Home Featured Setapak Surabaya

Setapak Surabaya

26
0
Patung Kwan Im. Foto-foto: Ester Pandiangan.

Sejauh ini, hanya dua hal yang mendorong saya ingin mengunjungi Surabaya, Jawa Timur. Pertama, ingin melihat lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo – yang lokasinya tak jauh dari Surabaya; dan kedua, kawasan lampu merah Dolly. Sayang, karena satu dua hal, keinginan saya itu tak kesampaian, betapapun saya akhirnya dapat menginjakkan kaki di Surabaya.

Meski demikian, perjalanan ini tak saya sesali. Setidaknya saya bisa mengakrabi sejarah kerajaan yang ada di sini, Majapahit. Adalah Situs Trowulan yang merekam remah-remah Majapahit dahulu kala. Situs ini berlokasi di Kabupaten Mojokerto dengan luas area 11 x 9 kilometer. Dari Surabaya, ia memakan waktu tempuh selama hampir tiga jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua.

Kolam Segaran
Kolam ini terletak di depan Museum Trowulan. Bentuknya persegi panjang berukuran 375 x 125 meter. Kolam mini ini terbuat dari bata yang direkatkan. Karena usia, warnanya sudah kelabu dengan lumut di sana-sini. Konon, dahulu tempat ini adalah tempat rekreasi para pembesar kerajaan Majapahit, dan, katanya lagi, Patih Gajah Mada minum dari kolam ini.

Sekarang tempat ini lebih sering digunakan untuk memancing dan duduk-duduk santai. Mungkin sambil merenung dan meresapi kalau dulunya tempat ini adalah tempat Raja Majapahit dan pembesarnya bersantai.

Museum Trowulan

Pendopo Agung.

Museum ini menyimpan berbagai peninggalan Majapahit. Mulai dari koleksi tanah liat, keramik, logam, dan batu. Bahkan, ada juga arca-arca sisa peradaban Hindu yang hingga kini masih mengental di Jawa. Jangan heran juga jika di sini ada artefak lingga yoni serta arca durga.

Supaya pengunjung dapat lebih jelas membangun skema kehidupan rakyat Majapahit di kepalanya, di dalam museumnya juga dibuat replika rumah penduduk zaman dahulu.

Museum ini sangat luas dengan banyak ruang-ruang yang dipenuhi benda-benda bersejarah. Memasukinya membuat kita laksana tersedot ke masa lalu dan membayangkan kisah-kisah dibalik setiap benda di dalamnya.

Situs Pendopo Agung
Entah apa dulunya fungsi bangunan ini. Konon, di sinilah Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa. Di pendopo ini terdapat relief Gajah Mada, yang entah kenapa amat mirip dengan Mohamad Yamin, dan patung Raden Wijaya yang merupakan pendiri kerajaan Majapahit.

Sekarang, pendopo ini lebih banyak digunakan sebagai tempat liburan keluarga. Orang dapat duduk santai di ubinnya yang sejuk. Bahkan, tak jarang ada juga pasangan yang berpacaran di sini.

Sementara, di halaman belakang pendopo, terdapat pekuburan kecil dan sebuah makam yang dipagar. Saya tidak tahu pasti apa fungsinya. Hanya saja, saat saya datang, ada beberapa lelaki yang menyiram air ke makam tersebut, seperti melakukan sebuah ritual.

Situs Kedaton
Saya juga sedikit bingung, entah apa istimewanya situs ini. Hanya berupa batu berundak-undak berwarna merah bata. Menurut cerita orang sekitar, sumur yang terdapat di depan bangunan ini dipercaya mempunyai khasiat sehingga sering dipakai untuk menyucikan diri sebelum bersemedi.

Pantai Kenjeran
Dari Situs Trowulan kita beralih ke Pantai Kenjeran. Pantai Kenjeran adalah salah satu tempat wisata keluarga di Surabaya. Dari pantai ini kita bisa melihat Madura. Apa saja yang bisa dilakukan di Pantai Kenjeran? Banyak. Meski tidak begitu bersih, tapi pantai ini tetap menjadi tempat liburan favorit buat keluarga, pun para pasangan yang hobi memadu kasih di tempat umum.

Tak jauh dari lokasi pantai, terdapat kuil dengan patung Budha raksasa empat wajah—indah dan agung. Kemudian, ada juga kelenteng Sanggar Agung dimana terdapat patung Kwan Im yang berdiri di atas naga raksasa. Wangi dupa dan hio menguar. Beberapa pengunjung sembahyang dan ada juga yang melempar kembang bunga di pantai.

Makan-makan!

Patung Budha (kiri) dan Lingga-Yoni (kanan).

Jauh-jauh hari saya sudah diwanti-wanti oleh saudara saya yang tinggal di Surabaya, bahwa makanan di sini kelewatan murahnya. Jika di Medan kita mengeluarkan uang Rp. 15 ribu untuk seporsi ayam penyet, maka di sini, untuk menu yang kurang lebih sama, biayanya hanya Rp. 7 ribu– Rp. 8 ribu per porsinya. Begitu pula ketika saya tiba di Surabaya, dimana kami menikmati sarapan di salah satu kedai. Menunya biasa saja; nasi sayur, ayam goreng tepung, dan teh manis hangat. Dan uang yang harus kami bayar untuk biaya makan berdua tidak sampai Rp. 20 ribu.

Tentu saja, di lain kesempatan saat makan, saya mencicipi nasi rawon yang tak hanya rasanya saja yang sangat enak, tapi juga harganya yang amat murah. Demikian pula dengan tehnya, dimana aromanya wangi dengan rasa kelat yang pas, plus disajikan dengan gula batu yang membuat cita rasanya perfecto.

Rekan saya melancong, saudara saya, sampai geleng-geleng kepala. Bukan pada makanan atau harganya, tetapi kepada saya. Menurutnya, ekspresi saya berlebihan menanggapi kesegaran teh di sini.

“Kamu juga bisa membuat teh yang sama, tinggal beli gula batu,” demikian komentarnya.

Ada sedikit benarnya, tapi tetap saja ada perbedaannya. Sebab saya meminumnya di Jakarta, bukan di tempat asalnya. Teh dan penyajian yang sama namun ketika saya menyeruputnya di sebuah warung sederhana di Surabaya, rasanya akan berbeda. Atmosfer itu mahal, Bung!

(26)

Ester Pandiangan Ester Pandiangan adalah seorang jurnalis yang lahir di Batuphat, Lhokseumawe, Aceh, pada 2 Juni 1986. Ia pernah bekerja di salah satu harian, pun majalah gaya hidup, di Medan. Sejak hijrah dari Medan ke Jakarta pada Maret 2012, ia menjadi jurnalis di salah satu majalah perempuan.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *