Home Featured Bahasa Melayu Gorontalo di Luar Kekinian
1

Bahasa Melayu Gorontalo di Luar Kekinian

149
1
James T. Collins.

“Bahasa Melayu dan bahasa Gorontalo itu satu keturunan. Antara Indonesia dan Malaysia, kadang menggunakan istilah serumpun. Tapi sebenarnya yang lebih tepat adalah keluarga.”

James Thomas Collins, pakar linguistik dari beberapa universitas ternama di dunia, mengungkapkan hal tersebut di Gorontalo pada awal November lalu. Dia datang ke Gorontalo dalam rangka Konferensi Internasional Bahasa dan Sastra yang digelar di Gedung Serba Guna Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Konferensi yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Bahasa Universitas Negeri Gorontalo itu bertujuan untuk mendokumentasikan sastra lisan Gorontalo.

Di hadapan peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa, penulis sejumlah buku, di antaranya Bahasa Melayu Bahasa Dunia dan Bahasa Sanskerta dan Bahasa Melayu, itu menjelaskan bahwa pada abad 17, orang-orang Eropa sudah mengetahui dan mengenal bahasa Melayu sebagai bahasa bijaksana dan berwibawa yang begitu berkuasa di Asia Tenggara. Bahasa Melayu digunakan tidak saja dalam transaksi perdagangan, sebagaimana anggapan sementara ini, tetapi juga sebagai bahasa ilmu, bahasa politik, diplomasi, dan bahasa agama.

Melalui layar tancap yang disediakan oleh panitia, James memperlihatkan sebuah surat tua yang pernah ditemukan di dunia, yang jaraknya tidak jauh dari Gorontalo. Surat itu adalah surat Sultan Abu Hayat, seorang penguasa Ternate, yang ditulis dengan menggunakan aksara Arab dan disesuaikan dengan bahasa Melayu.

“Di wilayah Asia Tenggara, bahasa Melayu merupakan penyalur ilmu Islam. Sehingga dapat diperkirakan bahwa bahasa Melayu turut mempengaruhi orang yang memeluk agama Islam di kepulauan yang disebut Indonesia ini,” ujar James usai konferensi.

Orang Gorontalo, kata James, mulai memeluk agama Islam sekitar abad ke-17. Walaupun Ternate sudah lama menganut Islam, namun agama itu agak lambat tersebar di Sulawesi. Makassar disebutkan menganut Islam pada sekitar abad ke-16, yang disusul oleh Bugis. Sementara orang-orang di sekitar pantai teluk Palu dan Donggala disebutkan masuk Islam pada akhir abad ke-18.

Saat masuk ke Gorontalo, Islam membuat pengaruh ke banyak bidang, seperti pakaian, makanan, minuman, dan perspektif dunia. Ia juga menciptakan perubahan pada sistem sosial negeri Gorontalo.

“Nah, mungkin pada abad ke-17 ini mulai terdapat penyerapan kata Melayu, mungkin terdapat juga orang yang sudah dapat menulis dalam sistem tulisan Arab untuk bahasa Melayu. Ini juga merupakan pengaruh bahasa kepada sistem sosial,” kata James.

Menurut James, di Pulau Sulawesi hanya bahasa Makassar, bahasa Bugis, dan juga bahasa Mandar atau Mamuju yang memiliki sistem tulisan yang berdasarkan sistem aksara dari India, dan berkaitan dengan bahasa Sanskerta. Sama seperti bahasa dan tulisan Ternate, hanya tulisan Arab yang digunakan. Tidak ada sistem tulisan sebelum sistem itu.

Bahasa Melayu Gorontalo dalam Ancaman
James memperhatikan bahwa dewasa ini bahasa Gorontalo tak lagi dijunjung penuturnya. Orang sepertinya tidak menganggap penting untuk menyimbolkan diri. Bahasa Gorontalo dilihatnya mengalami penurunan. Dan hal ini terkait dengan sudah terpisahnya Gorontalo dari Sulawesi Utara.

“Dulu, ketika Gorontalo masih bersatu dengan Sulawesi Utara, orang dari Gorontalo membanggakan bahasa Gorontalo. Karena itu adalah ciri yang membedakan dengan orang lain di Sulawesi Utara,” kata James.

James mengaku sudah beberapa kali datang ke tanah Hulondhalo untuk melakukan penelitian tentang bahasa Melayu Gorontalo. Bahkan, dari hasil pengamatannya dalam jejaring sosial, seperti facebook, dia melihat anak-anak muda Gorontalo tidak menggunakan bahasa Melayu Gorontalo.

“Sekali-kali mungkin ada lagu Gorontalo atau peribahasa Gorontalo. Tapi yang pernah saya amati, sembilan puluh persen bukan bahasa Gorontalo, namun bahasa Indonesia,” ungkap James.

Untuk mempertahankan dan mengembangkan bahasa Gorontalo, James menganjurkan agar pusat bahasa di Universitas Negeri Gorontalo mau menumbuhkan sastra lisan Gorontalo dan menampilkan dalam bentuk elektronik di website. Meski demikian, bukan hanya pendokumentasian yang perlu dilakukan, tetapi juga usaha-usaha lain untuk melihat sampai sejauh mana penutur muda menggunakan bahasa Gorontalo.

Kalau ingin Gorontalo tidak dijajah oleh bahasa lain, kata James, maka yang harus dipikirkan adalah bagaimana mendorong anak-anak muda menggunakan bahasa tersebut di banyak medium, seperti facebook, SMS, email, atau youtube. Dia juga menganjurkan untuk membuat perlombaan-perlombaan lagu modern dalam bahasa Gorontalo.

“Jangan hanya lagu tradisional, Cari juga usaha untuk berpidato dalam bahasa Gorontalo atau berpantun. Dan berikan mereka hadiah terbang ke Jakarta atau ke Hongkong. Kita harus mendorong orang untuk belajar lagi,” ucap James.

Yang diperlukan adalah mengaitkan bahasa Gorontalo dengan teknologi modern yang sehari-hari digunakan generasi muda.

“Jika tidak, bahasa Melayu Gorontalo dalam waktu yang tak lama lagi akan punah,” tukas James.

(149)

Rivon Paino Rivon Paino adalah mahasiswa Akidah Filsafat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amay, Gorontalo.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. saya suka ..bahasa gorontalo…klo ada masukan judul yang berhubungan dengan bahasa Gorontalo mohon bantuannya..mkasih

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *