Home Sastra Puisi-Puisi Jamil Massa
0

Puisi-Puisi Jamil Massa

77
0
Jamil Massa.

Para Pangeran
– Ilato

AKU tak tahu suara apa menuntun tanganmu mengusap tubuhku yang lepuh. suara sama membimbingmu memilih hidup sebagai pertapa kembara. Dengan berkelana menunggang lembu tanpa pelana, telah kau temukan arti duka pada iring-iringan semut yang tak tega kau injak sengaja.

Aku selalu ingat wajahmu yang putih saat kau lalu di tengah kampung. Seolah buat menjawab teka-teki yang belum rampung: “masa lalu buatku adalah rumah yang tak dapat lagi kujadikan ujung pulang, dan seorang ibu bagiku cuma pecahan kulit telur yang tak cukup indah buat dikenang”.

Aku memanggilmu kilat, bukan pak tua seperti lazimnya.Memanggilmu seperti air sumur yang mampu membaca bekas-bekas tapak kakimu yang kerut; belulangmu renta dan cuat yang seakan mampu membaca maut.

Jadi suara-suara apa yang mengajakmu menggali bakal makam sendiri? Makam yang kelak mendaki lereng bukit supaya orang-orang tak lagi datang meminta dan menjadikanmu nabi.

 

– Polamolo

Lama perempuan itu menunggu: berharap kau segera menanggalkan topengmu yang burik dan jubahmu yang sisik, agar setelah itu kau sudi mengajaknya tidur di balik kelambu yang risik.

Lama perempuan itu mengenang: kaki-kakimu yang dulu lentur memainkan raga. Menyepak bola-bola rotan itu sampai melenting tinggi lalu jatuh tepat di pangkuannya. Perempuan—yang mula kau cinta sejak mengintipnya berenang telanjang di tengah sebuah telaga yang lengang—itu berharap kau selalu puisi seperti saat meminangnya dengan mahar masa lalumu yang lamur.

Lama perempuan itu menduga: mungkin kau masih menyimpan dendammu yang pandir pada penduduk negeri yang menjadikanmu pangeran terusir. Hanya karena kau lupa menyisihkan untuk mereka sepotong tebu paling manis. Paling air.

Lama sekali, perempuan itu merencanakan hal ini: menantimu pulang esok pagi, untuk kemudian, saat kau tidur, menyelinap dalam kamarmu yang rahasia. mencari topeng, jubah dan dendammu yang usang lalu membakarnya. Perempuan itu menginginkan: malam berikut tak lagi dihabiskannya dengan membeku sendiri di kamar ini.

 

– Limonu

Seorang bocah dari negeri tanah putih menghadap ayahnya yang raja:

“Ayah, aku adalah anakmu dari perempuan yang telah kau lupa. Perempuan yang menunggumu sekian lama walau dia tahu kau pasti enggan kembali kepadanya.

“Ayah, lihatlah rambutku emas seperti rambutnya.Mataku tenang seperti matamu. Rambut dan mata yang pernah bertemu di satu hulu, dan kini berkumpul di tubuhku.

“Ayah, engkau tak perlu menyanggah, sebab aku datang hanya untuk meminta arah. Sebab ibu–perempuan itu–telah meyakinkanku sejak awal, keturunan biru sepertimu tak mungkin mengakui seorang anak dari muasal tak dikenal.

“Ayah, tak usah aku kau rengkuh. Pula tak perlu aku kau bunuh. Aku hanya singgah barang sebentar. Cuma untuk tahu, di mana tinggal lelaki yang ingin kau penggal. Agar aku dapat membawa pulang kepalanya untuk kulemparkan di kakimu.”

 

Makassar-Gorontalo, September 2012

 

 

Penghujung Hujan
1.
SESEORANG mesti meminta lelaki itu berhenti berdiri di beranda. Berhenti tercenung seperti tamu di rumah tuan tak berkenan. Berhenti menengadah tangan mengharap jemarinya dibasahi hujan. Karena musim hujan telah habis dan langit telah lupa bahasa elok-cantik yang fasih mereka ucap untuk mempercakapkan kota, cuaca, dan politik. Katakan padanya untuk berhenti menunggu, berhenti merindu. Sebab musim cinta telah habis dan sepasang manusia tak perlu berkata-kata untuk memahami mengapa mereka bisa saling jatuh cinta tiba-tiba.

2.
Tak perlu kau khawatirkan seseorang yang mengirim mimpi lewat pesan singkat itu. Mimpi di mana kau menjadi Nuh yang mesti membangun bahtera dari ratusan kubik kayu pohon gifar untuk menyelamatkan berpasang-pasang hewan dan manusia dari banjir besar yang kelak menenggelamkan dunia dan menjadikannya lautan. Senyatanya banjir cuma setinggi mata kaki. Bahkan kucingmu tak bakal tenggelam andai ia mampu sembunyi di atas lemari.

3.
Mereka berlarian di sekitarmu. Anak-anak yang kemudian mengguncang-guncang tubuhmu agar buah-buah yang baru berkecambah itu tumpah dari ranting-rantingmu. Namun hanya sisa-sisa hujan yang semula menempel di daun-daunmu itu yang jatuh luruh menimpa kepala-kepala mereka. Dan mereka tertawa.Kau ingin ikut tertawa tapi kau tahan, sebab tawa sebatang pohon dapat membuat anak-anak ketakutan.Maka kau biarkan mereka kembali berlarian di sekitarmu. Sampai salah satu di antara mereka ingin memanjatmu.Kau membisikkan semacam isyarat larangan, sebab batangmu masih licin, basah dan berlumut. Kau khawatir dia akan jatuh dan sakit. Walau tak ada yang lebih sakit dari sakit akar-akarmu saat terinjak kaki-kaki mereka, dahan-dahanmu ketika dipatahkan tangan-tangan mereka dan sekujur kulitmu yang penuh toreh nama-nama mereka dan nama gadis-gadis yang mereka idam diam-diam. Kau ingin meringis tapi kau tahan, sebab seringai sebatang pohon dapat membuat anak-anak ketakutan.

4.
Bagaimana kau perlakukan aku mestinya.Hujan nyaris habis dan aku hampir kering. Namun huruf-huruf dan kata-kata di tubuhku terlanjur luntur, lamur, sukar terbaca. Andai aku dapat membaca, mampu berkata-kata dan paham alasan seseorang menangis atau tertawa setelah menelusur tubuhku seksama sekian lama, barangkali akan mudah bagimu memutuskan adakah cukup tempat yang hangat buatku di laci lemari tempat berlusin surat cinta darinya kau simpan. Atau kau akan pilih mengoyak, menyobek, dan membakar tubuhku saja. Apakah aku adalah surat cintanya seperti yang sudah-sudah, atau sekadar cara mencapakkanmu paling mudah. Aku terlalu lama meringkuk dalam kotak surat bocor. Sebagian huruf dan kata terlarut dalam hujan, terbawa arus selokan, menyatu sungai sebagian; lainnya diserap tanah, batu dan akar pepohonan. Kelak mungkin mereka bermuara kembali di lautan, menguap dan luruh jadi hujan musim depan. Barangkali kau mesti mengumpulkan setiap huruf, setiap kata dalam hujan itu lalu menyusunnya. Agar kau tahu pesan apa yang ingin disampaikannya dan bagaimana kau perlakukan aku mestinya.

 

Makassar-Gorontalo, September 2012

 

 

Paguyaman di Kepala Kakekku
Inilah paguyaman, kata kakekku
ibu bagi gunung-gunung
dan kebun jagung tak terhitung.

Sebentar hujan, sebentar reda
musim di sini seperti kakekku
di jaman perang dahulu
serdadu rendahan
yang amat peragu.

Inilah paguyaman, kata kakekku
sepasang pulau memeluk teluk
jalanan memintas bukit dan ceruk.

Katanya, ceritakanlah rahasia
pada pohon kelapa
atau pokok ubi yang bisa dipercaya

menjauhlah dari antena parabola
yang sejak kecil sudah diajari
jadi mata-mata.

Inilah paguyaman, kata kakekku
ombak jauh lebih senyap
dari jari jemari pesulap

“aku ingin jadi pesulap,”
ujarnya tiba-tiba.

“aku benar-benar ingin jadi pesulap,”
ulangnya terbata-bata.

“Bukankah menakjubkan
bisa memotong peti jadi
kotak-kotak persegi
tanpa membunuh perempuan
cantik yang tengah berbaring
di dalamnya?”
Dia bergumam sambil menatap
sepetak kebun kelapa
di luar jendela.

Aku tahu, kakekku dulu
punya banyak kebun kelapa
kebun-kebun itu satu persatu
telah dijual untuk menutup
lubang yang ditinggalkan ayah
dan paman-pamanku di tubuhnya.

“Aku mengerti, kakek
aku mengerti,” kataku.

“Inilah paguyaman, inilah paguyaman.
Dapatkah kau bacakan puisi untukku?”
pintanya kemudian.

 

Paguyaman, Juli 08
(Paguyaman, sebuah kecamatan di Kabupaten Gorontalo)

 

 

Sungai
:Wasior

Mereka tak punya Nuh, tak punya bahtera
mereka hanya ingin percaya kepadanya,
yang sedang menunggu di ujung sana

Sungai Eden mengalir jadi empat cabang
dan cabang ini salah satunya
mereka ingin percaya sedang menuju kepadanya

Satu tikungan lagi mereka akan sampai
Dia telah menunggu untuk memandikan mereka
dengan air yang lebih harum dari airmata.

Di tempat itu, mereka memakai pakaian bersih
dan mahkota yang ditumbuhi bunga-bunga merah muda

Mereka ingin percaya, mereka ingin percaya
berulangkali mereka menyebut namanya

Mereka tak punya Nuh, tak punya bahtera
tak punya tumbuh-tumbuhan
atau binatang sepasang-sepasang

Semua lenyap sejak hutan berubah jadi kertas
dan sebagian menjelma jadi sungai
yang kini sedang membawa mereka

Mereka ingin percaya tapi tak tahu kepada siapa.

 

Makassar, Oktober 2009

 

 

Perawan Bulan
Masih cukup jelas ingatanku pada sebuah tahun tak tercatat, di tepi telaga tak bernama, aku menemukanmu tergugu sembari mendekap sepasang payudara yang menyembul ragu-ragu. Seketika birahiku menyala senyala pendaran dari kulitmu yang kuning purnama.

Kita saling bertukar tatapan ganjil sementara tubuhmu masih telanjang disesah udara dingin yang batil. Aku coba menawarkan selimut yang kujalin dari dedaunan sulur, namun kau tampik seraya memintaku mundur, tak seinci pun mendekat. Mengotorimu dengan jelagaku yang kodrat.

Masih cukup jelas ingatanku pada sebuah malam tatkala kau menyisakan rasa panas Lewat ketakutanmu yang angkuh. Dan kau mulai mendongeng tentang manusia-manusia yang bertemu makhluk langit, sama sepertiku menemukanmu. Mereka membual tentang kudusnya pernikahan bumi dan rembulan.

Kau ceritakan padaku kebenaran langit; tak ada anak-anak berkejaran membuat jejak hingga jadilah bintang, tak ada perempuan menangis mencipta rinai sampai turunlah hujan, dan tak ada lelaki berbahu kekar memanggul cakra buat memutar hari.

Maka kutinggalkan kau bersama sayapmu, tubuhmu yang terlalu suci buat lusuh dibasuh lumpur bumi yang dina. kutinggalkan sembari menyusun cerita buat anak keturunanku agar berbangga dengan raga yang mengalirkan darah dewa-dewa.

Dan setelah bertahun-tahun, ingatanku masih juga teramat jelas. Sejelas sinar pucat yang menggiringmu turun tiap purnama kedua belas. Itulah ziarahmu ke tubuhku yang batu.Mengecup bagian yang mungkin kau sangka bibir, mungkin keningku.

 

Makassar, Agustus 2007

(77)

Jamil Massa Jamil Massa adalah alumni Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan. Kini dia aktif dalam Komunitas Tanggomo dan bekerja sebagai jurnalis lepas untuk beberapa media. Tinggal di Gorontalo.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *