Home Sastra Bencana Teluk Layar
0

Bencana Teluk Layar

8
0
Geger D. Praha

Lelaki itu berpikir keras, keras sekali. Seperti ada puncak gunung batu yang berdiri kokoh di depannya. Pikirannya masih bercabang, antara pergi ke kantor atau tidak. Pertanyaan itu timbul-tenggelam secara silih berganti dalam kepalanya, menggoncang batin dan kesadarannya. Karena yang berkecamuk dalam kepalanya saat itu adalah, tidak masuk kantor berarti berhenti bekerja, yang berarti mempertaruhkan kehidupan keluarganya, yang masih membutuhkan biaya untuk hidup sehari-hari.

Sudah hampir dua puluh menit Rasman hanya berdiri tertegun di depan pintu rumahnya, hingga rokok yang masih menyala di tangannya terjatuh sendiri di atas tumpukan sandal di bawahnya, yang segera disingkirkannya dengan ujung sepatu.

Bagaimana mungkin hatinya tidak akan gundah dan dongkol. Untuk mendapatkan berita soal pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan tambang emas PT. Meteor Biru itu, Rasman harus menembus empat lapis pintu penjagaan yang sangat ketat. Padahal, untuk melewati satu pintu saja sulitnya bukan main. Dia harus memberikan alasan yang benar-benar tepat dan masuk akal di benak para petugas security yang berjaga-jaga di situ. Kalau tidak, jangan berharap bisa melewati sebuah pintu pun.

Meskipun setelah itu, para cecunguk-cecunguk itu baru akan tersadar kalau dirinya telah dikecoh oleh Rasman, setelah Rasman melenggang keluar dari area tambang yang kini sedang dililit masalah pengelolaan limbah, karena mulai mencemari kawasan perairan Teluk Layar itu. Bagi yang tidak punya kemampuan berdiplomasi untuk meyakinkan petugas-petugas itu, jangan sekali-kali berharap bisa menembus selembar pintu pun. Hal itu telah dibuktikan oleh puluhan wartawan, baik yang datang sendiri-sendiri maupun berkelompok dengan mengatasnamakan organisasi pers tempat mereka bergabung. Tapi, alhasil terpental semua. Tak satu pun yang diperbolehkan masuk ke dalam, untuk sekadar melihat-lihat kegiatan penambangan yang telah berlangsung selama puluhan tahun itu.

“Kalau sekadar keterangan, Mas-mas dan Mbak-mbak bisa memperolehnya di sini. Kami akan memberikan keterangan sejelas-jelasnya mengenai kegiatan penambangan yang dilakukan oleh perusahaan kami. Insya Allah, tidak ada yang ditutup-tutupi. Karena komitemen kami, perusahaan tambang ini memang untuk kepentingan semua….”

Begitu biasanya “kata pengantar” yang disampaikan oleh petugas bagian Humas kepada setiap wartawan yang datang ke lokasi tambang. Tak seorang pun dari mereka yang diperbolehkan masuk ke dalam. Setiap tamu, apalagi wartawan, akan diterima di lobi depan, yang letaknya sekitar dua kilometer dari lokasi induk. Setelah mendengarkan keterangan berbusa-busa dari petugas Humas, lalu diminta membubuhkan tanda-tangan untuk penerimaan sebuah amplop gemuk, sebagian besar jurnalis yang kurang “beriman” itu pun akan langsung pulang ke rumah, setelah lebih dulu mampir di swalayan untuk membeli susu buat anak-anak mereka.

Tetapi, sebagai jurnalis kawakan yang sudah puluhan tahun malang-melintang di dunia pers, dengan pengalaman meliput berita di daerah konflik, baik di dalam maupun luar negeri, seperti Palestina, Aceh, Dili, Bosnia, dan lain-lain, Rasman telah berhasil menerobos empat lapis pintu penjagaan, hingga menyaksikan secara langsung sistem pengelolaan limbah oleh perusahaan tambang milik koorporasi asing itu. Untuk keperluan investigasi, Rasman memang tidak akan segan-segan mengecoh, bahkan membohongi para petugas atau siapa pun yang menghalang-halangi tugas jurnalistiknya, jika dengan cara berterus-terang atau langkah-langkah persuasif tidak membuahkan hasil. Seperti yang juga dilakukannya di perusahaan tambang emas PT. Meteor Biru beberapa hari lalu, hingga dia memperoleh data yang benar-benar akurat. Dia berhasil mengecoh sejumlah petugas keamanan dan administrasi, hingga berhasil masuk ke pusat lokasi tempat berlangsungnya kegiatan eksplorasi. Bahkan karena tak menaruh kecurigaan sedikit pun. Para direktur perusahaan pun secara tak sadar “buka kartu” mengenai masalah yang dihadapi perusahaan di lapangan. Dengan bekal tape recorder dan kamera, Rasman pun dengan leluasa mengorek data dan informasi lainnya, bahkan sampai ke bagian-bagian inti yang paling dirahasiakan oleh perusahaan.

Dengan perasaan getir karena telah mengetahui adanya kejahatan kemanusiaan dan ekonomi yang dilakukan oleh perusahaan tambang milik korporasi asing itu, Rasman keluar meninggalkan lokasi tambang dengan muka masam. Ketika melewati bagian Humas, setelah keluar dari ruang kerja wakil direktur, seorang perempuan muda telah menunggunya di depan pintu kaca yang terbuka.

“Maaf, Pak, kami minta waktu sebentar. Ada amanat dari Bapak Dirut yang mesti kami sampaikan….”

Mendengar penjelasan karyawan berrok mini separuh lutut itu, rasa ingin tahunya muncul. “Oya? Di mana?” tanya Rasman dengan nada penuh selidik.

Karyawan Humas itu mengajaknya masuk ke sebuah ruangan. Di atas meja telah menunggu sebuah amplop berisi selembar cek senilai dua puluh ribu dolar.

“Maaf, Pak, tolong diterima ini… Sekalian mohon tanda tangannya,” ujar karyawan muda itu sambil menyodorkan sebuah amplop berlogo perusahaan dan sebuah buku yang harus dibubuhi paraf sebagai tanda terima.

Rasman memegang amplop itu, kemudian mengeluarkan sehelai kertas berharga di dalamnya dan meletakkannya di atas meja, lalu memotretnya dari jarak dekat dan berbagai sudut. Setelah itu dikembalikannya lagi pada karyawan perempuan di depannya, yang kini tampak melongo menyaksikan tindakan Rasman.

“Tolong sampaikan terima kasih saya pada direktur, amplop ini saya balikkan!” kata Rasman, lantas buru-buru pergi.

Sikap Rasman membuat gadis itu benar-benar shock sekaligus takjub. Karena dalam usianya yang kini menginjak 25 tahun, baru kali ini dia menemukan ada manusia yang menolak diberi uang ratusan juta. Dia sungguh tak habis pikir. Karena di zaman serba korup ini ternyata masih ada manusia berhati intan. Dan itu adalah wartawan bernama Rasman. Dalam ketakjubannya pada kepribadian laki-laki kurus-jangkung itu, secara diam-diam di hati perempuan itu terselip sepotong pertanyaan. “Berapa sih gaji wartawan, sehingga laki-laki kurus itu menolak amplop?”

Sembari melangkah gontai ke tempat parkir, di mana dia menitipkan mobil butut yang dipinjamnya di bagian sirkulasi perusahaan surat kabar tempatnya bekerja, wajah Rasman nampak sangat nelangsa. Dalam kedongkolannya dia sempat berapologi begini: terhadap hal-hal tertentu yang kita tidak memiliki kesanggupan untuk melawannya, memang ada baiknya kita tidak mengetahuinya sama sekali. Ketimbang mengetahui, tapi tidak punya kemampuan untuk melawannya, sehingga dampaknya hanya menimbulkan sakit hati. Meskipun disadarinya bahwa itu adalah pikiran seorang pengecut yang tidak pantas menghinggapi kepala seorang jurnalis yang senantiasa dituntut bersikap obyektif dalam mengabarkan temuan-temuannya di lapangan.

Setibanya di kantor redaksi surat kabar Suara Timur tempatnya bekerja, Rasman langsung menuangkan hasil investigasi lapangannya itu ke dalam sebuah artikel panjang, lengkap dengan foto-foto, yang setelah rampung ditulisnya segera diserahkannya ke Redaktur Pelaksana. Tetapi, anehnya seusai membaca naskah berita yang ditulis Rasman itu, tak sepatah kata pun yang terlontar dari mulut redpelnya. Tak seperti biasanya, kalau Rasman mendapatkan berita yang bagus untuk headline, biasanya Pak Hendra, redpelnya, akan langsung mengomentarinya dengan pujian setinggi awan. Tapi, kali ini wajah dan sikapnya tampak dingin-dingin saja. Tak ada kata-kata pujian atau kritik yang terlontar dari mulutnya yang tak pernah lepas dari kepulan asap rokok itu.

Namun, karena merasa masih capek setelah melakukan investigasi ke daerah penambangan emas yang letaknya cukup jauh di luar kota itu, Rasman tak begitu menghiraukan sikap dingin redpelnya itu. Selang beberapa menit kemudian, setelah menyerahkan berkas beritanya, Rasman langsung pulang. Dia belum sempat berpikir, kenapa redakturnya tidak begitu bersemangat saat membaca naskah berita yang ditulisnya dengan prestisius itu.

Keesokan harinya baru Rasman tersadar, saat menyaksikan iklan satu halaman penuh milik perusahaan tambang PT. Meteor Biru yang terpampang di halaman tiga menggantikan rubrik “nasional” harian Suara Timur. Pesan iklan satu halaman penuh bergambar bocah-bocah gemuk berseragam Sekolah Dasar, dengan latar belakang pohon-pohon hijau dan segerombolan kuda yang berlari memintas hamparan padang sabana itu, isinya dengan mudah ditebak. Pihak perusahaan menjelaskan bahwa: Tidak ada pencemaran lingkungan di kawasan perairan Teluk Layar. Karena pihak perusahaan tambang PT. Meteor Biru telah memiliki sistem pengelolaan limbah yang benar-benar permanen, sehingga kemungkinan terjadi kebocoran tailing seperti yang diributkan kalangan aktivis pemerhati lingkungan belakangan ini sangat kecil. Dan tuduhan itu adalah fitnah belaka. Adapun ratusan penderita penyakit kulit yang kini sedang dirawat di sejumlah rumah sakit, sama sekali tak ada hubungannya dengan aktivitas penambangan yang dilakukan oleh PT. Meteor Biru yang sudah beroperasi selama dua puluh empat tahun itu.

Dengan iklan satu halaman penuh milik PT. Meteor Biru itu, sebenarnya Rasman tidak terlalu marah, karena itu adalah hak mereka untuk membela diri, kendati posisinya sudah jelas-jelas salah. Yang membuat Rasman sakit hati dan tertekan adalah karena berita yang dibuatnya telah diubah secara semena-mena oleh Pak Hendra, sehingga isinya persis seperti penjelasan yang tertera di dalam iklan.

Rasman masih tertegun di depan rumahnya dengan mata memandang nanar ke puncak gunung batu yang berdiri kokoh di seberang jalan di depan rumahnya, ketika batinnya sudah memutuskan dengan mantap untuk “keluar!” saja dari harian Suara Timur. Rasman merogoh ponsel di saku rompinya dan langsung menelepon pimpinan redaksi, Pak Irwan Rahadi.

“Hal itu terpaksa dilakukan, Ras. Karena seperti yang kita ketahui bersama, bahwa pihak pimpinan perusahaan Suara Timur sudah berbicara blak-blakan soal kondisi keuangan kita. Sehingga mau tidak mau langkah-langkah kompromi memang harus ditempuh untuk menyelamatkan perusahaan,” jawab Pak Rahadi, menjelaskan dengan nada kurang bersemangat.

Sebagai pimpinan redaksi yang sudah tiga puluhan tahun bekerja di dunia pers, dia menyadari betul semangat idealisme dan kekecewaan yang dialami anak buahnya.

“Tetapi, mesti bagaimana lagi, Ras. Kalau tidak begitu perusahaan bisa bangkrut, yang berarti ratusan karyawan bakal kehilangan pekerjaannya,” imbuhnya.

“Ya, saya mengerti, Pak Irwan. Mohon maaf  kalau selama saya bekerja di Suara Timur, mungkin ada tindakan-tindakan saya yang kurang berkenan di hati pak Irwan dan kawan-kawan. Sekali lagi saya mohon maaf, dan titip salam buat kawan-kawan. Terima kasih.”

“Sama-sama, Ras. Semoga segera mendapatkan media yang lebih baik sesuai dengan semangatmu…” ujar Rahadi dari seberang telefon.

Rasman batal menghidupkan mesin sepeda motornya, tetapi masuk kembali ke dalam rumah, dan naik tangga menuju loteng, lalu menyalakan komputer. Dia memutuskan untuk menulis roman….

 

Mataram, Agustus 2011

(8)

Geger D Praha Geger D Praha, lahir pada 12 September 1965, di Praya, Nusa Tenggara Barat. Dengan berbagai nama pena, dia menulis di Bali Post, Surabaya Post, Nusa Tenggara, Surya, Pelita, Jawa Pos, dll. Cerita pendeknya termuat dalam antologi Aisyah di Balik Tirai Jendela. Praha menetap di Ampenan.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *