Home Featured Menyungkit Kisah Si Kain Emas

Menyungkit Kisah Si Kain Emas

282
0
Ragam songket. Gambar: Tengku Muhammad Dicky.

Songket, atau yang dikenal oleh bangsa asing sebagai “cloth of gold”, berasal dari perbendaharaan bahasa Melayu , yaitu “Menyungkit”. Menyungkit berarti mengeluarkan, (mengangkat, mengorek) sesuatu dari lubang atau tempatnya melekat; menyunggit; mencungkil. Dan dengan kerja demikianlah songket dibuat dengan estetika tinggi sebagai salah satu produk peradaban Melayu.

Dasar pengerjaan songket adalah dengan menjalin benang emas diantara benang-benang yang disusun dalam suatu alat tenun. Pengerjaannya dilakukan dengan cara memasukkan benang emas itu, lalu mengeluarkannya (menyungkit) ke antara susunan benang-benang. Jalinan benang emas ini kemudian membentuk suatu pola desain songket. Dan benang emas yang terselip diantara benang-benang pada kain songket lebih memberikan makna dan kesan istimewa bagi sesiapa orang yang memakainya.

Songket termasuk dalam kelas tekstil brokat yang mulai dikenali dunia pada 1500 – 1700. Brokat sendiri bermakna sebagai kain yang disulam dengan benang emas atau perak. Akan tetapi, yang membedakan songket dengan dengan ragam tekstil brokat lain adalah kisah bermulanya.

Dikutip dari salah satu versi, dari banyak versi, bahwasanya ketika Melaka berpisah dari kuasa Maharaja Cina, Sultan Melaka diberikan sebuah payung kuning, mohor, dan persalinan lengkap yang terbuat dari sutra bersulam emas. Dan sejak itulah songket bermula, yang kemudian menjadi pakaian khas bagi seorang raja atau sultan beserta keluarganya, hingga kini.

Songket juga mengasaskan motifnya pada alam yang asli. Dan ini ada maknanya. Sebagian orang mengatakan bahwa pembuatan songket yang bermotifkan corak alam adalah merupakan wujud manifestasi kesyukuran seorang hamba Allah terhadap alam ciptaanNya.

Meski demikian, motif songket sendiri tidaklah tunggal. Ia memiliki beragam motif yang masing-masingnya kemudian melekat sebagai kekhasan suatu wilayah. Di antara beragam motif alam songket yang nyaris ada di seluruh Kepulauan Melayu, berikut adalah di antaranya:

Atas: Kain samping corak bunga tampuk kesemak berkepala samping pucung rebung lawi ayam. Bawah: Kain samping kanak-kanak corak kotaraja. Gambar: Koleksi Allahyarham Tengku Ismail bin Tengku Su.

1. Pucuk Rebung (Sumatera)

2. Tampuk buah kesemak (Terengganu)

3. Tampuk buah manggis (Terengganu)

4. Bunga kekwa (crysanthemum)

5. Buah cermai

6. Bunga raya (Semenanjung Malaysia)

7. Bunga cengkeh (Terengganu)

8. Rantai (Sumatera)

9. Padi

10. Bunga orchid

11. Bunga kuih ladu (Semenanjung Malaysia)

12. Bunga kuih madu manis

13. Bunga pecah empat (Semenanjung Malaysia)

14. Bunga pecah lapan (Semenanjung Malaysia)

15. Bunga bintang beralih (Semenanjung Malaysia)

16. Bunga tudung saji (Semenanjung Malaysia)

17. Bunga sunting malai (Terengganu)

18. Bunga kemunting cina (Terengganu)

19. Bunga tanjung

20. Bunga buah cermai (Kelantan)

21. Bunga buah nenas

22. Bunga biji peria

23. Bunga pitis

24. Bunga siku keluang

25. Bunga daun seritan (Kelantan)

26. Bunga ulat dalam pinang kotai (Kelantan)

27. Bunga akar kuning

28. Bunga setelop

29. Burung (Sumatera)

30. Bunga hati tengah pinggan (Terengganu)

31. Pucuk pandan (Sumatera)

32. Pucuk susut sembunyi (Sumatera)

33. Pucuk lawi ayam (Terengganu)

34. Bunga tiga dara (Terengganu)

35. Pucuk rebung bunga kayohan (Terengganu)

Atas: Baju Tunik bercorak Songket Limau Sekupang (dipakai semasa adat bersiram sampat). Bawah: Seluar Songket Bercorak Bunga Mahkota. Gambar: Koleksi Allahyarham Tengku Ismail bin Tengku Su.

Songket, atau yang serupa songket, tak hanya digunakan di Indonesia kini dan Malaysia kini. Ia juga digunakan hampir di seluruh pesisir daerah Asia Tenggara atau Kepulauan Melayu. Di Mindanao (Filipina), misalnya, ia disebut “Malong Andon”; atau di Thailand disebut “Pha Yok Thong”. Penyebaran songket yang sedemikian luas ini terjadi tanpa dikatrol oleh pihak penguasa.

Untuk Kelantan dan Terengganu, songket dipercaya berasal atau dikenal dari datok-nenek moyang mereka, yakni kerajaan Melayu Langkasuka (Pattani) di Thailand kini. Langkasaka adalah negeri yang kaya akan seni tenun, seni memahat logam, seni mengukir kayu, seni musik, seni drama, dan seni menari.

Sedari dulu hingga kini, Terengganu memang dikenal sebagai pusat produksi songket yang amat bermutu. Seluruh kegiatannya pun dipantau langsung oleh Sultan Trengganu, Sultanah Nur Zahirah. Dan salah seorang pakar di bidang songket yang banyak mempengaruhi peristiadatan dalam istana-istana di Malaysia, khususnya Terengganu, adalah Almarhumah Tengku Ismail Su, seorang bangsawan Terengganu.

Sementara itu, sekitar 1900 – 1950, di Kesultanan Deli, songket-songket yang digunakan oleh sultan dan para keluarganya merupakan songket-songket yang dibawa dari Terengganu dan Kelantan. Awal mula songket digunakan di Deli adalah setelah terjadinya pernikahan antara Kesultanan Deli dan Kesultanan Perak, yaitu pernikahan Almarhum Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah (Sultan Deli X) dengan Almarhumah Tengku Maheran binti Sultan Abdullah (Kesultanan Perak).

Almarhum Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah Al-Haj (Sultan Deli X). Foto: Dokumentasi Tengku Muhammad Dicky.

Almarhum Sultan Amaluddin juga banyak menyerap gaya peristiadatan dari Kesultanan Perak. Tuanku Amaluddin merupakan Sultan Deli pertama yang menggunakan persalinan sedondon (lengkap) berbahan kain songket dengan corak bunga tabur. Sedangkan sultan-sultan Deli sebelumnya menggunakan jas hitam berbahan baldu dan bertekat benang emas sebagai pakaian kebesaran mereka, sebagaimana yang digunakan para pembesar Eropa yang pada masa itu datang ke tanah Deli. Di masa Tuanku Amaluddin inilah adat istiadat terus dihidupkan sampai sekarang.

Akan tetapi, terkait songket Malaysia, almarhum Pak Nik Bomoh Diraja Kelantan pernah berkata bahwa ada kemungkinan ia ditenun oleh orang-orang dari Sumatera, yakni dari Palembang dan Jambi, yang bekerja sebagai penenun di Malaysia. Ketika itu para penenun ini bekerja di bawah perintah sultan. Pada awalnya cerita ini mengejutkan. Tetapi kalau dipikir, itu bukanlah masalah. Sebab wilayah-wilayah ini memang bagian dari bangsa Melayu yang saling pengaruh mempengaruhi. Dan karena bersifat kosmopolit, tak pernah ada ribut-ribut mengenai siapa yang punya songket.

Apalagi, saat ini, songket yang beredar di pasar pun berasal dari mana-mana. Sebut saja songket Pakistan, songket Terengganu, songket tenun pandai sikek (Minangkabau), atau songket Palembang. Dan seiring perkembangan zaman, corak, motif, dan pembuatan pada songket juga berubah-ubah.

Meski demikian, perubahan tak hanya terjadi pada ranah corak, melainkan juga pada pemakaiannya. Zaman dahulu, tak sembarang orang dapat menggunakan songket. Ia hanya digunakan oleh kaum kerabat diraja, petinggi, dan orang kaya yang mampu membeli songket. Namun kini, seiring dengan harganya yang kian murah, semua orang dapat membeli dan menggunakan songket. Songket yang harganya murah itu pun pembuatannya tidak melalui proses tenun atau tangan manusia, melainkan di pabrik dengan menggunakan mesin canggih dan modern.

Bahkan, sekarang ada yang disebut “songket tempel”. Corak songket ini sudah tersedia di kertas-kertas seperti stiker. Jadi, kita hanya perlu menempelkan corak songket itu di atas kain dan kemudian ditimpa dengan setrika panas dalam beberapa menit. Setelah setrika diangkat, maka corak songket pun sudah berpindah ke atas kain tersebut. Apabila corak songket tempel ini kita sentuh dengan jari, maka akan terasa sedikit kasar. Tapi, apabila kita lihat ke bagian dalam kain, barulah kita tahu bahwa songket itu adalah songket tempel, sebab tidak ada kain emas yang tertenun dibalik kain tersebut. Bentuk-bentuk macam inilah yang semakin lama dipercaya akan mengikis proses pembuatan songket yang asli.

(282)

Tengku Muhammad Dicky Tengku Muhammad Dicky lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 3 Juni 1993. Dia Medan dia bekerja di Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid sekaligus pemilik TMD Photography.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *