Home Featured Sumber Hidangan, Menghela Silam di Masa Kini
0

Sumber Hidangan, Menghela Silam di Masa Kini

182
0
Suasana “Sumber Hidangan”. Foto-foto: Nuran Wibisono.

Bandung sedang terik siang itu. Di satu jalan yang tak pernah lengang, di sudut jalan Braga, saya memarkir motor. Tujuan saya “Sumber Hidangan”, sebuah restoran klasik.

Bagi orang Bandung, Jawa Barat, khususnya penikmat makanan, Sumber Hidangan bukanlah nama asing. Ia sudah berdiri pada 1929 dengan nama Het Snoephuis (bahasa Belanda, yang secara harfiah berarti ‘rumah jajan’), dan masih tetap tegak berdiri hingga sekarang.

Sebentar berjalan, sampailah saya pada rumah makan yang dituju. Letaknya di kiri jalan kalau Anda melangkahkan kaki melawan arus jalan. Kalau lengah, maka Sumber Hidangan jelas akan terlewati. Maklum, tak ada penanda nama yang lazimnya ada di sebuah restoran. Hanya ada sebuah kertas yang ditempel di kaca.

Sumber Hidangan (d.h Het Snoephuis)

Sejak/Since 1929.

Buka 08.30 – 19.00.

Di depan restoran hanya ada seorang penjual lukisan kaki lima dan juga penjual koran. Mereka berbincang di depan restoran yang catnya sudah lapuk dan kelabu itu. Dan ketika memasuki Sumber Hidangan, saya seperti ditarik oleh mesin waktu ke masa lampau.

Macam-macam menu di “Sumber Hidangan”.

Pada 1929 hingga 1944, Sumber Hidangan menjadi salah satu restoran favorit di Bandung, terutama bagi para warga Belanda yang tinggal di Bandung. Mereka biasanya menyantap es krim sembari makan roti-roti hangat yang baru saja dikeluarkan dari oven.

Hingga 2012, interior Sumber Hidangan tak berubah. Kursi-kursi dengan senderan besi berbentuk oval masih terjajar dengan rapi, mengililingi meja berbentuk persegi. Lampu-lampu klasik bertungkai panjang masih menggantung. Di sudut-sudut tembok restoran, tampak ada bagian yang berjamur. Lembab seperti tak terawat.

Restoran ini dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah bagian roti, dan bagian lainnya adalah tempat untuk bersantap. Di bagian pertama, ada deretan roti penggugah selera yang dipajang dalam lemari kaca.

Jika kondisi Braga selalu ramai, maka tidak demikian halnya dengan Sumber Hidangan. Hanya ada sepasang opa-oma yang tampak lahap menyantap seporsi nasi goreng udang dan es krim. Mereka bercakap-cakap dalam nada yang pelan. Lalu ada beberapa keluarga yang membungkus kue khas Sumber Hidangan.

Layaknya interior yang nyaris tak berubah sejak dulu, begitu pula hidangan-hidangan yang tersedia. Anda masih bisa menemukan hidangan dengan nama-nama Belanda. Sebut saja Bokkepoot, Doublet, Krentenbrood, Ananastaart, Suiker hagelslag, Likeur Bonbon, Vruchten Zandtaart, Mocca truffel, hingga berbagai jenis kue kering yang dipajang dalam deretan toples klasik.

Tak lama, seorang pelayan datang pada saya dengan gayanya yang perlahan. Saya perhatikan, ritme kerja di restoran ini memang berjalan pelan, cenderung santai. Bagi saya, ini menarik. Di saat semua restoran modern bekerja dengan mengandalkan kecepatan, Sumber Hidangan seakan tak peduli. Ia menjadi unik di tengah masyarakat modern yang makin bergegas, yang makan pun harus terburu-buru. Sumber Hidangan adalah antitesis dari itu semua.

Yang lebih menarik, Sumber Hidangan masih menerapkan jam istirahat tidur siang dalam operasional mereka. Ya, pada pukul 13.00 WIB, restoran ini akan tutup. Ia baru buka lagi pada sore hari, pukul 16.00 WIB.

Pelayan yang datang pada saya itu bernama Anton. Usianya sekitar 40-an tahun. Tubuhnya ceking, berkacamata, dengan rambut belah tengah. Dia tampak murah senyum, yang ditingkahi dengan sebaris kumis yang melintang diatasnya.

“Saya sudah 20 tahun kerja di sini” kata Anton.

Anton hijrah dari Gunung Kidul, Yogyakarta, sejak 21 tahun lalu. Setelah setahun merantau di tanah Sunda, seorang teman mengajaknya bekerja di Sumber Hidangan. Dan sampai sekarang, dia, yang ketika senggang punya alter ego Santioko: seorang penyiar radio khusus acara musik Campursari, masih setia bekerja di sana.

“20 tahun itu sebentar, Mas (panggilan Jawa kepada laki-laki-red). Ada yang sejak muda kerja di sini. Baru berhenti waktu beliau meninggal,” ujar Anton berkelakar.

Tapi Anton tak sedang berbual. Para pekerja di Sumber Hidangan rata-rata memang sudah bekerja dalam waktu lama. Tiga puluh tahun itu sudah biasa. Dan kalau ditengok sekilas, memang tak tampak wajah-wajah muda pada pekerja Sumber Hidangan.

Anton yang berdiri dengan buku notes kecil dan sebatang bolpoin menyadarkan saya untuk segera memesan. Karena perut belum diisi sedari pagi, saya memilih menu berat: seporsi wiener schnitzel dan fosco susu.

Wiener schnitzel adalah hidangan khas Austria dan Eropa. Ia berupa daging sapi yang dibalur tepung panir lalu digoreng hingga matang dan berwarna coklat keemasan. Sedangkan fosco susu adalah soda yang dicampur dengan es krim rasa cokelat.

Sekitar lima belas menit menunggu, hidangan datang. Wiener schnitzel ala Sumber Hidangan pun muncul dengan tampilan yang mewah.

Daging sapi berukuran tebal nan besar, dibalut dengan tepung roti, lantas digoreng hingga berwarna coklat keemasan. Bentuk wiener di rumah makan ini tebal, tak seperti wiener di daratan Eropa yang diiris tipis dan memanjang. Juga tak ada irisan lemon untuk disiramkan.

Ibu kasir di “Sumber Hidangan”.

Tak hanya daging sapi, ada pula selembar telur mata sapi yang ditumpangkan ke atas daging. Untuk yang khawatir tak akan kenyang jika tak makan dengan nasi, jangan takut. Ada potongan potato wedges dalam jumlah yang generous sebagai asupan karbohidrat. Ini cukup membuat kenyang. Selain itu juga ada pasukan sayur segar: selada, tomat, timut, dan buncis. Semua kombinasi itu lantas diikat dengan saus home-made berwarna coklat tua yang beraksen manis. Resep makanan ini konon masih sama dengan resep dari 1929.

Yang bikin saya sedikit terkejut, harga untuk makanan ini tergolong murah. Hanya Rp. 29.000 saja ketika itu. Tapi, seorang kawan yang datang kemudian hari, beberapa hari lalu, mengatakan bahwa harganya sudah naik menjadi Rp. 35.000. Bagaimanapun, itu masih tergolong murah meriah untuk makanan klasik di restoran yang sudah berdiri sejak lebih dari 80 tahun itu. Di beberapa restoran klasik yang pernah saya datangi, harga hidangannya begitu mencekik. Namun Sumber Hidangan begitu ‘bersaudara’ –lebih dari sekedar bersahabat – dalam hal harga.

Es krimnya juga dijual dengan harga yang murah meriah. Untuk pencuci mulut, saya memesan es krim nesselrode, yakni es krim vanilla, dengan potongan koktail dan diberi taburan kacang, gula, serta kismis. Harganya hanya dibandrol Rp. 13 ribu. Untuk jenis es krim lain, harganya bervariasi. Mulai dari Rp. 4 ribu hingga Rp. 13 ribu.

Untuk makanan lain, tersedia menu western, seperti burger atau hotdog, hingga menu yang ada di Indonesia, seperti gado-gado dan sate.

Selepas lapar enyah, saya pun bergegas membayar. Sang kasir adalah ibu berumur senja, yang ‘bersembunyi’ di meja kasir tinggi dengan teralis besi. Sedikit pelit memberi senyum.

Ketika keluar dari Sumber Hidangan, saat itu pula saya ‘terlempar ke masa sekarang’. Semua jadi bergegas kembali. Saya meringis. Memandang langit Bandung yang sedang terik, yang memanggang kendaraan roda dua dan empat yang melaju kencang-kencang.

(182)

Nuran Wibisono Nuran Wibisono adalah seorang penulis lepas yang gemar melakukan perjalanan. Ia berdomisili di Jember, Jawa Timur.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *