Home Featured Dari Timur Banua Borneo

Dari Timur Banua Borneo

481
0
Gedung Rektorat Universitas Borneo Tarakan. Foto-foto: LenteraTimur.com/Ken Miryam Vivekananda Fadlil.

15 Juni 2012. Dari atas bukit yang sejuk, seujung pandang lembah terhampar luas di tepi laut. Kapal-kapal datang dan pergi, beberapa berdiam untuk mengambil batu bara. Di atas bukit inilah Universitas Borneo Tarakan berada, yang dihuni oleh mahasiswa-mahasiswi yang datang dari banyak wilayah.

Keberagaman mahasiswa di kampus menjadi cerminan atas dinamika yang ada di masyarakat Tarakan, Kalimantan Timur. Keberagaman, yang tentu saja mengisyaratkan perjumpaan-perjumpaan dari yang berbeda, sesuai dengan pengertian “Tarakan” sebagai suatu istilah. Dalam bahasa Tidung, tarak berarti ‘tempat singgah’ dan ngakan berarti ‘makan’.

Tarakan memang tak satu warna. Ia tak saja didiami oleh etnis Tidung, yang menjadi penduduk asli, tetapi juga oleh para pendatang, seperti Bugis, Jawa, atau Banjar. Keberagaman ini terasa dalam pelatihan jurnalistik “Menulis untuk Kesederajatan” yang digelar oleh tim LenteraTimur.com di Universitas Borneo Tarakan pada 15-19 Juni 2012. Pelatihan yang didukung oleh Cipta Media Bersama ini dihadiri oleh peserta yang memang datang dari mana-mana, bahkan umumnya berasal dari luar Tarakan atau luar Tidung.

Nama kampung yang ada di Tarakan, salah satunya, menunjukkan eksistensi tiap-tiap identitas tersebut. Kampung Bugis, misalnya, meskipun kini ia lebih banyak dihuni oleh orang-orang Cina. Hanya saja, pada 2010, sempat pecah bentrokan keras antara penduduk asli dengan pendatang.

“Etnis Tidungnya terasa terpinggirkan,” ujar salah seorang peserta.

Konstruksi konflik yang melanda Tarakan agaknya enggan dibahas oleh peserta. Dan itu dapat dipahami mengingat latarbelakang peserta. Tim yang terdiri dari Martin Aleida, TM. Dhani Iqbal, Christopel Paino, Ken Miryam Vivekananda Fadlil, dan Arif Budiman, mendapatkan informasi dari pihak di luar kelas, di luar pihak yang bertikai, tentang bagaimana kosmologi pikiran Tidung terhadap pihak di luar dirinya. Dan sampai saat ini, konflik semacam itu disebut-sebut berpotensi untuk meletus kembali.

“Tapi insya Allah tidak terjadi lagi. Kita jaga bersama,” ujar Wali Kota Tarakan, Udin Hianggio, kepada LenteraTimur.com di Tarakan.

Hanya saja, Udin yang berasal dari Gorontalo tak menyebutkan bagaimana proyeksi perlindungan terhadap masyarakat etnis Tidung dalam pembangunan di Tarakan yang terasa tumbuh pesat. Ia hanya mengakui bahwa arus migrasi cukup kencang di Tarakan.

“Paling banyak itu dari Jawa Timur dan Solo… maksudnya Solowesi,” canda Udin yang kala itu memakai pakaian songket.

Keberagaman yang ada di Tarakan memang sudah terbangun lama. Arus migrasi kian meningkat sejak dimekarkan menjadi kotamadya pada 1997. Tidak saja orang-orangnya yang berdatangan, tetapi juga barang-barangnya. Produk-produk Malaysia, misalnya, amat banyak ditemui dengan kualitas terjaga. Ragamnya pun amat banyak, mulai dari jam, tas, ranjang, tempat mandi bayi, ayunan bayi, sapu, sabun mandi, sabun cuci, susu, pakaian, kompor gas, tabung gas, minuman, makanan, atau kue ringan.

“Istri saya lebih suka Malaysia punya karena kualitasnya lebih bagus ketimbang Indonesia,” ujar seorang rekan di Tarakan.

Sebaran produk ini memang wajar mengingat jarak Tarakan dengan Malaysia, tepatnya Tawau di Negara Bagian Sabah, amat dekat. Dan logika alamiah memang mengatakan untuk selalu mencari akses pasar terdekat. Untuk mencapai Tawau atau sebaliknya, hanya dibutuhkan waktu sekitar empat jam dengan menggunakan speed boat atau sekitar setengah jam dengan pesawat udara. Dan, baik Tarakan atau Sabah, keduanya banyak didatangi oleh orang-orang dari Sulawesi, khususnya Bugis.

Suasana Pelatihan Jurnalistik "Menulis untuk Kesederajatan" (III) di Gedung Rektorat Universitas Borneo Tarakan.

Akan tetapi, meski jaraknya dekat, nasibnya berbeda jauh. Tarakan adalah kota dimana bor-bor minyak dapat ditemukan dengan mudah di sepanjang jalan. Hanya saja, jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) disebut-sebut hanya sekitar dua hingga empat buah, bahkan tak jarang masyarakat mengalami kelangkaan minyak.

Terkait pembahasan kesederajatan yang bertalian dengan keberagaman, ada yang sedikit menggelitik di sela pelatihan. Seorang wartawan, yang juga peserta pelatihan, mewawancarai salah seorang tim LenteraTimur.com mengenai wajah pers Indonesia. Hal ini berkaitan dengan sudah terselenggaranya pelatihan di Medan, Gorontalo, juga Jakarta, dan kini Tarakan.

Pertanyaan ini berat. Bagaimana mau menjawabnya, apalagi dalam satu dua tarikan napas? Tim LenteraTimur.com dengan pelatihan jurnalistiknya baru bersentuhan dengan media massa di empat wilayah, dari hampir 500 wilayah di seluruh Indonesia. Masing-masing punya karakteristik, baik dari bahasan atau fokus persoalan, penulisan, perspektif, adaptasi perkembangan teknologi media, respon kebijakan kekuasaan, pun kompetisi oplah dengan kaki tangan media-media luar wilayah.

Menyamakan keempat wilayah tersebut dalam pembahasan singkat, secara otomatis, dapat membuat persoalan justru tak teridentifikasi. Tindakan itu bahkan dapat disebut peremehan atau penghilangan karakter, membuatnya keluar dari dinamika, dan membunuh identitas – sesuatu yang tak masuk dalam skema multikulturalisme. Tim tak seberani orang-orang yang mampu berbicara lantang atau membuat buku-buku tentang pers Indonesia, betapapun hanya membahas satu dua koran lama di satu wilayah macam Indonesia Raya sembari memperangahkan diri pada satu pribadi.

Dan secara kebetulan, ketika tim berada di kota kosmopolit ini, terdengarlah ribut-ribut dari media-media lokal Jakarta yang bersiaran nasional mengenai kebudayaan yang ada di Mandailing, Sumatera, terkait Malaysia. Dari Tarakan, bersama tim dan rekan-rekan di Tarakan, hal itu terdengar menggelikan. Seperti halnya Borneo Tarakan dengan Borneo Malaysia yang amat dekat, satu daratan, begitu pula Sumatera dengan Semenanjung, Malaysia, yang hanya terpisah 70 sampai 300-an kilometer. Dan jika media-media di Jakarta tak punya wawasan ihwal kebudayaan dan diaspora orang-orang Sumatera, barangkali itu wajar. Jarak antara kawasan Mandailing dengan kawasan Jakarta adalah sekitar 1.200 kilometer. Apalagi Jakarta sendiri memang jauh dari dunia internasional.

Jauhnya jarak memang bisa jadi berbanding lurus dengan jauhnya hati. Tapi itu tak mutlak. Saat ditanya, peserta dari Tidung tak keberatan jika penduduk Pulau Tidung di Jakarta Kepulauan mengaku sebagai Tidung – karena ada cerita seorang pemuda Pulau Tidung yang menolak datang ke acara Betawi di Jakarta Daratan karena dirinya adalah seorang Tidung. Padahal, jika ditarik garis lurus, jarak wilayah Tidung di Tarakan dengan Pulau Tidung di Jakarta Kepulauan mencapai sekitar 1.500 kilometer. Jadi, barangkali ini memang semata soal wawasan dan kedekatan geografis dengan dunia internasional.

Di atas kapal, dari Sulawesi menuju Borneo.

Ke Tarakan
Untuk mencapai Tarakan, tim LenteraTimur.com menempuh jalan yang tak lazim, barangkali. Dari kantor di Jakarta Selatan, tim menggunakan kereta api menuju Surabaya selama sekitar sepuluh jam. Sepanjang mata memandang, sawah-sawah menghampar dimana-mana. Petani-petani mencangkul di antara rumah-rumah gubuk.

Dari Surabaya, tim melanjutkan perjalanan ke Makassar dengan menggunakan Kapal Motor (KM) Tidar (lihat Bahtera Laju ke Utara). Jarak tempuhnya sekitar empat hari empat malam. Jika ditarik garis lurus melalui jalur yang dilewati, yakni Surabaya, Makassar, Pare-Pare, Balikpapan, dan Tarakan, maka jaraknya mencapai sekitar dua ribu kilometer. Jika ditaruh di peta Eropa Barat, maka ia setara dengan jarak dari London (Inggris) ke Rumania, atau dari Eropa Barat ke Eropa Timur.

Waktu tempuh laut dari Surabaya ke Makassar, dengan Tidar, adalah sekitar satu hari dua malam. Kala itu, kedua pelabuhan ini tampak sama sibuk. Kapal-kapal banyak terparkir atau berlalu lalang. Di sini penumpang kapal yang naik mulai beragam. Ini terlihat dari berbeda-bedanya bahasa dan logat Melayu/Indonesia yang digunakan. Pada sejumlah penumpang yang dijumpai, banyak yang bertujuan ke Nunukan.

“Saya mau ke Nunukan,” ujar seorang pemuda asal Jawa bersama kawan-kawannya. Entahlah jika mereka akan masuk ke Malaysia atau tidak. Sebab, orang yang mau ke Malaysia biasanya masuk dari Nunukan.

Dari Makassar, kapal kemudian bergerak ke Pare-Pare dengan waktu tempuh sekitar tujuh jam. Selama perjalanan, kapal menyisiri pesisir Sulawesi. Daratan selalu ada di ujung pandang. Namun, berbeda dengan Surabaya atau Makassar, pelabuhan Pare-Pare saat itu tampak lebih sibuk. Bukan dengan banyaknya kapal, melainkan kesibukan aktivitas angkut barang. Di sini banyak barang yang dimasukkan ke kapal. Umumnya berupa hasil tanaman, seperti bawang, bawang merah, telur, dan sebagainya.

Setelah itu, kapal laju ke Balikpapan dengan waktu tempuh sekitar setengah hari satu malam, dengan pemandangan kilang-kilang minyak dan tongkang-tongkang batu bara dimana-mana. Aktivitas di pelabuhan Balikpapan sendiri relatif cukup ramai. Banyak barang yang tadi dibawa dari Pare-Pare kemudian diturunkan di sini.

Kemudian, dari Balikpapan, perjalanan dilanjutkan menuju Tarakan dengan waktu tempuh sekitar satu hari satu malam, tetap dengan pemandangan berupa kilang minyak dan tongkang batu bara. Di Tarakan inilah tim turun, sedangkan kapal laju kembali ke Nunukan sebagai pelabuhan terakhir.

Dari atas perahu di Sungai Kayan
Di atas perahu di Sungai Kayan, menuju Tanjung Selor.

Sedikit Membelah Borneo
Sore usai pelatihan, yakni pada 19 Juni 2012, tim LenteraTimur.com bersiap untuk ke Jakarta. Karena ingin mengetahui sedikit mengenai wajah Kalimantan, pun karena biayanya lebih murah, tim tak berangkat melalui udara. Dari Tarakan, tim memilih untuk mengarungi sungai dan menjejaki darat.

Sungai Kayan, yang menjadi pertemuan sungai dengan laut, adalah lintasan pertama yang harus dilalui untuk menuju Tanjung Selor, Bulungan, yang masih berada dalam Provinsi Kalimantan Timur. Dengan menggunakan speed boat, waktu tempuhya sekitar satu jam 15 menit. Di Bulungan inilah kisah tragis tersuar dari mulut seorang cerdik pandai. Ya, ada yang disebut Tragedi Bulungan memang, yang terjadi pada 1964, yang dilakukan melalui pembantaian orang-orang Kesultanan Bulungan.

Di Bulungan inilah terasa nuansa sebuah kota tua. Ia berbeda dengan, katakanlah, Medan, Jakarta, atau Bandung, yang kota tuanya bercitarasa Eropa. Di sini kota tua benar-benar kota tua Melayu. Rumah-rumah panggung lengkap dengan ornamen khasnya berjejer di sana sini.

Karena sudah malam, tim pun menginap di Bulungan. Besok perjalanan dilanjutkan dengan tujuan Banjarmasin. Tapi tak bisa cepat-cepat untuk mencapai tujuan. Ini Kalimantan, yang oleh antropolog-antropolog Eropa dahulu kerap disebut sebagai benua (continent). Entah kebetulan atau tidak, orang Dayak juga menyebut wilayahnya sebagai banua. “Benua”, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan sebagai daratan yang amat luas sehingga di bagian tengah tak mendapat pengaruh langsung dari angin laut. Apakah dengan demikian Kalimantan atau Borneo memang adalah sebuah benua, bukan pulau? Bisa jadi ya.

Dari Bulungan, tim bergerak menuju Berau dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Di sini perjalanan betul-betul penuh goncangan. Sepanjang lebih dari 60 kilometer, kondisi jalan betul-betul rusak, bergelombang, dan berdebu. Seisi penumpang roda empat terguncang-guncang (lihat video di bawah). Dan di sinilah area pertambangan batu bara raksasa yang kontroversial banyak ditemukan.

Selepas Berau, jalanan mulai sedikit membaik. Tapi itu tak berarti pengemudi lantas bisa memacu kendaraannya dengan lega. Di satu titik, ada kantor militer yang mewajibkan seluruh kendaraan berjalan pelan di sepanjang depan kantornya.

“Di sini harus pelan-pelan. Kalau tidak, wah… kita dikejarnya sampai manapun, terus disuruh hitung batang pagar,” ujar Kepin, sopir asal Yogyakarta yang sudah lama hidup di Tanjung Selor.

Sejumlah titik area pertambangan di Kutai Timur.

Jelang malam, laju kendaraan mulai memasuki Kutai Timur dengan waktu tempuh sekitar sepuluh hingga sebelas jam, Bontang dengan waktu tempuh sekitar tiga jam, Samarinda sekitar tiga jam, lalu Balikpapan sekitar tiga jam. Jika ditotal, maka perjalanan Bulungan takat Balikpapan, dengan kecepatan sedang, memakan waktu sekitar 22 jam.

Karena tiba di Balikpapan saat tengah malam, pun badan sudah begitu letih, tim memilih untuk menginap. Di Balikpapan tim kembali berjumpa dengan dua perempuan kulit putih dari Spanyol. Sebelumnya, di salah satu tempat macam perkampungan imigran/transmigran Jawa di antara Bulungan dan Balikpapan, tim memang sudah berjumpa dengan keduanya. Saat bercakap-cakap di Balikpapan, keduanya tampak gusar dan marah. Pasalnya, mereka ketinggalan pesawat menuju Makassar karena sopir travelnya terlalu banyak istirahat.

“Di tengah jalan kami sudah bilang supaya jangan terlalu lama. Tapi dia (sopirnya-red) bilang, don’t worry,” ujar seorang di antaranya dengan bahasa Inggris. Kepalanya geleng-geleng.

Keesokan harinya, tim kembali bergerak menuju Penajam melalui Teluk Balikpapan. Penyeberangan ke Penajam ini sebetulnya hanya sekitar satu jam 45 menit. Namun, yang lama adalah mengantri kendaraan untuk masuk ke kapal feri, yang ketika itu menghabiskan waktu sekitar enam jam. Karena terlalu lama, tim melihat harga tiket pesawat dari Banjarmasin ke  Jakarta sudah berubah, dari yang tadinya sekitar 500-an ribu rupiah menjadi sekitar 1,2 juta rupiah. Dari koran Kaltim Post di hari yang sama, memang ada berita bahwa sudah terjadi lonjakan harga tiket pesawat karena liburan anak sekolah.

Antrian kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di Tabalong, Kalimantan Selatan.

Sesampai di Penajam, perjalanan langsung dilanjutkan menuju Paser dengan waktu tempuh sekitar lima jam. Paser sendiri masih termasuk Kalimantan Timur. Dan ini membuat provinsi ini tampak begitu besar. Dengan hanya menyusuri Tarakan sampai Paser, dan tidak berputar-putar di dalamnya, total waktu yang dibutuhkan, termasuk darat dan laut/sungai dan tanpa menghitung kemacetan di pelabuhan atau waktu menginap, adalah sekitar 29 jam atau lebih dari satu hari satu malam. Luas yang sedemikian, ditambah sulitnya sarana transportasi, membuat masyarakat Krayan, misalnya, harus menggunakan pesawat udara hanya untuk mengurus Kartu Tanda Penduduk. Karena itulah sebagian wilayah Kalimantan Timur ingin diseparasi untuk menjadi Kalimantan Utara.

Selanjutnya, dari Paser ke Banjarmasin, waktu tempuh mencapai sekitar delapan jam. Berbeda dengan Bulungan ke Berau, atau pada umumnya hingga Kutai Timur atau Samarinda, kondisi jalan dari Paser menuju Banjarmasin cukup baik. Tidak ada jalan tanah yang amat berdebu atau jalan bergelombang karena rusak. Secara keseluruhan, jalanan yang ditempuh ini pada umumnya naik turun, berbukit-bukit.

Karena tiba tengah malam, maka tim menginap di Banjarmasin. Rencana semula untuk menggunakan kapal tipe roll on – roll off (roro) dibatalkan. Tubuh tak lagi kuat menanggung keinginan. Karena itu, pesawat udara pun dipilih untuk langsung menuju Jakarta, dengan waktu tempuh sekitar satu jam 30 menit. Dan perjalanan di sepanjang timur Borneo pun berakhir di ujung selatan tanah raya yang kaya ini.

[media id=36]

(481)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *