Home Featured Di Bawah Bendera Marawa
0

Di Bawah Bendera Marawa

420
0

Diceritakan bahwa Adityawarman adalah putra Dara Jingga yang berasal dari keturunan Melayu Minangkabau. Dia dibesarkan dalam lingkungan istana Majapahit yang beragama Hindu. Pada 1340, dia diutus oleh Raja Majapahit untuk menaklukkan Minangkabau, negeri penghasil lada. Namun, impian Majapahit untuk menguasai Minangkabau pupus. Mereka bukan kalah dalam pertempuran, melainkan kalah “beradu pintar” melalui dua sayembara “Batakok Kayu Tataran Naga” dan “Adu Kabau”. Sebelumnya, negeri jauh itu sudah dua kali mengutus pasukan, dan menghasilkan kegagalan ketika berhadapan dengan Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Kesudahannya, sekitar pertengahan abad ke-14, Adityawarman datang ke Minangkabau, karena ibunya berasal dari orang Minang. Dan dia diterima.

Kini nama Adityawarman diabadikan sebagai nama Museum di Padang, Sumatera Barat. Bangunannya berbentuk rumah gadang yang kokoh menjulang langit. Halamannya luas dengan keasrian lingkungan yang terjaga. Suasananya seakan menceritakan negeri yang besar ini pada beberapa abad silam.

Di pintu masuk museum, berkibar sejumlah umbul-umbul bendera Minangkabau atau Marawa. Secara tradisional, bendera yang terdiri dari tiga warna ini, kuning, merah, hitam, harus tersusun sejajar. Ini menyiratkan makna berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Tiga warna itu mewakili tiga negeri Minangkabau, yakni Luhak Lumopuluah Koto (hitam), Luhak Agam (merah), dan Luhak Tanahdatar (kuning).

Tapi pada bangunan museum, tampak kain berwarna merah putih yang melingkari setiap sendi rumah gadang ini, seakan menegaskan Minangkabau adalah milik Indonesia. Sedikit tergelitik di hati akan fakta bahwa wilayah kebesaran kebudayaan Minangkabau sejatinya termasuk Negeri Sembilan, yang kini berada di dalam negara Malaysia.

Di dalam rumah gadang, banyak sekali replika negeri Minangkabau yang ditampilkan seperti apa adanya dulu. Sebut saja pakaian penghulu, bundo kanduang, pelaminan pengantin, hidangan makanan kala acara adat, dan arsitektur bangunan rumah gadang dan surau/mesjid yang semuanya berbeda di tiap wilayah. Selain itu, ada juga alat-alat pertukangan; bentuk mata pencarian; kerajinan khas minang, seperti, sulaman dan songket; sampai beberapa benda seni rupa peninggalan Hindu.

(420)

Arif Budiman Arif Budiman lahir di Minangkabau, Sumatera Barat. Saat ini ia beraktivitas sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, angkatan 2008. Pria yang lahir pada 1990 ini sangat berminat pada jurnalisme. Dan hal yang paling ia sukai adalah melakukan peliputan; bergumul dengan fakta-fakta di lapangan. Ia pernah menjadi reporter pada majalah sekolah P’Mails yang diterbitkan oleh koran terbesar di Padang (Padang Ekspres Group) dan penulis di situs resmi dinas pendidikan kota Padang, Selain itu, ia juga pernah melakukan peliputan dalam kegiatan Festival Seni Internasional 2008 di Yogyakarta. Kini ia adalah perwakilan sekaligus desainer LenteraTimur.com di Yogyakarta.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *