Home Bernala Bernala di Pangkuan Benua
0

Bernala di Pangkuan Benua

45
0
Martin Aleida.

Silew! Di manakah kau? Hampir setengah abad yang lalu aku mengenalmu di buku sekolah dasarku. Sekarang, aku ingin menjabat tanganmu yang berlumuran tato itu. Dan, kalau tak melanggar adat, menyentuh jawer kupingmu yang menggelantung terjulur hendak membelai dadamu. Menyentuhnya dengan rasa hormat dan khidmat, tentu. Kebetulan aku di Tarakan bersama beberapa teman dari “LenteraTimur”, memberikan penataran jurnalistik untuk anak-anak muda dan mahasiswa di Universitas Borneo.

Engkau juga, Ringeng dan sahabat-sahabatmu, di manakah kalian berada?

Lain kali, kalau ada penataran semacam itu, kirimkanlah muda-mudi kaummu. Mereka tentu akan merasa seperti menemukan manik-manik yang baru di dalam pelatihan itu. Bayangkanlah, anak-anak muda Tarakan ada yang beranggapan pelatihan itu telah menyebarkan “revolusi” dalam sistem pemberitaan yang mereka kenal. Daya pikatnya adalah sikap membangunkan kesetiaan pada lokalitas, pada rumah kita, berhadap-hadapan dengan Jakarta-sentris yang membabi-buta.

Para peserta penataran tersipu-sipu ketika seorang pembicara menjungkirkan-balikkan logika kuda sebagian besar media massa yang sedang menguasai pasar sekarang ini. Dia contohkan. Ketika komodo di Pulau Komodo masuk Tujuh Keajaiban Dunia yang baru, media berduyun-duyun mewawancarai para pejabat di Jakarta. Termasuk para pemerhati komodo dan pencinta lingkungan yang kakinya steril dari percikan lumpur. Semuanya di Jakarta. Berisik sekali. Namun, tak ada yang peduli dengan pulau yang gersang itu. Semua lupa pada binatang purba tadi. Sementara “LenteraTimur” menaikkan tulisan korespondennya tentang Pulau Komodo dan suka-duka penduduknya, suku Komodo. “Perspektif lokal! Kalau komodo bisa bicara, maka yang harus diwawancarai adalah mereka, bukannya Jusuf Kalla,” tandas pembicara.

Tetapi, Silew, bukan tetek-bengek penataran itu benar yang ingin kuceritakan kepadamu. Jarang kau dengar ada yang datang ke negerimu ini sejauh Jakarta, apalagi jurnalis yang ingin bertatap muka, berdiskusi, jauh dari pretensi mengajari. Karena kami tahu, kearifan sudah menjadi darah-dagingmu. Dan lebih jarang lagi kau dengar ada yang datang dengan bersusah-payah untuk menyaksikan negerimu yang menempati sebuah pulau yang lebih tepat kalau disebutkan anak benua. Dan memang, menurut seorang temanku dari suku Benuaq, orang-orang Dayak sendiri menamakan hamparan daratan yang tak bertepi ini sebagai ‘Benua’.

Kau yang menghargai alam sekitarmu dan mengajarkan hidup berhemat-hemat dengan apa yang ada di sekelilingmu, menjadi ilham perjalanan kami. Dengarkanlah! Berlima kami bertolak dari Jakarta. Mula-mula dengan kereta-api menuju Surabaya, 10 Juni 2012. Dari Pelabuhan Tanjung Perak, kami menumpang kapal laut dengan harapan tiba tepat waktu di Tarakan, karena penataran akan dimulai 15 Juni 2012 untuk beberapa hari.

Barangkali kau kecewa dengan cara kami berhemat. Tapi, ibarat air, itulah yang telah mengalir. Hanyut dalam romantika kanak-kanak. Begini. Kami membeli dua tiket kapal laut untuk kelas satu, dengan pikiran di kamar paling mahal itulah kami menumpuk seluruh bawaan. Supaya aman. Karena di dek, manusia berjubel laksana korban peperangan menuju daratan damai. Bukannya berpikiran buruk terhadap sesama penumpang, namun risiko selalu mengintip dalam setiap kerumunan semacam itu. Deru-deram mesin berbaur dengan aroma tubuh manusia dan asap rokok dari segala penjuru dan dari macam-macam merek. Tapi apa boleh buat, kamar yang hanya untuk dua penumpang itu terlalu menggoda dan menjadi pemantik kesetiakawanan kami. Berlima kami berjejal di dalamnya. Tiga di antara kami, yang hanya memegang tiket kelas kambing, jadi “penumpang gelap” di situ.

Maukah kau memaafkan kelakuan kami yang kekanak-kanakan itu? Kami tahu, kau tidak akan pernah melakukan pelanggaran sekecil apa pun. Kaummu punya harga diri yang tinggi. Didesak oleh pendatang yang muncul beramai-ramai dengan hati berlumuran kemauan menjajah, kalian justru mundur ke rumah besar, nun ke hulu sungai, ke hamparan rimba belantara yang sulit dijangkau. Karena itulah aku tak bisa berjumpa denganmu dalam perjalanan pulang, menempuh jalan darat yang beraspal maupun yang berbatu-batu, menyiksa kaki-kaki mobil yang kami sewa dengan menerabas hutan dan daratan yang terkikis sepanjang 1200 kilometer mencapai Banjarmasin.

Kalau diamati di peta, benuamu ini seperti seekor singa yang sedang duduk santai, bersila. Tarakan ibarat kutil yang menyelip di dagunya. Tarakan itu kota minyak, seperti Pangkalan Berandan di Sumatera Utara, kampung halamanku. Tetapi, hati menjerit melihat kenyataan bahwa besin diecer dalam botol kecap di sini. Membuat pikiran terbang ke masa lalu, ketika pasukan pendudukan Jepang merebut daerah kaya minyak ini untuk memperkuat kedudukannya dalam Perang Pasifik. Kau bayangkan, buat Jepang, minyakmu cukup untuk menaklukkan seluruh lautan dan pulau-pulau di Pasifik, tetapi di tangan negara sendiri tak cukup untuk memenuhi hajat warga kota kecil ini.

Ironis. Kau dan seluruh kaummu tidak berkuasa atas hasil bumi tumpah darahmu. Kekuasaan yang bertahta di seberang laut sebelah selatan sana yang menentukan berapa “botol” hakmu atas minyak yang digali, disedot berton-ton sehari, di tanahmu ini. Berpuluh tahun ketidakdilan ini menjadi “kebiasaan”, menghina adatmu yang agung.

Kau dengarkah berita itu? Beberapa pekan lalu, penduduk, bersama gubernur mereka di benua ini, berlayar melawan arus yang belum pernah dihempang. Berpuluh-puluh, mungkin ratusan, aku tak tahu persis, tongkang dan sampan memblokir kapal-kapal pengangkut batu bara, yang dikuras di pulau ini, supaya tidak sampai ke Jawa, supaya tanur-tanur dan mesin-mesin pembangkit tenaga di sana lumpuh, kecuali Jakarta menaikkan jatah minyak untuk seluruh daratan benua ini. Dan kau, kaummu, tanpa pedang pengayau, tanpa perisai, menang dalam perkelahian merebut minyakmu sendiri itu!

Tetapi, ingatlah, ini bukan kemenangan pertama. Beberapa bulan lalu salah seorang kepala desa di sini, sederhana seperti kau, berdiri di depan seperangkat kamera amatir. Tanpa parang, tanpa sumpit, dia mempertaruhkan tumpah darahnya untuk sepenggal jalan badak. Jalan badak kataku, karena dia hanya lebih lebar sedikit dari jalan tikus di rumahmu. Tidak dengan pekik lantang, tetapi pesannya terang di depan kamera yang kelihatan sedikit goyang, seperti seorang saksi mata yang bimbang menemukan kenyataan di depan hidungnya. Dari tepi jalan itu, kepala desa tadi berkata dengan mantap. Katanya, kalau pemerintah tidak memperbaiki jalan yang rusak itu, maka dia “akan menaikkan bendera Malaysia!”. Jakarta takluk di ujung telunjuknya! Kau ingat kan? Desa itu kemudian menerima sumbangan sebesar Rp 5.000.000.000. Ah, tetapi, apakah benuamu ini harus dibangun dengan jalan begini rupa?

Melawan untuk membangun memang itulah kelihatannya pilihan yang tersisa. Seminggu yang lalu seorang pemuda Papua tewas di Jayapura. Media massa melaporkan, dia yang dilaporkan memegang pistol itu ditembak karena berusaha merebut senjata petugas. Bagaimana kau menghitung dengan jarimu jumlah orang Papua yang sudah terbunuh karena tanah tumpah darah mereka sendiri?

Ada yang tidak adil. Dan yang tidak adil itulah musuh mereka yang ingin menyelamatkan tanah leluhurnya. Mereka hanya menerima kurang dari seupil dari kekayaan yang telah digondol dari gunung-gunung mereka yang di malam hari semburat berwarna kuning kemerahan diterangi bias dari emas dan tembaga yang menghampar di bawah tanah. Buat penduduk asli, gunung-gunung itu lebih baik dibiarkan tinggal perawan sebagai penjaga adat mereka saja daripada diolah, tetapi membawa limbah kesengasaran bagi mereka. Putarlah kembali mesin pengingatmu. Seseorang di pusat kekuasaan, suatu ketika, pernah berkata bahwa “kami” tidak membutuhkan penduduk Irian (nama Papua ketika itu), yang “kami” perlukan adalah tanahnya. Ya, tanahnya yang merah keemasan itu.

Silew, Ringeng, Rentik, dan kau Turiana  Bungan, sekarang kalian tentu sudah sadar bahwa bukan suami-suami dan seluruh kaummu saja yang dibuat merana sebagai tumbal untuk kejayaan para penguasa yang berhati penjajah itu. Dulu, Aceh juga begitu. Gas mereka dikuras sampai timpas. Patuh pada tradisi perlawanan, maka mereka membangkang. Mereka ditumpas habis. Puluhan ribu orang mati dalam 20 tahun perlawanan. Orde Baru melakukan berbagai eksperimen pembantaian di Serambi Mekah itu. Tuhan mereka kentuti. Setelah rezim bersenjata itu terjerembab, di layar televisi kusaksikan mayat yang berhimpitan di dalam karung. Baju-baju mereka masih belum lapuk. Mereka baru saja dikeluarkan dari penggalian. Kabarnya, ada yang tak bisa diperas keterangan dari mulutnya. Orang ini kemudian disumpalkan ke dalam drum kosong dan ditimbuni semen. Manusia dibuat menemukan ajalnya dengan cara yang begitu hina. Agama mana, kepercayaan apa, yang mengajarkan itu?

Republik ini telah dibangun dengan darah. Terus bersimbah darah. Dan akan berulang terus jika yang bertanggung jawab terhadap pembantaian-demi-pembantaian di masa lalu tidak dihukum. Kita takkan bisa terus bersatu di dalam cekikan dengan todongan laras senapan yang dingin di pinggang kita, sementara ketidakadilan begitu terang-benderang.

Belakangan aku tahu bagaimana Dayak begitu memuliakan musuh yang harus diayau karena “darah harus dibayar dengan darah”. Menggigil lututku membayangkan para satria bangsamu menenteng kepala-kepala musuh yang harus menemukan ajal mereka sebagai penebus atas darah Dayak yang telah mereka tumpahkan. Kepala-kepala itu dijinjing untuk dipersembahkan kepada panglima perang agar korban menemukan kematiannya dengan segera, sekelebat sabetan mandau, supaya bebas dari siksa. Di tangan panglima perang, korban akan menemukan alamnya yang baru, yang damai, sebuah surga. Itu kepercayaan kaummu. Aku yang datang dari adat yang lain menggigil dibuatnya. Tetapi, aku harus membaca fenomena kematian itu dengan menggunakan keyakinanmu. Tidak dengan mengenakan sorban, peci, atau lebai. Mungkin aku salah memaknai kepercayaanmu. Tapi, itulah yang kudengar sepanjang perjalanan di pantai benua sebelah timur ini.

Ada yang bilang negerimu ini pulau seribu sungai. Sejuta kata. Karena suku yang mendiami tepi sungai yang satu harus menggunakan lingua franca, Melayu, kalau bercengkerama dengan kaum di seberang sana. Romantis kedengarannya. Terbayang bagaimana kaum muda-mudi berpacaran seberang-menyeberang sungai. Tapi, kapital yang selalu berhati busuk telah mengubah itu semua. Jalan-jalan merayap, menebas hutan-hutanmu yang perawan. Para penjarah, yang bernama pembalak, menyeret kayu-kayumu yang kelas satu itu dengan menerabas belukar dan batang-batang kayu. Tak tahu aku berapa panjang jalan haram itu. Tetapi, di atas jalan-jalan yang dibuka para penjahat itulah pemerintah konon membanggakan diri telah membangun prasarana hubungan. Padahal, yang dikerjakannya hanya mengirimkan batu kerikil dan pasir untuk mengeraskan jalan itu. Jalan yang dirambah para pembalak. Aku mendengar cerita ini di suatu tempat pemberhentian di mana kami harus menginap. Satu tempat untuk menghela nafas setelah tubuh lonjan, kata orang Melayu, terbanting-banting. Kudung nama pemberhentian itu, di Kabupaten Kutai Timur. Bontang masih beratus kilo jauhnya di selatan.

“Mana pernah pemerintah pikirkan jalan. Yang bikin jalan ini adalah perusahaan kayu, yang punya izin atau yang liar. Mereka yang buka jalan ini untuk bawa lari kayu. Kemudian pemerintah datang bawa batu-batu, bikin halus,” kata seorang laki-laki berkulit perunggu berusia sekitar lima puluhan tahun. Orang Majene. Katanya, dia pernah bekerja di perusahaan kayu selama hampir 30 tahun. Sekarang dia berdagang, mondar-mandir antara kota-kotamu dan Sulawesi.

Dari Tarakan kami menumpang speedboat mengarungi Teluk Sekatak, menyelip di antara pulau-pulau kecil yang penuh hutan bakau dan nipah. Kemudian kami menguak muara Sungai Kayau dan merapat di kota Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, satu setengah jam kemudian. Belum banyak kota tepi sungai yang pernah kukunjungi. Namun, kota ini memikat hati. Kedua tebingnya diturap berkilometer panjangnya. Beton penurapnya lebih rapi dan lebih resik dari kali Ciliwung di Jakarta.

Sore itu ratusan tua-muda menunggu kaki langit yang memerah berpendar dan redup di barat. Di tempatku menginap ada yang mengatakan, dulu di sepenjang tepi sungai itu tumbuh perkampungan kumuh dari para pendatang. Yang mandi dan buang hajat, kecil maupun besar, tumplek di situ. Kudengar, di depan penginapanku itu, dulu menghampar pasar tradisional. Perempuan-perempuan Dayak dengan jawer menggelantung, yang tampak asing tapi menakjubkan itu, juga turut meramaikan. Mereka berjualan hasil bumi, terutama sayur-mayur, yang dipanen di hulu sungai. Mereka orang-orang yang hebat, teguh memegang pedoman hidup. Kalau sudah siang, para pedagang pendatang dari luar Benua, banting harga. Obral. Tetapi, ibu-ibumu itu tidak. Mereka kuat dalam bertahan. Tetap mantap dengan harga yang sudah mereka patok. Kalau tak habis, mereka bawa pulang untuk dikonsumsi sendiri, atau berbagi dengan hewan peliharaan mereka di rumah. Dan, kalau harus dihanyutkan di sungai, maka barang dagangan itu akan menjadi pakan yang membuat sisik-sisik arwana menjadi lebih menggiurkan orang-orang kaya di luar benua, yang merenggut kemerdekaan mereka, dan mati tak terpelihara di akuarium-akuarium berlapis emas dan perak di kota-kota.

Sesudah pasar modern dibangun beberapa kilometer dari situ, perempuan ber-jawer tanda kebesaran Dayak itu tidak sudi ikut meramaikan. Keinginan untuk melangkah lebih maju mungkin ada, tetapi rumah besar di hulu lebih memanggil bagi mereka. “Kalau mau bertemu dengan mereka harus naik speedboat tiga jam ke hulu,” kata pegawai penginapan yang bermerek Tawakal itu.

Silew. Sungguh aku ingin singgah di rumah besar kaummu yang tersohor itu. Dengan mataku sendiri melihat, dan dengan tubuhku sendiri merasakan, bagaimana kalian, dalam ikatan-ikatan keluarga, hidup bersama dalam kearifan dan damai di dalam satu rumah besar. Membangun kehidupan dalam kelompok-kelompok seperti itulah yang dicita-citakan sebagian orang. Di mana komunitas itu sendirilah yang menentukan apa yang mereka konsumsi dan benda-benda apa yang mereka perlukan untuk hidup. Bukan yang dijejalkan oleh para pemilik kapital yang selalu lapar.

Tetapi, sistem kehidupan seperti itu sudah purba. Harus diperbarui mengikuti kemajuan zaman. Dengan komputer. Pakai listrik. Tenaga surya berlimpah di negerimu ini. Hanya di sinilah Tuhan menurunkan matahari begitu rendahnya, sehingga aku bisa mendengar tegur-sapanya, melalui sinarnya yang mau menghanguskan ubun-ubunku yang renta.

Di benakku berjejal rupa-rupa mimpi. Satu yang mungkin ganjil buatmu. Menertawakan, barangkali. Aku berangan-angan kita membangun perpustakaan-perpustakaan di setiap muara sungai di seluruh benua ini. Gerbangnya kokoh besar, pintu-pintu dan tingkap-tingkapnya lebar-lebar. Dibangun dengan menggunakan kayu ulinmu yang lebih kuat dari beton itu. Semakin tertanam di dalam air maupun tanah, tambah bandel dia. Perpustakaan itu buka ketika air sungai sedang surut dan tutup manakala air laut mulai menyongsong. Sehingga para pengunjung yang datang bergelombang dengan sampan-sampan tak bermesin bisa tiba dan pulang hanya dengan berhanyut-hanyut sambil membaca atau menulis.

Kita harus mengajak anak-anak muda menuliskan sejarah selengkap-lengkapnya. Termasuk dengan mewawancarai mereka yang sudah sepuh dari seluruh daratan. Tidak itu saja. Juga pohon-pohon, sungai, batu, tanah, angin, dan pasir dengan perantaraan “orang-orang pandai” yang bisa mengajak semua itu bercerita. Tak diperlukan kitab tulis. Sejarah manusia di benua ini kita simpan dalam chip-chip yang besarnya hanya seujung jari.

Jika Benua ini sudah tengggelam — dan itu sudah tak terhindarkan — karena hutannya sudah ludas, lapisan tanah dengan hamparan batu bara, emas, perak, intan, berlian, mutumanikam, dan minyak tanah sudah dikuras habis oleh para penjarah bermil-mil dalamnya ke perut bumi, maka yang tinggal hanyalah sebuah benua yang hilang. Mengungkap sejarah Dayak dan benuanya bagi para peneliti “di zaman yang akan datang” tidak semusykil memecahkan teka-teki ada tidaknya benua Atlantis. Mau mengenal sejarah Dayak, artefak, juga jampi dan doa-doa kepala suku, panglima perang dan para penarinya yang luhur, cukup dengan mencelupkan ujung jari di komputer.

Silew. Aku sudah menjejakkan kakiku di benuamu ini sebelum mati. Bacakanlah jampimu yang paling manjur. Aku ingin ke Yerusalem, menyaksikan perjumpaan benda-benda kepercayaan animis, sinagog, gereja, dan masjid. Dari situ menyeberang ke Mesir. Pulang-pulang aku akan menuliskan dongeng untukmu, tentang Firaun yang mengirimkan pelaut-pelautnya yang bisa bercakap-cakap dengan bintang dan angin, mengarungi lautan untuk belajar merajah tubuh di benuamu ini. Tato di lenganmu itu lebih tua dari Firaun.

Aku takkan ke mana-mana. Dengan dongeng itu aku akan datang menjumpaimu. Lagi-lagi menumpang kapal laut dengan tiket kelas kambing. Tidak untuk menatar lagi. Tetapi, memegangi kakimu kuat-kuat, mengagumi jawer kupingmu dengan takjub, belajar padamu bagaimana bersetia pada rumah sendiri, sampai mati.

 

 

(45)

Martin Aleida Martin Aleida adalah sastrawan yang lahir di Tanjung Balai, Sumatera Timur/Utara, pada 1943. Selain melahirkan karya-karya sastra, mantan jurnalis yang pernah menempuh studi lingustik di Georgetown University, Washingotn D.C, Amerika Serikat, ini juga pernah bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah media massa, di antaranya Majalah Tempo di Jakarta. Sempat menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2009 – 2012 dan menjadi Penasihat Perkumpulan Lentera Timur dan Media LenteraTimur.com hingga 2013.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *