Home Sastra Sepasang Cicak di Dinding Kamar Baba Gani
0

Sepasang Cicak di Dinding Kamar Baba Gani

179
0

I

Sejak kaki kirinya diamputasi, Baba Gani merasa sendiri. Kamar ini adalah  penjara bagi dirinya, si orang tua yang kian berbau tanah yang diperlakukan bak boneka rapuh. Dia benar-benar merasa terhukum dan dilemparkan ke dalam neraka kesunyian.

Oleh Lukman, anaknya yang paling bungsu,  dia ditempatkan dalam sebuah kamar  yang dirancang khusus. Dikatakan khusus, sebab kamar itu dilengkapi bel, berupa tombol yang ditempelkan di samping ranjang tidurnya.

Tombol berwarna kelabu  itulah satu-satunya peluang bagi dia untuk terhubung ke dunia luar. Dia tinggal memencetnya jika membutuhkan sesuatu atau  ada apa-apa dan Ta Misna, pembantu rumah yang setia akan segera datang mengatasi keperluan.

Tapi justru karena itu dia merasa dilecehkan sebagai orangtua.Betapa tidak, meski tinggal seatap, namun Lukman dan istrinya, Ula, terbilang sangat jarang menengok kamarnya. Seolah kebutuhan dan segala yang bisa menolongnya diserahkan sepenuhnya pada bel tombol itu.

Dia merasa diperlakukan sebagaimana bayi renta yang tak perlu lagi diajak bicara, tidak  perlu lagi didengarkan suara hatinya. Seolah-olah hidupnya cukup dipenuhi dengan makan minum saja.

Sudah lima bulan lelaki berusia tujuh puluh dua tahun itu tergolek di tempat tidur. Tadinya, luka di tungkai kakinya itu telah jadi borok. Penyakit gula akut dengan  pelan tapi pasti menggerogoti daging tuanya.

Semua bermula dari luka kecil yang diperolehnya suatu hari, saat tersandung daun pintu di rumahnya (atau luka itu disebabkan oleh rasa gatal hebat di tungkai kakinya, yang dia garuk hingga terluka?)Ingatan Baba Gani tak sanggup lagi menjangkau muasal riwayat luka itu.

Yang pasti, aroma tak sedap mulai menguar dari sana. Aroma yang kian hari beranjak kembar dengan bau bangkai. Jalan satu-satunya adalah amputasi, begitu saran dokter. Apa boleh buat, dia pasrah.

Namun, yang membuat Baba Gani belum rela adalah ternyata dia tidak hanya kehilangan sebelah kakinya, namun juga kehilangan perhatian dan kemurnian kasih sayang dari orang-orang yang seharusnya berada dekat dengannya.

Lukman, anaknya itu, seharusnya menjadi orang yang paling dekat dengannya. Tapi sejak anggota DPRD, Luku — begitu nama kecil anaknya itu —  tenggelam dalam kesibukannya mengurusi tetek bengek yang diberi banderol “demi rakyat.” Dalam satu bulan, bisa tiga empat kali dia terbang ke luar daerah, terkadang ke luar negeri malah,  belum lagi rapat ini dan itu yang harus dihadirinya.

Sedang Ula, anak mantunya, sibuk mengurusi berbagai macam bisnis ini dan itu. Ya catering,  ya butik (sambil juga, seolah tak mau ketinggalan dengan suaminya,  sesekali dia bepergian ke luar daerah).

Dan Yeyen, huh, apalagi. Kemana saja cucunya itu pergi setiap hari? Yang dia dengar saban  pagi hanyalah jeritan anak manja itu pada Ta Misna, entah karena kelabakan mencari kaus kaki atau telepon genggamnya yang selalu sembarangan dia taruh.

Atau juga yang terdengar hanya bantingan pintu mobilnya yang cukup keras pertanda kesal entah karena apa (Baba Gani sendiri heran, kenapa anak remaja  seperti Yeyen begitu mudah kesal? Bukankah dia hidup di masa yang lebih mudah pula berkecukupan?). Atau, ini yang paling rutin didengarnya, suara dentuman musik keras-keras dari dalam kamar cucunya itu.

Begitulah suasana di rumah besar milik anak bungsunya yang dia tinggali itu. Tak ubah seperti  rongga besar yang menelannya bulat-bulat dalam kebosanan dan kehampaan hidup. Di kamar itu, dia ada namun tiada.

Tunggu dulu. Di tempat tidur Baba Gani mengeryitkan keningnya. Sekarang bagaimana ya, kabar Nasir, anak keduanya yang tinggal di Samarinda? Terakhir dia bertatap muka dengannya pada Idul Fitri tiga tahun lalu, ketika itu kakinya masih lengkap, masih leluasa berjalan meski tertatih-tatih.

Eh, bukankah dulu Nasir bercerita padanya bahwa Nia, anaknya yang kedua, akan dikirim ke sebuah pondok pesantren modern di Jawa. Ah, sudah bagaimana rupa Nia cucunya itu. Apakah masih gendut dan lucu seperti dulu? Sudah pintarkah dia  dengan ilmu agama yang didapatnya? Dia membayangkan Nia mengenakan jilbab. Baba Gani berusaha meraih–raih ingatannya.

Dan Emi, ya. Bagaimana juga kabar putri sulungnya itu di Jakarta. Jadikah dia umroh tahun ini? Emi sempat pulang sebentar ke Gorontalo menjelang kaki kirinya diamputasi. Emi menangis memeluk tubuhnya sembari berpesan agar dirinya tabah menghadapi cobaan itu (waktu itu Emi menangis lagi sambil menyebut-nyebut nama ibunya, isterinya yang sudah lebih dulu meninggal). Mata Baba Gani jadi sembab berkaca-kaca lantaran ingatannya sendiri.

II

Hari masih terbilang pagi, baru pukul sepuluh lebih lima menit. Tapi seperti biasa, sunyi senyap dengan cepat merambat lalu melilit kencang seisi kamar itu. Kecuali  hanya detak jam dinding itu saja terdengar, seolah tengah memberi irama pada sang sunyi.

Dari ventilasi jendela tercium bau masakan Ta Misna yang sampai juga ke ujung hidung Baba Gani. Tapi dia sedang tak berselera. Bahkan bubur sarapan yang dia santap pukul delapan tadi masih terlihat utuh, hanya mampu ditelannya sebanyak empat sendok.

Seperti biasa, Baba Gani duduk bersandar pada dua lapis bantal di ranjang tidurnya. Dalam kesunyian begitu, apalagi yang bisa dilakukannya selain mengkhayal (aneh juga kata itu, bukankah dia tak lagi bisa mengetahui beda antara mengkhayal, merenung, mengingat, apalagi berpikir?). Pandangan  Baba Gani tajam menghantam dinding kamar.

Saat itulah dua ekor cicak terlihat berkejaran. Yang satu merayap cepat dan hilang di balik jam dinding, sedang satunya lagi ikut menyelinap ke dalam. Tak lama kemudian keduanya keluar dari persembunyiannya, susul-menyusul hingga ke sudut langit-langit kamar. Di sana mereka saling bertindihan, ribut berdecak-decak. Dari ranjang tidurnya, mata Baba Gani tergiring  menyaksikan adegan  itu.

Barulah dia sadar, di kamar ini ternyata dia tak sendiri. Rupanya selama ini dia tak sadar, ada penghuni lain selain dirinya. Sepasang cicak. Barangkali mereka sepasang kekasih atau…

“Hayo, lagi  selingkuh ya?!” Baba Gani kegelian sendiri.

Dia lalu tertawa kecil. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. Ya, tak salah lagi, itu ingatan berpuluh tahun lalu saat Luku datang padanya sambil menangis. Kira-kira masih enam atau tujuh umurnya ketika itu. Dengan mulut berdarah, Luku datang sambil memperlihatkan sebuah gigi depannya yang tanggal.

Baba Gani tertawa lagi demi mengenangnya kembali. Alangkah lucu tampang bungsunya kala itu. Pipinya berderai air mata dengan mulut terkatup erat.

Tangis Luku malah kian keras. Kali ini mau tak mau mulutnya membuka dan terlihatlah ompongnya itu. Baba Gani tak mampu menahan tawa melihat air muka Lukman.

“Huss, anak menangis malah ditertawai. Sini, Nak, Babamu itu memang terlalu.”

Baba Gani tersentak, tersengat ingatan sendiri. Bukankah itu suara isterinya, Halimah? Perempuannya itu datang untuk memeluk si Luku kemudian meneruskan omelannya.

“Coba lihat itu, mulutnya. Sudah berdarah begitu kok masih saja sanggup tertawa.” Kali ini tawa Baba Gani tak bisa ditahannya lagi. Begitu terkekeh-kekeh dia.

Dia ingat, gigi yang tanggal itu dia lemparkan ke atas loteng. Dia lalu coba membujuk Lukman. Katanya, suatu hari kelak gigi itu akan diantarkan tikus pada sepasang cicak, lalu cicak  itu akan datang kepadanya suatu malam saat terlelap. Diam-diam mereka akan memasangkan kembali gigi itu di tempatnya semula.

Dan sepasang cicak yang sedang kawin itu, jangan-jangan  mereka yang dahulu membawa gigi si Luku?

III

“Akhir-akhir ini, Baba sering bertingkah aneh.Sering terdengar dari kamar, dia tertawa dan celoteh sendiri. Terkadang juga terdengar gumam, entah kalimat apa yang diucapkannya. Satu  kali  saya nekad menengoknya, bertanya kenapa dia bicara dan tertawa sendiri, Baba malah menghardik saya. Dia bilang jangan coba-coba menganggapnya biongo.Pernah juga dia memencet bel berulang-ulang. Begitu saya datang, dia pura-pura tidur. Saya tahu dia tidak tidur. Wajahnya terlihat menahan senyum, begitu terus berulang hingga belasan kali dalam sehari.

Lukman dan Ula saling berpandangan saat menyimak cerita Ta Misna, suatu malam di kursi sofa ruang tengah saat mereka pulang kerja (tumben sekali, malam itu mereka pulang dalam waktu hampir bersamaan, tumben juga mereka saling bersitatap dalam seperti itu, suatu hal yang sudah lama tidak mereka lakukan).

“Ada baiknya kita periksakan ke dokter, atau ke psikolog.”

“Jangan, baiknya jangan dulu.”

“Lantas baiknya apa, mau kita biarkan saja kondisinya begitu? Coba telpon dulu Tata Emi, Kak Nasir juga, minta pendapat mereka,” suara Ula meninggi. Lukman hanya mampu membalas dengan menghempaskan nafasnya, panjang.

Dia tahu, itu tanda-tanda pikun atau bisa juga isyarat dari ayahnya; ingin mendapatkan perhatian lebih. Bukankah setiap orangtua yang beranjak senja akan kembali lagi pada siklus awal dia hidup, menjadi bocah kembali, yang rewel dan rakus perhatian? Setidaknya begitu yang dia pernah baca dalam berbagai artikel.

Tiba-tiba ingatannya terlempar pada masa silam, masa ketika ayahnya yang dikenal orang sekampung dengan panggilan Baba Gani itu masih gagah dan  sehat.

Ayahnya dulu orang yang cukup terpandang di kampung itu. Dia punya ratusan ekor sapi, belum lagi  ratusan hektar sawah, kebun kelapa  dan ladang  jagung  yang tersebar dimana-mana. Baba Gani dikenal sebagai sosok humoris, murah hati, lagi penyantun.

Jika ada acara kampung, sebut saja, entah itu pertandingan sepak bola atau berbagai lomba peringatan 17 Agustus, Baba adalah penyandang dana terbesar. Dia disegani semua orang.

Tapi bukan berarti Luku hanya punya kesan baik melulu pada ayahnya. Pernah suatu hari saat bermain bersama, dia bertengkar dengan Nasir. Mereka rebutan raket badminton yang baru dibelikan Baba, tak ada yang mau mengalah.

Tapi Luku (yang meski berbadan lebih kecil dari kakaknya, ternyata lebih gesit) akhirnya berhasil merebut raket itu.  Sial,  ketika hendak membawa lari raket itu, Nasir yang kesal dengan sigap  menjegal kakinya. Alhasil, bukan hanya jatuh, gigi Luku pun tanggal tersandung batu kerikil.

Luku meringis tanpa sadar. Tangannya refleks meremas mulutnya, seolah masih bisa merasakan ngilu yang menderanya puluhan tahun lalu itu. Dia tersenyum kecut ketika teringat lagi, saat  dia datang dengan mulut berdarah, betapa Baba bahkan tidak menanyakan sebab musababnya dan malah menertawakannya.

Ah, tidak! Tidak. Bukannya dia dendam atas perlakuan  itu. Dia hanya ingat betul rekaman masa lalu itu yang tidak mengenakkan itu.

Selebihnya, memang diakuinya, cukup enak menjadi anak Baba Gani. Dia mendapatkan yang terbaik sepanjang hidupnya: mainan terbaik, sekolah terbaik, juga mobil jip terbaik yang membuat Ula,  sosialita terbaik di kampusnya dulu, tergila-gila padanya. Hingga, ups, akhirnya Ula hamil duluan (itupun masih  dirayakan dengan pesta terbaik, setidaknya  menurut ukuran kampungnya kala itu).

“Wei, jangan melamun. Bagaimana?Atau biar aku saja yang telpon kakak-kakakmu,” Luku tersontak kaget mendengar nada bicara Ula yang sedikit membentak.

“Sudah kubilang nanti saja, jangan sekarang,” Luku mengimbangi tinggi nada isterinya.

“Lantas kapan!? Mau menunggu sampai Baba jadi betul-betul gila?”

“Heh! Apa ngana bilang? Jangan pernah bilang ayahku gila, ingat ya, kalau saja Baba tidak menjual sawah dan kebun cengkehnya itu, jangan harap kau bisa bikin butik dengan harga barang selangit dan membuat semua orang jadi doyan berhutang!”

“Astagfirullah… s… sampai hati kau berkata begitu,” tangis Ula pecah, tumpah ruah  diiringi pekikan, jeritan, lalu kata-kata inilah yang menyembur deras lagi ganas dari mulutnya.

“Dasar suami kurang ajar. Ngana tega ya bilang begitu pada isteri sendiri. Kita cuma mau bilang Baba itu kesepian perlu dihibur anak-anaknya yang malah terlena dengan jabatannya sibuk rapat sana-sini, mudah-mudahan Baba tidak jatuh gila atau lekas mati saat ngana menghambur-hamburkan uang negara dengan dalih studi banding ke luar negeri dan di sana entah hanya jalan-jalan atau baku hule dengan bule-bule jalang…dst..dst.”

Pertahanan Lukman alias Luku jebol seketika. Dia api yang lekas berkobar tersiram bensin kata-kata isterinya. Ta Misna yang sedari tadi melongo menyaksikan pertengkaran hebat itu, spontan  mencegat Lukman yang (dengan mata terbelalak seperti orang kerasukan) berusaha menerjang Ula.

Di tengah situasi itu, sebuah suara dari arah lain datang seolah melerai; mula-mula bunyi  bel berentetan, lalu suara  orang terkekeh, terbatuk-batuk. Seperti terhipnotis, ketiganya berpandangan lalu segera  menghambur menuju kamar Baba Gani.

Baba, Baba, Kiapa terkunci, Baba!!?” Ketiganya menggedor-gedor pintu.

Tak ada suara, mereka kian keras memanggil-manggil Baba Gani. Dan sepasang cicak yang sedari tadi berdecak-decak di dinding kamar, berlari terpencar sebab ulah gaduh para penghuni rumah itu.

 

Kabila, Gorontalo, Juni 2012

 

Baba: Ayah
Ta, Tata: sebutan kakak untuk perempuan yang dituakan
Biongo: Sinting.
Ngana: Sebutan kasar untuk kamu
Kita: Sebutan kasar untuk saya
Baku Hule: Sebutan kasar untuk bersenggama
Kiapa: Kenapa

(179)

Syam Terrajana Syam Terrajana adalah jurnalis dari Gorontalo.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *