Home Featured Festival Ningkam Haumeni: “Kami Tidak Menjual Apa yang Tidak Kami Buat”

Festival Ningkam Haumeni: “Kami Tidak Menjual Apa yang Tidak Kami Buat”

12
1
Festival Ningkam Haumeni 2011. Foto-foto: Pantoro Tri Kuswardono.

Festival Ningkam Haumeni di Timor Tengah Selatan bukan sekedar ajang kumpul untuk menari dan menyanyi. Lebih dari itu, ia merupakan sebuah peneguhan atas komitmen Masyarakat Adat Tiga Batu Tungku (Amanatun, Amanuban, Molo) dalam membangun masa depan atas dasar budaya yang dimilikinya.

Untuk ketiga kalinya, Festival Ningkam Haumeni dilangsungkan pada 24-26 Juli 2012 di Bukit Keramat Mollo, Anjaf-Nausus, Desa Naususu, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kali ini, tema yang diusung adalah “Menuju Kedaulatan Pangan, Air, dan Energi”. Hal ini terkait dengan banyaknya hal-hal penting yang nyaris punah di Timor.

Istilah ‘Ningkam Haumeni’ sendiri menjelaskan sebuah makna tentang bagaimana ‘Ningkam’ (madu) ‘Haumeni’ (cendana) sebagai sesuatu yang nyaris hilang di Timor yang, di antaranya, disebabkan eksplorasi tambang. Ia menjadi simbol atas hal-hal yang harus senantiasa diingatkan pada generasi berikutnya.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nusa Tenggara Timur, Herry Bertus Naif, mengatakan bahwa festival yang digelar ini juga merupakan bagian dari integrasi kekuatan Masyarakat Tiga Batu Tungku.

“Mengulas hal-hal bernilai yang nyaris hilang dari peradaban akan terungkap di festival ini. Juga sebagai pengingat bahwa di NTT yang merupakan gugusan pulau kecil jelas tidak cocok untuk dieksplor melalui sektor tambang. Masyarakat akan menunjukkan pertanian dan yang mereka bisa buat bisa menghidupkan,” ujar Herry dalam siaran pers yang diterima LenteraTimur.com, Senin (23/7).

Dalam festival ini juga dibangun kesadaran kritis ihwal keswadayaan dan kemandirian petani. Di sini panganan khas masyarakat akan dipamerkan. Orang Kolbano akan membawa ikan, Molo akan membawa pisang, dan seterusnya.

“Ini semacam kritik kepada negara, yang hingga sekarang tidak pernah punya daftar pangan lokal dan masih mengendepankan beras sentris sebagai kebijakan pertaniannya. Selalu ada pilihan di atas permukaan bumi ini. Jika di permukaan saja mereka tidak bisa urus, bagaimana mereka akan mengurus yang ada di dalam bumi. Masyarakat Tiga Batu Tungku akan menunjukkannya,” ujar Herry yang juga Panitia Festival Ningkam Haumeni.

Terkait kesadaran kritis, festival ini juga membahas tentang tenun dan pangan sebagai potensi yang bisa dieksplorasi dan diproduksi dalam hal pengelolaan alam. Tenun bukan hanya sekedar menjadi nilai komersil, tetapi, lebih dari itu, juga mempunyai nilai filosofi yang mendalam.

“Menenun bukan hanya sekadar menenun dari benang, tapi menenun dengan menggunakan kapas itu jauh lebih penting, kembali memintal itu penting, mencari pewarna-warni alami itu penting. Karena itu bagian dari ekosistem, ketika pewarna alam itu berasal dari hutan dan hutan tidak ada, maka tidak ada tenun ikat yang indah dan mahal. Lebih dari itu, sejarah identitas dari masyarakat juga punah,” tandas Pantoro Tri Kuswardono, Knowledge Management and Public Outreach Director Perkumpulan Pikul (Lingkar Belajar Komunitas Bervisi) dalam siaran pers yang sama.

Festival ini juga menjadi ajang membangun solidaritas antartiga wilayah untuk bertukar pengalaman dalam pertanian.  Masing-masing akan saling bertukar bibit, bertukar pengalaman tentang panganan yang khas, makanan pokok yang khas, serta bagaimana mereka bisa memiliki kekhasannya dengan rasa bangga.

Festival Ningkam Haumeni 2011.

“Contoh saja di Fatumnasi, para orang tua sudah mengeringkan susu untuk sarapan anak-anaknya. Ini jauh lebih hebat dibandingkan yang didapat para anak yang ada di kota dengan keju pabriknya. Di Amanatun, ada utak yang mereka bangga memakannya dan dianggap sebagai bagian dari kehidupannya. Bahkan mereka juga tidak memperkenankan biji jagung jatuh begitu saja dengan sia-sia,” tambah Pantoro yang akrab disapa Torry.

Seperti halnya Herry, Torry juga menekankan bahwa festival ini bukan sekedar ajang berkumpul untuk menari dan menyanyi. Ada komitmen yang dibangun dalam mengedepankan kebudayaan. Karena itu, Masyarakat Tiga Batu Tungku membangun slogan perjuangan yang didengungkan dalam festival ini, yakni “Kami tidak menjual apa yang tidak kami buat”.

Torry menjelaskan bahwa slogan yang dibangun itu bermakna bahwa batu atau bahan tambang tidak dibuat manusia, jadi tidak ada hak Masyarakat Tiga Batu Tungku untuk menjualnya. Masyarakat harus membuat sesuatu terlebih dahulu, baru kemudian bisa menjual. Dan itulah yang membuat mereka menjadi manusia.

(12)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. Majulah bersama nurani,jangan ikut yang maju tanpa nurani,harus ada titipan untuk penerus,jgn dikuras utk kaum penjajah,pada saat merdeka

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *