Home Featured Jurnalisme dan Trubadur dari Gorontalo

Jurnalisme dan Trubadur dari Gorontalo

66
1
Senja di tepi Danau Limboto. Di lokasi ini Sukarno disebut-sebut pernah mendarat dengan menggunakan pesawat ampibi. Foto-foto: LenteraTimur.com/Ken Miryam Vivekananda Fadlil.

Selain Islam yang menjadi agama mayoritas, Sabang di ubun-ubun Sumatera dan Gorontalo di jakun Sulawesi, bersatu dalam kebiasaan yang nikmat: tidur siang! Orang-orang beristirahat, menghentikan kegiatan karena tak tahan didera oleh matahari yang benar-benar membakar tengkuk. Aktivitas muncul kembali saat sore hingga tengah malam.

Sulit memang mencari toko yang buka di tengah hari, kecuali pemiliknya non-muslim, meski tidak mutlak. Pada saat itu, kaum muslim Gorontalo memenuhi panggilan salat zuhur, lantas disusul tidur-tidur ayam sampai matahari mulai condong di barat, membuat cuaca di kota itu kembali bersahabat.

Kebiasaan ini pernah menuai kecaman dari mantan gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad. Fadel, putra Ternate, ini tidak suka orang tidur siang. Tidak produktif, katanya.

Sama sekali tidak berniat untuk mengguncang kebiasaan tidur di siang yang tak buta itu, maka pelatihan jurnalistik “Menulis untuk Kesederajatan” Perkumpulan Lentera Timur di Gorontalo, 19-22 Maret lalu, bukannya jadi peninabobo, melainkan jadi obat penyegar bagi sejumlah mahasiswa dan aktivis yang ikut serta. Sehabis menyambut seruan salat zuhur, disusul makan siang, patuh dengan jadwal, peserta yang berjumlah sekitar empat puluh kembali lagi duduk rapi di balai pertemuan Teluk Tomini SUSCLAM, di Jalan Makassar No. 40. Padahal, gerahnya bias matahari di dalam ruangan itu tak sepenuhnya bisa diredam oleh deru dua kipas kipas angin.

Tak ada mulut yang menguap menyebarkan bau basi nikotin rokok. Dan tak ada mata yang kuyu. Yang ada malah susana haru ketika pembicara Christopel Paino, 28 tahun, salah seorang anggota Redaksi LenteraTimur.com, memerah mukanya menahan airmata yang hendak berderai ketika membahas naskah yang ditulis seorang peserta, Idrus Dama, tentang Bahasa Gorontalo yang katanya lebih kaya akan kosa kata dibandingkan bahasa daerah lain.

Leher Chris, putra asli Gorontalo itu, seperti tercekat ketika menyadari ada generasi muda yang dengan tajam menunjukkan kekayaan Bahasa Gorontalo. Bahasa yang harus dilestarikan karena keunikannya sebagai medium untuk menyampaikan gagasan maupun perasaan. Chris layaknya dibangunkan oleh kesadaran bahwa bahasa ibunya sudah hampir punah.

Yang dramatis adalah bahwa orang yang mencoba mempertahankannya adalah seorang trubadur buta, Risno Ahaya namanya. Usianya 52 tahun. Saban hari penyanyi itu mendendangkan puisi-puisi fiksi berisi petuah hidup, diiringi gambus, mangkal di pasar atau berkeliling dari kantor ke kantor di Kota Gorontalo. Berbekal puisi, seniman buta itu dengan heroik mempertahankan bahasanya, dan dengan puisi itu pula dia mengharapkan rezeki untuk mempertahankan hidup anak dan istrinya.

Bisa dimaklumi, Chris yang mengharu biru karena ancaman kehilangan telah terobati dengan pemaparan Idrus Dama mengenai keunikan Bahasa Gorontalo, dan bagaimana bahasa itu sudah diajarkan di Universitas Negeri Gorontalo untuk para mahasiswa yang tidak terbiasa dengan bahasa tersebut.

“Anak-anak muda sudah terbiasa berbahasa Manado. Kalau kita mau mendengar orang berbahasa Gorontalo, kita harus pergi ke pasar,” ucap Chris.

Dia tampil dengan makalah “Menulis Di Atas Kaki Sendiri.” Sebuah tema yang selaras dengan garis hidup kewartawanan yang dihumbalangkan oleh LenteraTimur melalui media LenteraTimur.com yang menggarisbawahi pentingnya menulis dan melakukan modernisasi dengan bertolak dari kepentingan daerah. Memberikan perspektif sendiri pada berita-berita yang masih saja Jakarta sentris. Sebuah anjuran untuk berotonomi dalam pemberitaan, dan dengan begitu membawa sebuah esensi baru dalam jurnalisme…

Panas dan kantuk tidak membuat peserta pelatihan jurnalistik yang bertajuk “Menulis untuk Kesetaraan” bergeser ke tempat yang lebih nyaman. Apalagi tidur mengikuti langgam hidup di Kota Gorontalo. Antusiasme peserta, yang terutama datang dari kalangan mahasiswa dan para penulis muda, untuk mengangkat dan memaknai masalah yang muncul di wilayah mereka sendiri amat terasa. Keinginan yang kuat itu kelihatannya berakar pada kegairahan masyarakat Gorontalo yang ingin mengubah nasibnya sendiri dengan merambah dunia baru. Mereka berpendar ke seluruh penjuru Indonesia.

Suasana Pelatihan Jurnalistik “Menulis untuk Kesederajatan” (II) di balai pertemuan Teluk Tomini SUSCLAM.

Dengan latar itu, LenteraTimur.com ingin mendorong bakat-bakat muda tadi untuk mengukuhkan diri mereka menjadi sederajat, atau malahan melampaui pencapaian literer dari wilayah-wilayah lain. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Risno Ahaya, putra-putra Gorontalo adalah orang-orang sastra yang memilki daya imajinasi yang kuat untuk melahirkan karya-karya yang menyentuh perasaan, menggugah keinginan untuk maju.

Barangkali sulit mencari penyair yang bisa memukau publik di pasar, kecuali dianggap sinting atau narsis yang sedang mencari popularitas, sementara puisinya “tak sampai”. Risno Ahaya melampaui para penyair “salon” yang telah memperkosa kata-kata kosong hanya sekedar mencari popularitas. Trubadur itu, yang rambutnya terjurai menjilat bahu, bak seorang pemberontak yang siap mati untuk satu cita-cita, terus berdendang seraya memetik gambusnya. Lutut puluhan orang yang berkerumun mendengarkannya berdendang di pasar dibuatnya tak bergerak sampai seluruh bait “Kasimu Motoro” selesai dilafalkan dengan ritmis, puitis.

Kisah yang didendangkan dengan khas itu bercerita tentang seorang ibu yang mengorbankan anaknya (benar-benar dengan menyembelih!) karena putus asa oleh kelakukan suaminya yang penjudi dan tukang teler berat. Tak pernah pulang membawa rezeki, tetapi memaksa dengan memukuli istrinya untuk selalu menyediakan santapan yang enak.

Dalam puisi fiktif Risno Ahaya tersebut, yang panjangnya berpuluh-puluh bait, dikisahkan tentang sang suami, Toro namanya, yang begitu tiba di rumah mencium aroma lezat makanan, lantas mengambil piring untuk menyantap hidangan. Lahap sekali dia. Tiba-tiba Si Toro berhenti mengunyah, karena dia merasa ada yang aneh di lidahnya. Diludahkannya ke lantai, dan dia muntah. Ternyata yang dikunyahnya adalah sepenggal jari kelingking anaknya.

……

Mohintu mongowutato
Mohintu modiambato
Eeeya,
Mopo’otawalo monu
Motopu yinggila ma’o

Po’odahawa tumo:du
Mo’olopu lo wala’o

Artinya:

Mohon izin saudara-saudara
Mohon izin melangkah (pergi)
Berjagalah saya
Berjudi hindarilah

Jagalah jangan muncul
Memusnahkan anak

Itulah bait penutup tanggomo (sastra lisan Gorontalo, yang artinya “menampung” untuk kemudian dikisahkan kembali sebagai kabar kepada publik) “Kasimu Motoro” yang terus mengiang-ngiang di hati masyakarat Gorontalo. Dia menjadi kisah yang melegenda, melekat kuat dalam memori masyarakat. Dengan tanggomo itu Risno Ahaya telah mencapai sebuah puncak karya yang sulit dicari tandingannya di kalangan sastrawan yang sudah merasa sebagai penyair besar manakala sebuah puisi mereka mendapat tempat di media cetak. Apalagi dari kalangan “sastrawangi.”

Puisi trubadur buta itu sulit disamai dalam hal dia berhasil membuka kesempatan bagi para pendengarnya untuk memberikan tafsir secara bebas. Efeknya pun beragam, mulai dari rasa marah maupun simpati pada tokoh yang muncul. Ada yang menduga puisi itu adalah kisah keji yang nyata di suatu masa yang lampau. Yang membuat bulu kuduk tegak kalau mendengarnya. Ada yang menafsirkannya sebagai pujaan tertinggi bagi sikap sejati kaum ibu yang siap berkorban, meskipun sang suami adalah seorang yang bejat tak ketolongan. Ada yang menyimpulkan bahwa bait-bait yang diciptakan dan didendangkan oleh seniman yang buta itu dengan dramatis, melebihi kisah Ibrahim yang rela mengorbankan anaknya, Ismail, sebagai tanda ketaatannya kepada Sang Pencipta. Namun, Tuhan menggantikan leher putranya itu dengan seekor domba. Sedangkan imajinasi Risno Ahaya melampaui kisah suci yang sudah berusia ribuan tahun itu.

Ini memang Gorontalo, kawan! Paus sastra Indonesia pun lahir di sini: Hans Bague Jassin. Masyarakat Gorontalo, terutama para pelajar, mahasiswa, dan aktivis, akrab dan menyebutkan nama itu dengan rasa hormat dan dalam kebesaran. Sementara pemerintah kelihatannya seperti seseorang yang mabuk kepayang dengan memberikan penghargaan yang berlebihan. Dan salah!

Sampai dua tahun yang lalu, nama jalan paling besar dan panjang membujur di Kota Gorontalo adalah Agus Salim. Sekarang nama pahlawan nasional asal Sumatera Barat itu mulai diganti dengan nama Jalan Prof. Dr. HB Yassin. Tapi, sejak kapan dan di mana HB Yassin menjadi Profesor?! Label profesor yang disematkan itu tak pelak mengingatkan kita pada kisah Nagabonar dari tanah Sumatera.

Risno Ahaya tidak memikirkan namanya akan menjadi apa suatu ketika. Dia terus berjalan dengan langkah yang hati-hati, meraba-raba, melantunkan puisi untuk mengingatkan para pendengarnya tentang hidup yang harus diagungkan, dengan memuja anak-anak, kepada siapa generasi yang dengan ganas merusak negeri ini “berhutang pada masa depannya”.

Dia menyanyi dalam bahasa ibunya untuk mempertahankan hidup. Nama dan kisah-kisahnya mengisi hati dan pikiran warga. Ambisinya yang terbesar hanya untuk didengar. Dia bersyukur kepada mereka yang menghargainya dengan sejemput uang, tetapi tulus, sebagai imbalan untuk haru yang menghanyutkan mereka.

Lirik lagu, petikan gambusnya, akan tetap berkumandang walau terkadang mungkin dia merasa direndahkan. Suatu ketika, kabarnya, Fadel Muhammad berjanji akan memberikan dia uang untuk mengganti gambusnya yang sudah tua dan aus. Tetapi, janji itu hanya “nyanyian surga” sesaat yang kemudian lenyap digulung ombak Teluk Tomini.

Risno Ahaya juga tak sakit hati, dan malahan berterimakasih, kalau hanya dikenang para pejabat ketika mereka kedatangan tamu dari luar. Dia dijadikan penghibur. Risno Ahaya sadar pada kodrat yang diterimanya. Dia menyanyi, berpuisi, untuk memuja dan mempertahankan hidup. Itulah yang membuat dia menjadi seorang pencipta dan pencerita terpenting yang bermukim di tepi Teluk Tomini, yang keindahan panoramanya tak pernah bisa dia nikmati. Kecuali deburan ombaknya yang tiada henti, seperti bait-bait puisi yang tak kenal henti datang sebagai ilham, yang dia sigi dan ciptakan untuk berbagi dengan publik yang setia dan tulus, walau hanya di tengah-tengah keramain pasar.

Masyarakat Gorontalo adalah masyarakat yang romantis. Mereka yang mendiami punggung-punggung bukit yang tidak ramah, pergi mengembara ke luar wilayah. Sekilas, setelah saling memperkenalkan diri, orang yang datang dari dataran jauh, dari pulau-pulau di luar Sulawesi, misalnya, bisa terkecoh dengan nama mereka. Tetapi, nama itu kemudian akan memberikan kesan bahwa mereka adalah orang-orang yang toleran. Di Gorontalo dengan mudah ditemukan seorang muslim, sementara namanya mengisyarakat nasrani, seperti Chris, Ronal, Hans, Oscar.

Ketika saya hampir kemalaman di Teluk Tondano, Sulawesi Utara, angkot sudah tak ada, saya menebeng mobil mini truk terbuka menuju Kota Tondano, yang jaraknya sekitar dua puluh kilometer. Ada pengemudi dan dua temannya dalam perjalanan ke Bitung untuk menjemput muatan kapal. Beberapa kali pengemudi berhenti dan menyodorkan segenggam uang kepada panitia pembangunan gereja yang, sebagaimana panitia pembangunan masjid di seantero dunia, lewat pengeras suara menghimbau bantuan dengan berjejer di tepi jalan, lengkap dengan tangguk untuk menyambut uang.

“Anda dari Gorontalo. Islam..,” kata saya kepada pemuda asal Gorontalo yang duduk melonjor di bak terbuka menemani saya.

Dia menangkap maksud perkataan saya.

“Ya, kami Muslim. Kami mencari hidup di sini. Sudah seharusnya kami menyumbang. Tak ada masalah,” jawabnya enteng.

“Di Jawa, apa orang Kristen menyumbang untuk pembangunan masjid?” Tak saya duga dia balik bertanya.

Sebagai basa-basi saya ingin mengatakan dengan lantang: Ya! Tetapi, saya takut saya membohongi diri sendiri. Saya hanya diam, membiarkan angin Danau Tondano memupuskan pertanyaan itu dengan sekelebat. Saya terpaku saja. Karena saya memang belum pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri, sebagaimana saya lihat sekarang ini orang-orang Gorontalo melakukannya dengan tulus. Sebagai tanda syukur kepada sebuah daratan jauh yang berbaik hati kepada mereka.

“Kerja apa di Gorontalo?”

“Saya memberikan penataran kepada wartawan dan penulis muda di sana,” jawab saya. “Empat hari saya, dan tiga teman lagi, memberikan pelatihan. Sampai penataran ditutup, jumlah peserta tidak berkurang. Padahal, panas bukan main. Mengesankan sekali. Mereka kelihatan suka.”

“Orang-orang Gorontalo suka mendengar, senang bicara. Kalau tidak begitu, kami akan kehilangan jalan,” katanya.

Dalam buaian truk dan angin Danau Tondano, saya teringat Gorontalo. Rindu pada teman-teman muda yang penuh gairah, bertahan di dalam ruangan yang pengap. Melawan kantuk. Berdebat tentang kiat bagaimana menampilkan aroma air laut dan angin Gorontalo dalam untaian kata yang disebutkan sebagai bentuk tertinggi sebuah peradaban tulis menulis: jurnalisme.

(66)

Martin Aleida Martin Aleida adalah sastrawan yang lahir di Tanjung Balai, Sumatera Timur/Utara, pada 1943. Selain melahirkan karya-karya sastra, mantan jurnalis yang pernah menempuh studi lingustik di Georgetown University, Washingotn D.C, Amerika Serikat, ini juga pernah bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah media massa, di antaranya Majalah Tempo di Jakarta. Sempat menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta periode 2009 – 2012 dan menjadi Penasihat Perkumpulan Lentera Timur dan Media LenteraTimur.com hingga 2013.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. Maju terus bung…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *