Home Featured Erotika Solo
0

Erotika Solo

128
0

Di sebuah kota yang saat ini sedang naik daun—karena pejabat lokalnya yang mencalonkan diri sebagai pimpinan lokal lain—simbol seks menjadi wisata religi dan edukasi yang menarik.

Narasi tentang seks ini bisa kita temukan di sebuah sudut kecil di kota yang geliatnya teredam oleh kota sebelahnya. Kota ini memiliki nuansa konservatif, jalan hidupnya alon-alon (pelan-pelan), seperti malu menampakkan kecantikannya, macam perawan yang menyembunyikan birahinya. Kota ini adalah Solo.

Pagi, Solo!
Begitu keluar dari kereta di Stasiun Kereta Api Balapan, suasana Jawa langsung menyeruak. Percakapan-percakapan dengan bahasa Jawa seperti gelombang zigzag memantul di telinga saya. Intonasinya lembut, sapaannya halus, pelan, suatu keadaan yang sangat jarang saya dengar di tempat tinggal saya, Medan, dan kota yang saya tinggali sekarang, Jakarta.

Perjalanan kali ini janji yang harus dituntaskan—walaupun sebenarnya janji pada diri sendiri. Setelah melalui pencarian di mesin google dan tanya sana-sini, akhirnya saya menemukan rute menuju Candi Sukuh dan Candi Cetho.

Sukuh dan Cetho
Candi Sukuh dan Candi Cetho berada dalam satu lokasi di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di kaki Gunung Lawu. Dari Stasiun Balapan, waktu tempuhnya sekira satu setengah jam. Dalam perjalanan menuju ke sana, bapak sopir mobil yang saya sewa menceritakan relatif banyak tentang Solo. Sebut saja tentang perebutan kekuasaan bangsawan di sini yang menyebabkan Solo memiliki dua kekeratonan (kekuasaan); tentang Yogya yang lebih popular dan diistimewakan oleh Indonesia ketimbang Solo, dan cerita-cerita khas lainnya.

Bapak sopir juga cerita bahwa Solo juga populer dengan masakan non-halalnya. Chinese food, misalnya, adalah makanan yang digemari selain daging babi dan daging anjing. Orang Solo, kata bapak itu, menyebutnya jamu karena khasiatnya bikin badan panas seperti minum jamu.

Mendekati kawasan Candi Sukuh, suasana lebih teduh dan jalan yang ditempuh pun lebih berliku sedikit curam. Begitu sampai di lokasi, suasana magis langsung menyergap.

Sejatinya, Candi Sukuh sangat jauh berbeda dibandingkan Candi Borobudur yang dibuat oleh Sriwijaya. Berdiri di sepetak lahan yang tidak memakan waktu untuk mengelilinginya, ia tidaklah semegah Borobudur maupun seartistik Prambanan.

Menurut cerita, Candi Sukuh ini merupakan tempat pelaksanaan upacara ruwat (melepaskan sial atau membuang bala) yang dilakoni oleh penganut agama Hindu. Dan Jawa memang dikenal masih lekat dengan kehinduan. Relief di dinding-dindingnya banyak bercerita tentang perang Ramayana, kisah Mahabarata, peruwatan Dewi Durga oleh Sadewa, atau percakapan antara Bima dan Siwa di dalam rahim Dewi Kunti. Saya ingat, inilah tokoh-tokoh yang sering dipakai pengamat dari Jawa dalam menjelaskan Indonesia.

Selain cerita-cerita yang bersembunyi di balik relief-relief, yang tak kurang menarik adalah simbol-simbol lingga dan yoni yang menyiratkan sensualitas di seputaran candi yang bentuknya mirip dengan piramida terpotong ini. Di sini ada patung tanpa kepala yang memegang kemaluannya. Menurut cerita, ini adalah perwujudan bahwasanya menikah bukan hanya soal melakukan seks secara halal, tapi juga bentuk tanggungjawab kepada keluarga dan pemberian nafkah lahir-batin dan finansial kepada istri dan anak. Jika si laki-laki tidak bisa melakukan tanggung-jawab tersebut, sudah selayaknyalah dia tidak menikah dan “menyenangkan dirinya sendiri” alias onani.

Pada lantai gapura pertama, ada simbol penyatuan lingga dan yoni dengan rantai yang mengelilinginya. Arti dari simbol ini adalah persetubuhan bisa dilakukan ketika pasangan terikat dalam perkawinan. Jika itu dilanggar, akan ada hukuman yang menanti.

Adakah ini sebuah bentuk keegoisan laki-laki lagi? Karena berkembang kepercayaan bahwa ketika  seorang perempuan yang melewati gapura pertama sampai ke puncak candi, kainnya yang dililitkan ke pinggang jatuh tanpa sengaja, berarti dia masih perawan. Entah benar atau tidak, ada kepercayaan agar sebaiknya jangan mengikatkan kain di pinggang ketika berkunjung ke Candi Sukuh.

Tak jauh berbeda dengan Sukuh, Cetho juga menyimpan narasi erotikanya sendiri. Namun, posisi letak yang lebih tinggi dari Sukuh membuat candi ini lebih teduh dan nyaman. Saya disuguhkan hamparan kebun teh yang luar biasa indahnya.

Sejenak, gapura-gapura yang berdiri dengan posisi semakin ke atas semakin menanjak, mengingatkan saya pada pura di Bali. Wajar saja, karena memang candi ini adalah candinya umat Hindu, yang sampai sekarang pun masih dijadikan tempat untuk melakukan upacara keagamaan. Menariknya dari candi ini, di halaman dalamnya ada batu bersusun yang, lagi-lagi, membentuk pertemuan antara lingga dan yoni.

Selain lingga dan kawannnya, yoni, saya juga menemukan patung Bima dan Arimbi yang saling memunggungi, dimana Bima menghadap ke depan. Maknanya adalah Bima sebagai kepala rumah tangga mempunyai kewajiban untuk mencari nafkah. Sedangkan Arimbi yang menghadap ke belakang artinya adalah istri yang tugasnya berkutat pada dapur, sumur, kasur. Memasak, mencuci, membesarkan anak, dan sebagai teman di ranjang. Jadi, menurut cerita zaman dulu (mungkin juga sampai sekarang), masyarakat Jawa mengajarkan perempuan kudu wani ditoto (mau diatur) sebagai istri. Di ranjang harus jago supaya suami puas dan tidak selingkuh, di dapur seperti pembantu pintar masak dan lihai mengatur keuangan, dan seterusnya.

Begitu banyak cerita-cerita yang terekam di balik kedua candi ini, meski tidak seerotis candi kamasutra di India. Dan entah kenapa, Candi Sukuh dan Candi Cetho tidak sepopuler candi lain, seperti Borobudur atau Prambanan.

(128)

Ester Pandiangan Ester Pandiangan adalah seorang jurnalis yang lahir di Batuphat, Lhokseumawe, Aceh, pada 2 Juni 1986. Ia pernah bekerja di salah satu harian, pun majalah gaya hidup, di Medan. Sejak hijrah dari Medan ke Jakarta pada Maret 2012, ia menjadi jurnalis di salah satu majalah perempuan.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *