalu lintas juga. Warung-warung dan toko-toko kecil sederhana bertabur di sisi kanan jalan itu.

Dari situasi sepanjang jalan tadi, tampak pemandangan kontras antara perumahan penduduk yang masuk katagori sederhana dan banyak yang jelek, berkebalikan dengan kendaraan-kendaraan besar pengangkut alat berat, dan yang tadi terlewatkan disebut: mobil-mobil mewah.

Watporo mengarahkan sepeda motornya belok ke kanan.

“Kita menuju lokasi utama. Ya, semua lokasi yang kita lewati inilah yang disebut-sebut dan diramaikan pembicaraan sebagai Blok Cepu. Inilah pusat Blok Cepu,” ujarnya.

Cabang jalan yang kami lewati kini juga beraspal mulus, sebagaimana jalan masuk dari jalan raya tadi. Jalan ini sungguh berbeda dengan yang kudapati saat lewat arah Purwosari ke selatan, yang rusak berat! Kondisi jalan sangat mulus di sini rupanya dibangun dengan satu tujuan: mempermudah transportasi pelaku penambangan minyak Blok Cepu.

Rumah-rumah penduduk kembali sederhana lagi, ada sebagian di antaranya yang bersolek, namun kondisinya sungguh kontras dengan apa yang kami jumpai kemudian di sisi sebelah sana. Rumah paling ujung berbatasan dengan pagar kawat pembatas lahan luas bersemak dan berumput liar, bangunan-bangunan teknologi canggih mengilat memantulkan cahaya matahari. Mesin-mesin dan peralatan modern setinggi raksasa, bahkan ada pipa tinggi menjulang ke angkasa melontarkan api menyala kuning ke langit biru, tanpa henti.

Lokasi penambangan minyak itu berada di lahan luas, yang semula adalah persawahan penduduk. Kini penduduk tak lagi dapat masuk tempat itu. Orang-orang berpakaian proyek dengan lencana bertulis “Security” menjadi anjing-anjing penjaga eksplorasi minyak yang berada di sawah bekas milik penduduk.

Di lokasi ini dulu penduduk bercocok tanam, menggembalakan ternak. Kini mereka tak dapat lagi menjejak masuk, meski setiap hari mereka melihat lalu lalang berbagai kendaraan mewah masuk area yang sudah menjadi negara sendiri, di dalam negara Indonesia.

“Mereka di dalam berbahasa Inggris, karena harus melayani komunikasi dengan orang asing pemimpin dan pelaksana proyek penambangan minyak itu…,” ungkap Watporo.

Kami berhenti di depan sebuah warung di depan lokasi raksasa dengan alat-alat raksasa penyedotan minyak berhalaman ilalang luas. Dua orang berseragam proyek warna biru sedang bercakap-cakap dan ngopi di beranda warung, dengan seorang berpakaian kasual. Aku menuju ke arah situ dan meletakkan tas dan jaketku dan duduk di situ. Watporo langsung masuk memesan mi rebus dan teh hangat, sebagaimana aku pesan saat aku bilang sambil berdiri.

Aku mengambil kripik gadung dan kembali duduk di dekat tiga orang tadi. Watporo memainkan SMS telefon genggamnya di halaman depan warung yang berumput, aku kembali pasang telinga tajam-tajam, menguping pembicaraan dua satpam itu.

Pembicaraan berlangsung sampai akhirnya satpam berpakaian proyek berkumis bertelefon dengan telepon genggamnya. Kudengar kata-kata yang disebut, antara lain, “masjid”, “proposal”, “lurah”, “penduduk”, “keamanan”, “pengeboran pertama”, “taruhannya umur”.

Satpam yang lebih muda dan berpakaian proyek tanpa kumis menyebut-nyebut tentang keharusan orang dalam di lokasi penambangan minyak itu mesti berbahasa Inggris dan keberatannya mengikuti menggunakan bahasa asing ini.

“Mereka yang harus mengikuti menggunakan bahasa kita. Masa kita orang sini pemilik negara ini harus mengikuti mereka yang orang asing. Mestinya mereka yang harus ikut bahasa kita.”

Aku dapat mengambil kesimpulan inti pembicaraan mereka, bahwa sebagai satpam penambangan minyak milik Amerika, mereka bertugas untuk menjaga keamanan aktivitas pengeboran minyak di wilayah itu dari ancaman kerusuhan oleh penduduk. Penduduk ada yang memanfaatkan situasi ini dengan mengajukan kucuran dana untuk kegiatan sosial, dan untuk ini mesti ada proposal yang diajukan. Pengabulan proposal yang diajukan mesti menunggu waktu sebagaimana proses yang berlaku. Satpam tidak dapat sembarangan dalam menjalankan tugasnya terkait semua hal yang bermuara kepada keamanan dan keselamatan aktivitas orang-orang proyek yang bersinggungan dengan penduduk dan masyarakat.

“Taruhannya umur!” kata bertekanan nada ini kudengar dengan jelas.

Di warung depan lahan luas beralat modern mengilat berlampu kuning menerangi malam dan cerobong api yang tak pernah henti menyembur. Mi rebus kumakan ludes, teh hangat kuminum habis. Aku mendapatkan secara langsung informasi tentang situasi penambangan minyak “Blok Cepu” yang terkenal dan jadi adu mulut. Watporo mengakhiri dengan sebuah pertanyaan, “Itu mesin-mesin apa, Pak?” sambil menunjuk lokasi kecil di depan menyamping warung.

“Pompa alir minyak.”

“Dialirkan ke mana?”

“Tuban.”

“Yang untuk Bojonegoro mana?”

“Ada di depan sana, sebagian di situ, sebagian dialirkan ke Tuban.”

Tadi satpam tanpa kumis juga menunjuk satu tongkat tegak berujung runcing yang dia sebut-sebut sebagai penangkal petir. Kami meninggalkan warung itu setelah Watporo membayar makanan dan pamitan kepada satpam-satpam proyek itu. Saat hendak angkat kaki, seorang tentara berpakaian dinas loreng datang ke warung itu. Kedatangannya dari sebuah bangunan kantor militer Pos Gayam yang ada di belakang menyamping warung, di depan proyek besar penambangan minyak Eson Oil, berseberangan dengan lokasi mesin pompa alir minyak tadi.

“Kantor militer itu baru saja didirikan, sebelumnya tidak ada,” kata Watporo. Semua serba baru muncul, termasuk kantor polisi di daerah jalan lebih besar sana. Gayam sendiri mau dijadikan kecamatan, semenjak ada proyek penambangan minyak ini.

Dibonceng Watporo kami menembus kegelapan malam, menuju arah barat, menembus jalan dipagari pepohonan yang hitam gelap. Di sisi sana masih ada sawah luas, dan di tengahnya juga berdiri lokasi megah, berbagai peralatan canggih tampak sebagai logam mengilat kuning tertimpa cahaya lampu halogen. Kami dikelilingi sawah, berdiri di atas jalan, yang kemudian kutahu wilayah apa itu. Aku baru sadar setelah membaca papan di tepi jalan bersemak dan berilalang, “Di bawah sepanjang lokasi jalan ini ditanam pipa-pipa minyak raksasa.”

Di sekelilingku adalah sawah luas, tak begitu kelihatan wajah dedaun padi-padiannya, juga kacang yang mengering, tanah tandus. Malam membekap dengan langit hitam tanpa bintang. Aku rasakan aura gas kekayaan alam di lokasi tempat aku berjejak. Aku berdiri di pusat kekayaan alam, di tanah masa muda ayahku, terhubung bersatu langsung dengan tanah kelahirannya dan tanah nenek moyang ibuku, di kabupaten kelahiranku, Bojonegoro.

Dalam malam gelap hening itu kudengar Watporo berkata sambil memotret-motret surga terang benderang di tengah sawah yang penduduk tak bisa masuk ke dalamnya.

“Sawah itu dulu milik petani sana, dijual dengan harga mahal, dan sekarang di sini berdiri proyek raksasa penambangan minyak.”

“Dan hasil penjualan sawah itu sekarang sudah habis.”

(54)

Yonathan Rahardjo Penulis asli Bojonegoro, Jawa Timur, pengarang novel “Lanang” yang menjadi salah satu Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2006, novel “Taman Api”, novel “Wayang Urip”, Kumpulan Cerpen “13 Perempuan”. Karya tunggal dalam penulisannya yang lain adalah “Avian Influenza: Pencegahan dan Pengendaliannya (2004), antologi puisi: “Jawaban Kekacauan” (2004), dan “Kedaulatan Pangan” (2009). Sejak 1983, puisi, cerita pendek, esai sastra, opini, dan karya jurnalistiknya dipublikasikan pada berbagai terbitan dan media massa. Dia punya pengalaman pada pertunjukan puisi, baca puis, dan syairupa (kolaborasi baca puisi dan melukis). Dia aktif pada sejumlah komunitas sastra, budaya, lingkungan, dan dokter hewan.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *