Home Sastra Ketabo, Kita Berangkat!
0

Ketabo, Kita Berangkat!

211
0
Setiadi R. Saleh.

Sebuah bis berhenti di himpitan jalan. Dan kemudian bergulir lagi.

“Ketabo! Kita berangkat!” kata kenek berteriak.

Aku senang dengan perantauan ini. 19 tahun usiaku, kata Bapak itu sudah cukup untuk memulai hidup baru.

“Laki-laki harus hidup bersama mimpinya, bukan hidup di alam mimpi. Kamu harus pergi merantau supaya tahu menghargai hidup. Dengan kamu merantau itu artinya berbakti kepada orangtua. Anak yang berbakti adalah anak yang paling beruntung!”

Walaupun aku tidak paham artinya, kata-kata itu terus saja hidup di hatiku. Kadang-kadang aku berpikir, mengapa aku yang berasal dari Kota Medan, termasuk kota besar di Indonesia, harus merantau ke kota yang lebih kecil yang ada di Pulau Jawa.

“Apa hebatnya Pulau Jawa itu?” pikirku polos.

Sebelum berangkat, aku sudah dikasih tahu Bapak. Biasanya bis berhenti untuk makan setiap delapan jam sekali. Sopir dua orang, kenek tiga orang. Seluruhnya ada lima awak dalam satu bis. Tiap ada yang tidak beres pada bis, kenek sigap menangani.

Malam itu hujan lebat sekali. Cahaya kilat sesekali datang menerangi. Suara geluduk seperti bertubruk satu sama lain. Dahan-dahan pohon macam tubuh-tubuh raksasa yang diam.

Barangkali kalau disorot dari atas, bis yang kami tumpangi seperti ular melata sebatang kara. Kadang sepuluh jam sekali baru berpapasan dengan bis lain dari jurusan berlawanan. Banyak yang tertidur, tetapi aku belum mengantuk. Bahkan merasa ngeri bila tertidur.

Udara dalam bis kian merembesi tulang. Dari luar air hujan menampar kaca jendela dan pelan-pelan mulai mereda. Dan malam yang turun masih terlalu muda. Hujan yang menuakan keadaannya. Lampu bis seperti hidung anjing yang tajam penciumannya. Meraba-raba jalan, mendengusnya, lalu mengikuti gerak naluri terarah.

***

Sampailah aku ke suatu tempat di Bukit Tinggi–kotanya para pujangga pada zamannya. Bis lalu berhenti di sebuah rumah makan di tepi Danau Singkarak. Pagi terasa redup. Ruang makan menghadap danau yang bercorak tenang. Belum terlalu terang, mentari menyembul dari dedaunan di pinggir hutan. Sisa pecahan sinar bulan masih terlihat merah.

Di langit terhampar kesunyian. Tiada hujan di sini padahal sebelumnya bis dihajar hujan. Angin danau dan kebersahajaan pagi menyusup ke dekapan. Danau sepertinya sedang pasang, aku perhatikan dari garis batas ketinggian air. Tiada ombak sebagai penghias air yang biru kecoklatan. Cuma riak-riak kecil menggantikan tingkah ombak. Bis yang kami naiki sedang dicuci. Pemandangannya sangat bagus menghadap ke danau. Ada nelayan yang bergerak dengan perahu satu tiang.

Aku tak jadi mandi, belum terbiasa dengan barak-barak kamar mandi yang setengah terbuka, dibatasi papan-papan sejajar. Satu bak mandi besar untuk tujuh orang atau lebih, seluruhnya laki-laki. Kamar mandi perempuan pada sisi seberangnya. Letak kamar mandi itu menjorok ke bawah, menuruni tangga dan penghadapan pandang ke arah danau. Buang hajat sudah tiada lagi tertahan, telah dua hari mendekam dalam bis. Kurasa ini cukup memicu pertarungan lambung dan sumber selera.

Kebiasaan tidur duduk dan jongkok menyebabkan badan, bahu, dan pinggang serasa remuk kelelahan. Lima menit lebih seperberapa detik pesanan sarapan pagi yang mirip makan siang datang ke depanku. Tak mengapalah belum mandi, yang penting sudah gosok gigi dan buang air besar.

Sementara kubiarkan pelayan menghidangkan, aku pesan minuman panas teh manis-manis jambu. Kenalan di bis duduk di depanku. Ia orang Palembang, tepatnya King Stone alias Batu Raja, begitu mereka membanggakan daerahnya. Dan orang mereka sendiri acapkali celat-cadel melantunkan Palembang menjadi ‘Plembang’, ‘Wong Kito’.

Kemudian perjalanan dilanjutkan. Dan ini hari kedua dalam perjalanan, berarti tinggal satu malam lagi keletihan usai. Tiap sudut dari jalan kurekam baik-baik dengan kenangan yang beruntai. Terkaan tempat, ‘kira-kira di mana ya…’ jadi permainan baru dalam bis.

Musik yang dikirim dari pengeras suara selalu lagu dangdut, India, dan lagu Batak. Jika ada satu atau empat penumpang menawarkan kaset lain, sopir dan kenek selalu senang barang sebentar lagu. Habis itu kembali ke selera asal Batak dan Karo atau lagu-lagu dari Mercy’s. Tak ada yang berani mengubahnya.

Aku tidak tahu sekarang berada di mana. Hari malam kian pekat tanpa lampu dan butir kunang-kunang. Jam tangan mati mendadak terkena air. Pengatur pendingin bis yang rusak pengendalinya terpaksa ditutupi plastik biar tidak dingin dan masuk angin.

Besok siang bis akan masuki lokasi Sumatera Selatan, Lubuk Linggau. Setelah itu, Lahat, daerah yang santer perampokan. Jalannya belum diaspal, berlubang, mengakibatkan bis melaju pelan dan bergelombang. Pada saat bis pelan, di sinilah “bajing loncat” beraksi, mengandalkan parang dan keseraman wajah. Sopir akan selalu memilih masa yang benderang agar bis lebih aman dan terjaga. Bis sudah mengatur waktu jangan lewat malam hari di kawasan Lahat.

Entah itu mitos, entah juga eros. Cerita yang sengaja disemburatkan untuk mengangkat martabat nama setempat. Orang-orangnya menyimpan kekakuan. Untuk berjaga andaikata benar itu terjadi, selain nyawa tentu uang yang perlu diselamatkan. Aku menyelipkan uang yang kupunya dimanapun yang aku pikir itu aman. Meski jumlahnya tak seberapa. Cukup untuk merantau dan bertahan modal hidup 2-3 bulan.

Aku ke kamar mandi bis. Di belakang sudah banyak orang tumbang terlelap. Buang air kecil sambil bergoyang-goyang menyusahkan. Tangan kiri mencari pegangan penahan. Tangan kanan membetulkan posisi pancuran kencing. Aku balik ke bangku. Rencananya mau tidur. Minuman ringan, coca-cola, jadi kawan setia mengusir angin di badan. Antimo kuminum supaya ngantuk dan menghindari mabuk. Benar saja, aku tertidur pada kobaran kantuk.

Tercapailah Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Curahan pandang kira-kira sama dengan yang sudah-sudah; hutan liar, longsoran bukit menguak kelopaknya, ranting-ranting pohon, serta tepian daun meranggas. Sesekali monyet-monyet hutan lompat ke jalan raya, tangan juga mulutnya tangkas mengambil biji-bijian.

Apa yang terjadi selanjutnya di Lubuk Linggau adalah awal rakitan peristiwa kejiwaan. Bis yang kami tumpangi pada waktu sore mengalami kecelakaan. Aku tersadar manakala terdengar banyak yang mengucap “Astagfirullah… Ya Allah… Allahu Akbar…”.

Posisi bis terbalik menggelimpang. Orang depan minta tolong berulang kali. Ia terkena pecahan kaca. Kuperhatikan pandang arah depan belakang, tidak ada yang terluka parah, syukurlah. Tuhan masih menjaga kami semua. Kakiku terganjal kursi muka, ini pertama kali kualami kecelakaan rombongan dalam jumlah padat. Walau yang sendirian pun tak kuinginkan.

Peristiwa yang terjadi serba ringkas-gegas itu tampaknya hilang, lantaran kepanikan meraja, juga ambisi mau mendahului keluar lebih dahulu. Kalau dalam penggambaran sementara, bis ini terbaliknya miring. Bukan pada posisi terlentang. Arah gulingannya ke kanan. Jadinya tidak menghalangi pintu keluar. Syukur pintu itu bukan hidrolik, masih manual.

Namanya saja bis AC Toilet. Cikal aslinya bis ekonomi, disulap Karoseri. Perhatikanlah tiang-tiang penyanggah bis. Umpama itu bis AC bawaan tentunya kokoh seimbang tanpa penopang dan mungkin pintunya masih rapat tertutup.

Aku bisa keluar juga akhirnya dengan selamat tanpa lecet barang segaret. Tiap orang yang keluar dibantu dorong dan bantu tarik. Aku lupa bersyukur, barangkali heran campur sesak. Apa jadinya bila diam-diam aku sudah mati, kemudian terjaga pada kekosongan. Sungguh tak nikmat.

Polisi muncul memastikan urutan kejadian. Setiap bagian bawaan penumpang belum diperkenankan dibawa. Itu perintah dari orang bis. Melihat banyaknya orang menonton, kami tahu dengan sendirinya bahwa lokasi kejadian dekat pemukiman penduduk.

Kami diungsikan dengan angkutan kecil sejenis pick-up. Sopir katanya selamat, belum terdaftar ada korban. Yang melekat baju di badan itu saja yang boleh dibawa. Di antara kami ada yang tidak pakai sendal, termasuk aku.

“Selebihnya biar kami yang urus, dijamin tidak hilang,” kata pihak bis.

Sebagian ada yang tarik pancing omongan, tidak percaya. Aku naik ke pick-up. Pandangan bis dari lamat-lamat seperti panggangan lauk yang sisi sebelahnya dibalik.

Di pick-up ada sepuluh orang, termasuk ibu-ibu dan anak dara. Begitu kami sampai pada pool ALS, pick-up itu kembali lagi mengambil sisa orang yang tertinggal. Kemudian datang mobil bak terbuka Chevrolet abu-abu penuh dengan barang penumpang. Kami dimarahi karena rebutan mengambil barang.

“Satu-satu wooiii….!

Orang yang punya kewenangan mengambil barang dan menurunkannnya, masing-masing mengambil haknya. Ada juga yang belum mendapatkan barang bawaannya.

Wajah takut campur noda tersibak jua. Orang yang punya kewenangan bilang, “Masih ada yang di sana, tenang saja, karena saat pengeluaran barang dikawal sama Polisi.”

Penumpang dan penduduk dalam situasi goyah saling membaur. Penduduk setempat bisa saja menyerbu seperti kilat kesurupan. Bukan persangkaanku, itu keterangan yang masuk pikiran.

Chevrolet kedua kalinya membawa penuh barang bawaan. Baru kutemukan pasangan sendal, juga markisa botol setengah lusin yang ternyata tidak pecah. Tas tenteng berisi pakaian serta surat-surat berharga. Ya… Tuhan! Semuanya lengkap. Penumpang yang lain berseru gembira, utuh-utuh. Barulah lesung-lesung senyum berhamburan.

Kami saling bersapa seolah tak ada yang tak biasa. Perkenalan pun terjadi di antara orang itu. Aku tak berupaya berkenalan. Di pikiranku cuma ketidakpastian kedatangan. Masing-masing di antara kami berkisah bagi perihal musabab kecelakaan. Banyak yang belum mampu menjawab secara rentet. Kejadian itu dimaknai dengan selera humor rendahan.

Barulah malam tiba, masing-masing berpendar mencari tempat rebahan. Di bangku panjang, di meja makan, di mana lowong, di situ ditempati. Pemuda-pemuda yang kebanyakan mahasiswa pergi mencari wartel, letaknya satu kilo jangkauannya. Aku ada di selipan pemuda itu. Masih tidak saling tukar salam, hanya anggukan isyarat sapa. Angkutan kota penuh dengan kami yang tertimpa kecelakaan bis, meski ada info terkini tidak ditemukan korban jiwa.

Sebagian orang sibuk menelpon, sebagian lagi bercanda apa ada wartel yang berada di Megang, arah sebelah kanan dan sebelah kiri jalan lintas menuju Bengkulu–kalau aku tak salah menentukannya. Sebelumnya posisi kami di pool ALS dan ada banyak pool yang lain. Kota Lubuk Linggau memang dikenal sebagai kota lintas Sumatera. Dan tak jauh dari tempat ungsian ada jembatan. Tak guna berpanjang cakap, yang terpenting aku selamat, utuh tidak hancur.

Kami kembali ke pool, banyak yang sudah akrab. Aku tetaplah si penyendiri yang ulung. Makan malam serampangan saja. Usul punya usut, bis terbalik karena berusaha menyalip mobil Jimmny putih mungkin juga Suzuki Katana. Rupanya penyalipan tidak sempurna, tanggung-tanggung. Mobil dari arah berlawanan sudah beri tanda dengan lampu supaya bisa duluan. Bis dalam posisi serba salah, kalau injak rem mobil di belakang yang tertabrak. Kalau pacu laju mobil yang di muka bisa terhantam. Sedangkan arah badan bis pada bantingan menyalip. Maka bis injak gas tetapi bukan memotong melainkan menghindari, akibatnya terguling menubruk dataran tanah yang tinggi. Dan bis tertahan tiang listrik dan telefon. Pantasan hanya miring bukan terlentang.

Keterangan-keterangan yang samar mengenai kondisi bis berhamburan. Ada yang bilang bis pecah berlumuran kaca. Ada yang bilang kaca samping kanan bis pecah. Ada yang bilang mesin bis padam total, juga ada yang bilang dua orang dilarikan ke rumah sakit terdekat akibat semburan dari kaca depan. Justru penumpang deretan depan yang rada parah, tengah aman, belakang sedang. Aku menunggu, orang lain juga menunggu. Kami seperti turis domestik yang tersasar.

Jalan menghalau keresahan, letih jasmani, penantian buram. Pertama, yang kulakukan cuci muka, meski airnya kuning, keruh, dan kotor, tetapi tidak ada pilihan ganda kecuali pakai air mineral. Kedua, mengubah pola perasaan menjadi hiburan dengan harapan seolah ada jeda yang kemilau setelah ini. Ketiga, berkeliling areal cari tempat mojok yang asoi. Keempat, aku bernyanyi menghibur diri. Kelima, aku matikan ketekunan mengamati. Lima strategi yang kupancang belum satupun tegak.

Aku masih duduk di luar ruangan rumah makan. Tidak ada yang kunikmati, kopi maupun rokok.

Orang Palembang yang kukenal selewat di Singkarak punya kegiatan sendiri. Sedari mula dia menebakku wartawan, kujawab saja bukan wartawan tetapi loper koran. Biar mudah.

Di sebelahku seorang ibu, usianya kira-kira jalan empat puluh, pakai kerudung seperti ibu haji kebanyakan. Mengenakan gelang emas melilit lengan. Cincin emas bermata cerah, hijau, merah. Ia melamun. Mau kusapa ada keperluan apa, mau kubantu sesuatu aku belum tahu. Kupaksa diri beramah tamah, sungguh saat yang kurang mujur pikirku. Aku mulai omongan dengan…

“Ibu sendiri?”

“Iya Nak.”

“Mau kemana rupanya Bu?”

“Martapura, tengok cucu kedua.”

“Lho kakeknya tidak ikut.”

“Jaga rumah sama jaga kebun.”

“Ibu dari Medan.”

“Tidak, saya dari Limapuluh.”

“Masih kaget Bu?”

“Sudah berkurang, barusan saya sembahyang minta sama Tuhan semoga cepat sampai. Ibu khawatir anak ibu menunggu terlampau lama. Ini yang pertama ibu bepergian jauh.”

“Saya juga Bu.”

“Maaf Nak, saya mau istirahat dulu, belum tahu tidurnya gimana ini. Ibu mau cari tempat dalam ruangan. Badan terasa litak seperti dikejar-kejar hutang.”

“Oh… ya… ya….”

“Mari, Nak.”

Tak kubalas dengan kata, kubalas dengan senyum setuju. Tinggal lagi aku sendiri, selalu tak punya tempat bertanya.

Kedai-kedai kecil yang memakai lapak roda dan berbatas dinding kain belum pada tutup. Dari kiri tukang bakso plus minuman jus dingin, sebelahnya kedai kopi, indomi rebus, teh panas plus bandrek, sebelah jajarannya lagi kedai rokok, paling ujung kedai kelontong. Dari kanan tidak jauh beda dengan sebelah kiri, sedikit penambahan nasi goreng, mie kuah, kwetiaw. Sebelahnya tukang pisang goreng, sebelahnya lagi kacang rebus, selebihnya serupa.

Aku perhatikan jam. Kalau tak khilaf baru pukul sembilan lebih seperberapanya. Sayang di sekitar sini tak ada penginapan, losmen, atau apa kek. Di seluruh unsur jasmani yang paling kentara lusuh adalah wajah. Bisa karena pendingin bis, bisa karena belum bersih-bersih, bisa karena tiupan kesumpekan dari dalam. Mirip inner beast bukan beauty atau nyanyian ratap patah harap.

Aku angkat kakiku menuju musholla, di sana telah berjibun orang. Laki dan perempuan dalam wadah yang sama. Betul memang tidak terpampang pemandangan seronok, tetapi cara tidurnya itu lho, paralel.

Tak baik mengira-ngira keadaan, lebih-lebih perasaan orang. Musholla dekat kamar mandi yang dari kejauhan sudah terlihat. Di situ ada selokan kecil yang mengarahkan air, tergenang oleh sampah dadakan, seperti shampo dan kertas tisu. Bau kamar mandi serta selokan, juga badan sendiri, larut menutupi keadaan sesungguhnya.

Desas-desus kondisi bis belum tahu, kutanya pada pos penjagaan. Tidak ada bis cadangan sebagai ganti, perusahaan bis lain juga sedang dipakai. Jadi kami terpaksa menggunakan bis semula dari Medan. Di pos itu banyak yang berkumpul, mungkin menjauhi angin malam yang sering menggugurkan isi dada. Kebanyakan perempuan, terutama ibu-ibu.

Lama-lama aku muak juga begini, kulihat yang lain juga begitu. Dalam hati pujuklah diri supaya tidur, menghipnotis dengan relaksasi, dan tetap sendiri. Kenapa yang lain begitu cepat berbaur dan bermanis muka seperti orang sedang reuni saja. Bayangan kecelakaan itu hanya pas adegan aku terbangun, sebelumnya mana aku tahu.

Mau mengucap terima kasih pada Tuhan, yang kelu bukan lidah, malah emosi, seakan diplintir oleh keengganan.

“Kau merantau Sim, pergi dari kampongmu membawa dua tifa: satu kehidupan, satu kematian. Dan masa pengapungan itu pentungannya. Tegar sayang, raih semangatmu.”

Aku bergumam memompa diri supaya tetap hangat, meski wajah seolah keras, kaku. Menguap saja belum, bagaimana mengantuk. Aku ke arah jalan memaknai kesunyian dengan sesuatu yang belum kumengerti, yaitu: nasib. Ujian pertama menuju negeri orang.

Jalan lintas Sumatera di Lubuk Linggau senyap bermandikan gelap. Penerangan cuma ada seputaran pool-pool bis. Kuhitung jumlah pool ada delapan, mulai ALS, ANS, PMTOH, SAMPAGUL, DAMRI, KURNIA, dua lagi tidak kelihatan bacaannya. Sedari tadi baru kulihat kedai nasi Padang yang jangkauannya sedikit jalan kaki. Mungkin orang setempat punya egosentris melarang kedai nasi lain berdekatan dengan pemberhentian bis.

Lidah seperti hati, ia selalu mencari kebetahan, dan barangkali di kedai nasi Padang orang sudah betah. Lidah pun menemukan liurnya. Belum terkecap, masih mata yang melihatnya, sudahlah terasa enak tidaknya sebuah sajian. Selera itu manusiawi. Tetapi, rasa mencicipi melekat sampai kapan pun. Jadi, tak gunalah penghalauan pedagang yang dibuat-buat dengan alasan ketertiban umum.

Aku betul-betul mendengarkan semilir angin malam menyapu jalan. Garis putus-putus pada tengah jalan hilang jika tidak karena disorot lampu-lampu bis. Cepat sekali rasaku menjauhi kehampaan yang kubawa barusan. Kini yang tersangkut cuma butuh tidur. Sedikit menguap-nguap lebar-lebar, lama-lama uapan keberapa kali tak kubuka mulut, sengaja ditutup, udara keluar dari gendang telinga yang mulai dingin. Katanya kalau kedinginan gosokkan tapak tangan, pegang kedua ujung daun telinga, atau kepal jari kaki dengan tangan.

Aku kembali ke tempat penyimpanan tas. Kukeluarkan sepatu dan kaos kaki tambah minyak kayu putih. Kuusap-usap minyak kayu putih ke dada dan perut, kening, juga rambut, biar sekalian terbebas dari angin liar. Mantap.

Semangat-semangat, di mana bisa beli semangat, kalau suluhnya sudah terkuak.

Aku ke bangku panjang tempat asal duduk perkara. Ya, perkara perasaan. Perkara semuanyalah.

“Hoi… bis datang!”

“Mana?”

“Itu, tuh, Tuh lihat nomor pintunya.”

Aku terbangun, mimpi kesekian dalam perjalanan. Benar bis sudah datang. Masya Allah, kaca depan hancur, samping kanan tercabik sedikit, bagian belakang toilet penyok, ban bagian kanan agak lenyot menggeliat.

Orang pada gembira, meski malam kian bergeser. Bis tidak dikemudikan sama sopir, tetapi sama kenek yang bertelanjang dada bersimpuh hitam oli di tangan, kaki, rambutnya. Ia kecapekan, bisa diukur dari ayunan hidungnya, berapa kali menghirup, berapa kali melepasnya.

Dua kenek terus saja bekerja, mengutak-ngatik mesin di bagian belakang. Kadar pengaturannya didengarkan baik-baik oleh kenek satunya. Satu lagi menginjak gas tetapi tidak dilajukan. Orang yang semula pada istirahat di mana tempat, kini terlihat memadati bis, mengerubunginya.

Kuperlukan juga melihat bis dari jarak dekat, mengitarinya sampai sembab. Terbersit hal buruk, kalau saja kami semua mati atau di antara kami yang luka parah tentunya ini menyeramkan. Kabar terbaru yang cedera empat orang bukan dua orang seperti perkiraan awal. Sopir sehat. Tidak ada yang istimewa pada kondisi bis. Rusak, maksudnya. Karena kalau lihat koran, kecelakaan bis mengenaskan, dan aku tak mau kengerian ada kembali. Tidak, jawabku!

***

Aktivitas kenek dan orang-orang yang mengerubung mulai menyurut. Barangkali sudah terampas tenaga batin, barangkali juga telah berpulang harap. Kini, cuma bisa menunggu, riwayat demi riwayat. Mesin bis masih bergerung-gerung seolah suara kukuruyuk ayam jago mempercepat pagi. Tersirat dongeng Sangkuriang Tanah Sunda.

Rugi jika kiranya aku melewatkan detik-detik tajam pertengkaran antara sopir versus pengelola bis. Sopir bersitegang, kecelakaan tanggung perusahaan. Pengelola mau tahu persis penyebabnya. Sopir balik berkata, “Semua ini justru untuk menghindari supaya tidak fatal.” Jalan damainya, pengelola setempat mengalah berhubung ada rekomendasi pusat lewat telefon.

Tarung mulut berlangsung pintas, tetapi yang nonton lebih sebelas. Tiada yang misah jadi juri penengah. Begitulah sindir-sindir bulu ayam, tidak kita sindir kita yang diterkam. Aku berharap dapat suatu ilham menentramkan. Ah, mustahil pikirku ilham ada di sini.

Hampir menjelang subuh, mesin bis dimatikan. Suara penggantinya suara orang berebutan ke kamar mandi. Lembabnya subuh terungkap dari kabut. Ke kamar mandi menunggu giliran buang hajat. Pintu kamar mandi tidak dikunci, cuma pakai tali penguat pegangan. Jadi sebelah tangan memegang perut yang terkuras, sebelah tangan lagi memegang tali.

Kurasa ada yang tidak beres pada perutku. Rasanya seperti perempuan terserang mens. Mau kencing iya, mau buang hajat juga iya. Justru potensi besarnya buang hajat, kalaupun keluar hanya pilinan kecil yang tidak teratur.

Ada serangan gejala tipus menyebabkan demam, hingga sirkulasi darah yang mestinya tertib di dalam perut, kacau oleh demam. Belakangan baru aku tahu rupanya aku terserang usus buntu. Tetapi, aku sendiri kurang percaya dengan keterangan tersebut.

Masa bermalam mudah-mudahan lewat tanpa cemas. Bis mulai didandani, dibersihkan, dicuci, disikat. Berhubung kaca depan hancur dan tidak tersedianya waktu, mungkin juga biaya cadangan. Kaca digantikan dengan plastik. Sebelumnya, dipasang bambu-bambu penyanggah sebagai jerjak. Bambu disilangkan membentuk kotak, plastik dijepit di antara bambu. Sedangkan bambu tersebut dipintal dan dipatri oleh tali-tali tambang yang kecil.

Perut terasa gembung terisi angin. Kentut tidak konstan meski dipaksa, meski ditekan-tekan. Gejala ini diidap penderita maag. Aku jelas-jelas belum terdaftar sebagai pasien penyakit maag. Tiga hal: penyakit maag, tipus, dan radang tenggorokan. Keluhan subjektifnya pasti serempak dan memang ada yang dekat-dekat ke sana.

Obat yang diberikan dokter semacam penjinak rasa sakit. Perlu USG supaya ada kepastian. Dua obat yang sering masuk ke pencernaan, Motillium dan Ponstan 500 mg. Kalau keduanya bekerja, otomatis perut tidak jadi mengamuk.

Kiranya bukan cacing perut yang minta porsi tambah. Bagaimana cara cacing hidup dalam yang hidup mampu bertahan sampai seumur? Tak bisa kuhitung usia cacing. Kalau nanti minum obat cacing enam bulan sekali seperti saran medis, kuyakin pasti ada barang seikat keluar dari liang pantat. Pasal habitat cacing dalam tubuh jadi diskursus baru. Dari apa cacing lahir dan berkembang biak, maaf, khususnya lewat hubungan apa?

Bis yang mengalami nasib buruk karena menghindari tubrukan beruntun mulai terlihat kebagusannya. Dan tidak ada yang sedih secara partikel. Tempo hari, ya. Tahap akhir pemeriksaan bis dilakukan. Mulai dari mesin, AC, rem, gas, klakson, lampu sorot muka, dan perhatian pun tak lepas dari roda. Perhatian utama tertumpah pada keadaan depan bis yang tidak menggunakan kaca. Seperti yang diceritakan tadi, bis pakai bahan plastik pengganti kaca. Sopir dan kenek bicara serius. Kalau kuamati geriknya, kira-kira mereka membahas teknik mengemudikan bis dengan lain tarikan.

Penelusuran antara penyakit perut dan keadaan bis, saling kait-mengikat. Madu pemberian bapak kuoleskan ke bibir, barang dua sendok kutenggak. Sementara ini kutahan saja sakitku ini, tak perlu berenak bahasa menjelaskannya.

Kedai nasi sudah buka sedari fajar, tetapi isinya tetap kurang wajar, asin, basi, juga mahal. Puih! Tobat… Tobat. Alangkah sengsaranya hidup jika terkatung-katung, terjawab tidak, bertanya apatah lagi.

Oh, pengembaraan sepintas, hentikan kesumat ini. Aku tak mau ada yang runtuh dalam perasaanku. Semakin kuredam radang di perut, semakin ia bergerak memutar membelit. Habis mau dipermak bagaimana lagi. Cuma satu yang kucemaskan, kalau obat telah punah, mau cari ganti di mana?

Perjalanan setengah masa sudah terpijak. Nah, sehari lagi finish. Dan aku belum dapat kawan sehaluan, tak mengapa.

Dari arah berlawanan masuk bis ALS yang mau ke Medan. Sopir sama sopir cepat berkawan. Pembukaan percakapan diawali dengan pertanyaan seputar bis. “Terjadinya bagaimana?” Si sopir yang terkena musibah enggan berkomentar lebih peka. Ditanya rinciannya, “Sudah terjadi, ah, sudahlah itu.” Kalimat itu diucapkan dengan logat Tapanuli Selatan-Mandailing.

Pertama, yang diperhatikan penumpang bis Jakarta-Medan yang baru datang adalah bagian muka bis. Ya, itu pantas diprihatinkan. Sangat mencolok. Kami si penumpang naas mulai berkemas-kemas. Ada kabar baik. Bis bisa berangkat usai Dzuhur, hari ini jua. Tidak banyak komentar perihal ini, masing-masing antara kami menghapal doa ampuh perjalanan. Sekarang belum tengah hari, menurut waktu setempat Dzuhur setengah satu-an. Sekitar dua jam lagi.

Belum jadi-jadi juga sarapan. Kuputuskan gabung saja makannya dengan yang siang. R.M Minang yang malam tadi kulihat di situ penuh orang antri mau makan. Giliranku tiba, makan yang bergulai, terutama ikan. Daging saat ini, emoh dulu, apalagi rendang-rendang. Pokoknya yang pedas-pedas tunda, takut di jalan perut ini berulah. Selesai makan aku ke kamar mandi, sebelumnya beli air mineral sebagai tambahan cuci muka dan gosok gigi. Maaf saja kalau mesti pakai air keruh.

Rasanya plong menghabiskan keadaan yang tidak menentu. Dzuhur habis masa pengangkatan sauhnya. Banyak yang sudah rapi bergaya seperti orang yang bersiap-siap bertemu. Seumpama mereka bertemu idaman atau berkunjung ke tempat baru, pasti kemudian senang akan kebaharuan.

Bangku bis, tiga puluh lima terisi seluruhnya, pun bangku tempel dua buah. Tas yang punya tanda nomor bagasi tidak boleh dikeluarkan. Saat itu suasananya persis orang mula baru mau berangkat, padahal ini sudah melewati berapa provinsi. Masih lumayan kupikir ketimbang penumpang sewa dari pelosok dusun yang mau ke Jawa. Berapa kekesalan dilewatinya?

Penumpang satu per satu naik ke bis, tepat pada posisi awal. Orang paling depan masih khawatir kejadian lalu. Serpihan peristiwa itu tanda. Pertama, waktu aku berangkat tak ada yang mengantar. Kedua, bapak tenang-tenang saja. Ketiga, aku tiada kawan di perjalanan. Keempat, aku kecelakaan. Kelima, aku baiknya bersabar. Keenam, terus dan seterusnya.

***

Di atas bumi langit berparas kemayu. Ia menampakkan sisi religiusnya. Bila mendung, lunturlah kecerahan mega-mega. Angin yang meruap menjadi saksinya. Kalau jatuh gerimis sewaktu menghabiskan sisa perjalanan, bisa gawat jadinya. Instruksi sopir supaya penumpang bergerak naik dipatuhi juga akhirnya.

“Tidak ada yang ketinggalan?”

“Tidak !” jawab kami serempak.

“Keta, keta, ketabo !”

Ayo, ayo berangkat.

Dan lambaian tangan pengelola bis dan pihak setempat beruntun berdatangan. Itu cukup jadi doa penghibur kemuraman. Kami tak sendiri, ada yang menyanggah kesedihan mental. Bukan sedih, hanya tidak pernah saja alami kejadian seperti ini. Induk keheranan, seolah aku terlempar semalaman di Linggau.

“Hati-hati, Dongan (Kawan)!” teriak orang di bawah.

Memang benar kami satu bis, namun bila keterasingan individu dipertemukan canggung juga jadinya. Bis mulai bernafas, walau pelan dalam hembusannya. Suaranya berderum. Tape dalam bis belum dinyalakan, sama dengan tv. Ia cuma ditempelkan di tengah lorong sebagai kotak kaca. Dari mulai berangkat hingga tunai perjalanan, tv tidak juga dinyalakan. Dengan satu alasan: belum diperbaiki.

Belum pula ada omongan antara kenek-sopir. Tengoklah nanti. Sopir mengawali perkataan dengan meminta air minum dengan si kenek. Air minum yang diisi dalam bekas botol sirup tadinya tergantung pada sisipan pintu sopir kini berganti pada sisian pintu keluar dekat penumpang.

Sopir pinjam korek api dari kenek. Ia mulai bercerita dan merokok. Semua pertukaran kata, bahasa Tapanuli Selatan atau biasa diplesetkan menjadi Korea Selatan sebutan Mandailing. Sebaliknya Tapanuli Utara-Batak disebut Korea Utara. Aku kurang mengerti bahasa mereka, belum ada kegunaan padaku saat ini. Akan tetapi, suatu masa pasti pacak lidahku melafaskan bahasa manapun di dunia. Asal bahasa itu bersumber dari kemuliaan seseorang yang kuajak bicara.

Pemandangan berganti wajah. Selalu pohon, tiang listrik. Kadang-kadang ganti dengan rumah-rumah penduduk yang sederhana. Dikatakan miskin tidak pantas, pekarangan rumah mereka terawat apik. Bak suguhan dunia berisikan permata kehijauan. Kadang-kadang juga pemandangan sungai-sungai kecil dengan arusnya yang malu-malu tertambat batu kali. Juga batu gunung glundungan dari puncak bukit membatu bersama tanah, menjadikannya tunggak perangai alam.

Jalan-jalan belum diaspal, beralaskan kerikil bintik-bintik campur batu koral, juga pasir. Pertanda pemerintah setempat punya niat baik memuluskannya, supaya jalan melintas tidak meletihkan. Longsoran rintik-rintik pasti dapat ditemui sepanjang sisi jalan berbukit.

Kunanti-nanti kebenaran memastikan supaya aku selamat sampai tujuan dengan perbandingan kondisi bis. Pastilah kepastian itu jadi satu-satunya impian paling realistis. Gerak pacu bis berkurang karena kaca plastik, bukan lantaran mesin tidak berdaya meluncurkannya. Manakala bis mematenkan jalannya, terpaan angin mengenai muka bis. Dikencangkan lagi sedikit, bisa-bisa kaca model terbaru itu lepas terpental. Tiap kali bis bersinggungan dengan bis lain, ada gemetar di hatiku akibat sisa kejadian.

Sedikit lagi daerah Lahat yang paling digembor-gemborkan mengandung muslihat kejahatan terpampang depan mata dan muka, macam mewaspadai. Benang pijar bola matahari mulai punggungi awan biru kehitaman, banyak hitamnya. Boleh hiasi mendung, boleh juga tidak. Sebab, rincik rinai runtuh ke bumi secara berbisik, tak ada sepoi mendorongnya. Hujan, panas tetap lahir menjembataninya. Dahulu sering orang katakan hujan panas berarti orang China mati. Tahayul kepercayaan seperti itu dipakai orang pesisir. Dan aku pun terjamah kepercayaan yang tanpa telaah.

Menurut pengakuan orang Palembang yang kukenal di Singkarak, jalan yang rusak oleh tangan hujan dan kejahatan, walhasil akan selalu rusak. Cerita punya cerita, “bajing loncat” beraksi saat bis sedang pelan. Sesungguhnya bukan bis saja, sasaran empuknya gerobak yang sedang membawa kendaraan roda dua dari Jakarta jual ke Sumatera.

Mereka ahli meloncat dari atas pohon ke atap bis dan gerobak. Guna menghindari perampasan harta, gerobak fuso tunggu rekannya. Kemudian mereka berkonvoi saling menjaga. Bis tidak bisa seperti fuso saling tunggu. Katanya “bajing loncat” kurang mengincar bis-bis penumpang karena jumlah materinya hanyalah sekutil.

Sebatang kara bis mengarungi daratan lintas Sumatera.

Kala siang hari suasana jalan mengeras baja, terlihat susuran tanah Lahat berkelok panjang. Maka diambil masa tepat waktu malam supaya penumpang terhindar mabuk darat memualkan. Menjauhkan ketakutan tanpa judul dari “bajing loncat” dengan membantu penumpang agar tenang tentulah sangat berlainan. Karena, ketakutan secara manusiawi sewaktu-waktu datang juga.

Lebih sejam memata-matai jalan, yang diharap-harap, “si bajing loncat”, hanya jadi bualan belaka. Apa pula yang menarik dari cerita “bajing loncat”? Aku serius menjatuhkan pandang kepada gulita dan duga-duga. Rasanya kembali pada petualangan rohani. Sorot lampu bis jadi sorot mataku semacam manunggaling aku padanya.

Kalau melewati Lampung, kurasa orang Jawa melulu yang menempati sudut-sudut dusun. Terlihat kandang perkutut beranak pinak di sempitan pandang. Bunderannya mengepalai pucuk sangkarnya, lalu penumpahan pola cat yang sama: biru tua berlarik merah.

Bapakku juga begitu sudah mulai senang kepada binatang peliharaan: ayam, perkutut, dan monyet. Kalau sudah tua apa memang harus seperti itu? Jadi petani ladang dan mengurusi anak cucu. Juga binatang peliharaan lainnya.

Di Lampung banyak pohon kelapa menggunakan SDM (sumber daya monyet). Tetapi, dahan-dahannya mengering tiada daya dimakan ulat artona, si hama kelapa. Pelepahnya terhampar layu bergeletakan. Hama yang satu memakan apa saja dari pokok kelapa. Petani kelapa mungkin rugi dua kali. Harga kelapa murah dan kini serangan artona bertubi-tubi. Apa ada kekuatan petani itu membasmi hama lewat bumi dan udara?

Orang Jawa percaya, tiap satu anak lahir, di belakang rumahnya ditanam pokok kelapa. Apa artinya? Pertumbuhan yang setahap. Kelak setelah remaja, kelapa bisa berguna jadi apa saja. Degannya diminum sewaktu perempuan hamil biar anaknya putih. Lidinya menjelma sapu dan penguat pincuk pecel, mie bihun, serta nasi rames. Nyiur yang menjuntai menjadi janur gapura dan ketupat. Sabut kelapa sebagai alat bantu kumbah pinggan atau sangkutan sarung sehabis khitanan. Bahkan batang kelapa pun bisa menjadi titian kecil antar parit. Begitu semestinya anak tumbuh berguna bagi orang tua dan sekisarannya. Demikianlah konon sebuah harapan.

Jalan Lampung kurang lekukannya, hanya sedikit belokan yang runcing. Diramalkan Lampung jadi tempat liburan paling aduhai. Geografisnya dekat ke laut, juga dekat ibu kota.

Acapkali tiba di daerah orang lain, mula-mula jadi hitungan perkiraan: okupasi orang setempat ini apa. Kadang tanahnya subur, orangnya tidak makmur.

Contohnya daerah singgahan di Teluk Panji sekitar tujuh hari lalu. Banyak yang jadi calo tanah dan Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Mereka ikut transmigrasi, nanti berapa tahun tanah kemudian jual kembali. Terus begitu yang telah dilakukan para pendahulu.

Lahan baru semacam transit, jadinya transmigrasi bukan tujuan juga bukan alat. Melainkan gengsi-gengsian orang desa. Biar bisa ambil panci, perlengkapan dapur lainnya, cangkul, serta alat pertukangan.

Orientasi ‘trans’ dan ‘migrasi’ seakan berubah menjadi semacam kunjungan santunan, yang kemudian menjadikannya pelindung. Berulang kali mereka melakukan trik yang sama. Ikut daftar trans, lalu bermigrasi ke tempat baru, kemudian tempat yang lama dijual.

Apa ujudnya kalau sepanjang Sumatera, mulai Sabang hingga Bandar Lampung, lalu sepanjang Kalimantan, mulai Singkawang dan Samarinda, seluruhnya metropolis? Tidak akan ada pepohonan dan hutan-hutan menakutkan. Lalu tidak akan ada yang tahu artinya lumpur, tanah basah, rawa-rawa, gambut, dan rerumputan. Semua menyaksikan gedung menjulang mencakar langit dan mega-mega.

Dan, sewaktu pulang, yang dipunyai ternyata cuma kampung, halamannya berganti jadi jemuran orang. Nasib!

(211)

Setiadi R. Saleh Setiadi R. Saleh adalah penyair asal Langsa (Aceh Timur) dan kemudian menetap di Medan (Sumatera Utara). Usai menamatkan kuliah dan bekerja di Bandung (Jawa Barat), kini ia kembali berdomisili di Medan. Karya-karya sastra dan esainya dimuat di sejumlah media massa di Medan, Jakarta, dan Bandung.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *