Home Featured 100 Tahun Jam’iyah Mahmudiyah

100 Tahun Jam’iyah Mahmudiyah

183
0
Maktab Mahmudiyah. Foto-foto: Tengku Fahrizal Mochrin.

Bangunan induknya berlantai dua. Jendela-jendela lebar berwarna hijau menghiasi dinding bangunan bercorak klasik yang berwarna kuning. Inilah Jam’iyah Mahmudiyah Lithalabil Khairiyah, sebuah madrasah yang kini nampak sederhana di Tanjung Pura, Langkat. Pada 15 Desember 2012 lalu, Jam’iyah Mahmudiyah tepat berusia 100 tahun.

Madrasah yang berdiri pada 1912 ini telah melahirkan banyak cerdik pandai. Sebut saja mantan Pangeran untuk Langkat Hilir yang juga mantan Ketua Pengadilan Kerapatan Kesultanan Langkat sekaligus penyair, Tengku Amir Hamzah; Wakil Presiden Republik Indonesia Adam Malik; atau intelektual Islam yang juga penggagas Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Dr. Imanuddin Abdurrahim.

Jam’iyah Mahmudiyah Lithalabil Khairiyah, yang berarti ‘Gerakan Mulia untuk Pengajaran Kebajikan’, adalah lembaga pendidikan yang dibangun oleh Sultan Langkat Abdul Azis Abdul Djalil Rahmadsyah pada 22 Muharam 1330 H atau 15 Desember 1912 M. Pada awal pembangunannya, didirikan tiga lembaga pendidikan, yakni Madrasah Al-Masrullah pada 1912, Madrasah Al-Aziziah pada 1914, dan Madrasah Mahmudiyah pada 1921.

Berkembangnya dunia pendidikan menjadikan Langkat sebagai salah satu tujuan utama orang dari berbagai negara/kesultanan untuk mencari ilmu. Selain masyarakat Langkat sendiri, pelajar-pelajarnya juga datang dari negeri-negeri tetangga, macam Riau, Jambi, Tapanuli, Semenanjung, Borneo, dan lainnya.

Tersohornya Langkat sebagai tempat pendidikan memang ditunjang oleh kualitasnya. Pendidiknya adalah para tuan guru yang didatangkan langsung dari Kairo (Mesir), Saudi Arabia, dan negeri-negeri Timur Tengah lainnya. Biaya pendidikan pun ditanggung oleh Kesultanan. Bahkan, untuk murid-murid yang berprestasi, ada semacam beasiswa (dalam bahasa hari ini) untuk melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, baik ke Mekkah, Madinah, maupun Mesir.

Sekembalinya dari Timur Tengah, para santri yang dikirim oleh Sultan diminta mengabdi dan mengajar di Jam’iyah Mahmudiyah. Hingga sekitar 1930, tak kurang dari dua ribu siswa belajar di perguruan ini.

Bangunan lantai dasar maktab Jam’iyah Mahmudiyah.

Sebenarnya, pada awal 1900-an, Belanda telah lebih dahulu mendirikan sekolah. Langkatsche School (LS), namanya. Namun, siswa yang diterima di sana masih sangat terbatas, yakni hanya anak-anak bangsawan, anak-anak kerani Belanda, serta orang-orang kaya. Dalam bahasa pengantarnya, lembaga pendidikan tersebut menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Melayu. Selain itu, didirikan juga Europese Lagere School (ELS) untuk anak-anak asal Eropa dan Holland Chinese School (HCS) untuk anak-anak keturunan Cina.

Dalam biografinya, Adam Malik meyebutkan bahwa Madrasah Al-Masrullah termasuk lembaga yang mempunyai bangunan bagus dan modern menurut ukuran zamannya. Pola pendidikannya memisahkan ruang antara putra dan putri. Sistem pendidikan yang dijalankan di sekolah ini layaknya sistem sekolah umum di Inggris, di mana anak laki-laki usia 12 tahun mulai dipisahkan dari orangtua mereka untuk tinggal di kamar-kamar tersendiri dalam suasana yang penuh disiplin. Fasilitas-fasilitas olahraga juga disediakan di sekolah tersebut, seperti lapangan untuk bermain bola dan kolam renang milik kesultanan.

Sultan Abdul Aziz mengubah nama ketiga madrasah tersebut dengan perguruan Jam’iyah Mahmudiyah. Pada 1923, perguruan Jam’iyah Mahmudiyah telah memiliki 22 ruang belajar, 12 ruang asrama, di samping berbagai fasilitas lainnya, seperti aula, sebuah rumah panti asuhan untuk yatim piatu, kolam renang, lapangan bola dan sebagainya.

Pencetakan dan penerbitan buku-buku ajar juga makin gencar setelah sultan menyediakan mesin cetak. Seorang pengajar Jam’iyah Mahmudiyah, Tuan Guru Babussalam Syekh Abdul Wahab Rokan, menerbitkan dan mencetak buku-buku yang bertemakan masalah-masalah keislaman. Di antaranyanya adalah Aqidul Islam, Kitab Sifat Dua Puluh, Adab Az-zaujain, dan lain-lain.

Kemudian hari, banyak pihak merasa pendidikan di Jam’iyah Mahmudiyah harus ditingkatkan, lebih tinggi daripada sekadar Madrasah Aliyah. Oleh karena itu, pada awal tahun ajaran 1980, di masa Indonesia, para cerdik pandai Langkat kemudian menggagas lahirnya Fakultas Tarbiyah di Jam’iyatul Mahmudiyah. Selain akan dijadikan cikal bakal Sekolah Tinggi Agama Islam, pertimbangan lainnya adalah banyak pelajar Islam lulusan Aliyah dan Pendidikan Guru Agama di Tanjung Pura dan sekitarnya tak mampu melanjutkan pendidikan ke Institut Agama Islam Negeri dan Universitas Islam Sumatera Utara karena keterbatasan ekonomi.

Pengunjung memperhatikan foto-foto terkait sejarah Jam’iyah Mahmudiyah.

Fakultas yang dimaksud pun akhirnya berdiri pada 1981. Pada awal tahun tersebut, sebanyak 78 mahasiswa mendaftarkan diri. Pada 1982, sejak dibentuknya Yayasan, pembangunan perguruan tinggi mulai pesat. Selain masyarakat Langkat dan pemerintah (Indonesia), Sultan Selangor juga turut memberikan bantuan, terutama pada saat pendirian Perpustakaan dan Ruang Aula Pertemuan untuk Madarasah Jam’iyah Mahmudiyah pada 1987.

Maktab sederhana ini kini sudah melahirkan puluhan ribu santri putra dan putri. Pendidikan tingginya sendiri, yang bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Jam’iyatul Mahmudiyah, kini sudah berusia 30 tahun, dan telah melakukan wisuda yang ke-22 pada 15 Desember 2012.

Perayaan Satu Abad Jam’iyah Mahmudiyah
Menjelang satu abad Jam’iyah Mahmudiyah, sejumlah acara pun digelar di Tanjung Pura. Sebut saja pada 14 Desember 2012, dimana diadakan perlombaan Musabaqah Tilawatil Qur’an, kongres alumni, dan seminar internasional yang dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi, alumni, dan masyarakat umum.

Dalam seminar internasional yang bertajuk “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”, hadir sejumlah pembicara. Di antaranya adalah Prof. Dr. Mohammad Noeh MA, yang pernah mengenyam pendidikan di Jam’iyah Mahmudiyah Lithalabil Khairiyah sekaligus lulusan dari Amerika Serikat; Prof. Dr. Basaruddin, Guru Besar Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) yang juga alumni Jam’iyah Mahmudiyah Lithalabil Khairiyah; Prof. Dr. Nirwan Safrin dari Tanjung Balai; dan Prof. Dr. Abdullah Syah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara.

Sementara itu, pada kongres alumni, dihasilkan sejumlah rekomendasi. Di antaranya adalah meminta kepada Sekolah Tinggi Agama Islam Jam’iyatul Mahmudiyah agar memberikan kewenangan dan hak kepada alumni untuk mengelola orientasi mahasiswa baru dan melakukan bimbingan sebelum melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Seminar dan kongres alumni Jam’iyah Mahmudiyah Lithalabil Khairiyah.

Kongres juga meminta Kementerian Agama Republik Indonesia untuk menjadikan Sekolah Tinggi Agama Islam Jam’iyatul Mahmudiyah menjadi universitas di Langkat. Jam’iyah Mahmudiyah yang pernah turut menyemarakkan nama Langkat hingga masyhur ke berbagai negeri, kini memang bercita-cita menjadikan dirinya sebagai universitas, tempat para pencari ilmu merapat ke Langkat.

Rekomendasi juga ditujukan kepada eksekutif dan legislatif di Kabupaten Langkat agar membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang kewajiban memasukkan pendidikan agama minimal 30 persen di setiap lembaga pendidikan yang bernaung di Kementerian Pendidikan di Kabupaten Langkat. Terakhir, kongres juga meminta Pemerintah Kabupaten Langkat mengalokasikan dana pendidikan minimal 20 persen untuk memberikan beasiswa berprestasi kepada alumni Jam’iyah Mahmudiyah Lithalabil Khairiyah agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang strata dua (S-2) atau strata tiga (S-3).

Perayaan 100 tahun Jam’iyah Mahmudiyah Lithalabil Khairiyah ini dilaksanakan di halaman Sekolah Tinggi Agama Islam Jam’iyah Mahmudiyah. Hadir dalam perayaan ini adalah pemangku adat Kesultanan Langkat Tuanku Azwar Aziz, Menteri Agama Republik Indonesia Suryadharma Ali, Bupati Langkat H. Ngogesa Sitepu, Syech Abdul Halim Mujub Wahab dari Besilam, Langkat.

(183)

Tengku Fahrizal Mochrin Lelaki kelahiran Medan ini menamatkan pendidikannya di Universitas Dharmawangsa, Medan, Sumatera Utara. Dia aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan pedesaan, dan tergabung dalam Dewan Pengurus di Harian Generasi Biru Indonesia.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *