Home Featured Mengejar Angin di Atap Sinabung

Mengejar Angin di Atap Sinabung

175
0
Mengejar angin di atap bus, di jalanan sempit berkelok-kelok dan menanjak selepas dari Kota Medan. Foto-foto: Adela Eka Putra Marza.

Tanah Karo dan Berastagi di Sumatera Utara sudah lama dikenal orang, bahkan hingga ke tanah yang jauh. Sejuta kenangan menunggu di sana: wisata kuliner di malam hari, matahari terbit di Puncak Sinabung dan Sibayak, kehangatan cuaca di Lau Sidebuk-debuk, hingga berburu jeruk di Pajak Buah. Tapi, ada satu yang tak boleh dilewatkan: mengejar angin sembari menguji nyali di atap bus kecil Sinabung Jaya.

Itu pula yang saya cari sore itu. Hawa dingin sisa hujan yang baru saja berhenti mulai menyelinap di balik baju. Ketika itu kami, saya dan tiga orang teman, menaiki tangga yang terpasang di bus yang dinamakan sama dengan gunung tertinggi di Tanah Karo itu. Kami naik ke atap bus, selepas melewati kantor polisi di Pancur Batu, Deli Serdang, sekitar tiga puluh menit dari Simpang Pos Medan yang menjadi markas bus-bus kecil ini di Tanah Deli.

Tak lama, kami pun mengatur tempat untuk bersila di atap bus kecil itu, di antara tumpukan belanjaan milik inang-inang (ibu-ibu, bahasa Batak) hasil dari menjual jeruk dan sayur hasil Tanah Karo. Ya, kami benar-benar sedang berada di atap sebuah bus, dalam perjalanan dari Medan menuju Berastagi, kota kecil di dataran tinggi Bukit Barisan bagian Sumatera Utara.

Kiri: Angin dingin dari Berastagi terus menampar-nampar wajah sepanjang perjalanan. Atas: Bus Sinabung yang disesaki penumpang, membuat atapnya juga menghasilkan uang. Bawah: Barisan mobil yang mengular di jalanan Medan-Berastagi.

Saya dan teman-teman membaur dengan sejumlah pemuda yang juga ikut “menumpang” di atas bus itu. Sinabung kecil meliuk-liuk membelah jalanan Tanah Karo yang berkelok-kelok seperti ular. Sang sopir begitu lincah memainkan kemudi mobilnya, menyalip dengan tingkahan klakson yang berirama tanpa mengurangi kecepatan meskipun jalanan sempit; hanya cukup untuk dua kendaraan roda empat yang berlawanan arah.

Sopir Batak memang terkenal lincah dalam mengendarai mobil, termasuk juga mobil kecil seperti angkutan kota (angkot). Percaya tak percaya, ternyata angkot dan mini bus yang bersileweran di kota Jakarta pun kebanyakan dikuasai orang Batak, tentu saja sebagai sopir. Coba sesekali sapa mereka dengan panggilan “Apa kabar, Lae?”. Maka bahasa Batak pun akan mengalir dengan logatnya yang keras dari mulut mereka.

Kembali ke atap Sinabung. Seperti hari-hari libur lain, jalanan menuju Berastagi malam ini juga macet. Dari atas, puluhan mobil terlihat harus merangkak di beberapa ruas jalan. Jalan yang sempit memaksa para sopir Batak, yang biasanya suka kebut-kebutan, terpaksa harus sedikit menahan kemudi. Sesekali klakson terdengar berbunyi keras, disambut sumpah serapah karena mobil pribadi di depan berjalan pelan sekali.

Tanpa pikir panjang, si sopir akan mencari jalan untuk mendahuluinya. Dengan liukan tajam, Sinabung kecil pun melesat kencang melintasi jalanan yang kemudian semakin menanjak. Lampu-lampu yang mulai menyala dari mobil-mobil seiring gelap malam yang telah menjeru tampak mengular, menguntit Sinabung yang kami tumpangi. Berkejar-kejaran dengan bus lain yang punya rute sama menuju Berastagi atau Kabanjahe.

Saya begitu menikmati perjalanan ini, mengejar angin sembari menguji nyali di antara tamparan-tamparan angin kering di wajah saya yang juga telah mengering. Ini adalah hal yang takkan pernah saya lewatkan, jika ada kesempatan dalam perjalanan menuju Berastagi. Bahkan, saya sepakat dengan pernyataan bahwa belum sah ke Berastagi jika belum mencoba uji nyali di atap bus kecil ini.

Pertama kali saya mendengar slogan ini adalah tujuh tahun lalu, ketika untuk pertama kalinya juga menjejakkan kaki di Medan dari Tanah Minang. Sampai sekarang, inilah yang selalu saya bangga-banggakan kepada teman-teman yang baru datang ke Berastagi. Ahai… Anak muda mana pula yang tak akan tergiur adrenalinnya dengan bus umum bersejarah di Tanah Karo ini.

Selain Sinabung, ada juga nama Borneo dan Sutera (Sumatera Transport) yang tertera di badan bus-bus kecil yang melewati jalanan Medan-Berastagi itu. Mobil merek Toyota jenis engkel colt diesel itu tentunya menjadi unik di antara jenis kendaraan-kendaraan mewah yang muncul saat ini. Sinabung menggunakan mobil Toyota itu sejak 1981, dua puluh tahun setelah salah satu perusahaan transportasi besar di Tanah Karo ini berdiri, yakni tepat pada 1 April 1961.

Tentu saja menikmati angin di atap bus umum ini menjadi sensasi tersendiri dalam perjalanan ke Tanah Karo. Meski sebenarnya sangat berbahaya dan beresiko tinggi terhadap keselamatan, duduk di atap bus ini seakan sudah menjadi “tradisi” bagi masyarakat Tanah Karo dan Medan umumnya, terutama bagi para pemuda laki-laki. Terkadang ada juga gadis-gadis remaja yang ikut-ikutan, mungkin hanya untuk sekedar cari sensasi bersama sang pacar.

Saya tidak tahu pasti kenapa kebiasaan ini bisa menjadi mentradisi. Namun, barangkali, bisa jadi karena sempitnya ruang di dalam bus yang seringkali penuh penumpang. Sumpek. Belum lagi bau bahan bakar mobil yang sangat menyengat. Jika tak biasa, perut Anda akan mual dan memuntahkan semua isinya. Hal inilah yang membuat para penumpang menjadi tak suka berada di dalam bus.

Akan tetapi, fenomena ini sekarang sudah mulai jarang terlihat. Pihak polisi mulai rajin melakukan razia di sejumlah titik di jalanan Medan-Berastagi. Selain itu, menurut kernet bus Sinabung yang saya tumpangi, sejak 2005, hal itu juga dipicu oleh naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan naiknya ongkos Medan-Berastagi, dari Rp. 5 ribu menjadi Rp. 8 ribu. Saya tak tahu apa hubungannya, tapi begitulah cerita dia.

Kota Berastagi malam hari dengan hawa dingin yang menusuk.

Saat ini, jika sopir membiarkan para penumpang naik ke atap bus, maka petugas polisi tidak akan segan-segan menilang. Uang puluhan ribu pun akan melayang, berpindah ke tangan si petugas. Kalau tak salah, saya sudah tiga kali diturunkan polisi dari atap bus ini. Kami yang di atap tertangkap mata oleh mereka. Terpaksa bus berhenti, dan kami pun turun satu per satu. Sopir bus perang urat syaraf dengan petugas polisi.

Meski begitu, masih ada satu dua sopir yang mencuri-curi kesempatan, terutama dalam perjalanan di malam hari. Bahkan, terkadang penumpang naik ke atas bus justru ketika bus sedang berjalan. Mungkin bisa Anda bayangkan betapa mengerikan tantangan itu; bergelantungan di pinggir bus, dan kemudian menaiki atap lewat tangga kecil di sisi kirinya. Saya pernah melakukannya. Itulah sensasi yang sebenarnya, “menantang maut”.

Setelah melalui jalan berkelok-kelok melewati daerah Sembahe, Sibolangit, Bandarbaru, dan Penatapan selama dua jam lebih, dengan ongkos Rp. 8 ribu per orang, tibalah kami di pusat Kota Berastagi. Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. Masih ada masa untuk mencoba wisata kuliner malam hari di Berastagi yang hawa dinginnya kian menusuk tulang.

(175)

Adela Eka Putra Marza Anak kampung dari pesisir Sumatera Barat ini pertamakali melahirkan karya tulisnya saat masih di bangku Sekolah Menengah Pertama. Kini, pria yang menekuni pekerjaan sebagai penulis dan berlatarbelakang pendidikan jurnalistik ini berdomisili di Medan, Sumatera Utara.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *