Home Featured “Di Timur Matahari”, Lukisan yang Tak Berbingkai

“Di Timur Matahari”, Lukisan yang Tak Berbingkai

196
0
Di Timur Matahari. Foto: http://www.21cineplex.com.

Mazmur, bocah berumur sekitar tujuh tahunan itu terdiam kaku. Air matanya mulai menetes. Bibirnya gemetar ingin teriak. Tubuh ayahnya, Blasius, yang beberapa detik lalu mengajarkan suatu keberanian, ditembus busur panah. Kejadian itu persis di depan matanya. Untuk menyelamatkan diri dari pemanah, dia melompat ke sungai.

Pelepas busur panah itu adalah Joseph, warga kampung tetangga, yang sebelumnya dipukuli oleh Blasius karena memberikan uang palsu. Jenazah Blasius pun menjadi “kayu kering pada api” bagi masyarakat kampung tempatnya tinggal. Masyarakat yang murka menggelar rapat untuk menentukan apakah si pembunuh harus dibunuh atau dikenakan denda adat. Alex, adik Blasius, ingin sekali melakukan penyerangan balasan. Di ujung perundingan, diputuskan bahwa dendalah yang berlaku, yakni sebesar tiga miliyar rupiah.

Tapi warga kampung pelaku pembunuhan tak mampu membayar denda. Tak pelak keributan pun hampir terjadi. Untung saja ada pandeta Samuel yang mampu meredam amarah kedua belah pihak. Dengan pengalaman berceramah keliling kampung, suasana menjadi dingin – kendati dendam masih menyala antara kedua kampung yang berbatas sungai tersebut.

Tapi perdamaian ini kembali terusik karena tetua adat di kampung Mazmur, Jakob, terbunuh oleh terjangan panah. Bahkan, rumah-rumah di kampung Mazmur dibakar. Pelakunya masih sama dengan pihak yang membunuh Blasius.

“Mata ganti mata! Gigi ganti gigi!” tegas Alex yang kian murka.

Kejadian demi kejadian yang dialami oleh kampung Mazmur membuat batas sabar kian menyempit. Yang tersisa hanya amarah karena penyerangan demi penyerangan pihak lain laksana air yang tak terbendung. Anak panah pun mulai dilepaskan, dan satu demi satu di antara mereka segera rebah menyerah pada bumi.

Kisah pahit ini adalah secuplik dari banyak konflik di Papua yang divisualkan melalui film Di Timur Matahari. Film yang diproduksi oleh Alenia Pictures, Jakarta, ini dibesut oleh sutradara Ari Sihasale.

***

Di Timur Matahari ini menambah eksistensi Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen dalam film drama anak. Sebelumnya, di layar lebar, mereka telah mempersembahkan film Denias, Senandung di Atas Awan (2006); Liburan Seru (2008); King (2009); Tanah Air Beta (2010) dan Serdadu Kumbang (2011).

Akan tetapi, berbeda dengan film-fim sebelumnya, Di Timur Matahari memperlihatkan ketidakfokusan tentang apa yang mau dipersembahkan. Film yang diantaranya disponsori oleh Pertamina dan memiliki seorang penasihat berpangkat tentara ini menampilkan banyak konflik yang satu sama lain sebetulnya tak saling berhubungan.

Film yang mengambil lokasi di Tiom, ibukota Lanny Jaya, ini dimulai dari Ucok (Ringgo Agus Rahman), seorang pendatang yang menjadi bos, yang harus kena denda adat karena menabrak seorang anak kecil, Mazmur (Simson Sikoway). Ucok didenda sebesar 50 juta rupiah. Tapi karena tak punya uang sebesar itu, dia menawarkan 500 ribu rupiah, dan diterima oleh masyarakat.

Ucok pula, si pendatang, yang terasa berposisi sebagai “jembatan” bagi eksistensi polisi dalam mengamankan wilayah. Saat itu, ketika Ucok dan rekannya sedang bekerja, polisi datang dan meminta para pekerja untuk waspada karena baru ada penembakan di sekitar area kerja.

Jika poin film ini adalah pertikaian suku, atau perdamaian, eksistensi Ucok dan pernak perniknya ini terasa tak relevan. Bahkan, hingga akhir, dia kemudian hanya muncul sebagai salah satu bagian dari kerumunan menjelang akhir dalam banyak adegan.

Tapi, ini yang menjadi persoalan, apa sebetulnya yang mau ditawarkan kepada penonton? Jika dunia pendidikan Papua yang disasar, sama juga tak terhubung. Perjumpaan Ucok dengan pendidikan hanya diwujudkan oleh kedatangan anak-anak sekolah, Mazmur dan kawan-kawan yang tak mendapatkan guru, ke area kerja untuk meminta pekerjaan – yang ditolak oleh Ucok.

Demikian juga relasi antara persoalan pendidikan (kekurangan guru) dengan konflik antarsuku. Selain tak terhubung, satu sama lain tak saling menguatkan. Kalau pun posisi Ucok atau kekurangan guru itu dihapus, rasanya jalan cerita juga takkan terpengaruh.

Perspektif luar dalam melihat segala macam kekisruhan di Papua juga terlihat seperti tempelan. Perspektif ini hadir melalui “jembatan” bersosok Vina (Laura Basuki) yang bersuamikan orang Papua, Michael (Michael Jakarimilena), di Jakarta. Michael yang merupakan paman Mazmur pulang ke tanah Melanesia ini, beserta Vina, saat mendengar kabar Blasius, saudara kandungnya, terbunuh. Di Papua, Vina dipanggil sebagai ‘mama Vina’ oleh Mazmur dan kawan-kawan.

“Minyak goreng sepuluh liter 350 ribu, beras dua karung 1,8 juta. Gila! Gimana nggak pada minta merdeka,” ujar Vina yang tampak seperti ras Cina.

Kehidupan yang berbeda dengan kampungnya kadang kala membuat Vina menangis. Ia tak terbiasa dengan apa-apa yang ada di Papua. Akan tetapi, kabar mengenai harga yang melambung-lambung di Papua bukanlah hal baru. Apalagi, pernyataan-pernyataan Vina memberikan empati pada manusia hanya sebagai “binatang ekonomi”, bukan sebagai animal syimbolicum. Karena itu, perjumpaan Vina secara kultural dengan Papua, yang sudah banyak dieksplorasi orang lain, menjadi hambar dan tak memberikan apa-apa yang berarti.

Kampung Vina juga kerap menjadi alas sinisme pada Alex (Paul Korwa) terhadap Michael. Alex, yang bersaudara kandung dengan Michael dan Blasius, banyak menuding Michael yang mau mengubah adat – di antaranya karena menghalangi perang dan hendak mengkonversinya dengan hal lain. Hal ini, di antaranya, tampak pada suasana panas menjelang pertempuran dengan suku tetangga. Alex juga menuding Michael yang seenaknya saja pergi ke Jakarta, meninggalkan Papua, bahkan membiarkan ibu mereka dikubur di luar tanah Papua – yang kemudian diklarifikasi Michael.

Adegan demi adegan dalam film ini kemudian diakhiri dengan berkumpulnya para sosok di saat Alex terbunuh dalam perang dengan suku tetangga tersebut. Anak-anak kecil, Mazmur dan kawan-kawan meradang dalam tangis. Mereka adalah suatu komunitas yang masing-masing orangtuanya saling bertikai dalam posisi suku yang berbeda. Di saat yang sama, orangtua kawan Mazmur yang bertarung dengan suku Alex juga tewas.

Di sini, dokter perempuan berkulit coklat, Fatimah (Ririn Ekawati), berada dalam kebimbangan. Sebelum Alex pergi bertempur, sudah keluar ucapan dari dirinya bahwa dia takkan menolong siapapun korban pertempuran. Dokter itu memang sudah melarang perang balas dendam ini. Tapi anak-anak itu menangis sejadi-jadinya meminta dokter itu melakukan pertolongan.

Tak semua dibantu oleh sang dokter. Tapi pada yang hendak ditolong, semua sudah terlambat.

Menjelang akhir, dalam suasana duka yang mengharukan, Mazmur, yang masih kecil itu, tiba-tiba saja masuk arena pertempuran yang masih berlangsung. Ya, betul-betul di tengah, yang posisinya amat terbuka untuk salah sasaran dari kedua pihak bertikai. Tindakan Mazmur ini lantas diikuti oleh anak-anak yang lain. Di tengah itu, mereka bernyanyi. Nyanyian inilah yang kemudian menghentikan pertempuran. Bahkan, kedua pihak bertikai bergandengan tangan.

Penghentian konflik dengan nyanyian anak-anak kecil di saat, sekali lagi di saat, pertempuran tengah berlangsung macam jauh logika dari kenyataan. Dan di akhir, betul-betul akhir, muncul juga seorang anak kecil, yang entah siapa, mendadak memegang dan melambai-lambaikan bendera Indonesia, merah putih. Dan tamatah film itu.

Sekali lagi, di ujung, film ini juga memaksakan sebuah penutup. Terasa sekali semuanya mau diramu menjadi satu. Usai film, terngianglah pertanyaan tentang hal apakah yang barusan ditonton? Apakah ihwal pendidikan, kesehatan, perempuan, persahabatan anak, pendatang dan bumiputra, adat, atau perang adat? Film ini seperti alur sungai yang berjalan sendiri-sendiri dan tak menemukan muara. Ia seperti lukisan yang tak berbingkai.

(196)

Arif Budiman Arif Budiman lahir di Minangkabau, Sumatera Barat. Saat ini ia beraktivitas sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, angkatan 2008. Pria yang lahir pada 1990 ini sangat berminat pada jurnalisme. Dan hal yang paling ia sukai adalah melakukan peliputan; bergumul dengan fakta-fakta di lapangan. Ia pernah menjadi reporter pada majalah sekolah P’Mails yang diterbitkan oleh koran terbesar di Padang (Padang Ekspres Group) dan penulis di situs resmi dinas pendidikan kota Padang, Selain itu, ia juga pernah melakukan peliputan dalam kegiatan Festival Seni Internasional 2008 di Yogyakarta. Kini ia adalah perwakilan sekaligus desainer LenteraTimur.com di Yogyakarta.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *