Home Featured Tabir Laga Senjata di Gorontalo

Tabir Laga Senjata di Gorontalo

54
0
Dari atas (Benteng Otanaha), tampak pemukiman penduduk di sekitar Danau Limboto. Foto: LenteraTimur.com/Ken Miryam Vivekananda Fadil.

“Tak perlu hargai kami sebagai anak buah, tapi hargailah kami sebagai manusia.”

Kalimat rajuk itu diungkapkan oleh salah seorang anggota kepolisian Gorontalo setelah terjadi bentrok antara kesatuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo dan Komando Cadangan Strategi TNI Angkatan Darat (Kostrad), di Limboto, Kabupaten Gorontalo, Minggu (22/4) dini hari.

Dari bentrokan itu, dua anggota Brimob terluka, yakni Brigadir Kepala Asrul Sani dan Brigadir Satu Sarifudin. Sementara dari pihak Kostrad, enam anggota terluka, yakni Prajurit Dua (Prada) Apriadi, Prada Firman, Prada Yanis, Prada Tiflil, Prada rahim, dan Prada Adrian. Lima orang di antaranya mengalami luka tembak.

Tak selesai di situ, pada Senin (23/4) dini hari, usai bentrokan terjadi, tiba-tiba Kantor Kepolisian Sektor Sumalata di Kabupaten Gorontalo Utara, terbakar. Lokasinya tak jauh dari markas Kostrad yang berada di Kecamatan Anggrek. Oleh banyak media, kantor polisi itu disebut dibakar oleh orang tak dikenal.

Bentrok antara kesatuan berbaju coklat dengan kesatuan berbaju hijau itu bukanlah kali pertama terjadi di Gorontalo. Dan ungkapan miris dari polisi Gorontalo itu mendapatkan konteks sebagai sebuah kekhawatiran. Apalagi, konflik dua kelompok bersenjata ini, sebagaimana yang tercatat, sudah berlangsung sejak 2010 lalu.

Pada penghujung 2010, salah seorang anggota kepolisian di Kota Gorontalo, Brigadir Satu Ridwan Ahmad, ditemukan tewas di kompleks Pasar Sentral Kota Gorontalo pada Minggu dini hari, 5 Desember 2010. Banyak yang menduga, kematian Ridwan tersebut terkait dengan bentrok antara Polisi dan Kostrad. Hingga saat ini, Kepolisian di Gorontalo belum mengungkap siapa pelaku pembunuhan itu.

Untuk mendesak pengungkapan kejadian pembunuhan polisi itu, keluarga Ridwan Ahmad, yang sebagian besar dari Kotamobagu, Sulawesi Utara, ramai-ramai mendatangi kantor Kepolisian Daerah Gorontalo pada 16 Maret. Mereka mengamuk di ruangan lantai dua kantor polisi lantaran meminta kejelasan kematian Ridwan Ahmad.

“Kami hanya minta agar polisi berani mengungkap siapa pembunuh Ridwan Ahmad,” kata Popi Sako, keluarga Ridwan, pada 16 Maret 2011.

Popi menilai Kepolisian Gorontalo takut mengungkap pelaku pembunuhan Ridwan. Padahal, kata Popi, pihak keluarga sudah mengetahui siapa pembunuh saudara mereka, yakni seorang kopral militer.

“Kami sudah ada hasil tes DNA. Dan pembunuh saudara kami adalah seorang tentara berpangkat kopral, tapi polisi tidak berani buka mulut,” kata Popi saat itu. Ia berteriak di depan ruangan Kepala Kepolisian Daerah Gorontalo.

Setelah Ridwan, seorang anggota kepolisian di Gorontalo kembali ditemukan tewas pada Maret 2011. Namanya Brigadir Dua Andi Azwar. Dia ditemukan tewas dengan beberapa luka tusuk di objek wisata Pentadio Resort di Kecamatan telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Minggu 16 Maret 2011. Seperti sebelumnya, pelaku yang menyebabkan kematian Andi Azwar pun belum terungkap.

Pada kejadian bentrok polisi lawan TNI AD yang terbaru, Panglima Kostrad Mayor Jenderal Muhammad Munir mendatangi Gorontalo dari Jakarta. Dia melakukan pertemuan dengan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie dan Kepala Polda Gorontalo Brigadir Jenderal Irawan Dahlan di rumah dinas gubernur, Senin (23/4) malam. Dalam keterangan persnya, Munir mengungkapkan bahwa bentrok yang terjadi di Limboto itu hanyalah salah paham antara anggota Kostrad dan Brimob. Pada pertemuan tersebut, terjalin kesepakatan pembentukan tim gabungan TNI-Polri untuk mengusut akar persoalan dan pelakunya.

“Setiap pimpinan di dua lembaga negara ini harus mengendalikan setiap prajuritnya,” kata Panglima Kostrad seperti dilansir kantor berita Antara, Senin (23/4).

Akibat konflik antara Polisi dan TNI Angkatan Darat ini, warga di Gorontalo merasa ketakutan. Pada malam hari, warga memilih tak keluar rumah.

“Karena bentrok Brimob dan Kostrad kemarin, kami merasa tidak nyaman keluar malam,” kata Ariyani Abdulah, salah seorang warga di Kecamatan Limboto.

Menurut Funco Tanipu, sosiolog dan peneliti Pusat Studi Sosial di Universitas Negeri Gorontalo (UNG), masalah keamanan di Gorontalo pada dasarnya bukanlah sesuatu yang sangat urgen. Karena sistem sosialnya cukup bagus, kekerabatan dan kekeluargaan masih sangat kuat. Sehingga hubungan yang saling menegasi antara TNI dan Polri yang terjadi belakangan di wilayah ini adalah potret yang berkebalikan dengan kondisi masyarakat Gorontalo sendiri.

“Tentunya situasi ini akan menurunkan kredibilitas TNI – Polri sebagai institusi yang memiliki legitimasi sekuritas,” kata Funco.

Menurut Funco, hubungan tak baik antara TNI –Polri ini akan terbaca negatif bagi negara lain yang berada di kawasan Pasifik, bahwa keamanan Indonesia di pulau terdepan bagian utara terkesan rapuh karena terjebak masalah internal. Yang terpenting dalam kondisi ini, kata Funco lagi, masing-masing merefleksikan kembali cita-cita terbentuknya kedua institusi. Masing-masing dibentuk oleh rakyat, untuk kebaikan rakyat, dan bersama-sama rakyat mewujudkan kebaikan bersama.

Di Gorontalo, hampir seluruh kesatuan dari Tentara Nasional Indonesia telah dibangun. Di Gorontalo Utara, di Kecamatan Anggrek yang berhadapan dengan bibir samudera Pasifik, sudah ada markas Divisi Infanteri 3 Kostrad. Begitu juga di Molantadu Kecamatan Kwandang, dimana markas TNI Angkatan Udara sudah berdiri. Sementara di Leato, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, juga sudah terdapat markas TNI Angkatan Laut.

Salah satu alasan pembangunan markas-markas militer ini adalah dalam rangka pertahanan negara. Namun di tempat lain, yakni di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, hal ini pernah menuai penolakan. Ketika itu, pada 2009, masyarakat beralasan bahwa yang mereka butuhkan bukanlah markas tentara, tetapi sarana dan prasarana kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.

Sebagaimana di wilayah lain, di Gorontalo pun tak ada ancaman dari negara luar. Oleh sebab itu, kebutuhan di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan adalah hal yang lebih mendesak untuk dibangun ketimbang markas tentara. Apalagi sistem kekerabatan masyarakat Gorontalo sangat kuat. Akan tetapi, lain ceritanya jika markas-markas itu memang tidak ditujukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, tetapi untuk mengamankan proyek-proyek pemerintah Indonesia dan perusahaan-perusahaan di Jakarta dan luar negeri di bidang sumber daya alam.

(54)

Christopel Paino Christopel Paino adalah seorang jurnalis kelahiran Gorontalo. Kini ia menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta dan anggota Divisi Media Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *