Home Featured Jejak Sang Panglima, dari Pasai Hingga Deli

Jejak Sang Panglima, dari Pasai Hingga Deli

276
0
Lambang Kesultanan Deli. Gambar: Tengku Muhammad Dicky.

Dalam Hikayat Deli, cerita bermula ketika Muhammad Dalik berlayar dari tanah Hindustan menuju Cina untuk mempelajari budaya di sana. Muhammad Dalik atau yang dikenal dengan Muhammad Delikhan merupakan keturunan Raja Hindustan dan memiliki hubungan darah dengan Alexander The Great (Raja Makedonia). Di tengah perjalanan, kapalnya karam dihantam badai di Pasai (Aceh).

Di masa awal kehidupannya di Pasai, Dalik mempelajari ilmu bela diri. Disebutkan juga bahwa dia sudah menanggalkan segala macam kebiasaan buruknya. Dan suatu hari, Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh Darussalam mendengar tentang keberanian dan kegagahan Dalik. Muhammad Dalik kemudian dititah menghadap Sultan untuk menerima gelar Laksamana Kodja Bintan”.

Selang beberapa purnama setelah pergelarannya itu, Sultan Iskandar Muda kembali menguji kekuatan dan kegagahan Muhammad Dalik. Sultan bertitah agar Muhammad Dalik mengalahkan seekor gajah yang bernama “Gandasuli”.

Alangkah takjubnya Sultan ketika itu. Dengan mudah, Muhammad Dalik dapat mengalahkan gajah yang mengamuk itu dalam waktu sekejap. Sultan pun bermusyawarah dengan orang-orang besarnya. Mereka berpikir bahwa Muhammad Dalik pantas mendapat gelar yang lebih tinggi dari gelaran sebelumnya.

Setelah bulat keputusan Sultan, Muhammad Dalik pun dititah menghadap. Dia lalu dikaruniakan gelar “Tuanku Panglima Gotjah Pahlawan”. Gelar ini lebih tinggi dari gelar yang sebelumnya. Dia juga diberikan persalinan lengkap berupa pakaian adat kebesaran tujuh ceper, yaitu tengkulok, baju, selempang, celana, bengkong, samping, keris, dan perhiasan. Pakaiannya terlihat mewah dan mengesankan. Perhiasan yang menggantung dibuat dari mutiara. Bajunya disulam benang emas bercorak bunga lotus. Sampingnya diperindah dengan simbol-simbol bercorak bunga. Celananya pula sangat unik. Dia pun menggunakan keris yang diselitkan di antara bengkong yang pendingnya bertatahkan bermacam-macam batu permata.

Sultan Iskandar Muda kala itu ingin memperluas daerah kekuasaannya dengan cara menjajah negeri-negeri Pahang dan sekitarnya. Pada suatu hari bertuah, tahun 1600-an, diadakanlah upacara adat yang sakral seraya meminta rahmat dari Tuhan untuk mengelakkan segala marabahaya dan kekalahan dalam perang menaklukkan Pahang. Kemudian, armada Kerajaan Aceh pun bertolak menuju Pahang dengan Muhammad Dalik sebagai kepala perang.

Muhammad Dalik singgah di Siak. Dia mengirim surat kepada Raja Siak untuk diperbolehkan menghadap, yang kemudian diterima dan disambut dengan segala kebesaran dan keagungan.

Muhammad Dalik kemudian menyampaikan pesan bahwasanya Sultan Iskandar Muda yang bergelar “Alam Shah” (penguasa seluruh alam) berkehendak untuk menguasai seluruh negeri Melayu. Raja Siak pun bersetuju untuk mengikuti Muhammad Dalik. Raja mengatakan bahwa pasukannya di bawah Raja Aceh akan menaklukkan Kesultanan Malaka dan segala negeri-negeri tanah Melayu. Dalik pun memohon kepada Raja Siak dan berkata “Jangan permalukan patik dengan Portugis.”

Kala itu Portugis mampu menduduki Tanah Malaka. Jika Portugis mampu, bagaimana pula Muhammad Dalik tak mampu, pikir sang panglima.

Muhammad Dalik juga kemudian singgah di Kedah, Perak, dan Selangor. Di tiap-tiap negeri yang disinggahinya, dia selalu mendapat penerimaan yang baik dan meriah. Di Selangor pula raja dan menteri-menterinya bersepakat untuk mengirimkan pasukannya untuk bergabung dengan pasukan Dalik.

Pasukan-pasukan mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Johor. Raja Johor takut akan kekalahan jika mesti berperang melawan Pasukan Aceh. Sebab, jumlahnya sangatlah banyak, yang terdiri dari macam-macam pasukan negara-negara lain.

Takut kehilangan negerinya, Kerajaan Johor juga bersetuju untuk menggabungkan pasukannya dengan Pasukan Aceh dan Selangor. Kemudian pasukan gabungan ketiga negeri ini pun bergerak menuju Pahang.

Raja Pahang sudah mengetahui bahwa pasukan Aceh di bawah pimpinan Muhammad Dalik akan datang untuk menaklukkan negerinya. Raja tak ingin mendapat malu karena tak mampu berperang melawan pasukan Aceh. Karena itu, sedari awal dia sudah bersepakat dengan menteri-menterinya untuk melawan pasukan Muhammad Dalik. Pasukan Kerajaan Pahang juga sudah siap sedia dari sebelum hari Muhammad Dalik tiba di Pahang.

Tiba di Pahang, perang pun bergolak antara pasukan Kerajaan Pahang dengan pasukan Muhammad Dalik yang terdiri dari berbagai negara. Pasukan Pahang perlahan-lahan jatuh kalah. Korban banyak bergelimpangan. Negeri Pahang huru-hara tak menentu. Pasukan Muhammad Dalik pun menang, “laksana harimau selesai menikmati perburuannya”.

Melihat kekalahan telak ini, Raja Pahang menyerah kalah dan menawarkan dua puterinya untuk dinikahkan dengan Raja Aceh. Keesokan harinya, Muhammad Dalik dititah menghadap ke istana Raja Pahang dengan sambutan resmi.

Payung kuning kerajaan diatur bersusun ke hadapan menyambut kedatangan Muhammad Dalik, begitu pula tombak-tombak dan segala perangkat-perangkat istiadat Kerajaan Pahang. Muhammad Dalik pun berkata di atas kekalahan Pahang terhadap Aceh:

“Segala orang besar-besar, menteri-menteri, kepala istiadat, dan setiausaha-setiausaha, tinggallah di Pahang. Hukum dan adat istiadat akan tetap dipimpin oleh Raja Pahang.”

Muhammad Dalik kemudian berkirim surat dengan Raja Aceh tentang kemenangannya melawan Kerajaan Pahang. Saat kembali ke Aceh, lagi-lagi dia disambut dengan pesta dan kebesaran yang penuh adat istiadat.

Sultan Iskandar Muda kemudian bertitah bahwa dia menjamin bahwa segala hukum serta adat istiadat dari semua negeri yang kalah dalam perang melawan kerajaannya tidak akan diubah, dan hanya Allah-lah yang akan membalas bakti mereka.

Selanjutnya, dua putri Raja Pahang dinikahkah dengan petinggi Aceh; satu dengan Sultan Iskandar Muda dan satu lagi dengan Muhammad Dalik. Pesta pernikahan dilaksanakan dengan adat istiadat Melayu yang lengkap.

Raja Selangor sangat dipuji karena keberanian dan kesopanannya. Dia kemudian ditunjuk menjadi Wali Sultan Aceh untuk daerah Semenanjung (Malaysia sekarang). Sultan Aceh pun mengkaruniakan kepadanya seperangkat persalinan yang lengkap dan melantik beberapa pembesar negeri di sana.

Kemudian, Muhammad Dalik kemudian berangkat lagi ke Semenanjung, menuju Kelantan. Dia mengirim surat ultimatum kepada Raja Kelantan. Surat ultimatum itu diterima oleh menteri-menteri diraja Kelantan. Mereka kemudian bersepakat untuk menyembahkan surat itu kepada raja.

Takut kehilangan negeri serta rakyat-rakyatnya, Raja Kelantan lalu memutuskan untuk tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Aceh. Dia pun lantas turut mengirimkan pasukannya untuk ikut berperang melawan Malaka.

Muhammad Dalik juga berhenti di Terengganu dan Pattani. Di Pattani inilah kemudian Muhammad Dalik menyusun strategi bersama pasukan-pasukannya untuk menyerbu Malaka.

Setelah berhari-hari dalam perjalanan, Muhammad Dalik dan ribuan pasukannya sampai di Malaka. Malaka diserang dari laut dan darat. Akhirnya, pasukan Malaka kalah dan banyak rakyat-rakyatnya menjadi korban, bahkan ada juga yang hilang melarikan diri ke hutan.

Perayaan besar kemudian diadakan sempena kemenangan ini. Orang besar-besar Malaka yang menyerah kalah turut diundang dan dikaruniakan persalinan yang lengkap. Setelah itu, Muhammad Dalik pergi ke Kemuja dan meninggalkan beberapa pasukannya untuk menjaga Malaka.

Di Kemuja pula, sang raja telah memutuskan untuk menyerbu Aceh. Raja Kemuja tidak sepakat dengan perdana menterinya yang lebih memilih untuk tunduk kepada Aceh daripada harus kalah melepas nyawa dan kehilangan negeri.

Perang pun kemudian terjadi. Akan tetapi, serdadu Raja Kemuja sangat buruk dalam berperang. Raja Kemuja kemudian sadar bahwa dia membawa negerinya pada kerugian yang sangat amat besar. Dan tersebutlah syair ini:

“Suara guntur, gemuruh, dan menggelegar. Hujan panas turun, gerimis di pita. Angin naik, meniup lembut, dan semua daun terkulai jatuh dari pohon seperti pangeran yang mati. Ayam tidak berkokok, tanda bahwa raja besar akan mati.”

Setelah Raja Kemuja terbunuh, banyak rakyatnya yang menangis dan meratap. Orang-orang besar Kemuja kemudian menghentikan peperangan. Raja Kemuja lalu dikuburkan dan Muhammad Dalik menenangkan suasana duka di Kerajaan Kemuja dengan kata-kata yang manis.

Berita kemenangan Aceh melawan Kemuja pun telah sampai di telinga Sultan Iskandar Muda. Muhammad Dalik pulang ke Aceh dan disambut dengan pesta meriah, sebagaimana biasanya. Dalik lalu dikaruniakan gelar “Seripaduka”.

Beberapa bulan kemudian, Sultan Aceh dan orang besar-besarnya memutuskan untuk mengirim Muhammad Dalik ke Bangkahulu (Bengkulu kini). Di Bangkahulu, Muhammad Dalik tidak berperang. Dia menculik Raja Bangkahulu dan membawanya ke Aceh tanpa sepengetahuan sesiapa pun di Bangkahulu.

Rakyat Bangkahulu berduka karena kehilangan rajanya. Di Aceh pula, Sultan Iskandar Muda meyakinkan Raja Bangkahulu bahwa adat istiadat di Bangkahulu tidak akan diubah. Hanya saja, Kerajaan Bangkahulu harus tunduk di bawah perintah-perintah Raja Aceh. Raja Bangkahulu kemudian setuju, dan dia diantar pulang ke Bangkahulu dengan pasukan pengawal Kerajaan Aceh yang dipimpin oleh Muhammad Dalik.

Kemudian, Muhammad Dalik dan pasukannya berkehendak untuk menyerang Kerajaan Sambas (di Kalimantan Barat kini). Namun, peperangan terhenti di tengah jalan. Sebab, Muhammad Dalik mendapatkan sepucuk surat yang dikirimkan oleh seseorang yang berisi pesan bahwa Sultan Aceh memiliki hubungan asmara secara diam-diam dengan istri Muhammad Dalik.

Berita ini membuat Muhammad Dalik sangat kecewa dan bersedih hati. Dia tidak menyangka hal ini terjadi. Kalaulah para raja-raja yang telah tunduk di bawah Raja Aceh tahu akan takdir seorang Muhammad Dalik ini, yang loyalitasnya sangat tinggi kepada Raja Aceh, pastilah semua raja-raja yang tunduk itu akan berkhianat.

Muhammad Dalik pulang ke Aceh. Dia sadar bahwa sangat tidak pantas untuk melakukan pengkhianatan. Dia kemudian pergi menghadap Sultan, menyampaikan bahwa segala tugasnya sudah selesai dan pengabdiannya berhenti di sini. Dan dia tidak lagi menerima perintah-perintah Sultan. Muhammad Dalik juga telah menceraikan istrinya. Dia tawarkan mantan istrinya itu untuk menjadi pemijat kaki Sultan.

Setelah itu Muhammad Dalik pergi berlayar meninggalkan Aceh. Kesedihannya terus ia senandungkan semasa dalam pelayarannya.

“Bulan, menyebarkan cahayanya, menyinari segalanya. Burung, dengan suara yang merdu, menangis dengan rindu kepada bulan, seperti seorang wanita yang ditinggalkan, meratapi cintanya.” Sesekali air matanya jatuh di pangkuan.

Beberapa lama dalam pelayaran, sampailah ia di Percut, sebuah wilayah di pinggir bibir pantai Sumatera Timur. Raja di sana dikenal dengan nama Tengku Kejuruan Hitam. Sebuah pesta penyambutan diadakan untuk Muhammad Dalik karena Tengku Kejuruan Hitam tahu siapa Muhammad Dalik dan apa posisinya di Aceh sebelumnya. Raja Percut kemudian meminta Muhammad Dalik supaya tinggal dan menetap di Percut.

Muhammad Dalik lalu meminta izin untuk mengunjungi kota-kota di sekitar Percut, seperti Kota Jawa, Pulo Berayan, Kota Rentang, dan Kampung Kesawan. Semua daerah ini adalah yang kini termasuk dalam wilayah Deli (kini di Sumatera Utara, Indonesia).

Sekembalinya Muhammad Dalik dari mengunjungi daerah-daerah itu, Raja Percut berkonsultasi dengan orang besar-besarnya untuk menikahkan Muhammad Dalik dengan anak perempuannya. Raja Percut menawarkan seluruh wilayah Percut untuk Muhammad Dalik. Tanpa berlama-lama, Muhammad Dalik setuju akan tawaran Tengku Kejuruan Hitam. Pesta pernikahan pun dilangsungkan secara besar dan meriah.

Kehidupan Muhammad Dalik semakin membaik setelah pernikahannya. Dia meminta izin kepada Tengku Kejuruan Hitam untuk membuka sebuah kampung di dekat Gunung Kelaus.

Kemudian, dia izinkan orang-orang Batak yang turun dari gunung untuk membuka pemukiman di sekitar wilayahnya. Perkampungan di situ semakin meluas dan semakin ramai.

Suatu hari, diketahui bahwa istri Muhammad Dalik sedang mengandung. Setelah melahirkan, ternyata anaknya seseorang lelaki yang tampan rupanya. Anak dari Tuanku Gotjah Pahlawan Ibni Tuanku Muhammad Delikhan Ibni Tuanku Zulqarni Bahatsid Segh Maturulluddin Hindustan yang bergelar Seripaduka Percut Sungai Lalang ini kemudian diberi nama Tengku Parunggit. Tengku Parunggitlah yang menjadi keturunan pertama Raja-Raja Deli hingga detik ini.

 

* Disarikan dari Hikayat Deli yang ditulis pada pertengahan abad ke-18 oleh seorang pujangga dalam lingkungan Kesultanan Deli.

(276)

Tengku Muhammad Dicky Tengku Muhammad Dicky lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 3 Juni 1993. Dia Medan dia bekerja di Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid sekaligus pemilik TMD Photography.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *