Home Featured Menggadang Nama Bandar Udara di Tanah Serdang

Menggadang Nama Bandar Udara di Tanah Serdang

36
2
Replika bandar udara internasional di Kuala Namu, Deli Serdang. Foto: www.id.wikipedia.org.

Ihwal Sumatera Utara terdiri dari macam-macam perbedaan ras, bangsa, atau etnis, orang sudah mahfum. Sebut saja di antaranya Melayu dan Batak, dengan wilayah yang terpisah, yang masing-masing memiliki beragam puak. Belakangan, macam-macam puak ini bangkit untuk menamai bandar udara yang baru sesuai identitasnya. Dengan keberagaman yang ada, apa sebetulnya nama yang pantas untuk bandar udara tersebut?

Bandar Udara Internasional Polonia di Medan, Sumatera Utara, sebentar lagi tutup riwayat. Ia diganti oleh bandar udara baru yang disebut-sebut akan menjadi bandar udara yang amat megah di Kuala Namu, Deli Serdang. Menjelang beroperasionalnya bandara tersebut pada 2013 mendatang, sejumlah nama bermunculan untuk bandar udara itu. Nama-nama itu adalah Tengku Amir Hamzah, Sisingamangaraja, Rizal Nurdin, Adam Malik, dan Sultan Sulaiman.

Nama-nama ini diusung masing-masing etnis di tiap wilayah. Umumnya, bangunan argumentasi dari nama-nama itu disandarkan pada skala keterkenalan, yakni yang lebih luas dari wilayah yang bersangkutan. Karena itu, yang diusung adalah nama yang bergelar ”pahlawan nasional”.

Mangaliat Simarmata, misalnya. Salah seorang aktivis yang bergiat di Earth Society For Danau Toba ini menilai Sisingamangaraja lebih pantas ketimbang nama-nama lain. Sisingamangaraja dia anggap berjasa dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, meskipun secara faktual bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Mangaliat maksud baru ada pada 17 Agustus 1950 (lihat Konstitusi Republik Indonesia Serikat). Dan dilihat dari sejarah, tokoh usungannya dianggap memiliki jiwa nasionalisme dan berjasa mengusir penjajah dari Indonesia.

”Nah, apalagi banyak juga referensi yang menjelaskan bahwa penyebutan nama bandar udara atas nama pahlawan,” tegas Mangaliat.

Mangaliat tak memungkiri kalau di tanah Sumatera Utara ini ada identitas lain yang juga mengusung tokoh dengan parameter serupa: pahlawan nasional. Akan tetapi, dia berharap agar semua masyarakat di Sumatera Utara tidak terjebak pada pengkotak-kotakan etnis. Kalau bicara mengenai Sumatera Utara, kata Mangaliat, maka konteksnya adalah nasional dan harus menanggalkan persoalan kesukuan. Karena itu, dia mempersilakan nama-nama lain untuk dijadikan calon nama bandar udara itu. Hanya saja, dia menilai bahwa nama yang pantas adalah Bandar Udara Internasional Sisingamangaraja.

”Bandar udara ini skalanya internasional. Maka yang pantas menurut saya adalah Sisingamangaraja, dan raja ini sudah mewakili seluruh masyarakat di Sumatera Utara,” ujar Mangaliat lagi.

Ketika disodorkan pertanyaan tentang bagaimana jika tokoh yang pihaknya usung ditolak atau tidak menjadi nama bandar udara tersebut, Mangaliat enggan menjawab lebih rinci.

”Prosesnya masih panjang. Jangan dulu tanyakan soal itu. Silakan usulkan nama dari calon-calon lain, dan biarkan pemerintah pusat yang akan lakukan fit and propertest. Kalau perlu kita bikin dialog publik tentang nama-nama calon bandar udara ini,” jawab Mangaliat.

Argumentasi bahwa nama pahlawan nasional yang layak menjadi nama bandar udara juga turut disuarakan oleh Tengku Nafrul Husny. Oleh sebab itu, dari kelompok yang ada di dalam Melayu, dia mengusung nama Tengku Amir Hamzah sebagai nama bandar udara yang ada di Kuala Namu itu.

Nafrul menyitir ucapan mantan Menteri Pertanian MS. Kaban bahwa adalah salah besar jika melihat Tengku Amir Hamzah sebagai kepentingan Melayu saja. Oleh karena itu, dia meminta keikhlasan dan ketulusan masyarakat Sumatera Utara untuk memberikan penghargaan kepada Tengku Amir Hamzah. Apalagi, karya-karya sastra Amir Hamzah sudah menginternasional.

Selain mengutip MS Kaban, Nafrul juga memetik pernyataan salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara, Raudin Purba, bahwa Amir Hamzah merupakan tokoh yang banyak berjasa terhadap kemerdekaan Indonesia. Amir, kata Nafrul, bukan saja milik masyarakat Melayu, tapi sudah menjadi milik bangsa.

“Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia” yang diplintir-penggal menjadi “Sumpah Pemuda”.

”Apalagi beliau (Amir Hamzah-red) adalah salah seorang penggagas dari lahirnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928,” kata Nafrul.

Amir Hamzah memang disebut-sebut sebagai tokoh kunci dari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Akan tetapi, secara faktual, tidak ada yang disebut ”Sumpah Pemuda”. ”Sumpah Pemuda” yang dimaksud adalah ”Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia” yang isinya banyak dipelintir-penggal oleh sejumlah pihak.

Kala ditanya jika tokoh usungannya ditolak untuk menjadi bandar udara, dia mengaku akan menerima sepanjang memiliki argumentasi yang kuat.

”Kami akan berlapang dada jika nama Amir Hamzah ditolak asalkan dengan alasan-alasan yang akurat. Hal ini adalah suatu perjuangan puak Melayu di tanah Melayu untuk memperjuangkan Tengku Amir Hamzah,” tegas Nafrul.

Dari kegaduhan kedua calon nama bandara internasional itu, pun nama-nama lain, muncul nama Sultan Sulaiman. Sulaiman adalah Sultan Kesultanan Serdang dahulu (pra Indonesia). Secara geografis, bandar udara ini berada di Kuala Namu, yang merupakan wilayah Serdang. Pengusungan nama Sultan Sulaiman ini dilakukan oleh sekitar 600-an rakyat Serdang pada pertengahan Februari lalu di Gedung Serba Guna Kantor Bupati Deli Serdang.

Tengku Ryo, musisi Melayu yang juga perwakilan dari masyarakat Serdang, mengatakan bahwa sebelumnya Serdang tak banyak diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Tapi begitu dibangun bandar udara internasional, semua melirik Serdang. Oleh karena itu, dia mengatakan bahwa sudah sepantasnyalah nama Sultan Sulaiman yang dijadikan sebagai nama bandar udara. Penamaan ini terkait dengan persoalan harga diri dari identitas Melayu Serdang.

”Kalau memang bukan nama Sultan Sulaiman, berarti ini bukti bahwa pemerintah tidak memperhatikan rakyatnya. Rakyat hanya dianggap sebagai debu. Dan akan menjadi tidak bijak hanya gara-gara masalah nama, rakyat berdemonstrasi secara frontal, yang akhirnya merugikan banyak pihak. Ini bukan ancaman, tapi bisa saja terjadi,” ucap Ryo.

Ryo mengimbau agar pihak-pihak yang mengusung nama lain untuk berjiwa besar menerima nama Sultan Sulaiman. Nama Amir Hamzah, kata Ryo, sudah begitu banyak dan terkenal. Nama Amir Hamzah dipakai untuk nama universitas, nama jalan, bahkan nama masjid. Demikian juga dengan Sisingamangaraja. Sisingamangaraja sudah dipakai sebagai nama jalan di banyak tempat.

”Apakah nama-nama lain itu berjuang untuk rakyat Serdang? Dan juga, apakah Adam Malik pernah berkunjung ke Serdang? Jadi harus berjiwa besar dan menghargai rakyat Serdang. Ini adalah tanah Serdang!” tegas Ryo.

Kalaupun kemudian muncul usulan agar bandar udara tersebut dinamai dengan nama yang netral, Ryo tetap menyanggahnya.

”Kalau ingin nama yang netral, jangan bikin di tanah Serdang. Bikin saja di Medan,” ujar Ryo ketus.

Ketika nama-nama yang diusulkan didasarkan pada parameter pahlawan nasional, Ryo menyebut bahwa Sultan Sulaiman bukannya tanpa gelar kepahlawanan. Selain sudah mendapatkan bintang mahaputera dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, rakyat Serdang menganggap Sultan Sulaiman adalah pahlawan. Sulaiman banyak mengabdi untuk rakyat takat negerinya runtuh karena diserbu pada 1946.

Selain itu, Sulaiman juga banyak mendirikan sekolah, rumah sakit, dan menjadi bapak segala etnis dan semua agama.

”Serdang terbuka untuk siapa saja, termasuk dari kaum ajaran Batak Kuno ketika itu. Buktinya dari fakta-fakta sejarah yang ada. Tapi ini baru persoalan nama saja, kami sudah dijajah,” ungkap Ryo.

Sementara itu, pemikir multikulturalisme yang juga Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia, Mukhlis PaEni, mengatakan bahwa nama tokoh besar daerah banyak dijadikan sebagai simbol untuk sempadan-sempadan strategis. Sebagai contoh, kata PaEni, lapangan terbang Mandai di Makassar, Sulawesi Selatan, diganti menjadi Sultan Hasanuddin. Begitu juga dengan lapangan terbang Mapanget di Manado, Sulawesi Utara, diubah menjadi Sam Ratulangi.

Tapi kemudian ada kecenderungan bahwa nama-nama bandar udara yang berdasarkan pahlawan atau ikon nasional mulai digeser.

”Yang terjadi, ikon nasional lintas daerah kemudian dengan emosional diganti menjadi ikon-ikon lokal yang hanya bergaung daerah. Contoh Bandara Wolter Mongonsidi di Kendari (Sulawesi Tenggara-red) diganti menjadi Bandara Haluoleo,” ujar PaEni.

Jika Sumatera Utara tak beragam, mungkin persoalan tak begitu sulit. Tapi, bagaimana ketika keberagaman itu bertemu momentum yang membutuhkan satu identitas tunggal, seperti bandar udara ini?

Indonesia memang negara yang pelik.

(36)

Christopel Paino Christopel Paino adalah seorang jurnalis kelahiran Gorontalo. Kini ia menjadi staf redaksi LenteraTimur.com di Jakarta dan anggota Divisi Media Perkumpulan Lentera Timur.

Comments with Facebook

Comment(2)

  1. tengku amir hamzah int airport
    kata2 yg sesuai untuk mendarat di bandara kualanamu ini&akan mendatang bnyak pengunjung datang dr serantau malaya

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Bandar Udara International Pantai Timur. Kalau mau berbau asing East Coast International Airport.Tapi saya lebih suka dengan bahasa belanda ‘Ostkust”.Memang berbau kolonial.Tapi itu bisa mengingatkan bahwa pada masa itu Pantai Timur Sumatera Kususnya Medan merupakan primadona asia tenggara.Selain itu nama ‘Pantai Timur’ dapat menimbulkan efek permaianan bahasa.Bandar udara kok pantai.hehe…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *