Home Featured ISI Bersatu Tak Bisa Dikalahkan, ISBI Ditolak Tak Bisa Ditetapkan

ISI Bersatu Tak Bisa Dikalahkan, ISBI Ditolak Tak Bisa Ditetapkan

131
0
Para mahasiswa memasangkan spanduk di depan gerbang utama kampus Institut Seni Yogyakarta di Jalan Parangtritis Km. 6,5, Yogyakarta. Foto-foto: Pressisi (Persma ISI Yogyakarta).

Satu persatu mahasiswa mulai berkumpul di teras gedung Seni Grafis. Dari gerbang utama Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ia berada di gedung ketiga setelah Seni Patung dan Seni Lukis. Mahasiswa yang baru datang itu tampak saling menyapa dan berjabatan tangan. Bual mahasiswa meriuh dengan gelak tawa berbahasa dan berlogat Jawa yang kental. “Ngopo iki? (kenapa ini?)” begitu ucap salah seorang di antaranya.

Berkumpulnya mahasiswa kala itu, awal Februari 2012, memang tak seperti biasanya. Yang datang bukan saja mahasiswa dari satu jurusan, seperti Seni Murni dari Fakultas Seni Rupa, tetapi juga mahasiswa dari jurusan lain, macam Fakultas Seni Pertunjukan dan Seni Media Rekam.

“Walah, mana Ketua BEMI (Badan Eksekutif Mahasiswa Institut-red)? Wartawan sudah pada datang. Gak jadi ini aksinya. Sudah ngundang wartawan e… Gak enak,” celetuk seorang mahasiswi. “Di sms sek, Ketua BEMI-nya”.

Hari itu, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) memang akan melakukan aksi berupa penyablonan kaos gratis bertuliskan “ISI Menolak ISBI”. Undangan terbuka atas aksi ini sudah ramai dibicarakan di jejaring sosial facebook mahasiswa, dosen, dan alumni. Mereka hendak menolak pengubahan nama dari Institut Seni Indonesia (ISI) menjadi Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI).

Aksi mahasiswa ini mencuat saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh melemparkan gagasan untuk mengkonversi ISI menjadi ISBI.

“Tahun 2012 kami akan lakukan konversi institut yang selama ini ada. ISI akan kita konversi menjadi ISBI atau Institut Seni dan Budaya Indonesia,” kata Nuh pada Dialog Budaya Dalam Rangka Penyusunan Cetak Biru Pembangungan Nasional Kebudayaan di Jakarta, Senin (12/12), sebagaimana diberitakan situs berita di Jakarta, Media Indonesia.

Nuh yang juga mantan rektor Institut Teknologi Surabaya itu mengatakan bahwa ada empat fungsi yang akan diemban ISI ketika diubah menjadi ISBI. Keempat fungsi itu adalah konservasi atas budaya Indonesia, promosi atas budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur, sebagai kultur diplomasi, dan mampu melakukan adaptasi dari perkembangan budaya yang ada.

Banyak kalangan menduga perubahan itu terkait dengan dimasukkannya ‘Kebudayaan’ ke dalam Kementerian Pendidikan, dimana sebelumnya ia berada di Kementerian Pariwisata. Alhasil, nama kementerian pun berubah menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Apalagi, ini bukan kali pertama nama suatu jurusan dalam disiplin keilmuan diubah begitu nama kementerian berubah. Jurusan Penerangan yang berada di dalam ranah Fakultas Ilmu Komunikasi, misalnya, turut dilikuidasi dan diganti dengan nama lain di banyak perguruan tinggi sesaat setelah Departemen Penerangan dihapus.

“Kawan-kawan, saya korlap (koordinator lapangan-red) dadakan. Sekarang kita kumpul di gerbang depan sambil membentangkan spanduk. Nanti ada media yang menyorot, setuju…?” seorang mahasiswa berteriak untuk mengambil perhatian.

Puluhan mahasiswa yang jumlahnya tak sampai seratusan orang tersebut kemudian bangkit dari tempat duduk menuju gerbang utama kampus. Sejumlah wartawan terlihat sedang mewawancara salah seorang dosen yang juga Direktur Program Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Prof. Dr. M. Dwi Marianto, MFA, PhD. Dia memang turut menentang ide sang menteri.

Puluhan mahasiswa sampai di gerbang utama. Spanduk bertuliskan “ISBI” disilang merah, dan terbentang memagari barisan.

Para mahasiswa menyablon baju mereka dengan tulis “ISI Come…!, ISBI Go…!”.

“ISI bersatu tak bisa dikalahkan.” “Kami menolak ISBI.” Begitu teriak mahasiswa tanpa alat pengeras suara.

Sesat Konsep
Munculnya wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut ditanggapi serius oleh banyak perguruan tinggi seni negeri di Indonesia. Sebut saja Institut Seni Indonesia Padang Panjang, Institut Seni Indonesia Surakarta, Institut Seni Indonesia Denpasar, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

“Dari aspek praktis, minimal ISI harus mengubah kops surat, stempel, plang merek, susunan dosen. Pentingnya lagi ISI Yogya harus me-rebranding lagi nama besarnya. Tidak sedikit anggaran yang dibutuhkan,” kata Dwi Marianto.

Demikian pula jika dilihat dari aspek akademis. Untuk menambah program studi (prodi), satu perguruan tinggi harus menyiapkan naskah akademik, dan pengujiannya minimal dua tahun.

“Ini mau mengubah nama, jelas punya proses yang panjang, menggunakan kajian akademik mendalam, dan tak mendadak seperti ini. Sosialisasi ke masyarakat kampus sama sekali tidak pernah diadakan. Cara seperti ini tidak mendidik, seperti sistem kolonial saja,” tambah Dwi.

Tak hanya Dwi, dosen Seni Rupa Suwarno Wisetrotomo juga meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meninjau kembali ide tersebut.

“Ide konversi ini adalah cara yang tidak elok dari Kemendikbud. Menteri mengabaikan forum dialog dengan orang-orang di bawah, keluarga ISI,” paparnya.

Suwarno menduga, Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan melihat Institut Seni Indonesia Yogyakarta hanya mencetak seniman saja. Dan dengan dimasukkannya nilai budaya ke institut seni, kementerian menganggap telah menaikkan derajat Institut Seni Indonesia setingkat di atasnya.

“Jika benar demikian, maka Kemendikbud salah konsep. Ini sesat. Karena proses kebudayaan itu telah berlangsung pada pendidikan tinggi,” kata Suwarno memprediksi.

Sudah adanya aspek kebudayaan sudah tampak kala Institut Seni Indonesia Yogyakarta, misalnya, kerap bekerjasama dengan lembaga-lembaga kebudayaan, sebut saja Indonesia Visual Art Archive (IVAA), Bentara Budaya, Tembi Rumah Budaya, Taman Budaya dan lembaga kebudayaan asing yang berada di Indonesia. Alumni dan mahasiswa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pun sering melakukan praktik kebudayaan yang disebutkan menteri tersebut.

Secara historis, Institut Seni Indonesia Yogyakarta terbentuk dari penggabungan tiga perguruan tinggi, yakni Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pada 1950, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada 1961, dan Akademi Musik Indonesia (AMI) pada 1963. Penggabungan itu, selain dilakukan untuk mengembangkan seni dan budaya, juga untuk mempererat kerjasaama antarcabang seni. Gagasan penyatuan tiga lembaga itu sendiri merupakan hasil perumusan selama sekitar sepuluh tahun.

“Bagi kami, mengubah nama tersebut bukan kepentingan kami yang paling urgent. Tetapi mengokohkan eksistensi ISI itu sendiri dalam peta kesenian Indonesia dan dunia, itu yang penting. Jika pemerintah ingin bikin ISBI silahkan, tapi tidak untuk nama ISI Yogyakarta,” tukas Suwarno.

Kurang Komunikatif
Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Prof. Dr. A. M. Hermien Kusmayati, mengatakan bahwa sebetulnya tidak ada yang ditolak dan diterima dalam wacana konversi Institut Seni Indonesia ke Institut Seni Budaya Indonesia.

“Mendikbud tidak menyodorkan konsep apa-apa, termasuk surat merumuskan itu,” ungkap Hermien.

Jika kementerian mengharapkan bahwa saat Institut Seni Indonesia dikonversi menjadi Institut Seni Budaya Indonesia dapat melakukan konservasi atas budaya Indonesia, promosi atas budaya yang telah diwariskan,  membentuk kultur diplomasi, dan mampu melakukan adaptasi atas perkembangan budaya yang ada, maka sebetulnya Institut Seni Indonesia Yogyakarta telah melakukan hal tersebut.

“Jika pun konsep tentang budaya itu belum pas, tidak harus mengubah nama. Implementasi kurikulum bisa ditinjau kembali, jika memang belum mencukupi apa yang diinginkan menteri,”ujar Hermien.

Dalam hal promosi dan diplomasi budaya, misalnya, Institut Seni Indonesia Yogyakarta pernah menampilkan pertunjukan di Lisboa, Portugal, untuk membawa misi kebudayaan. Dalam praktik akademik pun sudah ada pelajaran terkait kebudayaan, seperti pengantar kebudayaan, antropologi, atau filsafat.

“Di ISI Yogyakarta ada jurusan Pedalangan dan Karawitan yang tiap tahun masih kekurangan mahasiswa, tapi tidak pernah kita tutup. Tetap kita buka karena kita ingin budaya itu tetap lestarikan. Satu orang pun tetap diajar,” papar Pembantu Dekan I Fakultas Seni Rupa, Drs. M. Umar Hadi, M.S., yang juga pernah ikut dalam misi ke Portugal.

Meski demikian, Umar menilai bahwa munculnya wacana penggantian nama ini harus membuat Institut Seni Indonesia Yogyakarta mengkoreksi diri.

“Selama ini kita kurang komunikatif pada masyarakat ataupun sivitas akademika sendiri dalam mensosialisasikan apa yang telah kita lakukan. Kita jarang membuat laporan capaian keberhasilan atau pun sosialisasi program-program kampus yang berhubungan dengan kebudayaan pada masyarakat luas,” ungkap Umar yang juga dosen Desain Komunikasi Visual (DKV).

(131)

Arif Budiman Arif Budiman lahir di Minangkabau, Sumatera Barat. Saat ini ia beraktivitas sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, angkatan 2008. Pria yang lahir pada 1990 ini sangat berminat pada jurnalisme. Dan hal yang paling ia sukai adalah melakukan peliputan; bergumul dengan fakta-fakta di lapangan. Ia pernah menjadi reporter pada majalah sekolah P’Mails yang diterbitkan oleh koran terbesar di Padang (Padang Ekspres Group) dan penulis di situs resmi dinas pendidikan kota Padang, Selain itu, ia juga pernah melakukan peliputan dalam kegiatan Festival Seni Internasional 2008 di Yogyakarta. Kini ia adalah perwakilan sekaligus desainer LenteraTimur.com di Yogyakarta.

Comments with Facebook

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *