Home Sastra Sajak-Sajak Shafwan Nizar
0

Sajak-Sajak Shafwan Nizar

42
0
Shafwan Nizar

Asing

Engkau adalah mekar
dari debar yang belum selesai

engkau adalah umbar
dari tikai yang belum tunai

sua demi sua
riuh peluk berpelupuh bunyi. Namun
ribu hempas ghazal tak
lagi mampu menirus sunyi.

 

 

Akuivalen

Aku tak akan berlabuh
pada muara penuh kapar
Pada nikah laut. Pada angin beraku-aku pada ronta
selepas tanjung dan darat
hilang.

Aku tak laut
tak jinak laut, dan laut tak
menanak kemudi di celah pintu dan tak
kematian, nun di haluan menata arah.
Aku tak senja
senja tak aku, tak gugur tak musim
tak jalan bergelombang. Mengapa harus ku sapa pulang
sebelum senja menugu sebelum amuk sebelum aku
bernyanyi untuk senja
senja mu.

 

 

Aku Jika

Jika letih aku berlayar
maka karang, pelabuhan ku

Jika buta mata jendela
maka pintu raut wajah ku

jika tak niru telapak tangan
maka lambai, tadah do’a ku

jika renggut amsal musim ku
maka kemarau, tanah teduh ku

jika andai adalah aku
maka ketika tulang lengan ku

karena jika harus dicapai
maka ketika haruslah sampai.

 

Pekanbaru, 02082010

 

 

Sungai Garam

Kepada Kota ku : Bagansiapiapi.

Sungai garam
sisa pelabuhan mati
rumah-rumah kompeni.
Di kota tua itu
bersisi-sisi hikayat ranum, hikayat tumpah, riwayat punah tanah
dikulum laut.
Yang datang berduyun, membawa mata kaca tak sempat
tidur bayang-bayang. Lalu menara tinggi berangsur bangkit
ruah megah
Namun perihal awal pangkal sungai, orang tak lagi mau bertanya.
: dimanakah pernah deras alir mengair
telah kemanakah ia
semua itu, seperti lupa arang
hanya di depan In Hok King
jalan, jalan kebaya.

 

Bagansiapiapi, 31072010

 

 

Lelaplah Kau Kupukupuku

“Mari selamatkan malam”, begitu ucap mu
ia jatuh di awal senja sejak temaram benam
di pelupuk ufuk
setelah dipelupuh garang, gila terik
itulah siang, sebelum kita hinggap di sini.

Menyelamatkan malam adalah :
menyematkan kandung lengan tuai
tempat dimana mimpi naung, igau ngaum
kemudian kuntum pagi tumbuh
tidak dengan penggincu bibir
atau sintetis pelapis kuku. Tapi juga tidak
dengan kata gampang yang tabu
untuk diucapkan dikampung mu.

Kau harus tau, aku
adalah oportunis berwarna biru itu.

Engkau ludah, aku lidah,
dalam kulum kita ranum. Dan jangan bimbangkan
malam, ranjang jangan jadikan
seteru.

 

Medan, 14 Juli 2010
*lamina*

 

 

Ah

Bak gelantang beludru dilidah paku
mimpi hitam
menjana laut dalam genggaman.

ah
Tanah sulam sejarah
tak lagi humus ketika benderang terbentang
euforia terbit dari hutan mati
berebut segala simpang. Membangun oase
dari uap cahaya semalam.

ah
Bernama Riau
dari riuh
dari ruh
dari tempah bernama
risau.

 

 

Proklamasi Tiang yang Angkuh

Kami
orang-orang yang tercekik di bawah angkuh
tiang bendera
Indonesia Raya
Merdeka
Merdeka
Merdeka kecil-kecilan
hikayat negeri roti.
Dari halaman rumah kami, Jakarta
Tumbuh. Dan kami
meraut nyawa pada lingkar lengan yang terlacur
lincah bermain sepi.

 

 

Repubik Wangkang

Di republik wangkang kami
bernyanyi dalam lolongan panjang
angin kutub mendirikan kubu di tebing kepala
setiap mata adalah pencuri
siasat siasat, berladang
dari tanah kehendak. Tanpa akar langit
tanpa sakit cubit
sedangkan pangkal jalan hanya mampu mengantarkan sesat
bukan untuk kembali, maka ramai suara memilih
jadi pejalan bisu atau pahlawan
berkelahi dengan darah sendiri.

 

 

Kotaku, Potret dan Sebuah Puisi

“Burung nuri, terbang tinggi
naik turun keatas dahan
mari-mari kasih hati
aku rindu kepada puan”

Kita berjalan di bawah bayang-bayang
menjelang hari ditutup
di lorong-lorong yang menghubungkan sapa di antara
deretan meja kopi
siapa saja boleh singgah
berbagi cerita dari uap seduh cawan
usai sampan ditambat
usai keringat menjemput semangat.

Kota itu
seperti lukisan lelap
lesap
dalam recupan almanak yang kehilangan angka
hari-harinya tak lagi dikenal
tak ada lagi pejalan kaki seperti dulu
pada hujung minggu yang ramai.

Kota itu
Satu dua kerabat pergi
meninggalkan tapak ingatan, mereka
menyebutnya kampung.
Entah dibawa serta atau tidak
lari-lari kecil yang diawetkan dalam potret
halaman hati dan dimana
rasa dibentuk.

Kini, kota itu
entah siapa yang paling mengenalnya
dalam anomali suasana seperti
hari ini
pepohonan tumbuh di atas batu
dan engkau memanggil seseorang tidak lagi dengan
namanya.

“Burung nuri, terbang tinggi
naik turun keatas dahan
mari-mari kasih hati
aku rindu kepada puan”

 

 

Alienasi

Menziarahi gelanggang mata mu
seperti kota tanpa telaga.
Dan katamu :  itu menjadi alasan kenapa kita harus dahaga.
Padahal waktu bukankah bentuk atau usia yang berderai dari bilah kulit pipi.
ia hanya menara tanda atau lonceng pemantera bunyi.
Berjalanlah di sisiNya
atau hampa menghentikan timur menerbit mimpi.

(42)

Shafwan Nizar Shafwan Nizar lahir Bagansiapiapi, Riau, pada 29 Agustus 1979. Saat ini dia menjadi ketua pada Yayasan Arridha Bagansiapiapi, di samping sebagai fungsionaris di Dewan Kesenian Rokan Hilir, Riau.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *